
Nafasnya Rasya masih naik turun tidak beraturan dan dia masih berdiri tepat daun pintu, kemudian tubuhnya merosot ke lantai sambil memegangi dadanya yang terus dag-dig-dug.
"Aduh ... gimana ya? setahu aku kalau tuan sudah berada dia dalam kamar ku, suka sulit untuk keluar lagi, alasan nggak bisa tidur lah, apalah? mau ngerjain aku terus. Gimana dong?" gumamnya Rasya.
Sesaat kemudian bibir tertarik membentuk sebuah senyuman dengan manik mata yang terus bergerak menyapu ruangan tersebut. Rasya berasa mendapatkan angin segar.
Rasya mendapat ide, agar dia tidak bertemu lagi dengan samudra di malam ini. Lalu Rasya berdiri mendekati bathub mengambil tisu untuk mengelap agar tempat itu mengering, lalu dia meraih handuk yang berbentuk kimono! terus menggulung-gulung handuk besar agar membentuk bantal, lanjut dia pun masuk dan berbaring di sana.
"Hahhhh ... gini juga nyaman biarpun gak ada selimut, kenapa tadi aku gak bawa selimut ya?" mengusap-usap telapak tangannya yang berasa dingin.
"Sudahlah, mungkin ini lebih nyaman dibanding tempat tidur di kampung! biarin aja dia tidur sendiri di situ, iih ... bodo amat." Rasya terus bermonolog.
Karena sudah satu jam Rasya tidak kembali dari kamar mandinya, Samudra merasa heran. "Dia lagi apa sih? di kamar mandi, lama banget sudah 1 jam juga."
Samudra beranjak dan mengayunkan langkahnya ke arah kamar mandi, sesaat berdiri di sana dengan mengayunkan tangannya untuk mengetuk daun pintu tersebut.
"Sya? kau lagi apa? lama banget di kamar mandi?" teriak Samudra sambil mengetuk-ngetuk tanpa jeda.
Suasana begitu hening tidak ada suara dari dalam yang menjawab. "Kau lagi apa di sana? kau tidak apa-apa, kan?" Samudra kembali berteriak.
"Iih ... apa sih teriak-teriak malam juga?" gumamnya Rasya sambil membuka manik matanya melihat ke arah pintu.
"Aku nggak apa-apa? aku mau tidur di sini!" pekik nya Rasya dari dalam kamar mandi.
"Tidur? tidur di kamar mandi, apa kau tidak gila hah? mau tidur di kamar mandi segala?" suara Samudra kembali memekik.
"Bodo! ku ngantuk, mau tidur. Jangan berisik," jawabnya Rasya sambil memejamkan kedua manik matanya.
"Sudah gila apa? mau tidur di dalam kamar mandi, aneh-aneh aja tuh orang?" gumamnya Samudra sambil berpikir gimana caranya supaya rasa keluar dari kamar mandi tersebut.
"Aku mau keluar! silakan kamu tidur dengan nyenyak di kamarmu sendiri, aku mau tidur di kamarku." Sambung Samudra.
''Hah, bohong kau. Selalu bohongi aku, aku mau tidur di kamar mandi saja," pekik Rasya a kembali.
"Apa kau tidak mendengar, di luar hujan sangat deras. Petir pun terus terdengar walau kecil, nanti kalau ada petir besar gimana?kamu di sana sendirian!" Samudra terus membujuk agar Rasya keluar dari kamar mandinya.
Mendengar kata-kata Samudra tentang petir, kedua netra mata Rasya bergerak ketakutan. Memeluk dirinya lalu menutup kedua telinga.
Namun keputusannya sudah bulat, untuk tidur dia dalam bathub saja, karena Rasya nggak percaya kalau Samudra akan keluar dari kamar tersebut.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mau keluar. Sudahlah jangan berisik? aku mau tidur," ucap Rasya.
"Nanti ada petir, kamu ketakutan. Terus kalau di sana kamu mau meluk siapa?" bujuk Samudra kembali.
"Aku nggak mau peluk siapa-siapa, aku sudah nggak takut lagi," jawabnya Rasya pura-pura berani.
"Ya Allah ... semoga aja gak ada petir lagi. Aku takut ya Allah ..." Rasya mendongak.
"Ahhhh ... dasar, keras kepala banget. Aku pengen buang air kecil nih, keluarlah?" pinta Samudra dengan alasan ingin buang air kecil.
"Tidak mau, kamar mandi mu ada, jangan di kamar mandi ini, bukannya barusan anda bilang mau tidur di kamarmu? ngapain masih di situ?" tanya Rasya dengan nada yang agak tinggi agak terdengar jelas oleh Samudra.
"Iih ... dasar anak itu nggak bisa dibujuk," ucap Samudra sambil mengacak rambutnya. "Ya sudah, aku mau keluar, ke tempat tidurku," kata Samudra berharap Rasya keluar dari tempat persembunyiannya.
Namun jangankan orangnya yang muncul dari balik pintu, suaranya pun tidak ada terdengar lagi.
"Iiiihhhh ..." Samudra menggelengkan kepalanya kasar. "Dasar keras kepala!"
Kemudian, Samudra bukannya keluar dari kamar Rasya, melainkan membaringkan dirinya di atas tempat tidur yang tadi dia tempati, bodo amat mau dia kedinginan kali di sana, gue nggak peduli," gumamnya Samudra sembari menarik selimut dan memeluk guling. Bagaikan di kamar sendiri.
Ketika menjelang subuh, Rasya baru bangun dan tubuhnya merasa kedinginan. Lalu dia berjalan mendekati pintu untuk mengintip apa samudra masih ada di kamarnya? atau memang sudah keluar seperti yang semalam dia bilang, akan tidur di kamarnya sendiri.
Namun apa yang didapatkan oleh kedua mata Rasya, ternyata di atas tempat tidur ada Samudra. Rasya mencibirkan bibirnya. "Aish ... katanya mau tidur di kamar sendiri? ternyata masih ngajonggrok di situ juga. Dasar."
"Tuan? bangun woii ... bangun? dah siang, Rasya mau makan Samudra ketika dirinya sudah selesai menjalankan kewajibannya, sebagai umat muslim.
Sebelah itu. Samudra mengintip melihat ke arah yang bicara, seorang gadis yang mengenakan mukenanya.
"Masih ngantuk, semalam aku susah tidur," sahutnya Samudra sambil menyembunyikan seluruh wajahnya dengan selimut.
"Bodo amat! mau gak bisa tidur kek, atau tidur nyenyak kek. Emang aku pikirin? buruan bangun? pindah ke ke kamar sendiri! bukannya semalam bilang, kalau mau tidur di kamar sendiri? na ... h aku tahu itu cuma akal-akalan dirimu doang kan? aku tahu isi otak mu itu."
"Kau itu ngomong apa sih?pagi-pagi udah ngomel, pantas ya perempuan itu bibirnya banyak? orang bangun tidur saja sudah dikasih omelan, "gerutu Samudra dengan tetap menutupi wajahnya dengan selimut.
"Iya, makanya bangun? kau itu muslim bukan sih?" tanya Rasya memelankan suaranya.
"Ya ... muslim lah, emang kau pikir aku non muslim?" jawab Samudra sambil memperlihatkan wajahnya pada Rasya.
Rasya, duduk di tepi tempat tidur dekat Samudra. "Kalau kau muslim, kenapa nggak pernah salat?" tanya rasa dengan serius.
__ADS_1
"Salat, waktu kemarin di mension aku salat, kan? sama keluargaku," akunya Samudra.
"Ya ... selama aku mengenalmu baru sekali itu, kulihat kau salat sama keluargamu. Setelah itu tidak pernah aku lihat lagi, biarpun sekali di tempat ini," ucap Rasya sambil menggelengkan kepalanya, tatapannya begitu lekat pada lawan mainnya.
Samudra merasa kikuk ditatap seperti itu, bikin salah tingkah.
"Aku lagi males saja, kenapa sih? nanya-nanya seperti Itu? nggak ada obralan lain apa," Samudra tampak kesal seraya memalingkan wajahnya, gak enak di tatap oleh Rasya.
"Kalau kamu muslim, kan tahu?salat itu tiangnya agama, nomor satu! diibaratkan uang tanpa angka nominal awal yang ada cuman nol ... doang, nggak akan ada artinya."
"Emangnya kau Tuhan yang menentukan amalan manusia ha? baik dan buruk seseorang hanya Tuhan yang tahu dan berhak menilai." Balas Samudra.
"Tetapi setidaknya, kita kan berusaha untuk lebih baik bukan?" sahut Rasya kembali.
"Haduh ... sedari tadi ngomel?sekarang ceramah? bener-bener ya bibir wanita." Samudra menggelengkan kepalanya kasar.
"Wajarlah kalau wanita banyak ngomel, bibir kau sendiri, laki-laki bukannya cool, malah suka banyak ngomel. Marah-marah nggak jelas, bisanya nyalahin orang." Rasya tak mau kalah.
"Aku masih muda dan jalan ku masih panjang, satu waktu nanti aku akan salat," kata Samudra dengan ringannya.
"Kalau allah masih ngasih waktu? kalau nggak, gimana? tak ada satupun orang yang tahu usia kita sampai mana?" tanya Rasya dengan lirih.
"Kau ini benar-benar ya? sekarang bawel lebih malah lebih bawel dari sebelumnya, cengeng juga! berbeda dengan sebelumnya." Samudra bangun, mengibaskan selimutnya. Kemudian menurunkan kedua kakinya berjalan keluar dari kamarnya Rasya.
"Dikasih tahu, malah pergi!" Rasya menatap punggung Samudra yang hilang dari balik pintu.
Selanjutnya Rasya bersiap untuk mengerjakan semua tugasnya, bersih-bersih. Mencuci dan sebelumnya akan menyiapkan sarapan buat Samudra dan Ubai juga dirinya.
"Hei, Syah? pakai dasi ku dulu!" pinta Samudra pada Rasya yang sedang berdiri menyajikan sarapan di meja.
"Aish ... menyuruhku lagi? padahal berapa hari lalu, kok bisa masangnya sendiri! tidak menyuruh ku, kenapa sekarang menyuruhku lagi? aku kira mau selamanya."
"Jangan banyak omong! cepetan kerjakan?" pinta Samudra sambil menyampaikan jasnya di bahu kursi.
Meskipun menggerutu, tak ayal Rasya mendekati Samudra dan menyuruhnya untuk membungkuk. Agar dia lebih mudah untuk memasangkan dasinya.
Membuat samudra lebih leluasa memandangi wajah cantiknya gadis yang ada di hadapannya itu, mencium bau wanginya yang semerbak dan jelas-jelas wangi kesukaan dirinya.
"Kenapa menatapku seperti itu? ada yang aneh?" tanya Rasya setelah menyadari Samudra terus memandangi ke arahnya.
__ADS_1
"Nggak juga, siapa juga yang melihat mu? ge'er amat! nggak ada aku melihat dirimu, aku melihat ke belakangmu!" elak Samudra tidak mengakui yang sebenarnya.
Padahal memang iya, dia melihat ke arah Rasya, memandanginya begitu seksama ....