Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 130 Pingsan


__ADS_3

Kini mobil Fatir dan mobil Samudra beriringan tidak jauh. dengan tujuan yang sama untuk mencari keberadaan Rasya.


...---...


Setibanya Rasya di rumah Pak Muhidin, yang masih tampak ramai dan Pak Muhidin pun baru selesai dikebumikan, di dalam rumah, istri dan anak-anaknya menangis meratapi kepergian sang suami atau sang ayah.


"Kenapa secepat ini kau meninggalkan kami? saya masih membutuhkan mu Pak! rintih bu Karsih sambil menangis di pojokan.


Dikelilingi oleh putrinya nya. Vera dan Murni, putranya yang bernama Sukma pun tampak duduk sedih tidak jauh dari sang bunda.


Di luar, mobil Ubai barulah tiba di tempat tersebut. Rasya langsung menyeruak masuk ke dalam rumah itu, menghampiri ibu dan saudara-saudaranya.


"Ibu, Kak Vera. Kak Murni. Bapa? bapak, Bu?" suara Rasya bergetar menahan tangis, dia langsung memeluk bu Karsih. Keduanya saling berpelukan.


"Kau ini, dari mana aja sih Rasya?kenapa sih baru ingat kami hah? kenapa baru pulang sekarang? di saat bapak mu sudah tiada, di mana rasa tanggung jawab mu sebagai anak ha?" cecar Bu Karsih dalam pelukan Rasya.


Rasya tidak menjawab, dia terus saja menangis tersedu di atas bahu bu Karsih.


"Kau itu sudah senang, kan? sudah bahagia, sudah kaya dan kau baru ingat pada kami setelah bapak nggak ada!" suara Murni sambil menarik dengan Rasya yang memeluk sang ibu.


"Iya, benar-benar itu, dia baru datang ketika bapak tidak ada, ke mana saja ketika masih ada? dia sudah senang, sudah kaya lupa sama kita!" timpal Vera.


"Bukan begitu, Kak bukannya aku lupa atau pun tak ingin pulang, aku ingat kalian, aku sayang kalian semua karena bagaimanapun kalian keluarga aku hik-hik-hik." jawab Rasya sambil mengusap pipi nya yang basah.


"Alah ... alasan, kalau saja bapak tidak meninggal! kau gak bakalan pulang." Lanjut Murni.


"Semalam, aku melihat berita di televisi tentang bapak, dan aku langsung meminta Tuan Ubai untuk mengantarku pulang ke sini. Seperti yang kalian bilang aku kan oon, aku nggak tahu alamat ku tinggal selama ini." Akunya Rasya.


"Kau tega Rasya, kau jahat. Ketika kau sudah senang kau lupa kepada kami tahukah kamu? kalau rumah ini satu-satunya peninggalan bapak akan disita oleh BANK dan kamu tega membiarkan kami dengan hidup terlunta-lunta di jalanan hah? apa kau tega?" ungkap Sukma sebagai putra laki-laki pak Muhidin dan Bu Karsih.


"Kau Rasya, keterlaluan. Vera dan Murni bilang kau sudah menjadi simpanan orang kaya tapi kamu lupa pada kami, jangankan pulang mengirim uang pun tidak." Bu Karsih sambil mengusap pipinya yang sudah tidak kencang lagi itu basah dengan air mata.


Rasya menggeleng. "Bukan begitu, Bu. Tidak seperti itu, kalian semau dah salah faham padaku!"


"Kau membiarkan Murni dan Vera pulang dari kota hanya berdua saja, seharusnya setidaknya kau menyuruh orang untuk mengantarkan mereka ke sini? ternyata kau tega sekali." Sambung Bu Karsih menatap tajam pada Rasya.


Sejenak, Rasya terdiam. Kalau soal itu dia tidak tau menahu.


"Aku tidak tahu soal itu, dan aku pun juga pengen pulang. Tetapi aku lupa nama lengkap alamatku, sekarang pun dengan tuan Ubai banyak bertanya! makanya bisa sampai ke sini." Ucap Rasya kembali.


Murni dan Vera menoleh kepada sosok Ubai yang berdiri di dekat pintu, bersama para tamu lainnya yang berada di sana.


"Wah ... Tuan ganteng," ucap keduanya barengan lalu keduanya pun berdiri mendekati Ubai, ingin mengajaknya untuk duduk di sofa.


"Mari, Tuan ganteng? jangan berdiri di situ?" ucap Murni dengan ramahnya.


Tangan Vera dan Murni memegang lengan Ubai, diajaknya masuk dan duduk di sebuah sofa. "Vera? ambilkan minum, buat Tuan ganteng ini. Dia pasti haus?" perintah Murni pada sang adik.


Vera buru-buru pergi ke dapur untuk mengambil air minum buat Ubai.


"Silakan, Tuan ganteng diminum dulu airnya. Anda pasti kehausan," ucap Vera sambil menyodorkan minumnya kepada Ubai.


"Terima kasih? Nona. Kebetulan aku haus, Ubai pun langsung mengambil dan berniat untuk meneguknya, namun niat itu ia urung lalu dia berdiri dan menghampiri Rasya. "Nona?minumlah kau pasti kehausan bukan!"


Murni dan Vera terbengong-bengong melihat Ubai lebih memilih menghampiri Rasya sehingga minumnya pun dikasihkan kepada gadis tersebut.


Kehadiran Rasya di tempat tersebut, justru mendapat cibiran, cemoohan. Dengan bermacam alasan yang bikin mengelus dada.


Saat ini Rasya sedang berada di tempat peraduan terakhir sang ayah. Air mata Rasya terus mengalir tak berhenti, manik matanya menatapi lekat ke arah batu nisan yang bernama Muhidin.


"Nona, sudah terlalu lama kau di sini! baiknya kau pulang?" suara Ubai yang berdiri tidak jauh dari Rasya yang duduk dekat pusara sang ayah.


Rasya melirik ke arah Ubai. "Tuan Ubai pulang saja ke kota, aku mau tinggal di sini dulu sampai 7 hari nya bapak." Lirihnya Rasya.


"Kau mau tinggal di sini sampai 7 hari ke depan?" tanya Ubai menatap ke arah Rasya.


Rasya mengangguk. "Tolong bilang pada tuan muda, ijinkan aku di sini dulu!" tanpa menoleh dan tatapannya pun kosong.

__ADS_1


Ubai menghela napas panjang, menatap ke arah Rasya lalu beralih ke arah lain. "Tuan muda, sedang perjalanan ke sini, Nona. Sebelum aku bilang pun, Sam sudah berangkat untuk menyusul mu ke sini!"


"Buat apa dia ke sini? bukan kah seharusnya dia bersenang-senang dengan tunangannya?" Rasya menatap batu nisan sang ayah.


"Baru tunangan, Nona. Belum menikah. Wajar kalau dia menyusul mu, toh kau ini istrinya!" Ubai berjongkok di dekat Rasya.


"Aku mau minta cerai, bukankah uang satu milyar itu sudah menjadi hak ku? sebab sudah di ikrarkan sebagai maskawin! jadi bukan hutang lagi bukan?" tutur Rasya pelan.


"Iya, Nona. Bukan hutang lagi, baguslah kalau seperti itu! kita melangkah bersama mencari bahagia." Ubai tersenyum dalam hati. Namun di balik itu, Ubai pesimis kalau Samudra akan melepaskan Rasya! kemungkinannya sangat tipis.


Langit yang mendung. Awan kelabu menahan beban air yang sudah ingin mencurah ke bumi.


"Nona, sudah mulai gerimis. Sebaiknya kita pulang?" Ubai menarik tangan Rasya agar berdiri, air hujan pun mulai turun membasahi bumi.


Walau dengan berat hati, Rasya berdiri dan detik kemudian hujan pun mulai deras. Ubai mengayunkan langkahnya menuntun tangan Rasya ingin mengajaknya pulang.


Langkah keduanya terhenti ketika melihat Samudra berdiri tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Tatapan Samudra mengarah ke ke tangan Ubai yang menuntun tangan Rasya dengan tatapan tajam.


Sadar dengan tatapan Samudra yang tajam mengarah ke tangannya. Ubai segera melepas genggamannya. "Bos, sudah sampai?"


"Tu-Tuan?" gumamnya Rasya.


Di bawah guyuran air hujan yang deras. Sejenak mereka memilih terdiam dengan pikirannya masing-masing.


"Ini yang kalian lakukan ketika jauh dari ku?" jelas Samudra sambil mengusap wajahnya dari guyuran air hujan.


"Anda jangan salah faham, Nona sedang berduka!" bela Ubai pada Samudra.


Rasya melihat pada Ubai dan Samudra bergantian. "Aku mau pulang!"


"Seharusnya kau punya batasan, Bai, jangan mentang-mentang saya percayakan dia padamu! tapi di belakang kau menikam ku, mendekati dia dengan cara mu. Sebaiknya kau jangan kurang ajar, Bai." Tambahnya Samudra.


Ubai Ubai tersenyum mendengar ucapan Samudra demikian. "Terserah kau mau bilang apa, Bos? yang jelas! bukankah kau tidak perduli padanya dan kau lebih perduli pada kekasih mu."


"Tutup mulut mu, kau tahu apa tenang perasaan ku?" timpal Samudra.


Samudra dan Ubai terdiam melihat ke arah Rasya yang basah kuyup dengan air hujan.


Kemudian Samudra mendekat dan meraih tangan Rasya. "Ayo pulang dengan ku?"


Rasya mendongak pada pria yang tinggi tersebut. "Tuan, aku ingin tinggal di sini sampai selesai tujuh hari nya bapak."


Samudra terdiam menatap lekat ke arah gadis itu. Tangannya masih dengan erat memegang pergelangan Rasya.


Tiba-tiba Rasya merasa pusing dan ambruk bila saja Samudra tidak dengan gesit menangkap pinggang Rasya yang hampir jatuh ke tanah.


Ubai pun dengan cepat membantu Samudra mengangkat Rasya, namun tangan Samudra dengan cepat menepisnya. "Saya bisa sendiri?"


Sehingga Ubai mundur dari Samudra yang menggendong Rasya, dibawanya ke dalam mobilnya.


Di bawah air hujan yang begitu deras, Ubai mematung menatapi punggung Samudra yang membawa Rasya ke dalam mobilnya sendiri itu.


Dia pikir Samudra tidak akan membutuhkan tenaganya lagi, namun detik kemudian Samudra menoleh dan memanggil Ubai.


"Bai? ngapain kamu berdiri di situ?buruan setir kan mobilku? gak lihat apa aku kerepotan?" teriak Samudra seraya masuk ke dalam mobilnya mendampingi Rasya yang pingsan itu.


Mendengar panggilan dari Samudra, Ubai langsung berlari menghampiri Samudra dan mengambil kunci mobil dari Samudra.


Grung ....


Grung ....


Grung ....


Mobil Samudra, Ubai nyalakan dan langsung dia melajukan mobilnya dengan cepat. Membawa Samudra dan Rasya meninggalkan tempat tersebut.


"Ke Vila biasa tempat kita menginap?" pinta Samudra dari belakang.

__ADS_1


Samudra menepuk-nepuk pipi Rasya dan mengusapnya lembut. Mengeringkan dengan dua telapak tangannya. "Sya? bangun Sya? bangun!"


Namun Rasya tetap tidak sadarkan diri, Samudra memeluk kepala Rasya di dadanya menghangatkan tubuh yang begitu kedinginan, di tambah dengan pakaian yang semuanya basah kuyup.


"Tidak ke rumahnya saja, Bos?" tanya Ubai dari belakang setir.


"Apa kau melihat rumahnya itu besar? luas? aku tidak melihatnya! jadi kami mau tidur dimana? kalau kami pulang ke sana, nanti saja kalau Rasya sudah sadar, baru kembali ke sana," sambungnya Samudra.


Ubai hanya mengangguk setuju sambil menjalankan tugasnya membawa mereka ke suatu tempat, yaitu villa tempat biasa mereka menginap kalau sedang ada urusan kerja di daerah sana.


Tidak lama kemudian, mobil pun memasuki halaman villa dan Samudra buru-buru membuka pintu, lantas turun menggendong kembali tubuh Rasya dibawanya ke dalam villa tersebut.


Samudra langsung membawa Rasya ke dalam kamar yang biasa dia pakai, sementara Ubai langsung menyiapkan air yang hangat untuk mereka minum.


Cklek. Pintu Samudra kunci, dia bingung gimana caranya berganti pakaian? orang tidak ada baju ganti sama sekali. Namun bukan Samudra bila hilang akal, dia membaringkan tubuh Rasya di atas tempat tidur yang luas. Setelah itu dia turun membuka lemari! kali saja ada pakaian ganti di sana atau handuk mandi yang berbentuk baju.


Dan kebetulan sekali di sana ada kimono dan handuk bekasnya waktu itu masih tergantung di dalam lemari. Bibir Samudra tersenyum, langsung membawanya ke atas tempat tidur dan dia merangkak naik mendekati Rasya.


Dengan tidak ragu-ragu, Samudra membuka semua pakaian Rasya, sekali-kali matanya tertutup untuk menghindari dari pandangan yang indah dan akan menggugah hasratnya mencuat.


Sesudah semua terlepas, Samudra menggantikannya dengan kimono yang tadi dia bawa. Yang penting Rasya tidak memakai pakaian basah lagi dan tidak kedinginan lagi.


Kemudian Samudra selimuti kembali tubuhnya Rasya dengan selimut. Jelas jantung Samudra berdegup sangat kencang, dadanya terus berdebar-debar. Nafasnya pun menjadi memburu tak beraturan, disebabkan sebuah pemandangan yang begitu indah nan menggoda, walaupun sekilas-sekilas dia melihatnya, tetap saja tak mengelakan jiwa lelakinya yang normal itu pun meronta.


"Ah sial, ini bukan waktunya untukmu bersenang-senang," gumamnya sambil membuka pakaian di tubuhnya yang basah kuyup dan menyisakan celana pendek saja, setelah itu! dia membawa semua pakaian basah ke kamar mandi, dia cuci dan menggantungnya biar cepat kering.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Bos ini minuman hangatnya," suara Ubai dari balik pintu.


Samudra yang baru kembali dari kamar mandi, langsung membuka pintu yang dia kunci.


"Apa, Nona sudah siuman?" tanya Ubai yang membawa dua gelas air minum yang hangat untuk Samudra dan Rasya.


Ubai pun tidak lupa membawa minyak angin untuk Rasya, matanya menatap intens ke arah Samudra yang bertelanjang dada dan hanya menggunakan handuk saja.


"Belum. Tapi pakaiannya sudah aku gantikan, biar gak kedinginan," lalu Samudra memutar tubuhnya sembari mendekati tempat tidur, dan Ubai mengikuti dari belakang.


"Ya sudah, minum dulu minuman hangatnya, lumayan untuk menghangatkan badan." Ubai menyerahkan minuman hangat pada Samudra, Samudra pun langsung menerima dan menyesap perlahan.


"Ini minyak angin, oleskan di pelipis dan telapak kaki Nona: apa aku yang akan mengerjakannya?" Ubai menatap ke arah Samudra yang sedang menyesap. minumannya.


"Biar aku saja yang mengerjakan, kamu keluar saja dan panggil dokter kemari, oh iya, kalau ada yang menanyakan Rasya? bilang saja Rasya sedang kurang sehat, paling besok dia ke tempat orang tuanya." Pesan Samudra pada Ubai.


"Om Fatir dan tante Viona sangat mengkhawatirkan Rasya." Ungkap Ubai.


"Bilang saja seperti itu. Lagi kurang enak badan dan dia bersamaku, jangan sampai mereka menyusul ke sini! biarkan dia istirahat. Besok saja kita balik ke sana," jelas Samudra.


"Oke, kalau seperti itu! oh iya, apa mau pesan pakaian?" tanya Ubai sebelum dia melangkahkan kedua kakinya keluar dari kamar tersebut.


Sejenak Samudra terdiam lalu menoleh ke arah Rasya lanjut kembali ke arah Ubai seraya bertanya. "Apa Rasya tidak membawa pakaian ganti?"


"Mana ada, Bos, mau bawa pakaian? yang ada cuma bawa ponsel doang, nggak bawa tas. Nggak bawa uang juga." Jawabnya Ubai sembari menggeleng.


"Ya ... sudah beli saja, sekalian dengan pakaianku juga." Samudra mengangguk.


Kemudian Ubai keluar dari kamar tersebut, dengan niat memanggil dokter untuk memeriksa Rasya, lalu mau memesan pakaian buat keperluan mereka bertiga.


Samudra menyimpan gelasnya di atas meja, lantas dia mengambil minyak angin di bawanya ke dekat Rasya, lanjut mengoleskan itu ke bagian pelipis, bagian hidung dan telapak kaki Rasya, Samudra usap-usap dengan lembut.


Wajah Samudra mendekat ke arah wajah Rasya yang masih belum sadarkan diri. "Sya, bangun? saya cemas buka matamu," cuph! Samudra mendaratkan kecupan di kening Rasya dengan sangat lembut dan mesra ....


.

__ADS_1


.


__ADS_2