Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 95 Urusan laki-laki


__ADS_3

"Paman ini, nikmatin-nikmatin? emangnya aku makanan apa?" tanya Rasya sambil mengunyah.


"Iya, sayang aja mubazir bila orang lain yang nikmatin, maksud Paman gak di apa-apa'in gitu!" sahut Sidar.


Rasya menautkan alisnya. "Maksud Paman apa sih? gak ngerti deh."


"Mungkin maksud paman, sayang sekali bila punya istri tapi tidak ... apa ya?" istri Sidar jadi bingung menjelaskan nya pada Rasya.


"Maksud kalian apa sih? aku nggak ngerti deh." Rasya mengerutkan keningnya menatap Sidar dan sang istri.


Yang lain hanya terdiam sambil menikmati makan malamnya masing-masing.


Rasya mengerucutkan bibirnya, ketika melihat Samudra mencibirkan bibirnya yang ditujukan pada dirinya.


"Ayo makan yang banyak, biar agak gemukkan?" kata Fatir kepada Rasya.


"He'em, Rasya memang terlihat kurus." Tambah Viona membenarkan ucapan suaminya.


"Ini masih mending, Tante. Sekarang mah berisi, coba kalau Tante melihat waktu pertama kali kita bertemu, kurus banget! maklumlah. Kurang makan," cibir Samudra.


Sementara rasa tersipu malu, mendengar yang diomongkan oleh Samudra, karena memang begitu adanya.


"Ooh iya, lebih kurus dari ini. Beneran?" tanya Viona pada Samudra.


"Ya, beneran lah, Tante. Sekarang mah agak gemukkan, berisi. Dulu nggak kayak gini!" tambah Samudra lagi.


"Em ... berarti Rasya harus banyak makan lagi nih, agar lebih berisi, kan enak? kelihatannya kalau berisi tubuhnya." Tambah lagi Viona.


"Iya, Tante. Aku juga sudah banyak makan kok. Kalau memang nggak gemuk-gemuk gimana? makan dah banyak. Banyak bersantai? iya, tetap saja gini." Kata Rasya sambil menunjukan senyumnya.


"Itu aja, banyak minum vitamin. Tapi ... yang penting sehat kok, ya kan Mas?" Viona melirik sang suami.


"Iya, mau gemuk mau kecil yang penting sehat, itu yang paling penting." Timpal Fatir seraya menyudahi makannya.


Selesai makan, mereka kembali ke ruang tengah untuk mengobrol banyak hal, namun di sela-sela mengobrol.


Samudra melihat jam yang melingkar di tangan kanannya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. "Pulang yu? saya capek," ajak Samudra pada Rasya yang sedang asyik berbincang dengan Fiona dan istri sidar.


Rasya menatap lekat ke arah Samudra. "Tetapi ... ya sudah, kita pulang." Pada akhirnya Rasya mengangguk.


"Padahal masih sore lho!" gumamnya Viona.


"Ya ... Sudah, Tante. Bibi, Paman juga Om? aku pulang dulu ya sampaikan salam ku pada Paman Adam?" pamit Rasya, lalu memeluk Viona erat. Berasa mau berpisah dengan seorang ibu.

__ADS_1


"Baiklah, hati-hati ya? oh iya Sam, titip Rasya ya? jangan macam-macam?" pinta Viona pada Samudra.


"Om, titip Rasya ya? jangan di bikin nangis. Bahagia kan dia!" Fatir menepuk bahu pemuda itu penuh harap.


"Iya, Tante ... Om, aku balik dulu besok harus ngantor juga. Selamat malam semuanya," ucapnya Samudra, lalu berdiri mengajak semuanya berjabat tangan.


"Paman Sidar alias Pak RT. Aku balik dulu! makasih atas semuanya?" ucap Samudra kepada Sidar.


"Iya sama-sama, awas ya? jangan macam-macam sama keponakanku!" ancam Sidar sambil merangkul bahu Samudra sesat.


"Baik, Paman. Nggak macam-macam kok, paling satu macam aja," Samudra menunjukan senyum tipisnya.


"Iih ... kalian ngomong apa sih? kok aku nggak ngerti?" menatap Samudra dan Sidar bergantian.


"Sudah, cewek nggak usah tahu ini urusan laki-laki," ketus Samudra sambil berjalan menuju teras.


"Iih dasar! nggak asik," gumamnya Rasya sambil mengikuti langkahnya ke depan.


Fathir dan Fiona juga Sidar pengantar mereka sampai teras, mereka melambaikan tangan pada Rasya yang berjalan mendekati mobil mewah milik Samudra.


Pun Rasya melambaikan tangannya dari dalam mobil, setelah duduk manis di samping Samudra.


Selama di perjalanan, gak ada satupun yang bicara. Mereka memilih sibuk dengan pikirannya masing-masing, apalagi Samudra yang fokus dengan kemudinya, dalam beberapa saat saja mobil sudah memasuki area parkiran apartemen.


Lantas Rasya pun turun sambil menyoren tasnya. Melihat Samudra yang masih duduk di belakang kemudi.


Rasya heran. "Kok, Tuan nggak turun?"


"Aku ada janji sama Karin! masuklah ke apartemen, jangan menerima tamu siapapun," ucapnya Samudra tanpa menoleh pada gadis itu.


Detik kemudian, Samudra kembali mengajukan mobil bawahnya tersebut. Melaju dengan sangat cepat meninggalkan wilayah tersebut.


Rasya sesaat bengong menatap kepergian mobil yang di tunggangi Samudra tersebut. Lalu dia mengedarkan pandangannya ke arah pintu lift.


Kemudian bergegas membawa langkahnya mendekati pintu lift tersebut, ting! pintu terbuka.


Rasya segera mengayunkan langkah kakinya memasuki lift tersebut, berbarengan dengan seorang ibu-ibu yang akan membawanya ke lantai unit Samudra.


"Non, yang tinggal di lantai 15 ya?" sapa seorang ibu yang berbarengan di dalam lift itu.


"Iya, Ibu sendiri di mana?" tanya rasa balik.


"Saya di lgantai 15 juga, kita ini tetanggaan lho ... Non." Kata si Ibu tersebut dengan ramah nya,

__ADS_1


"Ooh, iya. Salam kenal ya, Bu?" balas Rasya tak kalah ramah dan sopan.


"Suamimu mana? apa tidak bersama suamimu?" tanya si Ibu.


"Ooh, dia sedang ada urusan. Jadi aku sendiri, pulang dari tempat saudara," sahut Rasya kembali.


Setelah beberapa saat berada dalam lift sambil mengobrol. Akhirnya lift berhenti di lantai yang dituju.


Ting!


Rasya keluar, setelah berada di depan lift, Rasya mengangguk hormat dan berpamitan pada si Ibu tersebut. "Aku duluan ya, Bu ... mari?"


"Mari," si ibu mengangguk di iringi senyuman.


Lalu Rasya membawa langkahnya. Berjalan menelusuri jalan untuk menuju unit yang ia tempati selama ini.


"Assalamu'alaikum ..." Rasya mengucap salam saat memasuki unit tersebut.


Saat ini Rasya sudah berada di dalam unit, sesudah menyalakan lampu. Rasya langsung menuju kamarnya untuk berganti pakaian dengan pakaian malam.


"Dia meninggalkanku demi wanitanya! sedih, hik hik hik." Rasya bergaya sedih sambil Mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur.


Kedua netra mata Rasya mengitari ruangan tersebut.


"Kok, aku lupa sih? kenapa aku nggak bertanya kalau dia akan balik atau nggak ya?" Rasya bermonolog sendiri.


Detik kemudian rasa beranjak dari duduknya. Membawa langkahnya ke dapur, rasanya haus, tenggorokan terasa kering.


Lek, lek-lek ... Rasya meneguk minumnya, tampak haus sekali. "Alhamdulillah ... hilang deh dahaga ku ini."


Tangan Rasya meraih remote televisi, dan menyalakannya mencari acara yang dia suka. Menonton FTV kesayangannya.


"Aduh ... kasian nian dirimu. Suami mu jahat sekali sih, menikah lagi? gumam Rasya mengomentari yang di FTV tersebut.


Rasya terbawa suasana dalam adegan di film itu, sehingga berderai air mata. Tiba-tiba dia teringat dengan nasibnya sendiri, yang saat ini status bersuami, namun sebentar lagi suaminya akan menikah dengan sang kekasih yang sangat dicintainya.


Rasya tertegun mengingat itu, kisah film yang sedang ia tonton itu mungkin akan menimpa dirinya ....


.


.


Jangan lupa like komen dan vote nya. Juga bintang nya 🙏

__ADS_1


__ADS_2