Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 86 Lagi-lagi


__ADS_3

Menjelang subuh, Rasya terbangun dengan hembusan napas yang menyapu kulit wajahnya. Perlahan ia membuka matanya yang terasa sepet dan sulit untuk dibuka.


Namun apa yang manik mata Rasya dapatkan, saat detik-detik membuka matanya. Lagi-lagi Samudra tidur di kamar dan tempat tidur yang sama dengan Rasya.


Kedua netra nya Rasya terbuka lebar-lebar. Untuk meyakinkan diri, apa benar yang berada di hadapannya itu Samudra? tangan Samudra yang kekar itu pun memeluk tubuh Rasya. Wajah berhadapan begitu sangat dekat. Bedanya Rasya memakai selimut. Sementara Samudra tidak.


Rasya gegas menjauhkan wajahnya dari wajah Samudra yang tampak sangat tampan itu. Bibir merah jambu. Hidung mancung, bulu mata lentik persisi bulu mata wanita. Rahang yang terlihat jelas, alis rapi dan hitam pekat.


Sementara waktu Rasya tatap wajahnya lekat-lekat. Menimbulkan sebuah perasaan yang aneh. Berdebar, dag-dig-dug. Malu, suka. bahagia dan kesal bercampur menjadi satu. Bibirnya melengkung melukiskan sebuah senyuman.


Tangan Rasya menyingkirkan tangan Samudra dari pinggangnya. Digantikan dengan bantal.


"Ini orang. Lagi-lagi tidur di sini sih? jangan bilang ngigau. Atau ngelindur, tidur di sini!" Gumam Rasya dengan suara parau nya.


Tangan yang Rasya singkirkan itu mencari-cari guling untuk di peluk. Rasya bangun mengibaskan selimutnya menyelimuti Samudra yang tampak kedinginan.


Sebelum berdiri. Tangan Rasya di pegang Samudra, Rasya kaget dan melihat tangan itu bergantian dengan orangnya yang tetap terpejam.


"Apaan sih ini orang? tidur ya tidur. Jangan macam-macam anda!" suaranya Rasya dengan pelan ...


Rasya melepaskan tangan tersebut dari lengan kekar itu. Ia memulai aktifitasnya dengan di awali mengambil air wudu. Tetapi sebelum melanjutkan niatnya.


Rasya bengong. Mengingat-ingat apakah semalam tidak terjadi yang signifikan pada dirinya dengan ulah Samudra? Lalu menggeleng pelan. "Tidak mungkin!"


Setelah keluar dari kamar mandi. Rasya segera mengawali aktifitasnya dengan melaksanakan subuh terlebih dahulu. Ketika di lihat, posisi Samudra masih sama seperti semula.


Semua gorden kamar dan ruang lainnya sudah Rasya buka semuanya. Tinggal beres-beres, menyapu dan mengepel dan itu nanti saja setelah menyiapkan sarapan. Namun di sela memasaknya, Rasya menyiapkan lebih dulu pakaian formal Samudra ia simpan di tempat biasa.


Terdengar suara bell berbunyi, Rasya menoleh ke arah pintu. "Siapa sih? pagi-pagi sudah bertamu?"


Rasya mematikan kompornya. Membawa langkahnya ke depan, Samudra berdiri dan menguap berkali-kali di depan pintu kamar Rasya yang tanpa pakaian atasan tersebut.


"Apa boleh ku membukanya?" tanya Rasya sambil berjalan ke depan.


"Hem, buka saja." Gumamnya Samudra, suaranya terdengar berat.


Setelah mendapatkan ijin dari Samudra, Rasya bergegas mendekati pintu. Dan blak ....

__ADS_1


Pintu terbuka dan tampak bibi Wiwi membawa rantang yang entah apa isinya. "Bibi?" bibir Rasya tersenyum sangat manis.


"Iya, Non Ini Bibi bawakan masakan dari Tante Viona. Buat sarapan pagi ini. Semoga kalian suka!" bi Wiwi sambil celingukan melihat Samudra yang bertelanjang dada.


"Dia pasti yang namanya Samudra? suami gadis ini. Ganteng sekali." Gumamnya Wiwi dalam hati.


"Oh, makasih ya bibi?" Rasya mengambil rantang yang bibi berikan.


"Oh, ya ... sama-sama. Kalau begitu saya pergi dulu!" Bi Wiwi mengundur diri.


Rasya buru-buru menutup pintunya. Lalu membawa rantang ke meja. Sementara Samudra pergi ke kamarnya mau membersihkan diri sebelum sarapan.


"Wah ... nasi kuning. Sama rendang telornya, baunya wangi sekali." Kemudian Rasya melanjutkan aktifitasnya yang tertunda tadi.


Beberapa puluh menit kemudian Samudra datang. Menjinjing jas dan dasi nya. "Apa itu, nasi kuning?"


Rasya yang sudah menuangkan nasi goreng ke piringnya. Langsung beralih pada dasi yang berada di atas meja.


Dengan tanpa di suruh. Rasya memasangkan dasi di leher Samudra, sebelum Samudra nya duduk dan sarapan.


Tidak lupa jasnya. Kini sudah melekat di tubuh Samudra, selama itu tatapan Samudra terus tertuju pada Rasya, membuat Rasya tersipu malu dan menunduk dalam.


"Nggak, saya nasi goreng saja." Samudra duduk dan bersiap untuk sarapan.


"Selamat pagi semua ya ahli kubur ... Wah. Nasi kuning dari mana nih?" Ubai langsung duduk di tempat biasa dan mengambil nasi.


Rasya hanya tersenyum melihat Ubai datang dan langsung mengambil nasi kuning. "Itu dari kiriman tante Viona."


"Oya? tumben?" gumamnya Ubai sambil menyuapkan sendok ke mulutnya.


"Entah, bi Wiwi yang mengantarnya. Istri paman Adam." Gumamnya Rasya sambil meneguk minumnya.


"Jangan banyak cincong. Makan cepetan? nanti kesiangan." Samudra mengusap bibirnya dengan tisu.


"Oya, semalam kau bilang. Ingin main ke tempat Bu RT, nanti sore dengan ku!" jelas Samudra yang di tujukan pada Rasya.


Rasya mengangguk Dan tersenyum mengembang. Lalu memakan lagi sarapannya. "Baiklah."

__ADS_1


"Kalian mau jalan? ikut dong?" Ubai melirik keduanya bergantian.


"Ke rumah pak RT." Samudra singkat.


"Oya, gimana menurut mu. Soal mie ayam kemarin? enak gak?" tanya Ubai tentang yang kemarin di review sama Samudra.


"Em ... lumayan enak. Aku suka, dan nanti di saat aku acara tunangan ataupun pernikahan. Harus ada mie ayam itu." Harap Samudra sambil meneguk minum nya.


"Gimana jadi? besok mengadakan jamuan mie ayam tersebut pada karyawan?" tanya lagi Ubai pada Samudra.


"Jadi, meeting kan besok? dan soal jamuan itu akan jadi dong." Tambah Samudra kembali.


"Oke, kalau begitu. Mereka pasti merasa senang sekali," Ubai mengangguk pelan.


Ubai segera menghabiskan makanannya. Nggak enak dengan Samudra yang sudah mondar mandir tidak sabar untuk berangkat ngantor.


Ubai menggeleng. "Kau itu sudah seperti setrikaan saja, jalan sana. Jalan sini! capek deh ...."


"Emang apa urusan mu ha?" Samudra mendelik ke arah Ubai yang baru saja selesai makan.


"Nggak sih ... cuman capek melihatnya," kata Ubai sambil mesem.


"Ambilkan ponsel ku di kamar dan laptop?" titah Samudra pada Rasya, sambil merogoh sakunya yang kosong.


Rasya gegas pergi ke kamar Samudra mencari ponsel yang dia pinta namun tidak ada.


"Dimana sih? kok gak ada ponselnya?" gumamnya Rasya sambil celingukan.


Rasya mundur mendekati pintu sambil menyembulkan kepalanya. Melihat ke arah Samudra. "Tuan, ponselnya di mana tidak ada?"


Sejenak Samudra bengong, mengingat-ingat di mana ia simpan semalam. "laptopnya ada gak?" Tanya Samudra.


"Nggak ada?" Rasya menggeleng.


"Ck, masa sih gak ada? perasan ku simpan di tempat biasa!" Samudra heran.


Samudra mendatangi Rasya ke kamarnya. Dengan niat mencari ponsel dan laptop. "Oya! cari di kamar mu? kali aja di sana." Menunjuk ke arah pintu.

__ADS_1


Rasya buru-buru setengah berlari dari kamar tersebut. Menuju kamar miliknya dan ternyata barang-barang yang di cari itu ada di sana ....


__ADS_2