Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 78 Mematung


__ADS_3

Air jus yang di tangan Rasya tumpah sedikit dan mengenai baju bagian depan Karin. Tentunya Karin marah baju kesayangannya terkena air jus.


Sontak Rasya meminta maaf. "Ma-maaf, Nona gak sengaja?"


"Dasar gadis kampung, kurang ajar. Kau sengaja ya? biar baju basah ha?" bentak Karin dengan mata mendelik. Menatap tidak suka.


Samudra dan Ubai menoleh lalu menghampiri. "Ada apa ini?"


"Sayang, lihat. Baju ku basah! dia menumpahkan minuman ke baju ku," ucap Karin dengan manjanya sambil mengusap-usap bajunya.


"A-aku. Ti-tidak sengaja, Tuan! Aku tidak sengaja." Bela Rasya di tangan masih ada gelas minuman buat Karin.


"Sudahlah, cuma sedikit bukan?" Ubai lirih melihat ke arah baju Karin.


"Aku minta maaf, lagian itu cuma ... cuma sedikit. Sini? biar aku bersihkan." Rasya hendak mengambil tisu.


Karin menyambar gelas dari tangan Rasya, dengan refleks ia siramkan isinya ke wajah Rasya.


Byuuuur ....


Samudra. Ubai dan Rasya tidak menyangka kalau Karin akan melakukan itu.


Rasya terkesiap, lalu mengusap wajahnya yang basah kuyup dengan air jus tersebut.


Samudra mematung dan melongo. Dia tidak bisa berbuat apa-apa di hadapan Karin saat ini.


"Enak benar minta maaf? kau pikir ini baju murah ha? satu bulan kau kerja, tidak akan bisa membeli baju ini. Tau gak?" bentak Karin amarahnya malah makin meluap-luap.


"Saya sudah minta maaf! dan itu tidak disengaja!" suara Rasya bergetar menahan tangisnya. Berkali-kali menelan saliva nya yang berhenti di tenggorokan.


"Dasar orang kampung, taunya hanya minta maaf!" suara Karin semakin tinggi.


"Nona, keterlaluan. Sangat keterlaluan! hal sepele aja kau besar-besaran kan." Ubai tentunya membela Rasya yang kali ini dihina di bentak oleh Karin.


Sementara Samudra hanya diam seribu bahasa, dia tidak tau harus berkata apa dan harus membela siapa?


"Kau pikir aku keterlaluan? ini pelajaran buat pembantu yang kurang ajar seperti dia." Kini Karin malah mendelik pada Ubai.


Ubai mengalihkan pandangannya pada Rasya yang kini mulai menangis. "Ayo, Nona? kita keluar dari sini?" tangannya merangkul bahu gadis itu di ajaknya keluar dari kamar Samudra.


Karena mendengar yang ribut-ribut di kamar Samudra. sang ayah dan ibu jaga Fatir dan Viona langsung mendatangi kamar Samudra.


"Ada apa ini?" tanya pak Suyoto.


"Ini, Pah. Bajuku basah karena di siram dia!" celetuk Karin sambil menunjuk bajunya.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Viona dan Riska berbarengan ketika melihat wajah Rasya yang basah kuyup.


"Ya ampun ... kenapa begini?" Viona menuntun tangan Rasya. Di ajak keluar bersama Riska.


Karin bengong melihat dua wanita itu justru malah perduli pada Rasya ketimbang dirinya.


Para pria itu saling pandang dan tanpa kata, lalu mereka membawa langkahnya masing-masing meninggalkan Samudra dan Karin.


Setelah di luar kamar. Pak Suyoto kembali menyembulkan kepalnya ke dalam. "Kalian jangan berduaan di kamar, gak baik."


Samudra hanya menoleh. Tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.


Setelah tidak ada siapa-siapa, Karin mendekati Samudra memegang tangan nya mesra. "Sayang gimana nih?"


"Gimana apanya?" Samudra mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Aku bosan, di sini. Keluar yu? nanti sore aku ada pemotretan. Ke salon yu?"


Samudra terdiam sejenak. Dan Hanya menggerakkan manik matanya.


"Yu sayang, temani aku? plisse ..." Karin setengah memohon.


"Baiklah. Sana duluan? nanti ku nyusul!" Samudra berucap lembut pada Karin.


"Baiklah sayang? makasih ..." cuph! kecupan Karin mendarat di kening, pipi kanan dan kiri Samudra. Kemudian Karin membawa langkahnya meninggalkan Samudra.


Sementara Samudra yang ditinggalkan, malah bengong mengingat kejadian barusan. Dalam hati kecilnya kasihan juga pada Rasya yang Karin siram dengan jus buah.


Karin berdiri di dekat pintu sesekali mengagerakan, menggoyangkan kakinya untuk mengusir kejenuhan.


"Lama amat sih? sayang ... ayo?" pekik Karin.


"I-iya, sebentar." Balas Samudra.


"Sebentar. Dari tadi juga." Gerutu Karin.


Setelah berada di kamar yang Rasya pake istirahat. Rasya segera membersihkan dirinya dan berganti baju. Kedua wanita tersebut masih dengan setia menunggui Rasya yang di kamar mandi.


Kedua duduk di sofa yang ada di sana. Sesekali melihat ke arah daun pintu.


"Kasihan anak itu. Kok tunangan Mbak tega sih?" Gumamnya Viona pada bu Riska.


"Belum tunangan, Jeng. Baru mau bulan depan." Timpalnya Bu Riska.


"Ooh, baru mau toh! padahal kalau dia itu seorang publik figur. Harus lebih bisa menjaga imeg dong, jangan seperti itu. Masih mending di dalam rumah kejadiannya. Gimana kalau di luar rumah?" Viona geram, berasa anak sendiri yang diperlakukan kurang mengenakan itu.


"Sabar, Jeng ... sabar." Bu Riska mengusap bahu Viona.


"Geram, Mbak. Berasa anak sendiri lho digituin," sahut Viona kesal.


"Maafin Karin ya Rasya? saya yakin kamu anak yang baik dan pemaaf." Bu Riska menyambut Rasya di ajaknya duduk.


Bibir Rasya tersenyum lepas. "Tidak apa Tante. aku sudah biasa kok."


"Kejadiannya gimana sih? dia tiba-tiba nyiram atau gimana sih." Cecar Viona sembari menata lekat ke arah Rasya.


Bu Riska melihat ke arah Viona seiring kepalanya yang mengangguk.


"Em ... tadi itu Nona Karin menyuruh ku mengambil minuman dari meja, dan tidak sengaja gelasnya goyang. Terkena bajunya deh, gitu doang. A-aku gak sengaja kok!" Rasya menceritakan kronologinya sampai kena Siran air jus.


"Ooh, begitu. Dia marah ceritanya, ya sudah saya percaya kok kamu anak yang baik." Viona memeluk Rasya seolah sudah mengenal lama.


Rasya merasakan hal aneh, baru kali ini di peluk dan diberi sikap yang lemah lembut dari seorang ibu. Pelukannya yang nyaman membuat kedua maniknya yang indah berembun. Menempelkan pipinya di bahu Viona.


Bu Riska yang melihat manik mata Rasya nanar merasa heran. "Kok kamu sedih si sayang?"


"Ahk ... aku terharu, tante-tante ini begitu baik dan lembut sama aku, padahal kita baru kenal. Aku menjadi terharu, kalian berdua persis seorang ibu--"


"Lho ... kan kami memang seorang ibu," bu Riska menunjuk dirinya dan Viona yang mengakui diri memang seorang ibu.


"Ma-maksud ku, aku gak pernah mendapatkan perhatian, sentuhan lembut penuh kasih yang seperti ibu pada anaknya, seperti kalian ini. Aku jadi sedih." Rasya menangkupkan kedua tangannya menutupi wajah yang tanpa di undang tuh air mata berjatuhan.


Riska dan Viona saling bersitatap. Kemudian mengalihkan pandangannya pada Rasya lantas keduanya memeluk gadis itu.


Mendapat pelukan yang hangat dari kedua ibu-ibu ini Rasya semakin terharu. "Ahk ... aku semakin sedih, kalian jangan terlalu baik padaku! nanti aku kurang ajar."


"Nggak. Kamu itu anak yang baik, tidak mungkin kamu seperti itu, iya kan Jeng?" Bu Riska begitu percaya.

__ADS_1


Viona menganggu sambil mengusap pucuk kepala Rasya dengan lembut.


Setelah beberapa saat peluk-pelukan. Penuh haru dan juga kenyamanan.


"Yu. Saya keringkan rambut mu?" Viona menuntun tangan Rasya ke meja dekat meja cermin.


"Ti-tidak, Tante. Biar kering sendiri saja." Rasya menggeleng.


"Bai, aku ngantar Karin dulu ya? Nanti antar gadis itu ke apartemen." Kata Samudra ketika melihat Ubai menghampirinya.


"Oh, ini kuncinya!" Ubai menyerahkan kunci mobil pada Samudra.


"Saya pake mobil Karin, itu pakai saja." Samudra mengabaikan kunci tersebut.


"Ayo sayang ... nanti telat!" Karin dengan manjanya.


Keduanya berjalan menuruni anak tangga. Bertemu dengan papanya dan om Fatir. Samudra pun berpamitan pada mereka berdua.


"Mama di mana Pah?" tanya Samudra sambil celingukan. Dia tidak tahu kalau mama nya di kamar Rasya dan Viona di sana.


"Entah, dari tadi Papa melihat mama dan Tante Viona ya?" pak Suyoto menoleh pada Fatir.


"Iya, mungkin bersama gadis itu." Timpal om Fatir.


"Ayo sayang, kita pergi sekarang? buruan!" Karin lagi-lagi menarik tangan Samudra. Dia sudah tidak sabar untuk pergi.


"Ya udah, Pah. Om, aku pergi dulu!" Samudra pun pergi dengan tangan di tarik Karin. Bagai kerbau yang di cucuk hidungnya, nurut aja kemauan kekasihnya itu.


Saat ini Rasya sedang mengemas pakaian di kamarnya biar nanti pulang tinggal jinjing saja.


Dan Ubai datang ke tempat tersebut, lantas mengetuk daun pintu yang terbuka itu dengan teratur.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


Rasya menoleh, melihat yang datang. "Eh Tuan Ubai."


"Gimana ... Betah di sini?" tanya Ubai sambil berdiri di dekat pintu.


"Betah sih ... Tetapi! emangnya aku harus di sini selamanya, apartemen gimana dong?" cecar Rasya.


"Ooh, enggak. Di sini sekali-kali saja. Dan sekarang malah aku di suruh tuan muda untuk mengantarkan mu pulang ke apartemen." Jawab Ubai dengan jelas.


"Oh, boleh. Oya, tuan muda nya mana?" tanya Rasya ingin tahu Samudra dimana kalau sama siapa sih? sudah pasti sama kekasihnya.


"Samudra sedang jalan sama kekasihnya. Ya sudah, aku tunggu di bawah ya? jangan lupa barang-barang mu dibawa." Ubai memutar tubuhnya dan mengayunkan langkahnya itu menjauhi tempat tersebut.


"Ooh." Rasya bengong. terbayang gimana mesranya Samudra dengan Karin. Kemudian ia menggelengkan kepalanya kasar.


"Nona, di panggil Nyonya besar di bawah?" suara pak Panji di depan pintu.


Suara pak Panji membuyarkan lamunannya. "I-iya, aku juga mau turun kok.


Rasya keluar dengan beberapa paper bag di tangan. Pak Panji menatap heran ....


.


.

__ADS_1


Mohon dukungannya ya? bintang. Like komen dan vote nya🙏


__ADS_2