Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 77 Gadis polos


__ADS_3

"Wa'alaikum salam ... akhirnya ... tamu agung datang juga. Apa kabar Fatir, Viona? masya Allah ..." pak Suyoto menyambut ramah dan bahagia kedatangan tamunya.


"Alhamdulillah, Mas. gimana sebaliknya? awet muda nih Mas ini." Fatir dan Suyoto saling menepuk punggung masing-masing.


"Alhamdulillah ... seperti yang kau lihat. Bisa aja, apalagi dirimu wah ... masih terlihat gagah, muda dan tampan." Pak Suyoto memperhatikan sosok Fatir dari ujung kepala sampai kaki.


"Ha ha ha ... berlebihan kamu Masi" Fatir menggeleng.


Sesaat kemudian bu Riska mendekati wanita yang lebih muda darinya itu. "Apa kabar Jeng? lama kita tidak bertemu ya?"


"Baik, Mbak ... iya, gimana sebaliknya, Mbak?" tanya balik Viona dengan ramah.


"Alhamdulilah, seperti yang kau lihat, jeng." Keduanya saling peluk pipi kanan dan kiri.


"Dia siapa?" Viona menatap lekat ke arah Rasya yang berdiri dan sempat mengangguk hormat. "Putri Mbak Riska ya? kok aku baru tahu kalau Mbak punya putri. Dulu yang ku tau anak laki-laki."


Viona melihat ke arah Bu Riska dan Rasya bergantian. Melihat nya pertama kali langsung ada rasa yang bergetar.


"Baru tahu ya? he he he ... yu duduk ah." Bu Riska menyilakan Viona untuk duduk.


Sementara Fatir dan Suyoto sudah duduk duluan. Kedua netra mata Fatir pun tak luput memandangi gadis itu. Cantik, manis dan tampak sopan terlihat dari perangainya.


"Em, aku permisi dulu ya?" pamit Rasya sambil mengangguk dalam kepada semuanya.


"Eh ... jangan. Kamu duduk saja sayang di situ, nanti yang lainpun akan segera ke sini." Cegah Bu Riska meraih tangan Rasya agar duduk kembali.


Rasya mengangguk lalu Mendudukkan bokongnya di tempat semula, tidak jauh dari Bu Riska.


Kemudian, pak Suyoto perintahkan pak Panji untuk memanggil putranya. Pak Panji pun dengan cepat memutar badannya lantas berjalan meninggalkan tempat tersebut.


"Ehem. Putra mu mana? pasti sudah dewasa sekarang ya?" tanya Fatir teringat pada Samudra putranya Suyoto.


"Ha ha ha, bukan dewasa lagi. Tidak lama juga mau menikah, dan beberapa Minggu lagi akan tunangan." Balas Suyoto terkekeh.


"Oh, ini adiknya?" Fatir menunjuk ke arah Rasya yang menunduk.


Semua yang berada di sana menatap ke arah Suyoto.


"Bukan!" Suyoto menggeleng.


"Terus siapa? oh pasti calon mantu?" dugaan Fatir kalau gadis ini bukan putrinya pasti calon mantunya Suyoto.


Di tengah mengobrol dengan Bu Riska, Viona sering memperhatikan sosok gadis itu yang berasa mengenal namun tidak.


Ubai dan Samudra datang bersama Karin yang tidak mau jauh dari tangan Samudra.


"Nah ... ini putra ku, dan ini dia calon tunangannya, terus yang ini asisten+sahabat putra ku. Namanya Ubai." Pak Suyoto mengenalkan putranya.


"Wah ... sudah sebesar ini? tampan sekali, ck-ck-ck." Fatir berdecak kagum. Kemudian memeluk Samudra.


"Yah, makin ganteng." Viona menatap kagum pada Samudra.


"Siapa dulu dong ... mama papanya? hi hi hi ... Bu Riska terkekeh.


Setelah berkenalan satu sama lain. Mereka pun duduk bersama. Kini Rasya berdampingan dengan Ubai. Samudra dengan kekasihnya.


"Sebenarnya. Saya itu ada niat untuk menjodohkan putra putri kita. Tapi ... karena putra saya. sudah punya pilihannya sendiri. Jadi, yah ... saya mengalah deh." Suyoto berucap lirih dan jelas.


"Ya gak bisa lah, Pah. Aku kan punya Karin." Samudra langsung protes. "Main jodoh-jodohan saja."

__ADS_1


"Iya ... kan gak jadi." Timpal pak Suyoto.


Mendengar itu. Raut wajah Fatir dan Viona mendadak berubah. Yang asalnya sumringah kini berubah muram dan sedih.


"Kenapa Jeng? mungkin gak berjodoh." Bu Riska makin mendekat dan mengusap bahu Viona.


Viona mengusap wajahnya kasar. "Bukan itu masalah nya Mbak."


Semua terdiam dengan tatapan tertuju pada wanita yang tampak cantik dengan balutan hijabnya itu.


Viona menghela napas sangat panjang lalu menatap lekat pada Bu Riska.


"Apa Jeng mau cerita sesuatu?boleh. Cerita saja." Bu Riska menggenggam tangan Viona erat.


"Sebenarnya!" lantas viona menceritakan tentang putrinya yang hilang. Yang selama ini mereka tutupi dari rekannya itu.


Viona sudah bekerja sama dengan keluarga Suyoto dari sebelum menikah. Dan Suyoto lah yang menjadi investor yang pertama bagi Fatir sehingga usahanya bisa melambung tinggi seperti sekarang ini. Cabangnya berada di mana-mana.


"Jadi. Sampai sekarang belum ketemu juga?" selidik bu Riska. Semua orang yang mendengar cerita Viona merasa shock. Seakan tidak percaya.


"Belum. Jangankan anak kami. pelakunya saja tidak juga kami temui." Tambah Fatir.


"Astagfirullah ... Kau gak pernah cerita itu." pak Suyoto pelan.


"Maaf, emang hilangnya dari mana? emang gak ada bukti cctv gitu?" Ubai bertanya dengan jelas.


Fatir menoleh pada anak muda tersebut. "Tidak kebetulan kami tidak memasang itu di rumah."


"Ooh, sulit dong. Kalau begitu?" gumamnya Ubai sambil melirik ke arah Karin yang tangannya gak mau lepas dari tangan Samudra.


Viona menangis dalam pelukan Bu Riska. Dia teramat sedih bila mengingat putri kecilnya yang hilang.


Bu Riska mengusap punggung Viona yang berada dalam rangkulannya itu. "Sabar ya? semoga ada keajaiban, sehingga bisa bertemu lagi dengan putrinya."


Tidak terasa Rasya pun menangis. Hatinya yang lembut tidak bisa mendengar cerita yang sedih-sedih. Langsung bercucuran air mata.


Ubai memberikan tisu pada Rasya yang menangis. Merasa sedih melihat Viona menangis dan mendengar cerita tentang putrinya yang hilang.


Setalah melewati suasana yang melo-melo'an. Akhirnya mereka berbincang tentang bisnisnya, Karin pergi entah kemana. Rasya pun ke dapur untuk membantu menyiapkan makan siang.


Di ruang tengah itu tinggal. pak Suyoto, Bu Riska. Fatir dan istri, dan ... Samudra juga Ubai yang mengikuti perbincangan tentang bisnis.


Kini Samudra tau kalau bisnis Fatir itu di bidang perdagangan mie ayam Fatir yang terkenal itu. Dan Viona di dunia bisnis yang perusahaannya itu menyandang nama Yani grup.


Sebab makan siang sudah siap. mereka pun berpindah tempat ke meja makan. Mata Viona dan Fatir selalu memperhatikan ke arah Rasya, gadis itu cukup menyita perhatiannya.


"Nama mu siapa Nak?" tanya Viona penasaran pada Rasya.


Rasya menoleh, sejenak manik mata mereka bertemu. "Em ... nama ku Rasya."


"Nama mu bagus, sebagus wajah mu." Viona tersenyum.


"Kalau boleh tahu. Gadis ini siapa kalian?" selidik Fatir di sela-sela makannya.


"Sebenarnya gadis ini. Asistennya samudra di apartemen. Kami pun baru bertemu, tapi kami sayang sama gadis ini." Kata Bu Riska sambil melirik ke arah Rasya.


"Oya?" Viona pun mengangguk. Lalu tersenyum pada Rasya yang juga tersenyum.


"Sepertinya anak ini baik sekali ya? di mana tempat tinggal mu?" selidik Viona kembali.

__ADS_1


"Di kampung." Jawab Rasya setelah mengosongkan terlebih dahulu mulutnya.


"Alamatnya?" tanya viona kembali.


Rasya menggeleng. "Lupa! yang jelas nama kampung nya xx dan yang lainya aku gak hafal."


"Kok, gak hafal kampung sendiri?" Karin merasa heran.


"I-iya. Aku gak tahu alamat lengkap ku?" sambung Rasya.


"Aneh ya? lagian kamu itu bukan gadis bau kencur. Kok gak tahu alamat sendiri sih." Karin menggeleng.


Rasya hanya terdiam tanpa merespon kembali omongan dari Karin.


"Ya sudah, sebaiknya kita lanjutkan saja makannya." Kata pak Suyoto.


Kemudian mereka melanjutkan makannya dengan sangat lahap. Selesai makan, mereka menunaikan salat duhur bersama di mushola yang ada di lantai atas.


Viona kini mendekati Rasya, sehingga mereka banyak mengobrol. "Kau sangat cantik, dan mengingatkan ku pada putri ku yang hilang."


"Aku, cuma bisa mendoakan. Semoga Nyonya bertemu dengan putrinya itu ya?" ucap Rasya penuh harap.


"Panggil saja Tante. Jangan panggil, nyonya, gak enak." Tolak Viona.


"I-iya Tante." Rasya mengangguk.


"Lah, Tante Viona di panggil Tante? saya di panggil Nyonya. Samaan ah. Nggak mau." Protes Bu Riska.


Ketiganya berjalan dari mushola. Menelusuri jalan untuk kembali ke lantai dasar. Viona sangat bahagia bertemu dengan Rasya gadis ramah dan polos.


"Sayang, lama banget sih kamu?" ucap Karin sambil baringan di tempat tidurnya Samudra.


Samudra yang baru masuk dan sengaja membiarkan pintu terbuka. Kemudian Ubai datang memasuki kamar tersebut. Duduk di sofa.


"Ih, ngapain Ubai ke sini sih? ganggu orang saja." Gumamnya Karin pelan.


Samudra dan Ubai berbincang di sofa dengan tampak serius. Lalu datang Rasya membawa sebuah nampan berisi beberapa gelas minuman buah.


Samudra melirik ke arah Rasya yang tengah menyajikan minuman di meja. Lalu menoleh ke arah tempat tidur, dimana Karin sedang berbaring sambil memainkan ponselnya.


Sebenarnya Karin kesal. Sebab tadinya pengen berduaan saja dan ternyata malah banyakan. "Gak seru!"


"Besok. Kita harus ke kantor cabang, lanjut ke kedai nya om Fatir. Setelah itu balik ke pusat," ungkap Samudra sambil membuka tabletnya.


"Iya, aku ingat. Tapi acara ke Kedai sepertinya acara dadakan ya?" Ubai menatap penasaran.


"Ya, kita harus tahu kwalitas dan rasanya. Kita kerjasama dengan nya otomatis kita harus tahu dong rasanya. Bokap dan nyokap tahu, lah aku! belum tahu." Tambah Samudra.


"Ya-ya ..." Ubai mengangguk.


"Hi. Apa kau tau catwalk?" tanya Karin pada Rasya.


Rasya menggeleng. "Tidak tahu, Nona. Apa itu? bukannya itu nama kucing ya?"


"Arrgh ... Dasar orang kampung! ambilkan minum ku yang itu?" Karin menunjuk meja.


Rasya mengambilkan dan tidak sengaja tangannya goyang. Sehingga airnya tumpah sedikit ke baju Karin ....


.

__ADS_1


.


Jangan lupa kasih dukungan nya ya🙏


__ADS_2