Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 128 Kabur


__ADS_3

Subuh pun sudah tiba, dan Samudra tidak sebentar pun mampu memejamkan kedua matanya. Dia terus gelisah, serba salah. Tidak bisa tidur sama sekali, dalam pikirannya hanya Rasya dan Rasya. Di mana gadis itu berada? rasanya sepi tanpa gadis tersebut.


Samudra bangun lantas buru-buru ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, daripada baringan terus pun dia tidak bisa tidur.


Sekitar 20 menit kemudian Samudra berendam di air hangat, Samudra keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya dan handuk kecil yang dipakai untuk mengeringkan rambut nya yang basah itu.


Ketika melihat di atas tempat tidur gak ada baju gantinya, dia langsung memekik. "Sya? baju ganti ku mana? kenapa belum siapkan?"


Namun detik kemudian Samudra sadar, kalau Rasya itu tidak ada. Tubuh Samudra lemas, mengingat gadis itu yang tidak ada di situ.


Samudra mengusap wajahnya kasar, mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur seraya bergumam. "Sya, sekarang kamu di mana? kenapa gak bilang kalau mau pergi?"


Setelah penampilannya rapi, Samudra kembali berusaha menelepon Ubai atau Rasya dan siapa tahu nomor mereka sudah bisa di hubungi. Namun tetap saja sama, nomornya tidak dapat dihubungi, biarpun dapat dihubungi tidak ada yang mengangkat seorang pun.


"Ck, kemana dan di mana mereka? Sial!" Samudra Samudra berdecak kesal, lalu dia buru-buru membawa langkahnya keluar dari apartemen tersebut, dengan niat mau ke tempatnya Adam atau Sidar, dia yakin kalau Rasya berada di sana bersama Fatir dan Viona, sebagai orang tua angkatnya Rasya.


Samudra melajukan mobil kesayangannya dengan sangat cepat, dan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di tempat yang dituju, dia buru-buru turun dan menghampiri rumah yang masih tampak sepi itu, maklum suasana pun masih gelap gulita.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


Beberapa saat, Samudra berdiri di depan pintu tersebut. Dan detik kemudian pintu pun terbuka yang membukakan pintu adalah sosoknya Adam.


Samudra celingukan ke arah dalam rumah tersebut yang masih tampak sepi tanpa ada orang satu pun.


Adam heran, kok pagi-pagi buta begini Samudra datang kemari. "Tuan muda, ada apa pagi-pagi begini sudah datang kemari? ada perlu apa ya?" tanya Adam.


"Saya menjemput ... mau menjemput Rasya, dia semalam menginap di sini kan Paman?" Samudra menatap tajam ke arah Adam.


"Rasya? Rasya menginap di sini? kata siapa? Adam malah bertanya, dia heran kok bisa-bisanya Samudra bilang kalau Rasya menginap di situ semalaman.

__ADS_1


"Iya, Rasya menginap di sini, kan Paman? semalaman bersama tante Viona?" sambungnya Samudra sambil matanya terus mencari-cari ke arah dalam rumah.


"Di rumah ini nggak ada Rasya dan setahu saya Mbak Viona dan mas Fathir pulang cuma berdua, Rasya gak pulang ke sini," sahutnya Adam dengan jelas.


"Jangan bohong Paman? semalam Rasya nggak ada di apartemen dan dia sudah pulang dari mension," lanjut Samudra.


"Tapi bener, Tuan muda. Di sini nggak ada Rasya, dia nggak pernah datang ke sini. Mas Fatir dan Mbak Viona datangnya cuma berdua saja gak ada barengan sama Nona Rasya," jelasnya Adam kembali.


"Ada apa Dam, pagi-pagi sudah ribut?" suara Fatir dari belakang dan menghampiri ke arah mereka berdua.


"Sam, kau di sini? bukannya di mansion?" tanya Fatir sambil mengerutkan keningnya.


"I-iya, Om. Semalam aku balik ke apartemen namun Rasya gak ada, apa bersama Om dan tante?" tanya Samudra pada Fatir.


"Lho, Rasya kan pulang ke apartemen mu. Dia di antar Ubai semalam, emang kami barengan pulang dari Mension, kami ajak ke sini pun tidak mau." Jelasnya Fatir pada Samudra.


"Tapi di mension nggak ada, Om. Yang ada cuma paper bag nya saja, orangnya nggak ada," Samudra mulai kebingungan kembali.


"Kalau ada di apartemen, buat apa saya ke sini, Om. Pagi-pagi ke sini buat apa saya? nggak ada kerjaan banget," ketusnya Samudra.


"Terus, dimana sekarang?" gumamnya Adam sambil mengerutkan keningnya.


"Mana ku tahu!" Samudra mencoba kembali menghubungi Rasya dan Ubai Tapi jawabannya tetap sama nggak bisa dihubungin.


"Nomornya nggak bisa dihubungi, Ubai mau pernah sesama. Samudra kemarin frustasi dia tak habis pikir tentang mereka berdua. Tidak mungkin ada yang melangkah berasa dari dirinya itu sangat tidak mungkin.


"Ada apa, Mas?" suara Viona yang datang menghampiri.


"Ini sayang, Samudra pagi-pagi dah datang menanyakan Rasya pada kita, padahal semalam dia pulang ke apartemen, kan sama Ubai, diajak ke sini pun nggak mau." Jawab nya Fatir pada sang istri.


"Apa? apa Rasya nggak ada? gak ada kemana Sam? Rasya kemana?" tanya Viona dengan nada tinggi kepada Samudra.


"Nggak tahu, Tante. Makanya aku cari ke sini! aku pikir dia ada di sini sama Tante." Jawabnya Samudra dengan nada datar.

__ADS_1


"Nggak mungkin Rasya pergi dari kamu Sam, kecuali kamu sudah melepaskan dia, sekarang jawab. Dia di mana sekarang, Sam di mana?" tanya Viona terlihat panik.


"Mana ku tahu, Tante! makanya aku cari ke sini kalau ada, kalau aku tahu, ngapain aku cari-cari ke sini kan? ada kerjaan banget! kalau aku harus ke sini. Kalau memang ada di apartemen." Lanjut Samudra.


"Terus sekarang Rasya di mana Sam? dia gak ada di sini, apa mungkin Rasya kabur? kamu apakan dia Sam?" tangan Viona menarik-narik kerah baju Samudra ke depan. Persis seperti seorang ibu yang kehilangan putrinya karena ulah laki-laki yang berada di hadapannya itu.


"Tidak tahu, Tante. Saya tidak tahu! makanya saya cari ke sini juga, untuk mencari tahu keberadaan dia," sahut Samudra sambil menarik diri dari Viona.


Fatir pun memegangi kedua bahu Viona. "Sayang."


"Makanya cari! saya tidak mau tahu ya? pokoknya kamu cari sampai ketemu! kalau kamu gak bisa membuat Rasya bahagia, biarkan dia saya yang membawanya," suara Viona menggebu-gebu, dia marah sekaligus panik dan khawatir Rasya kenapa-napa.


"Iya, Tante benar. Cari dia sampai ketemu dan bawa kembali, setelah itu serahkan dia pada saya, kalau kamu nggak bisa bahagiain dia, nggak mungkin dia pergi jika kamu tidak menyakitinya." Tambah Fatir menatap tajam ke arah Samudra.


Samudra yang masih berdiri di dekat pintu, tanpa ada yang menyilakan masuk ataupun duduk.


"Menyakiti apa, Om? aku tidak pernah menyakitinya," elak Samudra menjadi kesal.


"Memang kalian menikah, karena terpaksa. Karena di grebek, ya om paham itu. Tapi dengan setiap hari kalian bertemu! apa kalian nggak ada rasa cinta sama sekali? Om tanya apa kau tidak sedikitpun punya hati, merasakan rasa sayang terhadap Rasya ha? dia itu yang sudah melayani mu setiap hari, yang perhatikan makan, minum dan pakaian mu! tetapi kamu malah memilih pacar dan akan kamu nikahi," Fatir ucapkan kata-kata yang teramat menggebu-gebu kepada Samudra.


Samudra terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaan dari Fathir.


"Siapa tahu Rasya sudah mulai menyayangimu, tapi kamu malah memilih kekasihmu itu untuk bertunangan, gimana perasaan Rasya, sam? pernahkah kamu memikirkan perasaannya sedikit saja, fahami perasaannya Sam?" sambung Fatir.


"Om. Dia nggak pernah aku cintai, Om dan aku--" Samudra menggantungkan perkataannya.


"Apa kau yakin Sam? kamu tidak mencintainya, setelah selama ini kalian bersama. Satu atap dan dia melayani kamu setiap hari?" sambung Fatir.


Samudra tak mampu menjawab, karena dia belum bisa mengakui perasaannya terhadap Rasya seperti apa? dan gimana? yang jelas dia nggak mau kehilangan Rasya dan gak mau kehilangan Karin juga sebagai kekasihnya ....


.


.

__ADS_1


__ADS_2