Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 1020 Bagaimana


__ADS_3

"Mau tahu aja!" kata Cici, dia tahu kalau Mulan dekat dengan Rasya.


"Itu, si Rasya. Dai itu kan sama aja dengan kita, sama-sama asisten. Tapi dia mendapatkan perhatian yang lebih kayanya, dan aku curiga ya? siapa tahu kalau si Rasya itu sudah di cemek-cemek sama tuan muda, secara nih ya? cuma tinggal berdua. Gak mungkin lah laki-laki normal gak tergoda dengan dia yang toh ada banyak kesempatan," Ungkap Dora.


"Jangan begitu! nanti akan menjadi fitnah. Hati-hati lho," Protes Mulan sambil ngeloyor meninggalkan mereka kembali.


"Iya, saya tidak yakin kalau si Rasya masih perawan! dan yang bikin dia jebol tuan nya sendiri. Hi hi hi hi ..." tambah Cici sambil bergidik.


"Mungkin, kalau begitu adanya? gimana jadinya ya? bisa perang dunia ke tiga nih," sambungnya Dora.


Lalu setelah mereka menggosipkan Rasya, mereka pun bubar melanjutkan pekerjaannya masing.


"Sudah hampir seminggu kita tidak bertemu. Kamu banyak berubah, tubuhmu semakin berisi," kata Bu Riska menatap intens pada Rasya dengan intens.


"Ah Tante, bisa saja. Perasaan begini-begini juga kok," Rasya mengamati penampilannya itu.


"Beda, ya, Pah? dia sekarang lebih berisi dan tambah cantik." Bu Riska melirik ke arah sang suami.


Pak Suyoto mengangguk lalu berkata. "Tante itu ... benar. Apa mungkin kalau putra kita tidak tergoda sama gadis ini Mah?"


"Kalau menurut Papa gimana? sebagai laki-laki?" tanya Bu Riska seakan ingin tahu jawaban dari sang suami.


"Boleh jujur nih, Mah?" pak Suyoto menatap dengan lekat.


"Jujurlah, katakan?" tantang Bu Riska terhadap suaminya itu.


"Beneran jujur nih ya? Kalau menurut Papa sih ... ya--"


"Oo! tinggu-tunggu? aku kebelet pengen pipis. Aku pamit dulu ya? Tante dan Omi. Maaf?" Rasya memotong perkataan dari pak suyoto dan segera meninggalkan tempat tersebut.


"Oh, iya. Sana ke kamar mu yang kemarin itu ya? masih ingat, kan letaknya?" pekik bu Riska pada Rasya.


Kemudian Bu Riska menoleh pada sang suami yang perkataannya tadi terpotong oleh Rasya. "Mau ngomong apa tadi Pah? lanjutin?" pinta bu Riska pada suaminya.


"Ooh, itu. Kalau menurut papa sih, sebagai laki-laki normal gitu, ya?rasanya ... nggak tahan deh kalau satu atap dengan lawan jenis tentunya bukan keluarga--"

__ADS_1


"Ooh ... jadi gitu? berarti kalau Papa berduaan sama perempuan lain juga tahan, gitu?" Bu Riska memotong perkataan dari sang suami.


"Ya ... begitulah Mah, makanya, kan Papa nggak pernah jauh-jauh dari Mama, kemana-mana pun sering berdua sama Mama." Bela pak Suyoto sambil memegang tangan sang istri takut marah.


"Aalah ... alasan, laki-laki memang begitu ya? awas ya? kalau sampai begituan selain sama Mama, tak potong burung mu biar gak bisa masuk sarang siapa pun!" Bu Riska tampak geram.


"Aduh, gak punya burung dong Papa, kalau dipotong. Ada-ada aja si Mama ahk." Ucap pak Suyoto sambil megang barangnya itu.


"Yaa ... awas saja, kalau Papa dekat perempuan nggak mampu gitu, nggak tahan gitu, mama gak segan-segan. Lihat saja," ancam Bu Riska.


"Mama ... Mama, kan sudah Papa bilang, makanya Papa nggak pernah jauh-jauh dari Mama, takut gak tahan! lagian apa pernah Papa hilang dari Mama? atau nggak tinggal sama Mama, satu kalinya keluar paling sama laki-laki juga, orang asisten Papa laki-laki kok," sambung Pak Suyoto meyakinkan sang istri.


"Iya sih, terus gimana Pah? mungkin nggak, kalau putra kita menyukai gadis itu? secara setiap hari bertemu?" pasangan suami istri itu sering menatap lekat.


"Entahlah Mah, kemungkinan sih bisa jadi, dari gerak-gerik atau bahasa tubuh putra kita saja ... sudah kelihatan kalau dia ... tapi sudahlah. Sebentar lagi Sam akan bertunangan dengan kekasihnya, sudahlah, jangan ganggu dengan ekspektasi kita." Pak Suyoto mengibaskan tangannya.


"Iya, benar sih ... tapi kalau seandainya, nih ya? seandainya putra kita melakukan sesuatu pada gadis itu kan kita nggak tahu." Bu Riska berandai-andai putranya melakukan sesuatu yang di luar jalur.


"Papa nggak ngerti dengan maksud Mama? coba jelaskan?" pinta Pak Suyoto, dengan tatapannya yang semakin lekat terhadap sang istri yang berwajah cemas.


Pak Suyoto tertegun, mengingat perkataan sang istri, mungkin saja kan? mereka melakukan sesuatu, atau Samudra melakukan hal-hal yang di luar nalar terhadap asistennya itu di sana? sebab bagaimanapun mereka cuman berduaan saja. Pikir Pak Suyoto.


"Mama jadi gak ngeri deh, Pah. Kalau bayangin itu, mau disimpan di mana coba muka kita? kalau seandainya terjadi seperti itu Pah?" ucap Bu Riska sambil menghela napas nafas panjang dan berat.


"Tapi kalau menurut papa sih, ya santai aja! yang penting putra kita mau bertanggung jawab, apa salahnya? dia kan laki-laki," sahut pak Suyoto.


"Iih ... Papa ini gimana sih? kalau dia hamil duluan gimana?" tanya sang istri sambil menepuk tangan sang suami.


"Tapi ... sebenarnya nggak mungkin sih! kalau Samudra sampai melakukan diluar batas seperti itu, Papa percaya kepada putra kita mah." Pak Suyoto.


Bu Rasya menatap sangat lekat pada sang suami.


"Ya ... kalau sekedar tangan atau bibir mungkin termasuk wajar kali mah ... toh yang pacaran juga begitu kan? kayak gitu, ciuman dan pelukan itu sudah tidak aneh!" ungkap pak Suyoto dengan nada tanpa beban.


"Iih ... Papa, gitu amat sih ngomongnya? tau gak omongan Papa bikin Mama ngeri deh, kalau terjadi gimana Pah?" tanya sang istri.

__ADS_1


"Nikahin, ngapain repot-repot apalagi pusing-pusing," timbal pak Suyoto kembali.


"Iih ... Papa aneh, Mama kok jadi nggak ngerti dengan jalan pikiran Papa itu, sudahlah! Mama mau masuk ahk," bu Riska beranjak dari duduknya meninggalkan sang suami sendirian di ruang tamu tersebut.


"Si mama yang aneh, gimana sih?dia yang bertanya? saya saya yang jawab, tapi bikin pusing katanya? yang aneh itu siapa? Papa atau Mama sih?" gumamnya pak Suyoto sambil menatap punggung sang istri.


Kini sudah malam, dan Samudra baru datang yang di susul oleh asisten pribadinya yang tiada lain dan Tiada bukan adalah Ubai.


"Pah, Mah?" sapa Samudra meraih tangan keduanya bergantian.


"Kau baru pulang Sam?" balas pak Suyoto lalu menepuk bahunya sang putra.


"Hem ..." gumamnya Samudra. "Rasya dimana?" tanya Samudra sambil celingukan menyapukan tempat sekitar.


"Ooh, dia sedang menyiapkan makan malam bersama yang lainnya." Jawab Bu Riska seraya menunjuk ke arah dapur.


"Kalian pasti belum makan bukan? kita makan bersama?" ajak pak Suyoto sambil beranjak.


Kemudian dibuntuti oleh yang lainnya. Mereka berjalan menuju ruang makan, di sana ada beberapa asisten dan Rasya sedang menyiapkan makan malam. Menatanya di meja.


Ubai langsung menghampiri Rasya yang tengah menata makanan di meja.


"Sedang apa Nona? sekarang jadi berpindah di sini ya kerjanya?" goda Ubai pada Rasya.


Rasya tersenyum pada Ubai dengan sekilas lirikan. "Nggak pa-pa, bukannya di sana maupun di sini sama saja?"


Samudra memandangi Ubai dan Rasya yang jarak tubuhnya begitu dekat. Mau memisahkannya gak enak dengan yang lain terutama dengan kedua orang tua nya sendiri.


Dalam hati Samudra terus menggerutu mengutuk kedekatan mereka berdua. Terasa dadanya sesak dan sakit melihatnya, Samudra langsung mendudukkan dirinya serta tidak membuang waktu. Dia langsung menyantap makan malamnya dengan perasaan yang aneh.


"Ayo Bai. Dan yang lainya kita makan malam dulu," ajak pak Suyoto menyapukan pandangan pada Ubai dan keluarga lainnya yang kini sudah mengitari meja makan. Menjadikan meja makan yang bentuk bundar namun luas itu terasa ramai ....


.


.

__ADS_1


__ADS_2