Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 87 Putri yang hilang


__ADS_3

Rasya keluar dari kamarnya membawa barang-barang Samudra. Seiring dengan samudra yang keluar dari kamarnya itu.


"Makanya kalau nyimpen barang itu di tempatnya. Kalau lupa, nanti ngomel lagi." gumamnya Rasya sembari memberikan barangnya itu kepada Samudra.


"Kau ini, disuruh malah ngedumel, lagian kan barangnya ada. Ingat ya jangan keluar sendiri kecuali denganku, ingat itu jelas Samudra sambil berjalan.


Kemudian Sam dan Ubai berjalan meninggalkan unitnya tersebut, Rasya berdiri sejenak melihat kepergian mereka berdua. Lalu membereskan meja makan dan mencuci semua barang bekas makan dan memasak tadi.


Setelah selesai di dapur, Rasya melanjutkan aktivitasnya seperti beres-beres. Menyapu dan mengepel semua ruangan, tidak lupa menyiram bunga kesayangannya di balkon.


"Bunga ku, yang subur ya? mekar yang indah." Rasya mengajak tumbuhan itu bicara.


"Ya ... yang ini kenapa layu? padahal setiap hari ku suram dengan sepenuh hati." Tangan Rasya menyentuh tanaman bunga yang hampir layu itu. Dia siram kembali penuh kasih.


Setelah selesai itu semua, barulah Rasya memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang sudah lengket dan bau dengan keringat. Selanjutnya bersantai di depan televisi.


"Ah ... akhirnya aku bisa bersantai juga nonton acara kesayangan ku dulu aah," gumamnya sambil menyalakan televisi.


Beberapa saat kemudian. "Iih ... tapi kok lapar lagi ya? padahal baru berapa jam aku sarapan." Rasya celingukan dan beranjak dari sofa menuju dapur, membuka lemari pendingin lantas mengambil es krim yang semalam belum habis.


"Eskrim ku, sayang nih, kalau gak di habiskan." Gumamnya.


Dia bawa ke depan televisi, mau memakannya di sana sambil menonton televisi. Duduk manis di sofa panjang, tangannya menyendok kan eskrim ke mulutnya.


"Untuk makan siang, masak apa ya? apa aku harus tanya dulu kali? ya ... terserah aku aja lah, mau dimakan mau nggak kek bodo amat."


Sambil nonton televisi, rasa menyiapkan untuk masakan makan siang nanti. Namun tiba-tiba suara bel berbunyi.


Ning nong ....


Ning nong ....


"Siapa sih yang datang? apa tuan muda ada memesan sesuatu? perasaan nggak bilang apa-apa." Gumam Rasya sambil menoleh ke arah pintu.


Pada akhirnya rasa beranjak, berjalan mendekati pintu dan mengintip siapa yang datang. Ternyata Fatir dan Viona yang berdiri di balik pintu sana.

__ADS_1


"Hah? buat apa ya mereka datang? tuan Sam. Kan sedang tidak ada di tempat! buka nggak ya? tapi kan tuan muda ngelarang aku menerima tamu, terus gimana dong? masa tamu mau di anggurin di luar?" terus bermonolog sendiri.


"Ya udah, aku tanya dulu lah, telepon tuan muda Apa aku boleh menerima tamu.?" Rasa pun mengambil ponsel dari sakunya lantas menelepon Samudra, untuk menanyakan apa boleh dia menerima tamu?


Sebabnya di luar ada tuan Fatir dan istri yaitu Viona, tapi Rasya juga nggak tahu kalau mereka datang itu untuk menemui siapa.


^^^Rasya: "Halo?"^^^


^^^Samudra: "Iya ada apa?"^^^


^^^Rasya: "Itu, di luar ada tuan Fatir sama nyonya viona. Apa aku boleh membukakan pintu?"^^^


^^^Samudra: "Kukira ada apa? emang dia datang menemui siapa?"^^^


Tanya Samudra dari ujung telepon.


^^^Rasya: "Entah, aku juga nggak tahu, sebab aku belum menanyakannya."^^^


^^^Samudra: "Ya tuhan ... dasar kau ini, tanyakan dulu. Mau menemu siapa? keperluannya apa? tapi ... buka aja lah pintunya persilakan mereka masuk, sudah. Aku sedang sibuk! mengganggu aja."^^^


^^^Rasya: "Aku kan cuma minta izin doang, gitu aja marah-marah, ya udah. Assalamualaikum."^^^


Sambungan telepon pun terputus. Kemudian, Rasya membukakan pintu dengan wajah yang ramah dan sumringah.


"Eh, Om dan Tante, mau ketemu siapa? atau ada perlu apa? kebetulan tuan lagi di kantor, di sini cuman ada aku aja," ucap Rasya sambil mengangguk hormat pada tamunya.


"Eeh anak cantik. Iya, Tante sama Om ke sini tadinya sih mau ketemu Sam, tapi kan memang lagi kerja ya?" dalih Viona sambil melirik ke arah suaminya.


"Em ... Jan segini tuan Sam ngantor." Rasya mengangguk.


"Tidak apalah ketemu kamu juga ya, boleh Tante dan Om masuk? kata Viona sambil melihat-lihat ke dalam.


"Oh boleh-boleh. Masuk, silakan?" akunya Rasya mengajak tamunya untuk duduk di sofa.


"Wah ... enak sekali ya? nyaman apartemennya kamu sendiri yang ngurus?" tanya Viona menatap ke arah Rasya.

__ADS_1


"Iya. Tante, aku sendiri. Oh ya Tante, terima kasih ya atas kiriman buat sarapannya tadi pagi. Padahal gaknusah repot-repot." Rasya merasa tidak enak hati.


"Oh tidak apa-apa, kami senang kok, apa kalian suka?" tanya Viona yang menatap lekat pada gadis itu.


"Suka, suka kok. Tante!" Rasya tersenyum manis.


"Bagaimana kalau kita makan siang di luar yuk, mau kan?" ajak Viona.


"Em ... aku dilarang keluar oleh tuan, kecuali pergi sama dia atau tuan Ubai, dan rencananya nanti sore, aku akan main ke tempat pak RT bersama tuan Sam, karena aku nggak boleh sendirian. Begitu kata tuan muda Tante!" ucap Rasya sambil menunduk.


"Ooh ... Jadi kalian mau ke tempat pak RT ya nanti sore?" selidik Viona kembali.


"Iya Tante," ucap Rasya sambil mengangguk, lalu dia pamitan untuk mengambil minuman buat tamunya itu.


"Tetapi nggak usah repot-repot gitu, kami tidak akan lama-lama kok, biar nanti malam saja kita makan malam bersama," ungkap Viona.


"Ah, nggak apa-apa, nggak repot kok. Cuman ambilkan minum doang, bentar ya?" Rasya ngeloyor ke dapur.


Mengambil dua gelas air minuman dingin, tidak lama kemudian Rasya sudah kembali membawa nampan berisi dua gelas air minum. "Ini minumannya, silakan diminum? untuk melepaskan dahaga," ucap Rasya sambil menyodorkan dua gelas minuman tersebut, lantas dia duduk di depannya Fatir dan Viona.


"Terima kasih ya? ucap Fatir sembari mengambil dan memeluknya.


"Sama-sama." Balas Rasya.


"Kamu betah di sini?" tanya Fatir sembari mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan tersebut.


"Betah, betah sekali." Bibirnya Rasya melengkung menunjukkan sebuah senyuman yang bahagia.


"Seandainya putri kami masih ada, pasti sudah sebesar kamu dan secantik kamu, jadi ingin memeluk anak itu." Viona mendadak berwajah sedih, lantas mendekat dan memeluk bahu rahasia. Menumpahkan luapan kerinduannya pada sang putri yang entah gimana nasibnya.


"Mau nggak? seandainya kami menganggap kau itu putri kami yang hilang?" jelas Fatir sambil menatap pekat ke arah gadis itu


Jelas Rasya bengong, kaget tidak menyangka dan tidak percaya juga, kok tiba-tiba pasangan pasutri ini ucapkan seperti demikian padanya.


"Terus Terang. Dari pertama kita bertemu waktu itu. Tante sayang sama kamu Om juga," ucapin Viona lirih.

__ADS_1


"Kami merasa ... kau itu seperti putri kami yang telah hilang, dan berasa putri kami sudah kembali," ungkap Fatir ....


__ADS_2