
Rasya berjalan mengikuti langkah pak Panji ke bawah. Yaitu ke ruang tamu yang terdapat di sana keluarga Samudra dan tamunya, tak ketinggalan Ubai yang duduk bersandar ke bahu sofa.
Dada Rasya dag-dig-dug. cemas, ada apa di panggil? apa dia membuat satu kesalahan atau apa?
Rasya berdiri mematung dengan tangan yang memegang paper bag di satukan. "Maaf, ada apa ya? memanggil saya? apa kah aku membuat sebuah kesalahan?" Rasya bertanya dengan lembut.
"Ooh, tidak. Ini jeng Viona mau pulang dan ingin bertemu dengan kamu," Bu Riska tersenyum bersuara lembut sambil melirik ke arah Viona.
"Ooh, aku kira ada apa? jantung ku hampir copot." Rasya mengusap dadanya yang terasa lega.
"Itu, Apa? kok bawa-bawa itu segala?" tanya Viona menunjuk yang Rasya bawa di tangannya.
"Em ... ini, pakaian ku! yang kemarin tuan belikan dari butik. Eh ... kalau mau di cek? cek aja takutnya aku bawa sesuatu dari kamar?" dengan polosnya Rasya berucap seperti itu. Takutnya orang lain mencurigai dia gimana-gimana, maklum kan orang baru.
Semua yang berada di sana saling bertukar pandangan. Polos banget ini anak sehingga memberi kebebasan buat di periksa, takutnya dicurigai apa-apa.
Bu Riska menggeleng. "Nggak-nggak. Gak gitu sayang! Ya ampun ... jahat amat kalau kami begitu, astagfirullah ..."
"Ma-maksud ku, takutnya kak Aan mencurigai ku. Maklum aku kan orang baru." Rasya menjelaskan maksudnya.
"Tidak, kami percaya kok. Baiklah bekerja dengan baik dengan Samudra ya? banyak belajar apapun yang bermanfaat tentunya." Pak Suyoto berujar.
"Terus mau kemana emang? tanya Viona kembali seraya menghampiri.
Sesaat Rasya melirik ke arah Ubai. "Em ... mau pulang, di suruh pulang sama tuan muda."
"Pulang? pulang kemana emang?" Viona penasaran, tangannya menyingkirkan anak rambut yang menghalangi pipi Rasya yang mulus.
"Ke apartemen tuan." Jawab Rasya.
"Ooh, kami juga mau pulang tapi ke tempat saudara di jalan xx." Tambah Viona.
"Ooh, itu. Kami juga mau pulang ke sana, apartemennya berada di kawasan situ," kata Ubai dengan cepat.
"Oya? satu arah dong." lirih Viona dengan senangnya.
Mereka memutuskan untuk jalan bareng, Fatir dan Viona mau pulang ke rumah saudaranya yaitu Adam dan Sidar. Sementara Ubai dan Rasya mau ke apartemen nya milik samudra.
Mereka jalan, setelah sebelumnya berpamitan pada orang rumah, Dengan sepakat kalau hari esok juga akan bertemu lagi di kantor.
Rasya yang satu mobil dengan Ubai, dengan mobil milik Samudra. Sementara Fatir dan Viona di mobil rental nya.
__ADS_1
Dua mobil mewah tersebut berjalan beriringan dengan tujuan jalan yang sama dan kawasan yang sama pula.
Setelah beberapa puluh menit, akhirnya sampai juga di kawasan yang menjadi tujuan. Mobil yang di tumpangi Ubai dan Rasya berhenti di depan sebuah apartemen yang mewah dan elit tersebut.
Ubai membuka kaca jendela. Dan mengangguk." Om, Tante. ini apartemen yang Samudra tinggali."
"Oh di sini? lantai berapa emang?" tanya Viona dari mobilnya itu.
"Dia tinggal di lantai 15 di unit xx. Mau mampir dulu gak Om dan tante?" tanya Ubai dengan masih di posisi yang sama di belakang kemudi.
"Mendingan kalian ikut kami yu?" Viona malah mengajak Rasya dan Ubai ikut mereka.
"Gimana Nona? mau ikut mereka atau pulang?" Ubai menoleh ke arah Rasya.
"Em ... boleh emang?" Rasya balik bertanya.
"Boleh dong, Nona." Ubai mengangguk. "Nanti saya yang minta ijin sama tuan muda."
"Gimana, mau ikut gak? mendingan ikut yu?" ajak Viona lagi."
"Mau Tante, mau ikut." Balas Rasya sambil mengangguk.
Mobil yang di tumpangi Rasya pun mengikuti mobil Fatir dari belakang. Dan hanya jarak beberapa meter saja mobil sudah berhenti kembali.
Berhenti tepat di depan rumah Adam dan Sidar. Rasya heran apa hubungannya mereka dengan Adam dan Sidar?
"Ini kan rumah paman Adam dan Sidar." Gumamnya Rasya sambil menatap ke arah rumah tersebut.
"Keluarga nya mungkin!" Ubai menaikan kedua bahunya.
"Keluarga siapa? Tuan?" tanya Rasya melirik ke arah Ubai.
"Ya ... keluarga mereka, Nona ... siapa lagi?" Ubai menggelengkan kepalanya.
"Ooh, iya." Gumamnya Rasya sambil menghampiri Viona dan suaminya.
"Ini rumah keluarga ku? yang ini rumah Adam dan yang itu rumahnya Sidar. Keduanya adik om Fatir." Viona menunjuk ke arah dua rumah tersebut.
"Aku tahu, dan aku pernah main ke sini. Mereka berdua sangat baik dan ramah, aku di anggapnya seperti keluarga." Rasya mengangguk.
"Oya, kau mengenalnya?" tanya Fatir sambil menatap ke arah Rasya yang kalau di lihat-lihat dengan jarak dekat mirip sang istri.
__ADS_1
"Iya, Om. Aku mengenal mereka!" sambung Rasya sambil mengikuti langkah Viona.
Ketiganya di sambut oleh Wiwi, istrinya Adam. Adam kebetulan masih bertugas, lalu datang istri Sidar yang bernama Lusi.
"Sidar nya mana Lusi?" tanya Fatir sambil Mendudukkan dirinya di sofa.
"Mas, apa kabar? mas Sidar masih berjualan." Jawab Lusi, lalu bersalaman dan pelukan dengan Viona.
"Eeh ... Nona Rasya lagi." Sapa Wiwi dan Lusi ketika melihat Rasya berdiri lalu menghampiri.
"Iya, Bibi. Bosen ya melihat ku di sini lagi Ha ha ha ..." Rasya terkekeh setelah mencium tangan keduanya.
"Nggak, siapa yang bosan? gak ada, justru kami senang dapat bertemu, Nona Rasya." Balas Wiwi dengan wajah yang sumringah, gembira.
"Sama siapa? tuan Ubai lagi. Suaminya mana?" selidik Lusi.
"Em ... itu." Rasya kebingungan lalu melihat ke arah Ubai.
"Suami? Suami siapa nih?" Viona penasaran.
"Oh, pak RT nya kemana? pak scurity juga? kok gak kelihatan?" Ubai berusaha mengalihkan pembicaraan agar tidak menjurus ke Rasya.
"Oh, mas Adam masih bekerja." Jawab Wiwi sambil ngeloyor ke dapur.
"Sama, mas Sidar juga masih berjualan." Tambah Lusi.
Mereka duduk bersama dan berbincang penuh keharmonisan. Seperti keluarga yang sangat dekat, Viona pun tidak jauh-jauh dari Rasya. Keluar dan ke manapun bersama.
Fatir senyum-senyum. Melihat kedekatan Viona dan Rasya, yang langsung nempel kaya perangko.
Adam dan Sidar pun datang, dengan wajah yang sumringah penuh kegembiraan. Bertemu dengan sang kakak.
"Mas? aduh ... aku berasa di buang di tengah kota yang banyak orang nya. Tega-tega," ucap Adam sambil memeluk Masnya erat.
"Masih mending kau dibuang di tengah kota, dari pada di Padang pasir atau tengah hutan." Celetuk Sidar yang berada di dekat mereka, menunggu giliran.
"Iya sih, di Padang pasir aku kesulitan dapat makanan dan minuman. Sementara di hutan! banyak buah dan hewan-hewan lain untuk dimakan. Cuman ... paling aku berteman sama gorila, ha ha ha." Adam terkekeh ....
.
.
__ADS_1