Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 137 Mustahil


__ADS_3

Keesokan harinya, Rasya. Viona dan Fatir sedang sarapan di penginapannya itu.


"Rasya, kalau menurut ayah. Kamu sebagai perempuan yang mau dimadu. Sebaiknya kau menjaga jarak dari Samudra, jangan mau diperlakukan dengan sewenang-wenangnya." Ungkap Fatir yang ditujukan kepada Rasya.


Rasya menoleh pada sang ayah, tiba-tiba perkataan itu mengurangi moodnya untuk sarapan. Entah kenapa hatinya merasa terganggu wajahnya berubah sendu.


Viona yang melihat perubahan dari Rasya lalu menoleh pada sang suami seraya berkata. "Sayang ... kalau soal itu biarkan mereka yang memutuskan, kita nggak perlu ikut campur. Apalagi kalau menyangkut perasaan."


"Tapi sayang, Mas nggak suka dengan sikap Samudra yang plin-plan. Kalau mau melanjutkan pernikahannya dengan putri kita? tinggalkan tunangannya itu dan umumkan pernikahan ini," tegasnya Fatir yang perlahan dia menunjukkan rasa tidak sukanya terhadap Samudra, yang ia anggap mancla-mencle tidak dapat dipercaya.


Dalam hati kecilnya, percaya kalau Samudra itu tidak mungkin tidak melakukan apapun terhadap Rasya. Secara tidur pun satu kamar, sebagai pria normal! sangat mustahil bila Samudra tidak tertarik pada Rasya.


"Pokoknya, Ayah minta. Jangan mau di raba-raba ataupun lebih dari itu! sebelum dia memutuskan mau memilih yang mana? dirimu atau kekasih nya itu." Tegas Fatir lalu beranjak pergi.


Rasya dan Viona hanya terdiam sambil menatap kepergian Fatir. Wajah Rasya yang sendu semakin menunjukan rasa sedihnya, entah kenapa hatinya bagai tertusuk sembilu mendengar perkataan Fatir seperti itu yang seolah menunjukan lampu merah tanda berhenti.


Yang seharusnya kini Rasya bahagia karena dapat berkumpul dengan orang tua kandung walau pun belum pic, sudah di hadapkan dengan masalah rumah tangga yang bikin dia bingung dan tidak tahu harus bagaimana?


Viona memeluk kepala Rasya seraya berkata. "Sabar ya sayang? Bunda akan mendukung apapun yang akan membuat mu bahagia."


Sebagai seorang ibu, Viona merasakan kalau Rasya punyai rasa yang tersirat terhadap Samudra, biarpun pernikahannya karena di grebek warga, namun rasa itu akan hadir dengan seiring berjalannya waktu kebersamaan.


Setelah selesai sarapan. Rasya meminta ijin untuk pergi ke rumah Bu Karsih dan Viona mengantarnya sampai naik taksi. Sebab kebetulan Viona dan Fatir sedang ada urusan kerjaan.


Setibanya di rumah, Rasya langsung di suguhkan dengan pekerjaan rumah yang sangat menumpuk. Murni dan Vera sudah mulai membuka toko pakaian sang bunda, sementara Bu karsih masih dalam masa berkabung.


Rasya pun langsung menyingsingkan lengan bajunya untuk mengerjakan semuanya dengan ikhlas ataupun mengeluh.


Ketika makan siang, Rasya membawakan makan buat Bu Karsih yang terus mengurung diri di kamar.


"Bu. Makan siang dulu ya?" Rasya menyimpan di meja kecil dekat Bu Karsih yang terbaring.


Bu karsih bangun dan duduk. menatap ke arah Rasya yang berdiri di hadapannya.


"Semua pekerjaan rumah yang menumpuk, sudah aku bereskan," ucap Rasya pada Bu Karsih.


"Bagus kalau sudah kamu kerjakan, tapi kami sama sekali tidak menyuruhmu untuk mengerjakan itu." Kata bu Karsih sambil menatap tajam ke arah Rasya.


"Iya Bu aku melakukannya dengan ikhlas, tanpa paksaan dari siapapun." Jawabnya Rasya.


"Jangan sampai kamu bilang sama kedua pria itu, bahwa kamu di sini diperbudak. Dipaksa bekerja atau semacamnya." Tambah Bu Karsih kembali.


"Iya, Bu. Tidak, karena aku ikhlas kok mengerjakannya semua itu," Rasya mengangguk pelan.


"Bagus kalau begitu," lanjut Bu Karsih.


"Bu aku mau bertanya?" Rasya duduk di tepi tempat tidur tepat dekat bu Karsih.


"Tanya apa? bicara saja!" Bu Karsih sambil mengambil piring makannya, lalu menyantapnya dengan lahap.


"Yang ingin aku tanyakan, apa benar, Om Fatir dan tante Viona adalah orang tuaku?" Rasya menatap lekat pada Bu karsih.


Bu karsih memicingkan matanya ke arah Rasya. "Mana saya tahu! kamu itu datang waktu masih balita dan bersama seorang pria, dan diberikan kepada saya. Itu saja yang saya tahu, siapa orang tuamu? saya tidak peduli." Jawabnya Bu Karsih dengan nada dingin.


"Jadi benar? Ibu bukan Ibu kandung ku? Bapak juga bukan bapak kandungku!" tanya Rasya sambil menggelengkan kepalanya.


"Iya benar, kami bukan orang tuamu! masih mending kamu kami rawat sampai sebesar itu." Sambungnya bu Karsih kembali.


"Makasih ya, Bu? atas kejujuran Ibu dan Ibu selama ini telah mengurusku, membesarkan ku," ucap Rasya dengan wajah yang sendu.


Bu Karsih terdiam sambil menikmati makannya.


"Aku nggak tahu harus berterima kasih seperti apa lagi pada kalian semua? yang sudah menjaga aku merawat ku sampai sebesar ini, sekali lagi makasih ya, Bu?" ungkap Rasya sembari menunduk.


Rasya memegang tangan Bu Karsih yang sebelahnya. "Aku janji, aku tidak akan melupakan kebaikan kalian semua, kalian akan tetap menjadi keluarga aku," ucapnya Rasya dengan penuh ketulusan.


Bu Karsih menatap penuh arti, dalam hatinya menyimpan sejuta rencana dan entah apa itu? kemudian wajahnya berubah sedih. "hari ini belum belanja buat tahlilan nanti malam, dan ibu sudah kehabisan uang dengan lirih.

__ADS_1


"Ooh, Ibu jangan khawatir. Aku yang akan belanja dan aku ada uang kok," sahut Rasya sembari mengulas senyum di bibirnya itu.


"Sekalian saja belanja buat berapa hari ke depan, karena Ibu nggak tahu harus cari pinjaman ke mana lagi? seperti yang kamu tahu, terlalu banyak cicilan hutang yang harus kami bayar," tambahnya Bu Karsih.


"Ibu nggak usah khawatir sama belanjaan, biar semuanya aku yang tanggung." Rasya masih memegangi tangan bu Karsih.


"Terima kasih ya Rasya, kau begitu baik. Padahal kami sudah jahat sama kamu," ungkap Bu Karsih sambil tersenyum getir.


Sesaat kemudian, Rasya keluar dari kamar tersebut. dan bersiap untuk berbelanja buat keperluan tahlilan nanti malam, sekalian dia mau ke ATM untuk mengambil uangnya terlebih dahulu.


Saat ini Rasya sudah berada di pusat pembelanjaan dan kebetulan sekali di depannya ada mesin ATM, sehingga dia mengambil uang dulu dari sana, dengan sangat hati-hati Rasya memasukkan kartu tersebut dan mengikuti proses selanjutnya.


"Aduh, jadi deg-degan kayak gini? takut salah gimana? kata Tuan Ubai kalau salah katanya tak akan timbul kembali, yang namanya ketelan dan akan butuh proses untuk mengembalikannya, bahkan harus ke BANK dulu. "Ya Allah ... lancarkan lah pengambilan uangku," gumamnya Rasya sambil mendongak ke langit.


Alhamdulillah pengambilan uang berjalan dengan lancar, lalu dia masuk ke pusat perbelanjaan. Tetap belanja semua keperluan yang sudah dicatat sebelumnya dari rumah.


"Terima kasih ya Allah ...


kau sudah melancarkan pengambilan uang di mesin ini, terutama buatan muda ya Allah rezekinya uangnya mau aku pakai. Rasya mengusap wajahnya dengan dua telapak tangan.


Seperti yang Bu Karsih bilang, Rasya harus belanja untuk keperluan berapa hari kemudian. Makanya Rasya pun belanja sangat banyak sekali, sehingga dia harus menyewa mobil untuk membawanya.


Dengan uang yang dia pegang itu, dia tidak kebingungan sama sekali untuk membeli apapun, apalagi sudah mendapat izin dari Samudra bahwa dirinya bisa menggunakan uang sebanyak apapun.


...---...


Di Jakarta. Samudra sudah beberapa malam ini tidak bisa lelap tidur, teringat terus sama Rasya yang terus membayang di kelopak mata. Memenuhi ruang pikiran berjubel di rongga dada.


Kegelisahan nya saat ini pun membuat dia tersiksa, menelpon Rasya sudah puluhan kali tidak di angkat juga.


"Kemana sih, gak mungkin jam segini belum selesai tahlilan? apa sudah tidur? ahk gak mungkin." Samudra menggeleng kasar.


Kemudian dia keluar kamar dengan hanya menggunakan celana pendek saja, duduk bersandar di sofa. Memejamkan kedua netra nya membayangkan bila Rasya ada di sana bersamanya.


"Sayang? aku datang!" tiba-tiba Rasya menjelma di hadapan Samudra.


Tangan Samudra merangkul tubuh Rasya dengan sangat erat. Tidak menyangka kalau yang dia bayangkan tiba-tiba ada dan kini dapat ia peluk.


"Aku juga sangat merindukan mu sayang, sangat." Balas Rasya sambil mengeratkan pelukannya pada punggung Samudra.


"Kemana saja sayang? aku sangat merindukan mu." Gumamnya Samudra kembali rasanya pelukannya yang erat masih kurang untuk mengungkapkan perasaannya.


"Oh, sayang ... aku juga sama!" sahut Rasya dalam pelukan Samudra.


Beberapa saat kemudian. Samudra memudarkan rangkulannya kepada Rasya. Kedua tangannya membingkai wajah Rasya, di tatapnya sangat lekat dan mendekatkan wajahnya.


"Aku mencintai mu, Aku tidak ingin kau jauh dari ku lagi. Tetaplah bersama ku jangan pergi." Pinta Samudra dengan suara bergetar.


"Tidak sayang, aku tidak akan pernah meninggalkan mu. Aku pun sangat cinta sama kamu sayang." Suara Rasya pelan namun terdengar jelas di telinga Samudra.


Bibir Samudra mengecup bibir Rasya sangat mesra dan penuh perasaan. Tidak seperti biasanya, Rasya pun menjadi agresif membalas kecupan dari Samudra, bahkan kini Rasya berani mencium anggota tubuh Samudra lainnya.


Rasya mendorong tubuh Samudra ke belakang terjerembab ke atas sofa. Dia duduk di antara dua paha Samudra.


Tangan Samudra pun mengunci tengkuk Rasya lalu menyatukan bibir keduanya, semakin lama sentuhan mereka pun semakin memanas.


Namun lama-kelamaan Samudra sadar, kenapa Rasya menjadi agresif? dia itu masih pemalu bila dia sentuh, kedua mata Samudra terbuka lebar-lebar dan ternyata yang sedang berada di hadapannya ini bukanlah Rasya, melainkan Karin.


"Kau?" Samudra kaget dan betapa tertegun nya dia menatap ke arah Karin yang berada di atas pahanya itu.


Karin yang hanya mengenakan tanktop dan bawahan yang teramat seksi. Bikin siapapun pria nya akan tergoda.


"Sayang, kau kenapa? seperti seperti melihat hantu saja," tanya Karin menatap heran ke arah Samudra yang bengong.


Samudra pun tidak mengerti kenapa dirinya itu sangat merindukan rasa sehingga kalian yang berada di hadapannya dia kira Rasya.


"Sialan! bodohnya aku, kenapa aku begitu merindukan Rasya? sehingga Karin ku anggap dia! lagian kenapa Karin ada di sini?" batinnya Samudra.

__ADS_1


"Kau kapan datang?" Samudra heran menatap ke arah Karin.


"Lho, kan dari tadi yang langsung kamu peluk, kamu bilang kamu rindu aku, kamu cinta aku. Tapi kenapa sekarang kamu seperti itu? seakan kau sedang melihat hantu saja," ucapnya Karin menatap aneh.


"Ha? aku-aku!" Samudra tampak sangat kebingungan.


"Kamu kenapa sih sayang? tadi kamu begitu mesra dan bersemangat menyambut ku, kenapa sekarang kamu jadi begini? bagai orang asing!" Karin menggeleng.


Namun tak membuat dia beranjak dari posisinya semula, yang berada di pangkuan Samudra. Kedua tangannya melingkar di leher sang kekasih hati. Tiada lain adalah calon suami itu, Samudra.


Samudra yang tadi begitu menggebu untuk mencumbu? seketika berubah dingin. Hasrat yang meronta? kini tiada lagi seiring mood nya yang turun karena lain orang.


Karin mendekatkan wajahnya ke wajah Samudra, mengecup dengan mesra benda lembut miliknya Samudra tersebut.


Samudra hanya diam dan sesaat membiarkan Karin berbuat semuanya.


"Emmmm, sayang?" rintih Karin.


Karin yang agresif terus menyentuh dan mencumbu wajah Samudra mulai dari pipi, hidung. Kening dan bibir. Karin me-nye-sap dan m****a* bib** Samudra yang terdiam tanpa gairah, Karin menikmati penuh hasrat.


Namun beberapa saat kemudian, Karin melepaskan dan sedikit menjauh. Tatapan yang begitu tajam dan bertanya-tanya. "Sayang, kenapa tadi kamu begitu bersemangat penuh gairah? kenapa sekarang jadi seperti ini?"


Samudra menghindar agar terdapat jarak di antara mereka berdua, menjauhi Karin yang begitu menggebu dan agresif, menimbulkan rasa risih buat Samudra saat ini.


"Aku nggak ada mood lagi. Lagian aku takut khilaf. Bagaimanapun kita baru tunangan, belum menikah." Samudra membuang wajahnya ke samping.


"Sayang ... baby, come on ... apa salahnya sih kita mencobanya? kita bisa memakai pengaman baby?" suara Karin penuh gairah.


"Jangan sayang, aku gak enak sama orang tua mu, masa aku harus mengkhianati kepercayaannya? aku juga gak mau membuat orang tua ku kecewa." Samudra berdiri dan menyambar kaos nya lalu ia pakai.


"Come on baby? bukankah sebentar lagi kita akan menikah? tinggal menghitung hari saja!" Rajuk Karin yang terus mendekati Samudra.


"Sorry, baby. Jangan paksa aku. Aku harus menjaga mu sampai waktunya." Elak Samudra sembari membelai rambut Karin dengan lembut.


"Em ... sayang! aku makin sayang deh sama kamu!" Karin memeluk Samudra dengan sangat erat.


"Tapi sayang, kalau aku melanjutkan kuliah di LN boleh kan? aku akan sangat merindukan mu baby," ucap Karin yang menyusupkan wajah di leher Samudra, sebab tingginya mereka hampir sama.


Samudra tidak merespon perkataan dari Karin, yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah satu nama yaitu Rasya dan Rasya.


"Sayang, sudah malam. Pulang lah? nggak enak dengan tetangga, sebab kita belum menikah!" Samudra memudarkan rangkulan Karin, lantas memberi jarak sekitar dua langkah antara mereka berdua.


Karin memanyunkan bibirnya. "Aku masih kangen sama kamu sayang," ucapnya dengan nada manja.


"Tapi, kan besok. Lain kali kita bisa ketemu lagi, nanti bila sudah menikah kita akan ketemu setiap hari. Dan bebas mau melakukan apapun!" bujuk Samudra sambil sedikit mendorong bahu Karin, berjalan mendekati pintu, tidak lupa Samudra menyambar kan jaketnya milik Karin yang berada di atas sofa.


"Jadi, sekarang kau biarkan aku pulang sendiri?" lagi-lagi Karin bersikap manja tangannya bergelayut mesra di lengan Samudra.


"Sorry sayang, aku sangat capek! kerjaan sangat menyita waktu dan pikiran. Lagian kamu ke sini sendirian kan? nggak bilang-bilang dulu kalau kamu datang." Samudra berucap lirih.


"Iih ... kamu tega baby? tega sama aku! biarkan aku pulang sendirian." Rajuk Karin.


"Ya sudah, aku antar sampai ke mobil ya?" kata Samudra seraya menggandeng tangan Karin.


Sesungguhnya Karin merasa berat untuk pulang, niatnya juga mau menginap kok. Di apartemen Samudra, tetapi apa daya kalau Samudra tidak mengijinkan nya.


"Sayang, sampai sini saja kau mengantar ku! kebetulan aku bersama supir kok, jadi gak perlu khawatir baby. Aku pulang ya?" Karin berdiri di hadapan Samudra serta merangkul pundaknya.


"Oya, kau bersama supir?" tanya Samudra sambil menatap lekat ke arah wajah Karin.


"Benar baby. Oke! aku pulang dulu, i love you baby." Karin mengecup singkat bibir Samudra.


Samudra terdiam sesaat sambil menatap pada Karin yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Tinggal menghitung hari saja keduanya akan menjadi sepasang suami istri ....


.


.

__ADS_1


__ADS_2