Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 146 Ulang tahun


__ADS_3

Sementara Rasya berlari ke lemari untuk mengambil baju, lanjutan ke kamar mandi.


"Sayang ... sudah subuh, bangun?" suara Viona kembali terdengar dari balik pintu sekali pintu-pintu ketuk mungkin karena tidak ada respon dari Rasya.


Tidak lama kemudian, Rasya keluar dari kamar mandinya dan langsung menghampiri pintu tersebut. "Iya, Bunda. Aku sudah bangun kok, aku barusan lagi mandi," sahutnya Rasya sambil membuka pintu.


Pintu pun terbuka, dan diambang sana berdiri Viona beserta suami, yaitu sang ayah yang langsung menatap ke arah Rasya dengan tatapan yang penuh interogasi dan melihat-lihat ke arah dalam kamar Rasya.


Keduanya langsung berjalan masuk, membuat Rasya mundur berapa langkah ke belakang.


"Samudra mana? bukannya semalam bermalam di sini bersama mu?" tanya sang ayah sembari mengedarkan tatapannya seluruh ruangan tersebut.


Rasya berusaha menyembunyikan rasa gugupnya dengan cara menghela nafas panjang. Lalu menjawab. "Tidak. Ayah, tuan Sam tidak menginap di sini!"


Kedua mata Fatir bergerak mencari keberadaan Samudra, yang dia pikir pasti dia itu menginap di kamar Rasya tersebut.


Rasya menoleh dengan tatapan cemas pada sang Bunda, begitupun dengan sang bunda kepada Rasya, Viona merasa kalau putrinya ini sedang berbohong.


Ujung manik Rasya melihat ke arah gorden yang tampak rapi itu, yang justru di sana Samudra sembunyi.


"Benarkah? Samudra tidak menginap di sini?" tanya kembali sang ayah dan Rasya langsung mengganggu pelan sambil menunduk.


Kemudian langkah Fatir mendekati gorden jendela yang masih belum di bukakan juga.


Membuat Rasya merasa panik, takut. Samudra ketahuan sedang sembunyi di sana. "Mau kemana?" katanya Rasya dengan lebih cepat.


Sang ayah menoleh dengan tetapan curiga kepada putrinya itu, jangan-jangan Samudra memang berada di sana. "Kau yakin kalau Samudra tidak menginap di sini sayang?" selidik Fatir kembali dengan tetapan yang begitu tajam ke arah Rasya.


"I-iya, yakin. Aku hanya sendiri," kali ini rasa berusaha meyakinkan sang ayah, jika Samudra memang tidak berada di sana.


"Hem ... Ayah mau mau membuka gorden seharusnya sudah dibuka-buka, biar matahari masuk ke kamar ini." Fatir melanjutkan langkahnya mendekati gorden tersebut.


Rasya tampak gugup dan was-was ketika sang ayah semakin mendekat pada jendela tersebut, tubuhnya mendadak panas dingin, keringat dingin pun keluar di sela-sela pori-pori telapak tangan gadis itu.


Serrrrr ... gorden, Fatir ke sampingkan agar sinar matahari pun langsung masuk ke kamar itu.


Jantung Rasya hampir saja mau copot kalau saja Samudra, sang ayah temukan di balik gorden, namun untungnya gorden tersebut kosong, tidak ada bayang-bayang Samudra di sana.


Seketika Rasya menarik nafas lega, setelah memastikan di balik gorden itu tidak ada siapapun.


Fatir berbalik melihat ke arah istri dan Rasya. "Baiklah, kau dandan yang cantik ya? hari ini puncak pesta syukuran menyambut kehadiran mu di keluarga ini," ucapnya Fathir sembari melangkah keluar dari kamar tersebut.


Viona dan Rasya saling melempar pandang sesaat, entah apa yang Viona pikirkan saat ini, Viona tampak sangat cemas pada sang Putri. Kemudian Viona segera menyusul sang suami yang keluar diri dari kamar tersebut, sebelumnya Viona mengusap bahu rahasia.


Rasya buru-buru menutup pintu dan menguncinya, berdiri dan bersandar di daun pintu tersebut. Sambil menarik nafasnya! Dadanya tampak naik turun dan berusaha menenangkan diri. dalam pikirannya bertanya-tanya Samudra ke mana? bukannya tadi dia bersembunyi di balik gorden?


Pandangan Rasya menyisir ke seluruh sudut kamar. "Kemana dia? tadi sembunyi di balik gorden kenapa sekarang tidak ada?" gumamnya Rasya merasa heran seraya berjalan yang entah kemana tujuan.


Terdengar suara pintu lemari terbuka dan Rasya segera menoleh ke sumber suara tersebut, dan rupanya Samudra yang bersembunyi di sana.


Rasya membuang nafasnya dari mulut. "Huuh ... Aku kira kamu ke mana?"


"Hampir saja ketahuan," gumamnya Samudra sambil keluar dari lemari pakaian Rasya.


"Tuan, cepatlah keluar? sebelum orang tua mu melihat kita berada di sini." Pinta Rasya sembari menunjuk ke arah pintu.


"Kalau aku nggak mau gimana?"tanya Samudra sambil mesem-mesem sendiri.


Rasya mendorong bahu Samudra agar keluar dari kamarnya. "Pokoknya keluar!"


"Saya masih mau di sini," kata Samudra sambil menahan langkahnya itu.


"Gak bisa, nanti ketahuan orang-orang, kenapa sih nggak ngerti-ngerti? kecuali kalau kamu mau membongkar semuanya, bilang kalau kita sudah menikah!" jelas Rasya yang tampak kesal.


Dengan terpaksa, Samudra berjalan untuk keluar dari kamarnya Rasya. "Baiklah ... aku pergi Nona!" Samudra berjalan gontai keluar dari kamar miliknya Rasya.


"Huuh ... akhirnya!" Rasya mengusap dada.


Ketika sarapan, barulah mereka bertemu lagi di meja makan. Tanpa ada percakapan yang apapun, Rasya dan Samudra hanya diam-diam'an.Paling mata mereka yang berbicara.


Rasya malah banyak berbincang dengan Ubai, sampai hal-hal yang kecil pun mereka ceritakan.

__ADS_1


Membuat Samudra tampak jeles melihat keakraban mereka berdua. Bahkan perhatian kecil pun sesekali Ubai tunjukan. Waktu terus bergulir dan berganti membawanya ke suasana yang semakin siang.


Kediaman tersebut semakin ramai dengan para tamu yang dimanjakan dengan acara band yang terkenal dari ibukota Jakarta.


Rasya di kelilingi dengan keluarga dan orang-orang yang menyayanginya. Sesuatu yang membuat Rasya tak berhenti terus bersyukur atas segala yang telah Tuhan berikan.


Dari arah pintu datanglah Darma, Alisa dan putranya yang bernama Azam, mereka datang dengan wajah yang sumringah, dari jauh pun Azam sudah menunjukan senyuman yang diarahkan kepada Rasya.


Tentu, keluarga Fatir menyambut kedatangan mereka bertiga dengan hangat, terutama dengan Viona. "Kalian ini kebiasaan deh suka telat datang!"


"Sorry. Bu ... kami kan orang sibuk, lah biasa, kalau telat sebentar mah!" sahutnya Alisa sembari berpelukan dengan Viona cium pipi kiri dan kanan.


"Kenalkan, mereka dari Jakarta namanya pak Suyoto dan istrinya bernama Bu Riska, dan ... itu putra nya bernama Samudra. Meraka sudah kami anggap seperti keluarga, seperti sekalian juga," Viona mengenalkan keluarga Pak Suyoto kepada Lisa dan suaminya.


Mereka pun berkenalan dan saling berjabat tangan, juga seling bercengkrama dengan ramah.


Sementara Azam, dia langsung menghampiri Rasya, Azam pun mengulurkan tangannya kepada Rasya yang langsung disambut oleh gadis cantik tersebut.


"Apa kabar Vivian? yang cantik?" sapa Azam dengan senyuman yang tak pernah pudar dari bibirnya.


"Baik, baik sekali! perasaan semalam deh kita ketemu, sekarang sudah nanya kabar segala?" Rasya tersenyum simpul.


"Emang kenapa? gak apa-apa juga, kata orang tua pun bahasa Itu tidak dibeli, jadi apa salahnya kita gunakan dengan baik," jawabnya Azam.


Rasya menggelengkan kepalanya seraya terus mengulas senyumnya yang manis.


"Vivian, hari ini kau tampak lebih cantik dari sebelumnya," puji Azam sembari menatap intens ke arah Rasya.


Rasya yang hari ini mengenakan gaun panjang yang berwarna pink putih dan rambut dibiarkan terurai bergelombang menambah cantik penampilannya, tampak sangat anggun.


Samudra pun baru ngeh, bahwa banyak perubahan yang ada pada diri Rasya. Penampilan nya yang lebih elegan kulitnya yang lebih bersih lebih glow up sekarang ini. Membuat Samudra menjadi tertegun. Ditambah lagi dengan gerak gerik pemuda yang bernama Azam tersebut yang tampak menyimpan harapan terhadap Rasya.


Saat ini hari pun sudah memasuki malam. Dan bagi para muda mudi yang seusia Rasya dan di atasnya bahkan yang berpasangan, dipersilakan untuk bernyanyi dan berdansa. Tentu Azam tidak membuang kesempatan ini untuk mengajak Rasya naik ke panggung.


Dan atas dukungan orang tua nya, Rasya pun mau di ajak Azam untuk naik ke atas panggung, sekedar bernyanyi dan berdansa.


"Aku nggak bisa berdansa!" gumamnya Rasya kepada Azam pelan.


"Nggak pa-pa, aku yang akan ngajarin," ucapnya Azam lalu membuat ancang-ancang untuk memulai berdansa.


Tentunya pemandangan itu membuat samudra meradang. Bagaikan kebakaran jenggot, tidak mau tenang dan serba salah. Hatinya terbakar api cemburu, wanita yang selama ini hanya dia yang menyentuh! kini di pegang orang.


"Kenapa, Bos?" tanya Ubai ketika melihat Samudra yang bersikap aneh.


Samudra hanya melihat tanpa merespon sedikitpun. Hatinya semakin dibuat panas! hampir saja dia berdiri dan mendatangi Rasya yang bersama Azam.


"Jangan, Bos. Jangan macam-macam! jangan bikin malu," cegah Ubai.


Membuat Samudra terduduk kembali dengan wajah yang di tekuk dan rahang mengeras.


Kini Rasya bukan lagi berdansa, melainkan banyak di suguhkan hadiah dan bunga dari para pemuda, termasuk Azam memberikan sebuah kotak kecil pada Rasya.


Dan ternyata hari ini adalah hari ulang tahunnya Rasya yang ke 20 tahun. Dan ini sebuah kejutan bagi Rasya yang tidak menyangka sama sekali. Sebab orang tua nya saja belum mengucapkan.


"Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, Rasya?" Viona mengucapkan itu dengan mata yang berkaca-kaca.


Viona ingat betul, kalau mereka merayakan ulang tahun Rasya itu ketika sekitar satu tahun dan sekarang sudah 20 tahun. Begitu lamanya mereka terpisah oleh jarak dan waktu.


Viona memeluk Rasya dengan sangat erat. Rasya pun menangis haru di dalam pelukan sang bunda. Dia baru kali ini menerima banyak ucapan selamat ulang tahun.


Kemudian Fatir yang memberi ucapan tersebut pada Rasya. "Selamat ulang tahun sayang, semoga panjang umur ya?"


Sejenak Fatir memeluk tubuh Rasya. Seraya mengusap punggung nya, beberapa kali mengecup keningnya Rasya penuh kasih sayang.


Kini giliran Citra yang menghampiri Rasya. "Mbak semoga panjang umur ya?"


Rasya tersenyum getir lalu memeluk sang adik, Citra. "Terima kasih ya Citra?" Rasya tidak tau harus berkata-kata apa lagi?


Bu Afiah dan Bu Asri juga mengucapkan selamat pada sang cucu yang selama ini menghilang.


"Sayang, cucu Nenek semoga panjang umur, sehat. murah rejeki dan mendapat jodoh yang terbaik," ucap Bu Afiah seraya memeluk Rasya dengan kuat.

__ADS_1


"Makasih, Nek?" gumamnya Rasya sambil membalas pelukan bu Afiah.


"Selamat ya sayang, Vivian cucu Oma yang cantik? pokonya doa terbaik untuk kamu." Bu Asri merangkul Rasya dengan sangat erat dang penuh kerinduan pada cucunya yang satu ini.


Di panggung, sang vocalis menyanyikan selamat ulang tahun.


Kemudian Adam dan Sidar juga istri-istri nya. Mengucapkan juga pada Rasya, mereka semua bergantian memeluk Rasya.


Tante Hesya pun, membawakan kue tar berhias ucapan dan lilin yang melambangkan usia 20, dan beberapa orang lainnya yang juga membawa kue ulang tahun lainnya.


"Selamat juga pada sang keponakan ku ... selamat ya? semoga panjang umur."


"Makasih, Tante!" Rasya mengarahkan pandangannya ke arah kue tar yang orang-orang riuh menyuruh untuk.


"Tiup, tiup. Tiup, ayo tiup."


Rasya yang di dampingi oleh ayah bunda nya. Tampak sangat bahagia, sangat merona di wajahnya, lalu meniup lilin dan memotong kuenya. Dan potongan yang pertama, dipersembahkan pada sang bunda dan sang ayah.


"Terima kasih sayang? semoga kita akan terus bersama untuk selamanya, tidak terpisah lagi. Viona memeluk Rasya, mencium pipi kiri dan kana.


Azam pun berusaha paling gercep alias gerak cepat mendekati Rasya, dan kembali memberikan kotak kecil yang belum sempat Rasya ambil tadi.


"Kita gak tahu sama sekali kalau Nona berulang tahun hari ini." gumamnya Ubai sambil melipat tangan di dada, dengan ratapan di tujukan pada Rasya yang di kelilingi keluarga dan para pemuda.


"Mana saya tahu kalau dia ulang tahun? coba saya tahu dari awal, kita pasti menyiapkan hadiah." Timpal Samudra seraya memasukan kedua tangannya di saku.


"Anda, kan suaminya! tunjukkan dong perhatiannya, Jangan mau kalah sama orang lain. Tuh ... lihat? hampir semua pemuda, ingin mendapatkan perhatian dari Nona, apakah anda mau kalah sama mereka?" ucap Ubai pada sahabat sekaligus bosnya itu.


Samudra menoleh pada Ubai dengan raut wajah yang dingin. "Kau sendiri suka juga sama Rasya, kenapa nggak menunjukkannya?" nada bicara Samudra begitu datar.


"Ooh ... kalau masalah aku sih, bisa belakangan dan biarpun aku belakangan pasti akan jadi pemenang! ha ha ha." Ubai tertawa.


Kedua netral Samudra mendelik ke arah ubai, hatinya merasa semakin dipanas-panasi oleh omongan Ubai.


Azam menatap lekat ke arah Rasya seraya berkat. "Sudi kah kiranya menerima hadiah dariku?" ucapan Azam sambil menatap lembut pada rasa.


Rasya pun menoleh dan membalas tatapan dari Azam. "Apa ini Itu?"


"Sebuah hadiah untukmu, sebagai tanda awal dari persahabatan kita ya lebih-lebih dia sekedar sahabat," menyunggingkan senyumnya.


Perlahan Rasya pun menerima kotak tersebut. Lalu ia berikan kepada tante Hesya untuk menyimpannya, lanjut kembali melihat pada Azam. "Terima kasih ya? terima kasih banyak?"


Setelah itu Rasya kembali naik ke panggung, untuk sedikit bernyanyi dan ternyata suaranya lumayan bagus dan enak didengar.


Dan ajam pun tidak mau jauh-jauh dari Rasya. Dia selalu menguntit dimanapun Rasya berada.


Membuat samudra semakin merasa gerah dengan tingkah lakunya Azam, bikin Samudra geregetan dan rasanya tangan ini sangat gatal ingin menarik pemuda itu. Menjauh dari Rasya.


Kedua netra Samudra celingukan melihat ke arah sekitar, terutama orang tuanya dan juga orang tua Rasya yang sedang asing mengobrol dengan tamu-tamu lainnya.


Dan Ubai entah ke mana? dia tidak berada di dekat Samudra saat ini, Samudra memutuskan untuk naik ke panggung dan mendekati rasa.


Setelah berada di di atas panggung, Samudra sedikit menarik tangan Rasya dan menghentikan nya dia bernyanyi.


"Sya, jujur saya gak tahu kalau hari ini kau ulang tahun! seandainya saja tahu, saya akan menyiapkan hadiah untuk mu, selamat ulang tahun ya?" ucap Samudra pendiri dihadapkan Rasya.


Manik mata Rasya yang indah, bergerak melihat ke arah wajah Samudra yang tampak tulus mengucapkan itu padanya. "Terima kasih? jangankan dirimu aku aja nggak tahu kalau hari ini hari ulang tahunku," balasnya Rasya dengan masih menatap ke wajah Samudra.


Kedua netra Azam bergerak pada tangan Samudra yang kini memegang tangan rasa keduanya. "Hi, Tuan? siapa dirimu sehingga berani-beraninya menyentuh calon kekasihku ini?"


Perlahan semudah menolehkan kepalanya ke arah Azam. Lalu berkata kau baru calon kekasih bahkan belum tentu diterima, sedangkan saya--"


Tatap Rasya semakin lekat pada Samudra yang menggantungkan perkataannya dan Rasya merasa sangat penasaran? apa yang akan Samudra katakan pada Azam, akan jujur kah? mengatakan yang sesungguhnya.


"Sedangkan, dirimu apa?" tanya Azam dan juga beberapa pria lainnya. Penasaran dengan kelanjutan perkataan dari Samudra.


Kini Samudra sudah kembali mengalihkan pandangannya kepada Rasya menatapnya dengan tatapan yang penuh tanda tanya. Tangannya tidak melepaskan tangan Rasya barang sedikit pun.


Samudra tidak peduli dengan banyak pasang mata yang akan memandang ke arah dirinya dan Rasya, terutama kepada pemuda-pemuda yang menyimpan harapan terhadap Rasya ....


.

__ADS_1


.


Mohon dukungan dan hadiahnya bila berkenan🙏


__ADS_2