
"Mobilnya mana? kok ini bukan jalan ke parkiran?" Rasya celingukan mencari mobil Samudra atau milik Ubai.
"Bukan. Mobil ada di depan, gimana kalau gak ada mobil. Apa masih mau berjalan atau naik taksi gitu?" tanya Ubai pada Rasya.
"Aku, mau. Kenapa nggak? orang di kampung aku gak punya apa-apa juga! ke mana-mana jalan kaki," Rasya menunjukan senyumnya pada Ubai.
"Bagus. Berarti Nona mau bila seandainya hidup susah ya?" sambung Ubai.
"Cuma orang bego yang mau di ajak hidup susah. Dan orang kere yang mengajak pasangannya menderita." Samudra nimbrung.
"Hi hi hi ... ini kan seandainya Bos, iyalah. Mana ada wanita yang mau hidup susah? gak akan ada memang. Tapi setidaknya siap, jika lho. Ini jika.'' Ubai pun menggeleng.
Setelah berada di dekat mobil, Ubai mengitari mobil mewah tersebut setelah membukakan pintu untuk Rasya. Ubai pikir Samudra akan duduk di depan, tapi ternyata memilih duduk di belakang bersama Rasya.
Samudra duduk bersandar ke jok belakang meluruskan punggungnya. Rasya menarik belt safety yang susah untuk ia kunci kan.
"Ck, gitu saja gak becus!" Samudra menegakkan duduknya lalu mendekat pada Rasya yang refleks mundur.
"Kenapa? kau takut? ge'er." Samudra memasangkan belt di tubuh Rasya.
"Makasih? nolong tapi suka gak ikhlas begitu. Tuan ini suka memasang ekspresi wajah yang aneh, bikin aku gak suka!" Rasya malah cemberut.
"Kau juga udah di tolong kok malah menggerutu sih, heran saya? bukannya berterima kasih. Emang siapa juga yang mau disukai oleh mu?" Samudra tak kalah ngedumel.
"Kan barusan sudah bilang makasih? makasih ya ..." ulang Rasya dan di dekatkan dengan kuping Samudra.
"Apa? kurang kedengaran?" ucap Samudra.
Rasya mencibirkan bibirnya, lalu mendekat. "Makasih ... Tuan?" dengan suara nada tinggi.
"Kau ini, kau pikir aku tuli?" pekik Samudra sambil mengusap daun telinganya.
"Barusan, gak kedengaran?" gumamnya Rasya.
Samudra menyunggingkan bibirnya lalu kembali menyandarkan punggungnya ke belakang.
Ubai yang di depan, sedang menyetir mesem-mesem mendengar perdebatan mereka berdua.
Setibanya di butik. Mobil pun terparkir cantik tidak jauh dari butik tersebut. Ketiganya dari mobil dan Rasya celingukan melihat-lihat ke depan.
"Kita masuk Nona?" ajak Ubai sambil berjalan.
Sementara Samudra sudah masuk duluan ke dalam tanpa menunggu Rasya yang terbengong-bengong di luar.
"Oh, iya." Rasya mengangguk lantas mengikuti langkah Ubai yang menungguinya.
Manik indah Rasya terus bergerak mengamati tempat sekitar seraya bergumam. "Wah ... bajunya bagus-bagus banget. Lebih dari tempat kemarin yang tuan Ubai bawa aku ke sana."
"Jelaslah, Nona. Di sini itu limited edition." Rupanya Ubai mendengar gumaman Rasya yang mengagumi barang-barang di sana.
Rasya menoleh ke arah Ubai, "Ha? limi ...ted edition itu, apa artinya?" tanya Rasya tidak mengerti.
Ubai tersenyum manis. "Limited edition itu. Barang yang di produksinya terbatas atau tidak ada di tempat lain selain di sini." Ubai menjelaskan.
"Oo!" Rasya membulatkan bibirnya lalu mendekati sebuah dress cantik dan ketika melihat bandrolnya dia terkejut. "Buset! nominal barapa nih 25.5 juta." Rasya menggeleng.
Samudra mendekati penjaga butik seorang wanita yang berpenampilan menarik. Dan di sambut dengan sangat ramah, toh Samudra langganan butik tersebut.
"Mbak? Saya mau beli pakaian buat wanita itu." Samudra menunjuk ke arah Rasya yang berdiri tidak jauh dari Ubai sedang melihat-lihat pakaian.
__ADS_1
"Oke, buat acara apa Tuan?" tanya pelayan tersebut.
"Em ... buat makan malam kelurga. Dan beberapa pakaian santai nya." Jawab Samudra.
"Baiklah. Kami akan menawarkan beberapa pakaian yang mungkin dia sukai atau cocok dengan nya." Pelayan itu melirik ke arah temannya yang mengangguk.
Ubai hanya perhatikan Samudra yang berbincang dengan para pelayan.
"Mbak, mari?" pelayan mengajak Rasya untuk mengikuti mereka berdua.
Rasya mengangguk dan mengikuti dua pelayan butik tersebut. Mereka menawarkan beberapa pakaian yang dan menyuruhnya untuk mencoba terlebih dahulu.
"Kau carikan tas kecil yang sekiranya cocok dengan warna pakaian apapun? Oya dengan sepatunya juga," titah Samudra pada Ubai yang langsung mengangguk.
"Baiklah. Aku pergi dulu!" Ubai mengayunkan langkahnya keluar dari butik tersebut.
Samudra duduk di sofa menunggu Rasya yang mencoba pakaian. Beberapa menit kemudian Rasya keluar dengan menggunakan dress pendek tanpa lengan di atas lutut namun dada tertutup.
Netra mata Samudra tak berkedip melihatnya, dress itu mengekspos lengan terutama paha dan kakinya yang mulus. Namun tangan Rasya berusaha menurunkan bagian bawahnya yang memang pendek.
"Tuan? ini kependek kan. Malu, aku gak terbiasa! ganti ya?" Rasya memelas.
Samudra menggeleng. "Ck. Dasar gadis kampung. Ya sudah, ganti?" Lagian dia juga kurang srek.
Kali ini Rasya di sodorkan dress panjang. Rasya pun segera mencobanya, sesaat kemudian keluar dengan dress panjang. Menutupi lengan, dada tidak terlalu rendah dan belakangnya belah di atas lutut sedikit. Berwarna hitam mengkilat, cocok buat acara malam.
"Sudah, itu ambil? dan coba lagi yang lainnya buat pakaian santai. Saya bosan melihat bajumu itu-tu saja." Ketus Samudra.
"Tapi, Tuan. Yang hari-hari aku pake kan masih baru dan dibelikan tuan Ubai." Protes Rasya.
Namun tangan Samudra memberi isyarat agar Rasya menuruti perintahnya.
"Baju ku masih baru-baru kok, orang tuan Ubai yang belikan dan uang dari dia juga." Gerutu Rasya sambil masuk lagi ke ruang ganti.
"Tuan, baju itu mahal-mahal banget! aku gak punya uang untuk membayarnya!" Rasya berwajah panik takut di suruh bayar.
Samudra mengalihkan pandangannya dari ponsel ke arah Rasya. "Emangnya! kalau murah, kau bisa bayar?"
Rasya menggeleng. "Nggak."
"Ya ... sudah. Mau mahal? mau murah saya juga yang bayar. Gak usah banyak komplen! yang penting kau tidak saya buat telanjang." Ketus Samudra kembali sambil mengambil kartu debitnya.
"Telanjang? iiy." Rasya menyilang kan kedua tangannya di dada.
"Yang lain tersenyum mendengar percakapan Samudra dan Rasya.
Samudra mengedarkan pandangan pada mereka sambil memberikan kartunya buat membayar. Mereka berhenti tersenyum lalu menerima kartu tersebut.
Rasya heran kok bayarnya cuma dengan sebuah kartu dan itu pun dikembalikan lagi.
"Tuan, kok bayarnya pake kartu sih? tidak dengan uang! emang kartu itu laku ya buat bayar semua itu?" Rasya terheran-heran.
"Jangankan membeli baju. Membeli tubuh mu juga bisa!" Samudra memasukan kartunya ke dompet.
Lagi-lagi Rasya memajukan bibirnya. "Orang tanya serius juga. Malas akh tanya-tanya dirimu, mendingan tanya-tanya tuan ramah. Eeh, dia mana? Tuan, tuan Ubai mana?"
"Nggak ada. Sudah ku impor ke Papua sana," ucap Samudra asal.
"Uuh, dasar jutek. Nyesal aku bertanya sama dia!" Rasya merutuki dirinya.
__ADS_1
"Bodo amat, siapa juga yang mau di tanya sama gadis seperti kau ini. Bawa itu semua?" perintah Samudra menunjuk beberapa paper bag.
"Semuanya?" tanya Rasya menatap ke arah Samudra.
"Iya, kan barang kau semua." Samudra mengangguk.
"Nggak mau bawain satu gitu?" tanya Rasya kembali sambil menjinjing semuanya.
"Gak, gak berat juga." Samudra malah berjalan di depan sambil menyunggingkan bibirnya.
"Aish ... laki-laki bukan sih? membiarkan wanita repot dan jalan di belakang lagi." Rasya terus menggerutu.
Membuat Samudra hentikan langkahnya. Menunggui langkah Rasya yang di belakangnya itu.
Setelah sejajar, barulah Samudra berjalan di samping Rasya sambil berkata. "Puas?"
"Nggak?" jawab Rasya sembari mesem.
"Terserah, emangnya gue pikirin!" Samudra terus berjalan.
Setibanya di mobil. Ubai pun sama tiba di sana dengan membawa dua buah paper bag.
"Eeh, Tuan ramah! dari mana sih? menghilang begitu saja?" sapa Rasya sambil menyimpan barangnya.
"Aku ... dari Mall. membeli sepatu dan tas buat mu Nona?" Ubai memberikan yang ia bawa.
"Oo! anda baik sekali, makasih Tuan ramah. Eh Tuan Ubai?" ucap Rasya ketika menerimanya.
"Itu semua dari ku, kenapa terima kasih padanya?" Samudra kesal.
"Kan saya yang membawanya, Bos!" akunya Ubai menunjuk hidungnya sendiri.
"Saya yang jelas-jelas membelinya, gak berterima kasih?" kekeh Samudra.
Rasya menoleh dan tersenyum tipis. "Terima kasih Tuan jutek?"
"Nggak tulus itu. Yang tulus dong ..." ucap Samudra datar.
"Tuh kan ... serba salah deh." Rasya merengut. Namun tak ayal dia mengulangi lagi.
Dengan senyuman yang lebih manis. Ekspresi yang ramah seraya berkata. "Terima kasih Tuan muda? atas semuanya."
"Sudahlah." Samudra mengibaskan telapak tangannya.
Ubai yang sudah duduk di depan nyengir ... saja mendengarnya. "Kemana sekarang?" tanya Ubai dari depan.
"Salon dandani dia biar gak kucel gitu. Biar gak terlalu kelihatan kampungnya." Kata Samudra ketus.
Deg!
Rasya menelan saliva nya. Mendengar perkataan dari Samudra yang selalu bilang gadis kampung.
"Saya memang orang kampung, Tuan. Tetapi gak perlu juga terus di bahas! orang kota sekarang juga mungkin asal muasalnya dari kampung juga." Dengan nada yang agak sedih.
Hening!
Suasana menjadi tegang, Ubai yang sudah bersiap memutar kemudi pun urung. Lalu menoleh ke belakang melihat Samudra yang terdiam ....
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like komen dan vote nya ya🙏 Oya tekan bintang juga biar author merasa senang.