
Lanjut Ubai mengajak Rasya ke sebuah restoran yang Samudra sendiri, sudah menunggu di sana.
"Apa Tuan Sam tidak kesurupan? sehingga dia mengajakku makan di restoran?" tanya Rasya pada Ubai ketika sudah duduk di dalam mobil.
"Ha ha ha ... entahlah. Mungkin dia sedang mendapat angin segar saja sehingga mengajakmu makan di luar." Ubai tertawa.
"Eh aku pikir tadi, ngajak makan di luar itu di luar pintu gitu? terus aku harus masak dulu gitu! he he he." Rasya tergelak sendiri.
"Ah kau ini bisa saja, Nona. Kalau orang mengajak makan di luar berarti itu ... berarti makannya di restoran, di warteg. Bukan di luar rumah, di teras atau di luar pintu, ada-ada saja," tambah Ubai sambil tersenyum.
"Iya kan, aku nggak tahu tuan. Lagian tuan tiba-tiba gitu ngajak makan di luar." Tambahnya Rasya.
"Ya ... mungkin dia kangen, berapa hari ada di Bandung tidak melihat dirimu nona," kata Ubai.
"Halah ... Impossible, nggak mungkin, tuan Ubai. Emang Tuan Ubai nggak kangen sama aku?" Rasya nyeleneh.
"Aku ... tentu aku kangen, sama dirimu, Nona kangen melihat senyum mu. Nona, dan ceria. Nona." Akunya Ubai, berucap lirih dengan pandangan lepas ke depan.
"Apa Tuan Sam mengajak kekasihnya juga?" selidik Rasya .
"Sepertinya nggak, Nona. Mungkin cuman kita bertiga saja dan itu pun setelah makan, Nona harus segera ke apartemen, karena Rasya kami akan balik lagi ke kantor," jelas Ubai.
"Ooh ... tapi aku diantar lagi kan?" tanya Rasya menatap ke arah Ubai.
"Tentu, aku yang akan mengantar mu lagi, takut kesasar! nanti Nona hilang. Saya yang disalahkan. He he he."
"Ngapain salahkan orang, biar aja aku hilang!" ucap Rasya dengan suara dingin.
"Kenapa? apa, Nona sudah nggak betah di apartemen?" Ubai heran sekilas melirik ke arah Rasya.
"Betah sih ... betah banget! banget, tapi kalau seandainya tuan sudah tidak menginginkan aku lagi, apa dayaku? keluar Sudah," jelas Rasya sambil menghela napas impossible
"Itu tidak mungkin, aku impossible dia akan selalu membutuhkanmu dan seandainya itu terjadi? aku yang akan menjadi garda terdepan untuk mu Nona." Kata Ubai kembali.
"Kenapa gak mungkin? dan garda depan itu apa maksudnya?" selidik nya Rasya menatap penasaran pada ubai.
"Maksud saya ... sebelum Anda ke mana-mana, saya yang akan menjaga anda biar saja tuan. Samudra memang benar tidak menginginkanmu, Tetapi itu tidak mungkin dia akan selalu membutuhkanmu, maka dari itu ambil hatinya.
"Ambil hatinya? aku congkel gitu pakai pisau? biar hatinya yang bisa aku ambil ha ha ha," Rasya malah nyeleneh.
"Kau ini bisa saja, Nona. Kau pikir dia hewan yang bisa kamu sembelih dan kau ambil ati ampelanya." Ubai tergelak.
"Habis, kan kata Tuan Ubai aku harus pandai mengambil hatinya! aku pikir dengan cara itu," Rasya melepas pandangan nya keluar jendela.
"Bukan begitu, Nona maksud aku dengan cara halus misalkan ... kamu eh anda mengambil hatinya tuan dengan cara perhatian, kelembutan ya ... tunjukkanlah kebaikan mu Nona." Ralat Ubai.
__ADS_1
"Ooh begitu? ngomong dong dari tadi!" Rasya tersenyum.
Mobil pun berhenti di depan sebuah restoran mewah. Dan Ubai membukakan pintu buat Rasya serta menyuruhnya turun.
"Kita masuk? dan tuan pasti sudah berada di sana?" ajak Ubai sambil tangannya memegang lengan Rasya berjalan pendampingan.
Gadis cantik itu sedikit heran, kenapa juga tangan Ubai harus memegang lengannya? namun dia biarkan saja.
Di dalam restoran, Samudra sudah memilih meja yang berada dekat dengan jendela. Dia melihat kedatangan Ubai dan Rasya yang digandeng oleh tangan Ubai.
Rasya tampak cantik dan menarik, pakaiannya panjang yang sama. Dengan yang dia pakai waktu di mension, yang dia belikan waktu itu. Rambutnya diikat di atas mengekspos lehernya yang bersih.
Kedua netra mata Samudra tertuju pada tangan Ubai yang menggandeng lengan Rasya. Ada sekelumit rasa panas dan kesal yang menyiksanya perasaannya.
"Dasar, ngapain coba? harus pegang-pegang segala?" gumamnya mau Samudra dengan nada kesal dan membuang wajah ke lain arah.
Mereka berdua mendudukkan dirinya setelah sampai di meja Samudra, Ubai sengaja menyediakan kursi untuk Rasya di dekatnya, sehingga Samudra cuma duduk sendiri di sebelah sana.
"Sudah pesan belum, Bos?" tanya Ubai sembari mengajukan duduknya.
"Belum, pesan aja sendiri aku nggak tahu kalian mau makan apa?" jawab Samudra dengan nada dinginnya.
"Oke, kita pesan aja, Nona. Apa kau suka steak daging?" tanya Ubai pada Rasya.
"Terserah maunya apa? ayam ada, sapi juga boleh." Kata Ubai sambil melihat daftar menu.
"Ya sudah, daging sapi aja, lah kok ga ada nasinya?" tanya Rasya melirik ke arah Ubai.
"Kalau mau nasi? di rumah." Samudra berucap dingin.
"Ooh, kalau gitu kenapa gak ngomong? kan aku bisa bawa dari rumah." Rasya menatap ke arah Samudra dan Ubai bergantian.
Ubai mesem-mesem mendengarnya. "Sebagai ganti nasi ... itu menggunakan kentang, Nona."
"Oo!" Rasya membulatkan bibirnya.
Kemudian mereka memesan minumannya. Samudra yang duduk di hadapan Rasya, tentunya menjadi leluasa melirik-lirik ke arah Rasya.
Tidak lama menunggu. Pesanan pun datang, dan mereka segera menyantap. Menikmati hidangan tersebut, Rasya di ajarin Ubai gimana cara memotong dagingnya.
Serta tak segan-segan Ubai pun memegang tangan Rasya untuk memotong hidangan daging di piringnya.
Samudra tidak suka melihat pemandangan itu. "Pegang terus ...."
"Saya sedang mengajari, Nona. Bos." Ubai melirik kepada Samudra.
__ADS_1
"Tapi gak gitu juga kali ..." ketus Samudra sambil memalingkan mukanya ke arah lain.
Dan netra nya mendapati Karin sedang makan bersama beberapa orang di sebelah sana, yang terdiri pria dan wanita.
"Karin?" gumamnya Samudra sambil mengarahkan pandangan ke arah Karin.
Ubai pun menoleh ke arah yang Samudra lihat. "Nona Karin, Bos? apa kau ada janji dengannya?"
"Tidak," sahut Samudra sambil menghabiskan makannya.
Kebetulan Karin pun menoleh ke arah Samudra dan dia membalas senyuman dari Samudra. Kemudian ia beranjak hendak menghampiri.
"Sebentar ya?" pamit Karin pada orang-orang yang bersamanya itu.
Karin berjalan menghampiri sang kekasih. Dan Samudra pun menyambutnya dengan segera berdiri.
"Sayang, kau di sini juga?" sapa Karin langsung memeluk samudra dan tak ketinggalan cium pipi kanan dan kiri.
"Iya, kau gak bilang kalau mau makan di sini sih?" balas Samudra pada Karin.
"Kau di sini bersama rekan kerja atau cuma bertiga saja?" tanya Karin melirik ke arah Ubai dan Rasya.
"Kami, cuma bertiga saja." Jawab Samudra sambil melirik ke arah Ubai dan Rasya.
"Ooh, baik banget ya kamu. Mengajak asisten untuk makan siang bersama di restoran seperti ini?" ucap Karin dengan menatap tajam ke arah Samudra.
"Emang kenapa? apa salahnya?" Samudra langsung menjawab.
"Ya ... baik aja gitu. Kekasih ku ini," jelas Karin tersenyum sinis.
"Oo! Nona sedang ada acara penting ya di sini?" sapa Ubai kepada Karin.
"Seperti itu lah." Balas Karin sembari melirik sekilas. "Oke, sayang aku balik dulu ya? mau pemotretan."
"Baiklah, semoga berjalan lancar ya?" Samudra kembali memeluk Karin dengan erat.
Rasya yang sedari tadi terdiam, dan menikmati makannya saja.
Karin pergi dari tempat tersebut, namun tangannya dengan sengaja menyenggol gelas yang berisi minuman Rasya. Sehingga tumpah pas ke pangkuan Rasya ....
.
.
Mohon dukungan nya 🙏
__ADS_1