
"Tolong, Juragan. Lepaskan saya? saya janji akan mengembalikan uang tersebut tapi lepaskan dulu saya, jangan sakiti saya! hik hik hik." Rasya terus memohon sambil menangis.
"Ha ha ha ... enak saja saya harus melepaskanmu. Kamu itu sudah susah payah saya cari sampai ke kota ini, hanya untuk mendapatkan mu, sekarang kau minta saya lepaskan? hanya orang gila yang melakukan itu!" sergah juragan Kasmin dengan mata melotot dengan sempurna. Tangannya hendak menyentuh bagian depan tubuh Rasya.
Rasya bergerak menghindar. Terus menangis tersedu, wajahnya basah kuyup dengan air mata. Tidak ada yang bisa dia harapkan untuk dimintai tolong! toh orang tuanya justru yang menjual dia ke pria yang kini berada dihadapannya itu.
"Orang tua mu saja menganggap mu tidak berguna dan gak lagi membutuhkan mu. Makanya kamu dijadikan jaminan uang saya!" jelas juragan Kasmin.
"Saya mohon, jangan sakiti saya! hik hik hik." Rasya terus memohon sambil bergeser menghindari tangan juragan Kasmin yang berusaha berbuat nakal.
"Siapa yang akan menyakiti mu Nona manis? justru saya akan memberikanmu kesenangan." Tangan juragan Kasmin menjepit kedua pipi Rasya sehingga bibir Rasya membulat terbuka.
Melihat itu. Wajah juragan Kasmin tertantang untuk menyentuh bibir Rasya, Rasya memundurkan kepalanya menghindari wajah pria tua tersebut.
Juragan Kasmin merasa di permainkan dan semakin tertantang. Dia menguatkan cengkeramannya dan hendak mencium kembali namun.
Cuih!
Wajah juragan Kasmin diludahi Rasya. Sehingga menggugah amarah juragan Kasmin.
Plak!
Plak!
Tamparan bolak-balik dari tangan pria tua itu bersarang di wajah Rasya, dia merasa sakit hati dan dikurang ajar sama gadis seperti Rasya.
"Aw! aw," pekik Rasya kesakitan. Tubuhnya merosot ke lantai. Air matanya kian deras membanjiri pipinya.
Sementara tangan masih dalam keadaan terikat. Sungguh juragan Kasmin tidak punya hati nurani yang tetap membiarkan tangan Rasya tetap terikat ditambah dengan tamparan sehingga meninggalkan jejak lima jari tergambar di kedua pipi Rasya yang kini semakin merintih, darah pun rembes dari ujung bibirnya.
Juragan Kasmin mengelap wajah dengan bajunya, api amarah yang membara terlihat dari sorot matanya yang tajam seakan bersiap menerkam korban.
Kini tangan yang masih kekar itu mencengkram baju Rasya di atas dada seolah mengangkat Rasya berdiri. "Berisik? sergah juragan Kasmin. "Sekalipun tangis mu darah. Tidak akan merubah ku luluh, sebab yang kau lakukan dulu kabur dari saya membuat ku muak."
Lalu mendorong tubuh Rasya ke belakang. Membuat punggung Rasya menubruk dinding, kemudian merosot ke bawah.
__ADS_1
"To-tolong, Ju-Juragan lepaskan saya. Lepaskan?" suara Rasya terbata-bata dan nyaris tak terdengar.
Kemudian juragan Kasmin berbalik membawa langkahnya ke luar dari ruangan tersebut, meninggalkan Rasya yang terus menangis meratapi nasibnya.
"Ju-juragan ... lepaskan saya?" suaranya serak dan pelan.
Namun pintu justru terdengar di banting dari luar dan di kunci.
Tubuh Rasya yang merosot ke lantai. Kakinya bergetar dan tak kuat lagi berdiri dan akhirnya Rasya meringkuk begitu saja sembari terus terisak dan sesekali meminta tolong.
... ---...
Sam dan Ubai memasuki unit apartemennya. Tidak menemukan yang aneh di sana. Di meja pun sudah tertata kue sesuai permintaan Sam.
Namun di meja itu tidak ada masakan buat makan siang. Sam langsung mencicipi kuenya. "Hem ... persis kue waktu itu!" gumamnya.
Sementara Ubai setelah meraih kue dan dimakannya mencari keberadaan Rasya. "Nona? kau di mana?" Celingukan. Semua ruangan ia datangi Ubai buka-buka yang tertutup namun hasilnya nihil. Rasya tidak ada.
Sam pun merasa penasaran, kemana gadis itu? mana gak masak buat makan siang lagi.
Ia cari ke kamarnya kali saja sedang merapikan kamar pribadinya. "Hi ... gadis bagasi, dimana kau? kenapa tidak masak buat makan siang? mentang-mentang sudah bikin kue. Sampai tidak masak." Teriak Sam.
"Ya, mana ku tahu!" suaranya hampir berbarengan.
"Saya tidak tahu, kan sama-sama kamu di kantor." Sam dengan nada tinggi. "Kau yang suka mengajak nya jalan, siapa tahu dia jalan-jalan dan gak tau jalan pulang."
Ubai terdiam. Apa mungkin Rasya pergi? tapi kemana dia perginya? Ubai mengernyitkan keningnya.
Hening!
Sesaat mereka terdiam sambil duduk di sofa. Dengan pikirannya masing-masing, raut wajah Ubai terlihat cemas.
Sementara Sam dengan wajah datarnya mengambil kue lalu memakannya kembali dengan lahap. Kemudian beranjak mengambil minumnya.
Di dapur, masih berantakan dengan perabotan kotor yang belum sempat Rasya cuci. "Dasar gadis kampung. Gadis bodoh. Main pergi saja tanpa membereskan perabotan terlebih dahulu." Umpat Sam ketika melihat dapur masih berantakan.
__ADS_1
Lek-lek, lek. Suara minum Sam yang terdengar oleh Ubai yang sontak menoleh membuyarkan lamunannya.
"Kira-kira kemana dia, Bos?" tanya Ubai menatap dingin.
"Mana saya tahu! kau yang suka mengajak dia jalan, cari angin kali. Tapi yang buat saya marah, di dapur banyak cucian yang dia tinggal begitu saja." Sam menggeleng dan menyalahkan Rasya.
Ubai menggeleng. Dia tidak habis pikir. Rasanya gak mungkin kalau dia kabur, sudah dikasih hidup enak masa kabur. Huuh ... Ubai menghembuskan napas melalui mulutnya.
Sam berdiri menyimpan gelas ke dapur dan piring kue yang tinggal setengahnya. "Kemana gadis kampung itu, apa mungkin kabur?" gumamnya dalam hati.
"Balik kantor. Kita cari makan siang dulu di luar!" Sam merapikan dan mengancingkan jasnya.
"Rasya gimana, Bos?" tanya Ubai terdengar cemas dan khawatir.
Sam berbalik dan menatap curiga. "Kau tampak cemas sama dia, kau suka ya sama gadis itu?"
"Bukan gitu, Bos. Di sini dia gak ada kerabat dan dia juga gak tahu daerah sini. Gimana kalau dia keluar dan mau balik lagi ke sini kesasar, Bos. Atau ketemu orang jahat?" ujar Ubai penuh kecemasan.
"Hah! kau ini berlebihan, Bai--"
"Bukan berlebihan, Bos kan tahu dia itu gadis polos yang kurang tahu apa-apa! masih mending kalau dia bertemu dengan orang baik, kendati tak bisa balik lagi ke sini juga. Kalau kebalikannya gimana?" ungkap Ubai kembali. Sungguh ketara kekhawatirannya terhadap Rasya.
"Mana saya tahu! bilang saja kalau kau itu cinta sama dia! banyak alasan segala! cari saja dia sana?" ucap Sam dengan nada sangat dingin. Melanjutkan langkahnya melintasi pintu.
Ubai menyusul dari belakang. Isi kepalanya dipenuhi dengan sosok Rasya yang kini entah dimana rimba nya.
Sam menyalakan ponselnya menghubungkan dengan cctv di unitnya. Tampak Rasya tengah bergulat dengan tugasnya. Namun ketika sedang menata kue, ada suara bell berbunyi pertanda ada tamu. Rasya bergegas keluar, namun tidak ada tampak siapa tamu itu.
Sebab si tamu gak ada masuk. Begitupun dengan Rasya yang tidak ada kembali masuk. Keduanya saling bertukar pandangan lagi. Menjadi tanda tanya, siapa tamu tersebut sehingga menghilangkan keberadaan Rasya dari unit tersebut.
"Cctv apartemen, terutama yang ada di luar ini. Pasti akan ada bukti siapa dan kemana Rasya pergi." Ubai berujar dan langsung mendapat anggukan dari Sam.
Kemudian mereka gegas berjalan ke pihak keamanan untuk meminta bukti cctv terutama di area unitnya Sam.
Ubai yang paling bersemangat untuk mencari tahu, apalagi mencari keberadaan Rasya ....
__ADS_1
****
Ayo jangan lupa dukungannya reader ku. Tonton iklannya untuk memberi dukungan pada sang penulis recehan ini.