Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 52 Main perintah


__ADS_3

Sepersekian waktu, semua perabotan sudah bersih dan langsung mengeksekusi bahan-bahan buat masakan.


"Kau belum ke kantor?" tanya Rasya sambil menyiapkan semau bahan masakannya, yang bukan buat sarapan lagi, habis sudah siang dan bukan pagi lagi.


"Tidak, jam berapa nih? apa kau tidak melihat jam? yang sudah jam sepuluh begini." Balas Samudra sembari menyesap kopinya.


"Oh, iya-ya? pantas. Perut ku sudah keroncongan begini ya? he he he ... Oya, bahan-bahan masakan sudah menipis." Rasya menoleh ke arah Samudra. Memberanikan diri untuk bilang, kalau keperluan dapur sudah menipis.


"Catat saja semuanya, tinggal pesan saja, nanti datang. Atau, di bawah ada swalayan. Kau belanja di sana." Balas Samudra, tanpa menoleh.


"Swalayan?" gumam Rasya sambil memotong sayuran.


"Eh gak usah, janhmgan. Nanti kau kesasar dan gak bisa pulang ke sini lagi, pesan online saja. Handphone mu kan ada. Pergunakan."


"Gunakan buat apa? pesan ke mana?" tanya Rasya tidak mengerti seraya menoleh ke arah Samudra yang sedang menikmati kopi pahitnya.


"Ya, pesan online. Lewat handphone, semuanya akan datang dan tinggal bayar, mau transfer atau kes, gitu. Beres." Samudra menjelaskan.


"He he he ... belum mengerti, Tuan. Aku gak faham." Rasya menggeleng, otaknya merasa bleng.


Samudra memejamkan matanya menahan kesal. "Sekarang, kamu masak aja dulu yang ada, sampai selesai. Sebab saya lapar sekali, nanti saya ajarkan." Jelas Samudra sambil menggeleng.


"Baiklah. Eh, apa Tuan tidak kedinginan ya? tidak pakai baju gitu? aku saja selalu kedinginan biarpun pakai selimut kalau tidur." Tanya Rasya sambil anteng dengan tugasnya.


"Ah, dasar orang kampung. Padahal di kampung lebih dingin dan tidak ada pengaturannya, orang suhu nya alami. Kalau di sini kau bisa mengatur suhu AC. Bukan dibiarkan membuat tubuhmu menggigil," ungkap Samudra ketus.


"Iya, di kampung kan suhunya alami, Tuan. Dan menyehatkan kok, he he he, kan aku belum hapal, Tuan. Aku belum mengerti cara mengatur suhu AC yang terlalu dingin itu." Rasya terkikik sendiri dengan tangan tetap bergerak dengan tugasnya memasak.


"Kan aku belum hapal!" Samudra menirukan ucapan Rasya. "Masa setiap malam aku juga yang mengatur suhu AC di kamar mu?" ketus Samudra.


"Apa? jadi setiap malam, Tuan datang ke kamar ku? ngapain? jangan-jangan." Rasya menatap curiga pada Samudra.


"Jangan-jangan apa? a-aku. Cuman mematikan AC saja, gak lebih," sahut Samudra dengan nada dingin.

__ADS_1


"Apa, Tuan tidak pernah melihat ku--"


"Ya lihatlah, kau itu kalau tidur--" Samudra menggantungkan perkataannya.


"Ka-kalau tidur apa? Tuan bilang. Kalau tidur, aku kenapa?" Rasya penasaran takut Samudra macam-macam atau melihat dirinya yang gimana ... gitu so tidak sadar.


"Ya ... kalau tidur, tidak memakai selimut." Tegas Samudra.


"Alhamdulillah ... berarti anda tidak melihat ku yang macam-macam kalau sedang tidur." Rasya merasa lega, lantas melanjutkan masaknya.


Samudra menggeleng. Kemudian mengedarkan penglihatannya ke arah ruang tengah, kursi sudah tertata dengan sangat rapi seperti semula.


"Ambilkan laptop ku?" titah Samudra melirik ke arah gadis itu yang tengah asik mengorak-ngarik masakannya sambil bernyanyi.


"Iih ... gak lihat apa? orang lagi sibuk juga. Ini gimana?" tanya Rasya sambil menunjuk pada masakannya itu.


"Aku yang akan gantikan. Tenang saja!" balas Samudra.


"Dasar, gadis bagasi, gadis satu milyar. Bisanya menggerutu saja." Gumamnya Samudra, menatap punggung Rasya yang sedang berjalan.


Samudra lagi-lagi menyesap kopinya. "Eh, jangan lupa ya dengan kaos ku! bawa ke sini juga?" pekiknya lagi.


"Huuh ... ini orang, bisanya main perintah saja. Ini-itu, yang lama baru dikerjakan sudah perintah lagi yang baru, gak pengertian amat jadi orang," Rasya terus menggerutu sambil membuang napas dari mulutnya.


Setibanya di kamar Samudra, langsung membuka gorden terlebih dahulu. Barulah manik mata indahnya mengitari sekitaran. Mencari barang yang Samudra pinta. Kemudian dia menemukan yang dia cari itu di atas nakas.


Lalu tangan Rasya mengambil laptop tersebut, sekalian handphone. Lalau netra nya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan mencari kaos. Kali aja ada di atas sofa. Namun yang ia temui hanyalah pakaian kotor saja yang berserakan di lantai dan sofa.


"Iih ... gak ada, lagi." Rasya sekalian memungut pakaian kotor milik samudra ke dalam pelukannya.


Setelah itu baru mengambil yang baru dari lemari. "Aish ... ini kemarin aku bereskan, Denggan sangat rapi, kok berantakan begini sih?"


Rasya mematung dan netra nya Rasya memandangi pakaian di lemari yang sangat berantakan. Brugh! ada yang jatuh menimpa kakinya.

__ADS_1


Manik mata Rasya bergerak melihat yang terjatuh. Lalu berjongkok dan mengambil barang tersebut dengan cara menjewer memakai jari. "Iih ... sepak. Eh segi tiga."


Sontak Rasya membayangkan isinya, membuat Rasya bergidik geli. "Iiy ... takut ..." lantas memasukannya kembali ke dalam lemari tanpa merapikannya, biar nanti saja, pikirnya.


"Ya ampun ... aku lagi masak! bisa-bisa gosong ..." Rasya buru-buru keluar dari kamar Samudra, dengan tangan penuh yang segala ia bawa.


Samudra yang menggantikan tugas Rasya di dapur, berdiri dekat kompor, mengaduk masakan yang Rasya tinggalkan.


"Sudah pakai bumbu belum sih?" tanya Samudra dalam hati sambil menicip sedikit dan rasanya sedap. Berarti sudah terkena bumbu.


Beberapa saat kemudian netra nya Samudra, melihat Rasya yang baru muncul. "Ck. Kau ini kemana saja sih? lama amat! ke pasar dulu apa ha?"


"Ish-ish. Ish ... tidak lihat apa segini banyaknya yang aku bawa? dari kamar mu yang melebihi pasar swaylayan itu?" sahut Rasya memperlihatkan banyaknya yang dia bawa.


Segunung baju kotor, laptop. Ponsel. Dan kaos bersih yang Samudra pinta tadi.


Netra nya Samudra menatap tangan Rasya yang memang penuh. Lalu Samudra mengambil kaos, handphone dan laptop miliknya.


"He'eh ... pemungutan apa? masakan sudah masakan tuh urusin!" dengus Samudra.


Rasya menyimpan dulu pakaian kotor ke tempatnya, lanjut meneruskan masaknya, hingga beberapa menit kemudian masakan pun sudah siap untuk dihidangkan.


"Sarapannya sudah siap!" ucap Rasya seraya menyajikan semuanya di meja. Dan mengambilkan buat Samudra terlebih dahulu. Kemudian berjalan meninggalkan meja makan.


"Eeh. Kau mau kemana?main pergi saja, tanpa bicara atau apa, bagai jelangkung saja, datang tak dijemput dan pulang tidak di antar," tanya Samudra sambil menutup laptopnya.


"Mau nyuci lah, Cucian banyak, belum baju ku yang masih di kamar." Jawab Rasya berbalik.


"Bukannya kau juga lapar? makan? lihat badan mu dah mulai berisi, nanti kau kurus lagi, bikin sakit mata saya kalau lihat kau kerempeng, yang ada cuma tulang, anjing saja tidak akan mau memakan tulang mu." Ketus Samudra sembari menarik piringnya ....


.


Mohon bantuannya reader ku semua🙏

__ADS_1


__ADS_2