Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 44 Paksaan warga


__ADS_3

Rasya tersenyum tipis ke arah wanita tersebut. Namun entah apa yang dia rasakan saat ini, membingungkan.


Samudra, di kamarnya menggerutu sambil menatap setelan kemeja putih dan jas hitam yang akan ia gunakan dalam ijab kabul.


"Kau sudah gila ha? aku itu sebentar lagi mau tunangan. Kau malau menyetujui ini, dimana otak mu ha?" Samudra menunjuk-nunjuk ke arah Ubai. Dengan amarah berapi-api.


"Terus mau mu apa? aku gak jadi masalah kalau kamu dibawa ke polisi juga, tapi ujung-ujungnya sama, dikawinin juga. Dan yang paling parahnya. Tercium media, semua tau. keluarga mu tau, bahkan lebih parahnya kekasih mu juga tau, kalau dirimu mesum dengan gadis lain! gimana perasannya Karin nanti?" ujar Ubai tak kalah telak dia.


Samudra terdiam sambil berdiri dan masih di posisi yang sama.


"Buruan pake bajunya!" titah Ubai menunjuk setelan yang dia bawakan itu.


"Di lemari juga banyak yang kaya gini, ngapain beli yang baru? gak penting amat lho" gerutu Samudra kembali.


"Ini akan menjadi momen yang indah untuk di kenang, momen yang sangat amat berarti dalam sejarah seseorang. Jadi harus istimewa, jangan yang biasa gak etis," ungkap Ubai dengan penuh penghayatan.


"Alah ... masa bodoh, emang gue pikirin apa?" ketus Samudra. Namun pada akhirnya ia memakai juga setelan tersebut.


"Kalau Bos benar-benar tidak mau, ya sudah. Biar saya yang gantikan dan tentunya gadis itu akan ku bawa!" gertak Ubai menatap tajam dan ingin tahu reaksi dari Samudra.


Samudra mendelik pada Ubai melalui cermin. "Kalau kau bawa dia? siapa yang akan melayani ku di sini? aku sudah bayar dia mahal-mahal untuk menemani ku di sini!"


"Untuk kau jadikan pelayan? banyak di mension juga, cari yang lain. Banyak orang-orang yang seperti itu berkeliaran di luar sana." Tambah Ubai kembali. Menatap tajam.


"Tidak, dia gadis satu Miliyar ku. Jadi aku berhak menahan dia di sini bersama ku! melayani kapan pun aku butuhkan," ungkap tegas Samudra dengan tatapan setajam pisau.


"Tapi kalau sekedar untuk kau jadikan asisten cari saja yang lain, aku bisa carikan yang seperti dia, Bos." Tambah Ubai penuh keseriusan.


"Saya tidak mau orang lain, saya maunya dia, yang sudah jelas-jelas sudah aku bayar mahal. Sekarang kau mau mencarikan orang baru, sementara dia mau kau bawa, enak banget," ucap Samudra lagi.


"Tapi kau sendiri, tidak mau kau menikahinya. Dan saya akan membayarnya nanti, uang yang satu milyar itu akan saya bayar padamu. Cuma saya minta waktu untuk mengembalikannya," Ubai menatap lekat.

__ADS_1


"Ck, Oh jadi kau akan membayarnya? bagus. Jadi kau menyukainya ha? bilang saja kalau kau suka sama dia? ambil-ambil. Saya tidak perduli." Samudra melotot ke arah Ubai.


"Kau menyerahkannya padaku? tapi matamu melotot seperti itu? aneh. Sebenarnya kau ikhlas apa tidak?" tanya Ubai sambil melipat tangannya, bersandar ke dinding kamar.


"Ambil sana?" Samudra menunjuk ke arah kemeja dan jas.


Ubai tersenyum dalam hati. "Oke siapa takut? apa sih yang kurang dari gadis itu? cantik kok, kalau di urus," ucap Ubai sambil mendekati pakaian tersebut untuk ia pakai.


Melihat Ubai mau memakai setelan miliknya. Samudra langsung menarik sambil berkata. "Eeh, enak saja. Simpan di tempat! kau jangan menyentuhnya," cegah Samudra menjauhkannya dari Ubai.


Ada rasa sekelumit tidak rela yang dirasakan oleh Samudra. bila Rasya menikah dengan Ubai, Mengingat dialah yang membayar Rasya dari juragan Kasmin. Sekalipun Ubai siap mengembalikan uang tersebut, tapi itu kapan? mendingan ia manfaatkan dulu Rasya untuk melayaninya di apartemen ini.


Ubai merasa heran. "Aku tanya sama kamu, Bos. Mau apa tidak menikahi nya? Kalau gak mau! aku yang akan menggantikan nya. Setelah itu aku bawa dari sini. Beres!" tanya Ubai menatap serius.


"Aku yang akan memakainya." Jawab Samudra kembali dengan nada datar.


"Yakin?" tanya Ubai seakan ingin meyakinkan dirinya dengan jawaban Samudra.


"Yakin, tidak akan menyentuhnya? kan nanti dia sudah menjadi istri mu?" Ubai menyunggingkan bibirnya.


"Tidak, aku tidak tertarik pada gadis itu. Bukan tipe ku! bayangkan! seperti apa Karin dan bagaimana dia? jauh! Mana bisa aku tertarik padanya." Samudra mengalihkan pandangannya ke lain tempat.


"Tapi sepertinya mata mu tidak mengatakan seperti itu?" kata Ubai meragukan.


"Diam kau? kau bicara terus dari tadi. Membuat telinga ku sakit." bentak Samudra.


Heningh!


Kemudian Ubai menatap ke arah Samudra dengan hati yang tersenyum, dia yakin bos nya itu sedang tidak sinkron, hati dan pikirannya berbeda.


Mata Samudra bergerak pada Ubai yang terdiam, namun matanya yang tajam memperhatikan gerak-gerik dirinya.

__ADS_1


Lalu dalam lima menit Samudra sudah siap, dengan pakaian formalnya. Terlihat gagah dan ganteng, Walaupun dengan hati yang tidak terima dan terus menggerutu. Namun tetap pada akhirnya menghampiri para tamu yang sudah menunggu di ruang tengah tersebut.


"Lama banget sih? jangan-jangan mau kabur atau membatalkan pernikahan ini?" desas-desus orang-orang yang ada di ruang tengah tersebut sampai ke telinga Ubai dan Samudra.


"Tidak sabaran banget," gerutu Samudra sambil berjalan beriringan sengan Ubai.


Lanjut Samudra duduk di hadapan pak penghulu. Dan yang lainnya.


Melihat Samudra sudah siap, duduk di hadapan mereka.


Pak RT Sidar segera berkata. "Mempelai pria sudah siap, sebaiknya kita mulai saja sekarang, mengingat waktu pun yang sudah semakin larut malam."


"Benar, Pak RT. Waktu nih sudah semakin larut malam, segerakan saja lah. Jangan buang? buang waktu lagi." Sambut warga.


Samudra dan Ubai yang sudah duduk manis di depan penghulu dan pak RT,


saling bertukar pandangan, Ubai mengangguk pada Samudra yang tampak gusar.


Samudra gusar, ada sekelumit rasa gelisah, Tidak yakin kalau dirinya bisa mengucapkan ijab kabul dengan lancar.


Pak penghulu mulai membaca doa pembukaan. "Maskawin nya apa? boleh saya tahu? dan sebutkan," tanya pak penghulu pada Samudra yang bermuka datar itu tanpa ekspresi itu.


"Ha?" Samudra menoleh ke arah Ubai yang duduk tidak jauh dari dirinya itu, Ubai juga malah bengong menatap dengan heran. "Kenapa tidak ingat sama sekali hal itu? sedari tadi?"


"Untuk maskawin nya mau kasih apa Bos? ngomong, cepetan, jangan buang waktu. Sudah malam nih." Kemudian Ubai bertanya serta mengarahkan wajahnya pada Samudra dan berkata pelan.


"Mana ku tahu!" Samudra menaikan bahunya, dia mana kepikiran soal itu. Orang pernikahan ini bukan pernikahan yang dia direncanakan kok, seolah ini pernikahan paksaan dari warga ....


.


Mana nih dukungannya?

__ADS_1


__ADS_2