
Rasya yang sedang memasang dasi Samudra, terkejut dengan suara ketukan pintu yang tidak beraturan tersebut.
"Ck, siapa sih? ganggu orang saja!" gumamnya Samudra sambil cuph! mengecup pipi Rasya.
"Aku lihat dulu!" Rasya bersiap membawa langkahnya.
Geph! tangan Rasya di tangkap dan di tarik Samudra, hingga tubuh Rasya menubruk tubuh Samudra yang langsung di peluk dengan erat.
"Itu siapa yang ketuk pintu?" gumamnya Rasya dengan mata yang bergerak menatap wajah Samudra yang begitu intens menatap ke arah dirinya.
"Kau sudah sehat bukan?" tanya Samudra dengan tatapan yang intens.
Rasya mengedepankan kedua matanya seraya berkata. "Benar, aku sudah sembuh. Kenapa?"
Bibir Samudra di tariknya membentuk sebuah senyuman yang mengembang. Penglihatannya terkunci pada bibir Rasya yang berwarna merah natural tanpa polesan dan menantang seolah meminta di kiss.
"Boleh minta jatah dong?" suara Samudra pelan.
"Kau ini, itu di luar siapa?" balas Rasya.
Namun Samudra tidak peduli dan wajahnya semakin mendekat, bersiap mendarat di landasan yang menjadi tujuannya itu.
Rasya menoleh ke arah pintu yang kembali terdengar di ketuk dari luar. Namun tangan kekar Samudra mengunci tengkuk Rasya sehingga bibir Samudra akhirnya mendarat juga di tempat tujuan dengan sempurna.
Tok ....
Tok ....
tok ....
Samudra tidak peduli dengan ketukan pintu yang terus terdengar. Dia tetap saja menikmati benda kesukaannya dan tangannya pun tak ayal bergerilya kemana-mana.
Rasya berusaha melepaskan diri seraya berkata. "Itu di luar, lihat dong siapa?"
Pada akhirnya, Samudra melepaskan rangkulannya juga. Dengan nafas yang terengah-engah dan rasa kesal karena dia merasa terganggu.
"Ck, siapa sih?" Samudra mengusap bibirnya yang lembab sambil berjalan mendekati daun pintu.
Blak ....
Tampaklah Mulan berdiri di ambang pintu tersebut, dengan wajah yang tampak panik dan sangat gusar. Apalagi yang punya kamar sedari tadi di ketuk-ketuk pintunya eh ... baru nongol juga.
Samudra menatap dingin ke arah Mulan. "Ada apa? pagi-pagi datang mengganggu orang!"
"Ma-maaf, Tuan? i-itu di luar ada--"
"Ada apa pagi-pagi sudah mengganggu orang?" tanya Samudra memotong kalimat dari Mulai dengan rasa kesal yang memenuhi hatinya.
"Ma-maaf, Tuan tidur ada polisi dan mereka menanyakan oleh Rasya jawabnya Mulan tambah panik. Melihat ekspresi wajah Samudra yang tampak merah.
"Apa? polisi menanyakan Rasya, ada apa?" Samudra terkesiap.
Begitupun dengan Rasya yang berada di belakang Samudra, dia terkaget-kaget mendengar sebutan polisi mencari dirinya.
Rasya berjalan mendekati Samudra dan pegang tangannya, dia tampak panik! ada apa polisi mencari dirinya sementara dia tidak berbuat apapun atau kesalahan apapun.
"Ada apa polisi mencari ku?" suara Rasya terdengar cemas.
__ADS_1
"Saya kurang tahu, dan mereka sekarang menunggu anda di bawah." Kemudian Mulan mengundur diri, berbalik untuk meninggalkan tempat tersebut.
Sejenak Rasya dan samudra saling bertukar pandangan, dengan hati yang bertanya-tanya. Kenapa polisi mencari Rasya.
"Aku takut, aku merasa nggak berbuat apa-apa. Untuk apa polisi mencariku?" tanya Rasya sembari mengerutkan keningnya.
Samudra pun hanya menautkan alisnya sembari berkata. "Kita nggak akan tahu maksud dari mereka, jika kita tidak menemuinya. Kita harus menemuinya sekarang!"
Samudra menuntun tangan Rasya di ajaknya turun ke lantai dasar, di mana tamu itu berada.
Dada Rasya berdebar tidak karuan, jantung pun berdegup begitu sangat kencang. Walaupun belum bertemu polisi yang mencarinya itu, namun lutut sudah gemetaran.
"Aku takut?" Rasya memegang tangan Samudra begitu kuat sambil berjalan menuruni anak tangga.
"Tidak usah takut, ada aku. Lagian kan kamu tida bersalah!" Samudra mengusap tangan Rasya dengan lembut.
Di ruang tamu, memang benar ada dua polisi yang sedang duduk ditemani oleh bu Riska dan Pak Suyoto saling berhadapan.
Melihat kedatangan Sam dan Rasya. Kedua polisi tersebut menyambut kedatangan samudra dan Rasya. "Apakah ini yang bernama Rasya?" tanya seorang polisi ke arah Suyoto dan Bu Riska.
"Kalau yang bernama Rasya dan tinggal di rumah ini? iya dia mantu saya." Jawabnya bu Riska sembari mengangguk, begitu pun dengan Pak Suyoto.
Setelah berjabat tangan, mereka kembali duduk bersama dan berhadapan.
Samudra menatap penasaran pada kedua polisi tersebut. "Ada apa ya? mencari istri saya?"
"Apa benar, Nona Rasya ini punya saudara yang bernama Vera?" tanya bapak polisi dengan to the poin.
Samudra melirik ke arah Rasya yang mengangguk. Merespon pertanyaan dari pak polisi tadi.
"Sekarang dia sedang berada di rumah sakit xx, akibat keserempet mobil yang kejadiannya tepat tadi malam." Jelas salah satu bapak polisi.
Samudra pun mengangguk merasa sedikit penasaran. Menatap ke arah polisi tersebut.
"Dia mengalami patah tulang di bagian tangan dan yang menyerempetnya itu tidak bertanggung jawab, mobilnya kabur begitu saja meninggalkan korban di pinggir jalan!" jawabnya salah satu pak polisi.
"Ya Allah ... kak Vera." Gumamnya Rasya.
"Dan ketika kami interogasi pada yang bersangkutan. Dia mengatakan kalau dia punya keluarga yang bernama Rasya tinggal di rumah ini, makanya kami datang ke sini memberitahukan keberadaan dia," tambah pak polisi satunya lagi sambil mengarahkan pandangannya kepada Rasya dan Samudra.
"Kenapa dia tidak menghubungi keluarganya saja di Surabaya? bukan ke sini?" suara Samudra seraya melihat ke arah Rasya dan Samudra bergantian.
"Kami tidak tahu soal itu, karena dia hanya menyebutkan satu nama, yaitu Rasya dan alamatnya Di sini," lanjut Pak polisi kembali.
"Terus? yang harus bertanggung jawab membayar semua biaya di rumah sakit siapa?" tanya Rasya pada kedua orang polisi tersebut.
"Nanti saja, Nona hubungi keluarganya. Kami hanya menyampaikan dan saya mohon undur diri, permisi? terima kasih atas waktunya?" kedua polisi tersebut berdiri dan mengeluarkan tangan kepada Pak Suyoto, bu Riska. Samudra dan Rasya.
Setelah kedua polisi tersebut pergi diantar oleh Pak Suyoto ke teras. Rasya menatap ke arah Samudra dengan tatapan lekat, dia merasa bingung harus gimana?
Samudra yang mengerti dengan apa yang Rasya pikirkan saat ini, Samudra berkata. "Gengsi banget kalau kita harus ngomong pada orang tua angkat mu dulu, untuk meminta biaya! sudah. Bayar saja semuanya!" Samudra menjeda kalimatnya.
Rasya hanya mendengarkan dengan seksama perkataan suaminya itu.
"Bayar, semua biaya rumah sakit nya. Masih ada uang, kan? di ATM. Hanya satu yang saya minta, jangan bawa dia ke sini. Apalagi ke apartemen." Jelas Samudra.
"Siapa juga yang mau mengajak dia ke aparetemen!" sahutnya Rasya.
__ADS_1
"Setelah dia keluar dari rumah sakit, pulangkan saja dia di Surabaya dan beri ongkos nya sampainya bertemu keluarganya." Tegasnya Samudra kembali, dia itu tidak suka kalau harus bertemu lagi dengan Vera.
"Mama rasa ... Samudra benar! Rasya bayarin saja rumah sakitnya dan juga nanti setelah dia bisa pulang dari rumah sakit, antarkan dia dengan travel kek, yang penting dia sampai ke tempat keluarganya dengan selamat." Bu Riska setuju dengan saran Samudra.
Rasya menoleh ke arah Ibu mertuanya lalu dia mengangguk. "Iya Mah, tapi ke sananya aku sama siapa?"
"Sopir akan mengantarmu ke rumah sakit dan membantu mu untuk mengurusnya." Kata Samudra.
"Mama ikut kok sayang. Kamu jangan takut, Mama akan menemanimu ke rumah sakit tersebut," ucap bu Riska yang siap sedia mengantar Rasya ke rumah sakit.
"Makasih, Mah?" Rasya tersenyum ke arah sang ibu mertua.
"Kita sarapan yu? lapar nih!" Samudra mengusap perutnya yang kelaparan.
"Iya nih, dah siang nih. Belum sarapan." Pak Suyoto yang baru saja dari luar melihat putaran jarum jam di tangannya.
Rasya dan Samudra beranjak dari duduknya dan berjalan menuju meja makan yang sudah siap dengan beberapa menu untuk sarapan, di susul oleh Bu Riska dan pak Suyoto.
Kini semuanya sudah berada di meja makan menikmati sarapannya.
Di sela-sela makannya. Pak Suyoto mengarahkan pandangan pada Rasya dan Samudra. "Rasya mau kamu antar ke rumah sakitnya?" selidik pak Suyoto.
"Aku sudah siang, mau ngantor." Samudra menoleh ke arah jam tangannya.
"Lho, terus sama siapa dia ke RS nya?" pak Suyoto heran.
"Sama supir dan Mama saja, Pah." Bu Riska menjawab kan sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Hem ... masih mendingan cuma terserempet, tidak tertabrak juga!" suara pak Suyoto pelan.
"Bener, Pah. Masih untung." Timpal Bu Riska sembari mengangguk.
Setelah sarapan, Samudra bergegas ke kamarnya untuk mengambil barang yang masih tertinggal di sana. Seperti jas ponsel laptop. Di susul oleh sang istri, Rasya.
"Jangan lupa bawa ATM dan ponselnya, awas ketinggalan?" kata Samudra di saat Rasya baru saja masuk ke dalam kamar tersebut.
Rasya mengangguk. "Iya, ini juga mau ngambil ATM juga ponsel, tapi ponselku di mana ya?" Rasya celingukan mencari ponselnya.
"Emangnya semalam, kau simpan di mana?" tanya Samudra sambil merapikan jasnya.
"Tidak tahu, bukannya semalam yang kau pegang itu ... ponsel ku? aku dari kemarin gak pegang ponselku." Rasya terus celingukan mencari keberadaan ponselnya, di bawah bantal tidak ada. Di atas nakas apa lagi.
Samudra ikut mencari ponsel milik Rasya, sambil mengingat-ingat apa iya semalam dia mengoprek ponsel Rasya. "Ooh iya aku lupa--"
"Di mana?" tanya Rasya, begitu antusias dan memotong perkataan dari Samudra.
Samudra membuka tasnya yang sudah diisi dengan laptop dan bukan salah satu ternyata ada di sana. "Ini, ponsel mu!"
"Nah ... kan? ada di kamu!" Rasya mengambil handphone nya dari tangan Samudra.
"Ya sudah, hati-hati ya? jangan nakal dan nanti pak supir yang akan membantu mu." Kata Samudra sambil merangkul pinggangnya Rasya.
"Iya," Rasya melepaskan diri dari rangkulan Samudra.
Namun tangan Samudra cukup mengunci tubuh Rasya yang berusaha melepaskan diri dari rangkulan Samudra.
Cuph! Samudra mendaratkan kecupan di kening Rasya bergantian dengan pipi ....
__ADS_1
.
.