Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 74 Hati bergetar


__ADS_3

"Aku ingatkan ya? tadi siang kau memeluk ku dan mencium ku, ingat gak?" jelas Samudra menatap tajam.


Rasya berusaha memutar memorinya. Mengingat kejadian tadi siang di mobil. "Ya ampun!"


"Nah ... kau mengingatnya?" tanya Samudra menunjuk dengan telunjuk ke arah Rasya.


Rasya menggeleng. "Tidak, aku tidak mengingatnya. Sama sekali."


"Ya, Tuhan ... kau ini?" Samudra menepuk jidatnya sembari mendongak.


"Tuan, apa iya aku mencium mu?" tanyanya dengan berbisik. Rasya sengaja nada suaranya pelan sebab ada Ubai berjalan mendekati mereka membawa paper bag.


"Ingat saja sendiri." Samudra ngeloyor pergi dengan suara ponselnya yang berbunyi.


"Ini pakaian mu buat ganti! aku antar anda ke kamar tempat mu beristirahat malam ini." Ubai menyerahkan beberapa paper bag pada Rasya.


Keduanya berjalan dengan tujuan kamar buat Rasya istirahat. Sebelum melewati pintu kepala Rasya menoleh ke arah Samudra yang sedang bicara di telepon dengan seseorang yang, terlihat bahagia. Ada sekelumit rasa yang membuat ia gusar.


"Ayo, Nona?" Ubai sedikit menyentuh punggung Rasya mengajak untuk terus berjalan.


Rasya pun mengangguk lantas meneruskan kembali langkahnya itu. "Rumah ini besar sekali ya, Tuan Ubai?" sambil celingukan.


Sesekali Rasya mengangguk hormat pada orang yang berpapasan dengannya. Ya mereka adalah asisten-sisten di sana yang masih terlihat wara-wiri dengan tugasnya masing-masing.


"Ini kamar mu," ucap Ubai membukakan sebuah pintu kamar yang tidak kalah mewahnya dari kamar apartemen.


"Ooh," Rasya mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar itu yang bagus.


"Tuan, kenapa aku gak di kamar asisten saja? ini terlalu mewah Tuan. Buat asisten seperti ku, nanti yang lain iri gimana?" Rasya mengalihkan tatapannya pada Ubai yang berdiri dekat pintu sambil menyilang kan kedua tangannya.


"Tak apa. Di apartemen juga kamar mu bagus, lagian anda di sini sebagai tamu juga. Bukan asisten. Oya kamar yang sebelah adalah kamar tuan muda, kali saja nanti dia sedang ingin di manja! jadi lebih mudah untuk mendatangi mu di sini." Ubai tersenyum tipis.


Rasya bengong mendengar perkataan Ubai. Kurang mengerti dengan maksud dan tujuannya itu.


Sepersekian detik kemudian Ubai pergi dari tempat tersebut. Bertemu dengan Samudra yang mau memasuki kamarnya.


Samudra berdiri ketika melihat Ubai menutup pintu sebelah kamar miliknya dengan tatapan datar.


Ubai mendekat. "Rasya di kamar sebelah, kali aja kau berubah pikiran dan ingin bermanja-manja padanya," ucap Ubai tanpa ragu.


"Apa maksud mu? gak jelas amat lu ngomong, mana ada gue berubah pikiran?" Samudra langsung masuk kamar.


Ubai mematung di tempat dan menatap daun pintu tersebut. "Aku yakin, suatu saat kau akan mengakui kalau dia istri mu." lirih Ubai sambil mundur mau ke tempat biasa dia beristirahat bila di Mension itu.


Malam semakin larut. Namun Samudra masih terjaga. Gelisah terus dan gak bis tidur, kedua netra nya tidak bisa pejam sedikit pun.


Terus kepikiran kejadian-kejadian itu. dan masih terasa kecupan bibir Rasya yang menyentuh pipinya. Sesekali tangan Samudra mengelus pipi bekas Rasya cium.


Waktu sudah menunjukan pukul tengah malam. Samudra berjalan mandir mandir sambil memeluk dadanya sendiri.


"Apa kata mereka nanti? kalau lihat gue masuk ke kamar dia? Tapi rasanya sah-sah aja bila ku masuk ke kamarnya? bukankah dia istri gue?" gumamnya Samudra bermonolog dalam hati.


"Tapi buat apa juga gue ke sana? Tidak-tidak, nanti dia terbangun, merasa gede rasa lagi. Ck." Samudra menggaruk kepala yang tidak gatal tersebut.


"Apa artinya gue nikahin dia kalau mendekati saja tidak boleh? wajarlah bila gue mendatangi dia kapan pun dan di manapun?" Samudra terus beradu argumen sendiri dengan merasa pop percaya diri.


"Tapi ku gak bisa tidur nih ... sial banget. Ngantuk tapi mata ini tak dapat pejam," gumamnya Samudra.


"Kalau ketauan orang-orang gimana ya? ah. Jam segini orang sudah pada tidur juga." Samudra keluar dengan pelan. seolah mengendap-endap. Celingukan melihat sekitaran khawatir ada orang yang masih berkeliaran.


Setelah memastikan kondisi aman dan terkendali, Samudra membawa langkahnya mengendap-endap masuk ke kamar Rasya yang kebetulan tidak dikunci.


Di bawah sinar temaram. Rasya meringkuk di balik selimut yang tebal. Perlahan Samudra berjalan mendekati tempat tidur Rasya, naik dan duduk bersandar ke bahu tempat tidur itu.


Menatapi wajah Rasya yang sedang terlelap. Samudra menarik bantal dan memeluknya sambil terduduk, mata tidak pernah lepas dari wajah itu. Entah ada dorongan apa? sehingga Samudra mendekatkan wajahnya pada wajah Rasya.


Saking dekatnya, deru napas Samudra menyapu kulit wajah Rasya dengan lembut.


Karena napas Samudra menyapu kulitnya, Rasya bergerak bangun dan melihat wajah seseorang yang begitu dekat dengannya. Dia kaget dan hampir saja menjerit kalau saja jari Samudra tidak segera menempel di bibir Rasya.


"Setttt ... jangan teriak. Ini aku!" Samudra panik tengok kanan dan kiri.


"Tu-Tuan, ngapain di sini? bu-bukannya tidur?" tanya Rasya terheran-heran, dengan jantung terus dag-dig-dug. Berdebar tak karuan. Manik matanya yang mengantuk menatap sayu ke arah Samudra.


"Sa-saya! itu." Hati Samudra bergetar menerima tatapan seperti itu dari Rasya. "Jangan menatap ku seperti itu? saya ke sini cuma mau ... di ambilkan makanan, lapar," ketus.


"Lapar?" Rasya bangun dan duduk masih memeluk selimutnya. "Huam ... anda kan tadi makan, jam berapa nih?"


Rasya memicingkan matanya melihat jam dinding yang menunjukan pukul 01.00.

__ADS_1


"Asisten kan banyak, ngapain ke sini coba? nanti di grebek orang baru nyaho," ucap Rasya seolah gak nyadar.


"Ha? kita kan sudah di grebek?" Rasya dan Samudra berbarengan dan saling menunjuk satu sama lain.


"Ngapain kita di grebek lagi? ada-ada saja kau ini." Samudra menggeleng.


"Bukankah pernikahan kita gak boleh ada yang tau? kenapa anda sekarang ada di sini? nanti ketauan." Rasya celingukan.


"Ya, jangan sampai orang tau lah. Makanya jangan berisik." Kata Samudra sambil memeluk guling.


"Tapi di sini anda mau apa? jangan-jangan Anda mau cari kesempatan di balik--"


"Apa sih maksud mu? saya kan sudah bilang, saya lapar?" pekik Samudra kembali.


"Aish ... dia bilang jangan berisik, tapi dirinya sendiri teriak-teriak? aneh." Cibir Rasya sambil turun dari tempat tidur.


"Eeh, mau kemana?" Samudra dengan cepat meraih tangan Rasya.


Manik indah Rasya bergerak melihat tangan Samudra yang memegangi tangannya.


Samudra segera melapaskan tangan Rasya. "Mau kemana?" ulang Samudra.


"Lho, bukannya lapar? ya mau ngambil makan lah, mau apa lagi?" Rasya hendak membawa langkahnya.


"Jangan? nggak usah. Gak jadi." cegah Samudra.


Rasya berbalik, menatap heran ke arah Samudra. "katanya lapar, tapi--"


"Nggak usah, aku gak lapar lagi. Kau tidur saja!" Samudra menunjuk bantal Rasya.


"Gimana aku bisa tidur? kalau anda di sana?" Rasya memeluk selimutnya. Memandangi Samudra yang lagi-lagi menyandarkan diri ke bahu tempat tidur.


Kedua netra Samudra mendelik. "Kau takut saya macam-macam ha? jangan ge'er. Saya tidak tertarik sama kamu."


"Tidak tertarik? terus ngapain di sini? keluar?" titah Rasya seraya menunjuk pintu.


"Kau mengusir ku?" bentak Samudra namun sedikit rendah.


"Kalau iya kenapa? lagian tidur sana, bukan nongkrong di sini. Aku kan menjadi risih," ungkap Rasya.


"Eeh, kau lupa kalau ini rumah ku? jadi bebas dong kalau aku mau tidur di manapun." Kekeh Samudra.


"Settt ... jangan berisik. Saya mau tidur." Samudra malah membaringkan tubuhnya, tidur terlentang memeluk guling.


Rasya yang masih duduk memandangi ke arah Samudra yang justru memejamkan mata di sana.


Perasaan Rasya menjadi tak menentu. Gelisah, risih. Takut. Was-was bercampur menjadi satu, tetapi ia ingat kalau bagaimana pun mereka berdua sudah halal. Namun tetap saja Rasya merasa aneh.


Tiba-tiba Rasya mengingat kalau kemarin ketika di mobil, dia dengan refleks memeluk dan mencium pipi Samudra.


"Ya ampun ...kok bisa sih?" Rasya menutupi wajahnya merasa malu.


Samudra heran dan membuka matanya. "Apa sih? ganggu orang tidur saja?"


Kalau saja dalam keadaan terang, pasti wajah Rasya yang merah Semerah tomat itu terlihat jelas olehnya. Untungnya lampu temaram jadi tidak kelihatan kalau Rasya sedang merasa malu.


Kepala Rasya menggeleng. Dia tak sadar dengan yang telah ia lakukan waktu itu. Saking bahagianya karena bisa masuk lagi ke apartemen.


"Maaf, Tuan? waktu itu. Aku gak sengaja! jadi malu," gumamnya Rasya.


Samudra terdiam, mencoba mencerna maksud dari Rasya. Lalu Samudra tersenyum. "Kau baru ingat bukan? kalau kau itu mencium ku? beda dengan ku yang tidak sengaja. Kalau aku tidak menyelamatkan guci itu pasti sudah hancur lebur."


"Maaf? aku saking bahagianya, karena di beri tahu kunci apartemen." Rasya menunduk dalam.


"Ge'er banget jadi orang!" ketus Samudra.


"Siapa yang ge'er? aku gak ge'er. Anda ngapain di sini? sudah pergi?" pinta Rasya kembali.


"Bodo akh. Saya mau tidur!" bangun dan membuka kaosnya sehingga bertelanjang dada. Detik kemudian kembali berbaring, memejamkan kelopak matanya.


Rasya menutup manik matanya dengan jari-jari. "Iih ... ya sudah, aku mau di sofa saja." Rasya turun membawa selimutnya. Lantas tidur di sofa.


Samudra hanya melirik, menatapi punggung Rasya tanpa bicara apapun.


Keduanya tertidur dengan lelap menjemput mimpinya masing-masing.


Waktu terus berputar. Malam pun berlalu menjemput pagi.


Samudra terbangun dan mendapati Rasya sedang mengeringkan rambut memunggungi dirinya. Mendadak jantung Samudra berpacu dengan sangat cepat, hatinya kembali bergetar. Dan yang bangun pun menjadi tegang.

__ADS_1


Sejenak netra Samudra dimanjakan dengan pemandangan yang membuat dirinya bingung harus berkata apa? Ketika tersadar! dia langsung menoleh jam yang menunjukan pukul lima pagi.


"Ya Tuhan ... gue harus segera keluar dari sini. Nanti ketauan." Samudra panik dan melonjak bangun.


Rasya kaget, dia pikir Samudra belum bangun. "Tuan? sudah bangun?"


"Gimana nih? saya mau ke kamar?" Samudra berjalan mondar-mandir.


"Ya keluar saja. Kenapa emang?" Rasya dengan santainya sambil menyisir rambutnya.


"Kau ini, di luar pasti sudah seliweran para asisten dengan tugasnya masing-masing. Apa kata mereka kalau melihat pagi buta saya dari sini?" Samudra kesal.


"Suruh siapa juga ke sini? kan semalam juga ku suruh keluar!" sahut Rasya.


"Ck. Kau harus bantu saya keluar dari sini?" pinta Samudra menatap datar ke arah Rasya.


"Aduh, Tuan ... keluar aja kan? pintunya masih di situ belum pindah--" Rasya tidak meneruskan kalimatnya keburu telapak Samudra yang lebar membungkamnya.


"Diam, ngoceh Mulu. Dengar itu di luar ada orang yang berjalan menuju ke sini." Bisik Samudra di depan Rasya.


Sejenak mereka terdiam dengan pasang mata yang bergerak-gerak. Dan menajamkan pendengarannya ke suara-suara dari luar.


Kemudian tangan Rasya memegang tangan Samudra yang betah menutup mulutnya.


"Betah amat nih tangan menutup mulut ku?" Rasya menyingkirkan tangan itu. Dengan suara pelan.


Samudra memandangi wajah gadis itu yang tampak segar itu. "Sekarang kau keluar, lihat aman apa tidak? kalau aman saya mau keluar. Buruan?"


"Iih ... main perintah aja bisanya." Gerutu Rasya sambil mendekati pintu.


Rasya keluar dan melihat-lihat keadaan di luar. Benar saja ada beberapa orang yang sedang bersih-bersih di lantai tersebut. Ia masuk kembali namun benturan Samudra yang mau keluar.


Rasya mengusap hidungnya yang terasa panas akibat membentur dada Samudra.


"Aduh lihat-lihat napa jalannya?" tidak lupa Rasya menutup pintu kembali.


Netra mata Samudra celingukan. "Gimana?"


"Ada beberapa orang, di luar sedang bersih-bersih." Kata Rasya sambil berjalan lebih dalam mendekati gorden di buka-bukanya.


Samudra kembali ke tempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya di sana.


Setelah membuka gorden. Rasya berjalan mendekati tempat tidur. "Awas? mau ku rapikan!"


Samudra mengagerakan penglihatannya pada gadis itu yang berdiri tidak jauh dari dirinya. Menata intens dari ujung kaki sampai ujung kepala, penampilannya yang sederhana namun tetap terlihat manis. Apalagi sekarang di tunjang dengan pakaian yang bermerk pula, tidak terlalu terlihat dari kampungnya.


"Idiih ... malah bengong? apa ada yang salah dengan penampilan ku?" Rasya mengamati penampilannya, tak ada yang aneh. Dan juga sopan.


Samudra bangun. "Sekarang penampilan mu lebih berkelas. Tidak terlihat kampungan lagi!" ketusnya bikin nyelekit.


"Emangnya kalau kampungan kenapa? artis sekalipun. Orang kaya sekalipun, siapa tau asalnya dari kampung. Kenapa sih? suka banget ngatain orang?" bela Rasya dengan sedikit kesal.


"Iya gadis bagasi, iya. Eh gadis satu milyar." Samudra bangun tepat di depan Rasya.


Rasya mundur beberapa langkah. Samudra malah maju mendekat, mendadak dada Rasya berdebar dan gusar. "A-anda ma-mau apa?" turus mundur.


"He he he ... aku mau keluar, mau lihat apa di luar sudah aman! kenapa sih?" Samudra terkekeh. Dia suka banget melihat wajah Rasya pucat paseh itu.


Rasya merasa lega. Dan Samudra berjalan belok ke arah pintu. "Seneng banget melihat orang ketakutan. Heran deh."


"Kau aja yang terlalu!" Samudra mengintip suasana di luar dari sisi pintu yang dia buka sedikit.


"Sett. Sett?" tangan Samudra melambai ke arah Rasya.


Namun Rasya biarkan saja. Dia membereskan tempat tidur dan merapikan semuanya.


"Hi ... sini?" Samudra menoleh pada gadis itu.


"Duh ... apa lagi sih?" Rasya menghampiri Samudra.


"Ck, keluar?" tangan Samudra memegang kedua bahu Rasya dan mendorongnya keluar.


Rasya melirik pada bahunya yang dipegangi. Bersamaan dengan keluarnya Samudra yang mengendap-endap di belakang dirinya, bersembunyi dari orang-orang yang sedang bersih-bersih di sebelah sana itu ....


.


.


Mohon dukungannya ya?

__ADS_1


__ADS_2