
Kini ketiganya sedang menikmati makan malam bersama. Menyantap dengan lahap setiap menu yang ada di meja makan tersebut, namun di ruang mata Rasya tetap saja terbayang tempe goreng yang tadi suaminya habiskan.
Namun meskipun demikian, tetap tidak mengurangi rasa laparnya itu. Sehingga ia tetap dapat menikmati makanan yang ada.
"Awas ya? besok aku bikin tempe goreng lagi tidak aku kasih kau!" Rasya menunjukkan jarinya pada Samudra yang akhirnya mesem-mesem sendiri.
Ternyata istrinya itu masih mengingat tempe goreng yang dia makan tadi.
"Kau ini kenapa sih? pendendam sekali? cuma masalah tempe goreng, masih saja ya di bahas?" pekiknya Samudra.
"Habis aku mau ..." Rasya tak kalah memekik dari Samudra.
"Iya terus gimana? terus harus aku muntahkan lagi gitu? kan tadi aku sudah nawarin mau beli lagi nggak? tempenya yang mentah apa yang matang? salah siapa nggak mau?" Samudra membuang mukanya ke arah lain.
"Ya ampun ... Nona, tadi juga aku sudah nawarin mau beli lagi nggak? gak mau! tapi sekarang masih juga dibahas!" Ubai pun ikut bicara.
Kini Rasya tidak bicara lagi, dia diam seribu bahasa! hanya mulutnya saja yang bergerak menikmati makannya.
Dan selesai makan, Ubai langsung berpamitan. Tidak lupa berterima kasih karena Rasya sudah mau memasak untuknya juga.
"Terima kasih ya? Nona sudah mau masak untukku!" ucapnya Ubai sembari mengangguk hormat.
"Sama-sama, Tuan ubay. Lagian kan sudah biasa aku masak! dari dulu juga kita sering makan bersama dengan masakan ku?" jawabnya Rasya.
"Iya sih, tapi sekarang sudah lama saya nggak makan masakanmu, Nona. Jadi rasanya merasa sungkan begitu." Tambahnya Ubai.
"Ya sudah, kalau mau pulang? pulang saja nanti keburu malam!" usir Samudra. "Lagian besok kita akan berangkat ke Surabaya, jadi sekarang ... kita berdua harus banyak istirahat."
"Ooh iya, ya sudah, saya pergi dulu?" Ubai melihat ke arah Samudra, Rasya bergantian. "Oh iya, semua keperluan keberangkatan besok, sudah siap! dan besok saya antarkan ke bandara."
"Oke," gumamnya Samudra dengan singkat.
"Ok, Tuan Ubai. Hati-hati ya?" pesan Rasya pada Ubai yang bikin Samudra bengong.
Lalu Ubai mendekati laptopnya dan setelah itu, barulah dia keluar dari unit Samudra tersebut.
__ADS_1
Setelah Ubai tiada. Samudra mengunci pintu terlebih dahulu, lalu kemudian menoleh ke arah Rasya yang kini sedang mencuci perabotan di wastafel. Lalu dia berdiri mendekati dimana sang istri berdiri. Merangkul perutnya Rasya dari belakang.
"Kau sudah tidak marah, kan? sayang ... masa gara-gara tempe saja kau marah sama aku?" ucap Samudra sembari meletakkan dagunya di pucuk kepala Rasya.
"Iih ... apaan sih? orang lagi nyuci juga, bisa diam nggak sih?" Rasya berusaha memudarkan rangkulan dari Samudra.
"Nggak mau, harus bilang dulu! kalau kau sudah tidak marah lagi padaku?" Samudra malah semakin mengeratkan rangkulannya tersebut.
"Aku masih marah, marah sama kamu!" ucapnya Rasya sambil pura-pura jutek.
"Jangan marah! besok kan mau beli lagi yang banyak, lagian juga sudah aku tawarin mau gak yang mateng, yang lebih enak--"
"Tidak mau ... dibilang nggak mau juga masih ngomong." Lirihnya Rasya.
Kemudian Rasya kembali merasa kamu lagi. "Oo ..." dengan refleks tangan Rasya memegang mulutnya, lalu membalikan badan menyusupkan wajahnya di dada Samudra. Sembari menghirup aroma tubuh pria itu, yang menjadi penawar di kala Dia sedang mual! itu pun bila ada orangnya.
Samudra membelai kepala Rasya. "Kau kenapa sih! kau sering terlihat mual kayak gini?" tanya Samudra.
"Tidak, tidak sering-sering kok. Paling sekali-sekali saja! mungkin aku kena lambung kali ya?" sahutnya Rasya sembari mengambil air minum yang hangat untuknya.
"Aku pastikan ... aku nggak sakit, aku Tidak apa-apa kok," balasnya Rasya. "Kalau aku sakit ... aku pingsan atau terus-terusan tiduran, kan ini nggak. Biasa bukan?"
"Ahk ... kau ini sulit diatur!terserahlah," Samudra membawa langkahnya yang lebar itu ke kamar, meninggalkan Rasya yang masih berada di dapur.
Rasya Hanya menaikkan kedua bahunya sambil menatap punggung Samudra, kemudian Rasya melanjutkan, membersihkan perabotannya biar besok pagi! tidak ada yang menumpuk perabotan kotor.
Ketika selesai beres-beres di dapur, barulah Rasya yang menyusul Samudra ke kamar. Dan prai itu tampak sudah berbaring dengan posisi miring, tentunya bertelanjang dada dan menampakkan perutnya juga yang yang sixpack.
Sebelum Rasya naik ke tempat tidurnya. Dia memasuki kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan setelah beberapa saat kemudian, dia mendekati alat salatnya yang dia kenakan untuk menghadap sang maha kuasa.
Samudra yang sudah berbaring, memejamkan kedua matanya dan pura-pura sudah tertidur. Pengen tahu sang istri mau membujuk atau tidak.
Waktu terus berputar, hingga akhirnya terdengar pergerakan Rasya di tempat tidur tersebut, tepat di sampingnya Samudra.
"Aku tahu, kau itu hanya pura-pura tidur! tidak apa-apa, aku gak masalah nggak di peluk kamu juga. Aku masih bisa tidur kok!" suara Rasya menggerutu.
__ADS_1
Samudra tetap terdiam. Dengan bibir yang tertarik membentuk senyuman. Lama tidak terdengar pergerakan dari Rasya kembali, karena penasaran! Samudra pun berbalik dan ternyata Rasya sudah berbaring dengan menghubungi dirinya.
"Ho, ho-ho. aku yang merajuk, bukannya dibujuk? malah dipunggungi. Aneh?" gumamnya Samudra sembari menatap punggung sang istri.
Tangannya memainkan rambut Rasya yang di pelintir-pelintir begitu saja.
Lalu Samudra merapatkan dirinya ke tubuh Rasya yang memunggungi dirinya tersebut.
"Sayang, sudah tidur apa?" bisiknya Samudra sambil mengecup bahu Rasya dengan tanpa jeda.
Rasya membuka dua matanya yang sudah terpejam itu, lalu menoleh ke arah wajah sang suami yang begitu dekat dengan wajahnya tersebut.
"Kenapa? bukannya barusan dah tidur?" suara Rasya begitu pelan. Saling dekatnya jarak di antara mereka berdua.
"Nggak kenapa-napa cuma pengen meluk saja!" Samudra langsung merangkul pinggangnya Rasya dengan sangat erat.
Dan Samudra melepaskan berapa kecupan di pipi, kening lantas mendarat di bibirnya Rasya. Samudra selalu dibuat penasaran kalau tidak menyentuh istrinya terlebih dahulu.
Suasana di luar baru saja terdengar turunnya hujan begitu deras. Duarrrr ... Duarrr ... suara petir menggelegar, membuat Rasya terkaget-kaget dan langsung memeluk Samudra begitu erat. Menyusupkan wajahnya di dada pria tersebut.
"Kau masih saja takut dengan suara Guntur. Padahal setiap tidur sama aku, dapat memeluk tubuh ku. Tapi masih saja ketakutan begini!" bisiknya Samudra sambil memeluk dan mengelus rambutnya dengan mesra.
"Hujan tiba-tiba deras ya? petir nya pun begitu lebat, Iih ngeri." Rasya bergidik ngeri.
Samudra memeluk Rasya dengan sangat erat. Sehingga kedua tubuh keduanya begitu rapat, Samudra pun tidak buang-buang waktunya, Samudra terus menghujani sang istri dengan kecupan kecil namun cukup mematikan.
Membuat suara-suara kecil lolos dari bibirnya Rasya, menjadikan Samudra tambah bersemangat untuk melebarkan sayap nya. Untuk melakukan sesuatu yang selalu bikin dirinya ketagihan.
Dengan cuaca yang sangat mendukung, dinginnya menusuk tulang. Samudra pun tak ayal mencari kehangatan dari sang istri yang sudah menjadi candu itu.
Dan besok, di Surabaya belum tentu sebebas ini. Karena pasti ada banyak halangannya! mengingat di sana akan berkumpulnya keluarga besar. Makanya Samudra ingin puas-puasin dulu di sini, banjir!banjir-banjir deh. Pikirnya Samudra sembari mengukir senyumannya yang merekah ....
.
.
__ADS_1