
Setelah puas menangis. Rasya melanjutkan aktifitasnya yang masih banyak belum ia kerjakan.
Namun sebelumnya, Rasya memasak buat dia sarapan. Sebab menangis pun membutuhkan tenaga.
Ketika Rasya sedang menyantap makannya. Terdengar suara bell berbunyi.
Ning nong ....
Ning nong ....
Ning nong ....
Rasya menolehkan pandangan ke sumber suara. Lalu beranjak mendekati pintu seraya bergumam. "Siapa sih?"
Blak!
Pintu Rasya buka dan berdiri seorang wanita cantik, tinggi semampai. Menenteng tas branded, mengenakan kaca mata hitam. Pakaiannya seksi, dress tanpa lengan dan pendek, satu jengkal dari pusat.
Rasya melongo. Terkesima melihatnya. "Nona Karin. Ngapain ke sini?" suaranya pelan.
Sebelum dipersiapkan masuk, gadis itu nyelonong aja masuk sambil celingukan dan memanggil seseorang.
"Sayang? sayang ... aku datang nih." Karin langsung membuka pintu kamar Samudra.
Rasya mengikuti dari belakang. "Maaf, Nona. Tuan tidak ada!"
Karin menoleh pada Rasya menatap heran. "Kamana? ini kan hari Sabtu dan biasnya dia libur."
"Nggak tau, yang jelas dia membawa koper." Jelas Rasya kembali.
"Bawa koper? keluar kota apa?" selidik Karin menatap tajam.
"Em ... iya, katanya seperti itu." Rasya mengangguk.
"Kenapa gak bilang sama saya kalau mau pergi?" gumamnya Karin sembari mengerutkan keningnya, kali saja dia sendiri lupa.
"Mana ku tahu? emangnya saya jubirnya tuan?" timpal Rasya.
"He? aku gak bertanya padamu!" mata Karin mendelik sambil mendudukkan dirinya di tempat tidur Samudra.
"Anda, mau apa di sini?" tanya Rasya menatap ke arah gadis itu.
Karin menoleh pada Rasya, menatap tidak suka. "Apa urusan mu? aku mau tidur di sini kek. Mau duduk, jungkir balik, terserah aku lah. Kamar calon tunangan ku kok!"
"Ya Allah ... ketusnya tidak jauh beda dengan tuan Sam, pantas di jodohkan?" batin Rasya sambil mengayunkan langkahnya keluar kamar.
"Tapi, gimana kalau surat itu ketauan Nona Karin?" langkah Rasya terhenti sambil menoleh pada laci yang pernah ia simpan surat kutipan pernikahan dirinya dan Samudra.
Kemudian netra nya bergerak melihat ke arah Karin yang sibuk menelpon seseorang, sepertinya sih telepon samudra terlihat dari gelagat dan nada bicaranya yang manja.
"Bodo ah." Rasya kembali melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Karin di kamar Samudra.
"Bikinkan saya minuman dingin? pinta Karin sambil mendidikan dirinya di sofa tumpang kaki.
Rasya mengangguk, lantas mengambilkan air dingin untuk Karin. Sesaat kemudian Rasya kembali dengan segelas air putih dingin.
"Air putih?" Karin mengerutkan keningnya menatap segelas air putih di tangan Rasya.
"Iya, air dingin kan?" tanya Rasya ambil menyerahkan Ar itu.
Tangan Karin mengambilnya. Menumpahkannya ke lantai tepatnya membasahi permadani ah terpasang di lantai itu.
"Nona?" gumamnya Rasya terkejut dengan yang dilakukan oleh Karin.
"Kau pikir aku minta air putih biasa ha?" Karin menatap tajam.
"Iya, air dingin. Dan itu air dingin sesuai yang anda pinta Nona." Jawab Rasya membalas tatapan Karin.
"Apa tidak bisa kasih air juse atau sirup gitu? emang di sini gak ada ya?" tatapan Karin Ian tajam bahkan menyimpan rasa tidak suka.
"Kalau Nona mau, kenapa gak bilang langsung? saya bukan peramal yang bisa membaca pikiran orang." Bela Rasya. "Apa susahnya bilang saja kalau anda mau minuman juse atau apalah."
"Seharusnya kau tahu dong. Kalau saya mau minuman dingin apa--"
"Saya sudah bilang, saya bukan peramal yang bisa membaca pikiran mu," ucap Rasya memotong kali mati dari Karin.
Karin mengeratkan giginya. "Awas ya? saya bilang sama majikan mu biar di pecat!" ancam Karin.
"Silakan ya? aku gak takut kok, saya gak takut sekalipun di pecat dari sini!" tantang Rasya tak sedikit pun ia merasa gentar dengan ancaman dari Karin.
Karin terlihat mengepalkan tangannya, namun ponselnya berbunyi dan langsung ia terima, sepertinya dari sang manajernya.
Sehingga detik kemudian, Karin pun pulang. Berbarengan dengan datangnya Wulan yang di suruh Samudra untuk menemani Rasya di apartemen.
"Mbak Wulan. Makasih ya mau menemani ku?" Rasya menyambut dengan ramah.
Karin yang mau pergi menatap sinis ke arah Rasya dan Wulan. "Sama-sama orang kampung! tidak berkelas!" Karin pergi tanpa permisi.
"Iih ... dasar. Sombong! kenapa ada di sini? kan tahu kalau tuan tidak ada di sini!" Wulan melirik ke arah Rasya.
__ADS_1
"Entah, kayanya tidak tau dia, kalau tuan lagi pergi." Jawab Rasya sambil mengajak Wulan masuk.
"Saya dan asisten lainnya kurang suka dengan perangai, Nona Karin yang sok gitu!" sambung Wulan sambil duduk tidak jauh dari Rasya.
"Ooh," Rasya cuma membulatkan bibirnya.
Lalu Rasya mengangkat permadani yang basah, ia bawa untuk di jemur.
Setelah mereka berbincang sebentar. Lantas mereka beranjak dari duduknya. Memasak buat makan siang berdua.
"Mbak mau masak apa aja boleh kok, terserah suka nya apa?" Rasya memberi kebebasan pada Wulan untuk masak apa aja.
"Em ... apa ya?" Wulan menatap isi lemari pendingin.
Rasya mengambil bahan-bahan buatnya memasak. Begitupun dengan Wulan, setelah itu mereka makan berdua.
Kini mereka sedang menonton televisi. Dan ada iklan bakso, membuat Rasya menelan saliva nya tergoda.
"Kapan ya aku makan bakso? selama di sini gak pernah makan bakso gerobak." Gumamnya Rasya sambil anteng menonton.
"Kalau mau? saya bisa antar kamu," timpal Wulan.
Rasya menoleh. "Beneran mau nganterin aku Mbak?"
"Iya, mau! saya antar kamu." Wulan mengangguk.
"Tapi ... takut gak dikasih ijin ah, gimana kalau online bisa gak? aku traktir kok," ucap Rasya sambil menatap Wulan.
"Boleh, aku pesankan ya? bener kan mau traktir?" tanya Wulan meyakinkan dirinya.
"Iya, Mbak ... beneran! aku bayarin kok." Rasya mengangguk.
"Padahal lebih enak makan di tempat lho." Wulan menyayangkan.
"Em ... gak bakalan di ijinkan, lagian takut gak bisa masuk! he he he ... bahaya kalau tidak bisa masuk lagi," ungkap Rasya.
"Ooh, begitu? ya sudah, aku pesankan." Wulan memesan bakso dengan online.
Tidak menunggu lama, bakso pesanan pun datang dan langsung keduanya menikmati bakso dengan lahap. Padahal makan siang pun masih di perut.
Ketika malam datang, Wulan pun tidur di kamar Rasya bareng-bareng. Namun ting!
Ponsel Rasya bergetar. Setelah di lihat chat Samudra yang masuk dengan barisan kata yang menyuruh Rasya tidur di kamar Samudra saja dan Wulan di kamar Rasya.
"Ras? siapa?" tanya Wulan dengan sibuk memainkan ponselnya.
"Em ... tuan muda, menyuruh ku tidur di kamarnya. Dan Mbak Wulan di sini!" sahut Rasya sambil mengibaskan selimutnya.
"Iya, kamar tuan!" Rasya turun dari tempat tidurnya.
"Apa gak lancang ya? tidur di tempat majikan?" Wulan melihat lekat pada Rasya.
"Gimana lagi Mbak? di suruh kan?" sahutnya Rasya, merasa tidak enak juga pada mbak Wulan.
Karena chat nya tidak di balas. Samudra pun menggunakan layanan telepon.
"Ck, ngapain sih telepon?" gumamnya Rasya.
^^^Samudra: "Halo? jangan biarkan kamar ku kosong!"^^^
^^^Rasya: "Iya, ini juga mau."^^^
Rasya membawa langkahnya meninggalkan kamar yang ada Wulan nya. Memasuki kamar Samudra.
Tubuh Rasya berbaring di tempat tidur Samudra, baru saja mau pejam ponsel sudah berbunyi kembali. Dan kali ini sambungan vc dari Samudra.
"Iih ... apa lagi sih?" membuat Rasya terbangun lagi menerima sambungan vc tersebut.
"Lama sekali angkatnya?" Samudra ketus.
"Mau apa sih? mau marahin aku? gara-gara tadi istrinya ngadu gitu?" Rasya tidak kalah ketus.
Samudra menatap ke arah Rasya yang masih dengan wajah dan nada marah padanya. "Soal apa?"
"Oo! emang gak cerita ya?" tanya Rasya menundukkan pandangannya dari Samudra.
"Em ... sudah lupakan saja." ralat Rasya.
Samudra tersenyum, dan matanya tak lepas melihat pandangannya pada Rasya yang mengenakan pakaian tidur motif Pikachu.
"Kenapa melihat ku seperti o
Itu? urus sana calon tunangan mu!" Rasya menutup wajahnya dengan selimut.
"Soal itu nggak usah di suruh kali. Aku tahu mana yang lebih penting, tentunya nya dia yang yang lebih penting. Dan sudah saya telepon." Samudra datar.
Rasya kembali membuka selimutnya. "Terus buat apa anda telepon? gak penting bukan?" Tut ... tut ... tut ... sambungan vc, Rasya matikan.
"Omongan bikin nyelekit Mulu, ngapain telepon coba? gak penting!" Rasya melipat tangan di dada.
__ADS_1
Ponsel berbunyi lagi. Namun sampai beberapa kali bunyi pun tidak Rasya angkat kembali.
Dia menutup wajahnya Dangan selimut, nyumpel telinga dengan tisu. Pokonya tidak mau terganggu dengan adanya telepon dari Samudra yang cuma bikin jengkel. Apalagi mengingat semalam yang memaksanya mengambil ciuman pertama darinya.
Seperti biasa. Pagi-pagi Rasya sudah bangun, setelah menunaikan kewajibannya sebagai muslim, Rasya membuka-buka gorden jendela kamar yang ia tempati. Menghirup udara segar di balkon yang belum tercemar sebab polusi.
Rasya memejamkan kedua manik matanya dan berkali-kali menghirup udara segar dari sekitarnya. "Hem ... segarnya."
"Kamu sudah bangun?" suara Wulan dari arah belakang.
Sontak Rasya berbalik dan menoleh pada Wulan. "I-iya, sudah bangun.
Lalu mereka sama-sama menyiapkan buat sarapan.
"Saya mau ke Mension dulu, nanti balik lagi. Aku harus kerjakan tugas saya di sana." Kata Wulan.
"Oh, iya. Nggak pa-pa, aku berani kok sendiri. Lagian siang, dan Mbak mau kembali kan?" Rasya menatap ke arah Wulan yang sedang menikmati sarapannya.
"Iya, balik lagi dong. Kalau nggak saya bisa kena pecat oleh tuan muda nanti." Timpal Wulan.
Membuat Rasya tersenyum lucu. "Masa sih?"
"Beneran lah." Sambung Wulan sambil meneguk minumnya.
Setelah Wulan balik ke Mension dan berjanji akan kembali sore. Rasya hanya seorang diri di apartemen, mau ke rumah Sidar dan Adam. Tidak Samudra ijinkan, dan akhirnya hanya berdiam diri di dalam apartemen sampai sore hari Wulan kembali membawa beberapa cemilan.
Untuk nikmati berdua, Rasya dan Wulan tampak dekat seperti kakak adik saja. Mereka mengobrol bertukar pandangan dan pengalaman sampai waktunya tidur, dan Rasya berpindah ke kamar Samudra.
Di hari ketiga, Samudra pulang dari Bandung. Dan waktu sudah larut malam, di apartemen juga dah sepi. Tidak ada Wulan ataupun Rasya.
"Sepi banget, sudah pada tidur kali ya?" suara pelan sambil celingukan.
Samudra pulang sendiri tanpa adanya sang asisten, dia menarik kopernya. Berjalan mendekati pintu kamarnya langsung.
"Si Wulan pasti tidur di kamar sebelah, dan gadis itu pasti ada di kamar ku!" monolog Samudra sambil menarik bibirnya tersenyum.
Netra mata Samudra bergerak ke arah kamar Rasya dan kamar dirinya. Meyakinkan diri kalau Rasya pasti tidur di kamar pribadi samudra.
Dengan pelan, Samudra memasuki kamarnya. Klik, Samudra menyalakan lampu kamar, tampak Rasya tidur tanpa selimut. Mengekspos kaki dan pahanya yang mulus yang terlihat jelas. Sebab dia mengenakan setelan pendek.
"Benar saja. Dia tidur nyak banget. Bagai kebo!"
Samudra yang sudah mengunci pintu kamar, berjalan menyimpan kopernya ke dekat lemari. Lantas mendekati ke arah Rasya yang berbaring tampak nikmat dengan tidurnya itu.
Tangan Samudra membuka kancing kemejanya sembari melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukan hampir pukul 00.00 wib.
"Tengah malam rupanya!" bibir Samudra bergumam.
Kini Samudra sudah bertelanjang dada, berdiri membungkuk melihat gadis yang sedang lelap tersebut. bibir Samudra menyungging, mengingat waktu itu. Bahkan masih terasa hangat dan lembutnya bibir Rasya.
Kali ini jantung Samudra kembali berdegup kencang. Berdebar bila berdekatan dengan gadis ini.
"Aku harus mandi dulu! badanku lengket banget." Samudra berniat untuk mandi.
Detik kemudian. Samudra membawa langkah lebarnya ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun tidak lama Samudra kembali dengan handuk di pinggang.
Setelah menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Samudra langsung merangkak naik ke atas tempat tidur, lantas berbaring di sana tanpa membuka handuknya itu.
Berbaring di samping Rasya yang tak bergeming. Dua malam kemarin tidur Samudra tak lena. Dan sering terjaga alhasil dia lebih memilih menyibukkan diri dengan laptopnya. Dalam urusan kerjaan.
Dengan posisi sedikit miring pada Rasya, tangannya Samudra menarik selimut dan menutupi tubuhnya dan Rasya. Sehingga mereka menjadi satu selimut.
"Hi ... Nona? apa kau tidak merasakan pergerakan ku? bagaimana kalau aku iseng dan melakukan sesuatu! apa kau akan merasakannya?" Samudra bergumam sendiri.
Sebab Rasya tetap tidak menyadari kalau Samudra sudah pulang dan berada di sampingnya.
"Semakin marah, kau semakin manis dan bikin aku ingin--" Samudra tidak meneruskan kalimatnya.
Tangan Samudra bergerak menyingkirkan anak rambut yang menempel di pipinya Rasya.
"Tidur mu bagai kebo, kalau ada yang melakukan sesuatu padamu, mungkin suatu kesempatan emas!"
Punggung jari Samudra mengelus pipi Rasya dengan lembut. Di tatapnya dengan lekat.
Kepala Rasya bergerak dan bergumam. "Hem ... kau ini mau apa sih dekat-dekat dengan ku?" tanpa membuka mata sama sekali.
Samudra segera menarik tangannya dari wajah Rasya, setelah menunggu namun tidak ada pergerakan lagi. Sehingga jari Samudra kembali menyentuh pipi Rasya dengan lembut.
Perlahan namun pasti, jari itu bergerak mengusap bibirnya gadis itu. Wajah Samudra mendekat dan mengarah pada tujuannya, otaknya telah dipenuhi pikiran me-su-m.
"Lakukan saja? dia halal bagimu Sam!" dorongan perasaannya sendiri.
"Kamu gak malu dengan omongan mu sendiri? kamu tidak level dengannya. Kau tidak tertarik pada gadis ini." Sejenak Samudra terdiam di tempat.
Namun detik kemudian dia mendaratkan kecupan nya di bibir Rasya dengan sangat lembut. Persetan dengan omongannya! yang penting hasratnya dapat terpenuhi.
Sesaat kemudian Samudra menjauh, kali saja sang empu terbangun sebab merasakan sesuatu. Tetapi Rasya benar-benar seperti boneka yang tak bernyawa ....
.
__ADS_1
.