Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 29 Ngerem mendadak


__ADS_3

"Tuan ramah, mana kak Murni dan kak Vera?" tanya Rasya yang di tujukan kepada Ubai yang sedang nyetir.


"Mereka pulang ke kampungnya. Dan anda tidak perlu mengkhawatirkan mereka! sebab mereka juga tidak mengkhawatirkan anda." Ubai sekilas menoleh ke belakang.


"Tapi, mereka kakak saya--"


"Siapa juga yang mengakui mereka? gak ada!" Sinis Sam tanpa menoleh, raut wajahnya begitu datar.


"Ya ampun ... Tuan jutek, gitu amat! aww ..." desis Rasya sembari memegang pipinya yang perih dan terasa sakit.


Samudra sontak menoleh pada gadis yang disampingnya itu, begitupun ubai yang menyetir, langsung ngerem mendadak.


Ckiiiitttt ....


Mobil berhenti mendadak membuat kepala Sam membentur jok depan yang di duduki Ubai.


Dugh!


"Kau, gila apa? ngerem jangan mendadak dong ... kepala ku sakit." Sam mengusap kasar keningnya.


"Maaf, Bos. Sorry?" kata Ubai sambil menoleh ke arah Samudra dan Rasya bergantian.


"Nona, anda kenapa?" tanya Ubai sangat tampak cemas terhadap Rasya.


"Kau tidak melihat kalau kedua pipinya luka merah-merah. Masih juga bertanya?" gerutu Samudra, tidak suka dengan perhatian Ubai kepada Rasya.


"Kita ke dokter dulu ya?" sambung Ubai. Dia sangat mengkhawatirkan Rasya.


Rasya menggeleng dan Samudra menyarankan untuk mendatangkan dokter ke apartemen saja.


"Sudah! jalan? saya capek. Mana belum makan." Samudra melirik jam rolex di tangannya yang sudah menunjukan hampir tengah malam.


Rasya menyandarkan kepalanya ke belakang jok merasakan panas dan sakit di pipinya itu. Ditambah lagi badan pun terasa sakit dan remuk.


Ubai mengangguk lalu melanjutkan perjalanannya dan mempercepat laju mobil tersebut.


Ingin segera sampai di apartemen. Namun ditengah perjalanan, Ubai memarkirkan kembali mobilnya. Sebentar membeli buat makan malam.


Samudra menunggu di mobil, dengan Rasya yang tertidur nyenyak hingga sedikit terdengar ngorok.


"Ya, ampun ... sampai ngorok segala? di mobil nih ... bukan. Di kamar." Menatap tidak suka, namun netra nya Samudra tidak segera berpaling, melainkan terus memandangi wajah gadis tersebut.

__ADS_1


Sampai Ubai datang, barulah Samudra mengalihkan pandangannya ke Ubai. "Lama sekali?" ketusnya.


"Sebentar kok, tidak sampai satu jam, paling tiga puluh menit," jawabnya Ubai sambil menyalakan mesin mobil.


"Buruan? sudah tidak sabar nih ingin segara sampai. Pengen mandi dan pengen makan." Sambung Samudra dengan menyandarkan kepalanya ke jok belakang.


Ubai bungkam, tidak merespon perkataan dari Ubai. Dia tetap fokus membelah jalanan yang sepi ini. Maklum tengah malam gini, dimana orang-orang dah pada istirahat di tempat peraduannya masing-masing.


Setibanya di area parkir, Sam langsung turun tidak perduli kan Rasya yang tertidur lelap.


Ubai tertegun melihat punggung Samudra yang sudah beberapa langkah meninggalkan tempat tersebut.


"Seetttt ... Bos. Tunggu?" Ubai panggil Samudra yang langsung menoleh.


"Apa sih?" sahut Samudra dengan nada garang.


"Ini, bawain?" Ubai menyodorkan kantong makanan. "Saya mau bawa gadis ini, kasian tampak lelah sekali."


"Halah ... bangunin!" dengan malasnya Samudra mendekat dan mengambil kantong dari tangan Ubai.


"Nona, bangun?" suara Ubai lembut. Namun Rasya tak bergeming.


Lalu Ubai membuka pintunya dan tanpa ragu menggendong tubuh gadis itu ala bridal style. Kakinya mundur dan menutup pintu dengan kaki kirinya.


Kantong yang Samudra jinjing, dia turunkan dan menghampiri Ubai. "Sini aku yang bawa. Kau saja yang bawa kantong itu," tanpa basa-basi lagi Samudra mengambil Rasya dari gendongan Ubai yang hentikan langkahnya.


Kemudian Ubai melongo melihat punggung Samudra yang membawa Rasya dengan berjalan cepat. Lalu Ubai menyusul Sam dan tak lupa menyambar kantong yang tergeletak di lantai.


Langkah Ubai kian lebar demi mengejar langkah Samudra yang begitu cepat mendekati lift. Buru-buru Ubai menekan tombol lantai 15 dan tidak menunggu lama, pintu lift pun terbuka, dengan keluarnya pengguna lain.


Samudra Masuk, di susul Ubai tanpa kata apapun. Sementara Rasya tetap nyenyak dalam pangkuan Tuan jutek itu, Samudra.


"Ck, bangun kek. Gak merasa apa sedang dalam gendongan orang?" gerutu Samudra dalam hati. "Atau dia rasa sedang naik pesawat kali, melayang-layang di udara."


Ting!


Pintu lift terbuka, pertanda sudah di lantai yang menjadi tujuan. Samudra melebarkan langkahnya menuju unitnya. Tetap dikuti oleh Ubai.


Rasya langsung Sam bawa ke dalam kamarnya. Dibaringkan di sana, setelah itu Samudra keluar dari kamar Rasya, dan mendapati Ubai sedang menyajikan makanan di meja.


Samudra langsung mendekati meja makan, sebelum mandi mau makan dulu sebab cacing-cacing di perutnya sudah lama demo meminta jatah makan. Sebelum duduk Samudra membuka jasnya ia simpan di bahu kursi.

__ADS_1


Dengan tanpa membuang waktu lagi Samudra melahap makanannya mengikut Ubai yang lebih duluan makan.


"Gadis itu gak bangun? pasti belum makan juga," ucap Ubai dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.


"Biar saja! kalau dia lapar juga pasti bangun," timpal Samudra tanpa menoleh sedikitpun, dia fokus dengan makannya kali ini. Nggak mau mikirin apapun yang penting gadis itu sudah berada di sini lagi.


Selesai makan, Samudra meneguk minumnya sampai tandas. Lalu meraih jas lalu berlalu membawa langkah yang lebar ke dalam kamar pribadinya, langsung masuk kamar mandi dan berendam air hangat di bathtub serta aroma terapi yang menenangkan.


Merileksasikan tubuhnya yang berasa sangat lelah. Mendongak ke langit-langit sembari memejamkan matanya. Seketika teringat pada benda pipih yang ia senyapkan.


"Pasti Karin mencari-cari ku! mana ada janji menjemputnya, ah sial! dia pasti marah-marah." Samudra memukul Air bathtub sehingga airnya muncrat kemana-mana. Byuaaarr ...


"Ini gara-gara gadis itu. Membuat aku lupa kalau ada janji sama kekasih ku! Bodoh-bodoh, bodoh ...."


Selesai berendam, Samudra segera memakai kimono nya. Berjalan mendekati tempat tidurnya.


Blugh!


Menjatuhkan tubuhnya di tempat tersebut. Tangannya meraih remote untuk menggantikan lampu malam.


Meraih ponsel dan benar saja, puluhan panggilan dari Karin yang tidak terjawab, serta chat yang berisi pertanyaan yang penuh kemarahan.


"Ck, tuh kan? Karin marah padaku," gumamnya Samudra. Namun untuk menghubungi Karin saat ini juga tidak mungkin. Tubuhnya terlalu lelah untuk membuang-buang waktu.


Rasya yang masih juga terlelap, walau tanpa selimut yang menutupi tubuhnya. Rasa lapar pun sejenak terkalahkan dengan rasa lelah dan sakit di sekujur tubuhnya.


Pakaian pengantin itu masih juga membalut di tubuhnya. Kini mungkin dia lepas dari jeratan juragan Kasmin, namun gimana dengan uang Samudra yang dipakai untuk menebusnya ke juragan Kasmin tersebut. Mungkin dengan cara bekerja seumur hidup? entahlah.


Sekitar dini hari, Rasya terbangun, memicingkan mata mengitari ruangan tersebut. Kesadarannya belum terkumpul sepenuhnya. Antara sadar dan tidak. "Ini dimana?"


Tangan Rasya menepuk kening. Menggosok kedua matanya. "Ini ... di tempat juragan Kasmin atau ..." gumamnya pelan dengan suara serak, Manik matanya terus bergerak mengingat keadaan.


Setelah beberapa saat Rasya mengangguk pelan. "Ooh, iya. Ini di apartemen tuan jutek. Iya, aku kan sudah di tebus dari pria tua itu. Tetapi ... cara bayarnya gimana?"


Rasya tertegun masih di tempat tidur, otaknya betputar. Berpikir keras yang tak mendapat solusinya sama sekali.


Riukkkk ....


Riukkkk ... suara dari perut Rasya yang merasakan lapar ....


.

__ADS_1


.


Mana nih dukungan nya?


__ADS_2