
"Bunda, aku pergi dulu ya?" pamit Rasya pada sang bunda.
"Iya, hati-hati ya? Nak Azam. Titip putri Tante ya?" Viona melirik ke arah kedua putrinya dan Azam bergantian.
Saat ini, Rasya dan Citra sudah berada di mobil Azam. Untuk jalan-jalan dan makan-makan sembari melihat suasana di luar katanya Azam.
Rasya dan Citra tampak senang jalan bersama Azam. Azam begitu bahagia melihat senyuman Rasya yang terus mengembang sempurna.
"Sekarang kita makan dulu yu?" ajak Azam pada Rasya dan Citra.
"Iya nih. Perut sudah keroncongan nih Mbak." Citra melirik ke arah sang kakak yang tampak fokus melihat ke sekitaran.
"Hem ... boleh. Aku ngikut saja," Rasya mengangguk dan melihat ke arah Citra yang sedang menunggu persetujuan nya.
"Oke, kita cari makan yang enak ya!" ucap Azam sambil berjalan di ikuti oleh Rasya dan Citra.
Kemudian mereka memasuki sebuah restoran, lantas memesan makanan yang jadi kesukaan masing-masing.
"Masakan apa yang sekiranya kamu tidak suka?" tanya Azam pada Rasya.
"Em ... Apapun aku suka, kecuali rebus batu dan tumis sandal he he he ..." jawabnya Rasya ngawur.
Azam ikut tersenyum ke arah Rasya. "Yang serius dong ... aku kan nanyanya yang serius, jangan bercanda! kali aja satu waktu nanti aku pesan makanan yang mungkin kamu nggak suka," lanjutnya Azam.
"Serius, semuanya pun aku suka kok," jawabnya Rasya.
"Oke kalau begitu, jadi aku nggak was-was nantinya." Azam menunjukan senyumnya merekah pada gadis itu.
Azam tahu kalau Rasya ini adalah seorang istri dari Samudra, namun dia tidak peduli. Karena yang dia dengar Rasya akan ceraikan Samudra, jadikan dia sangat percaya diri dalam mendekati Rasya.
Tidak lama pesanan pun datang, dan mereka langsung menyantap makanannya dengan sangat lahap dibarengi dengan obrolan ringan yang dihiasi canda tawa diantara mereka.
Tidak lama di tempat tersebut, selesai makan pun mereka langsung cabut dan kembali ke mobil azam. Lanjutkan jalan-jalan dengan mobilnya tersebut dan Azam memperkenalkan tempat-tempat yang tampak ramai tersebut.
"Kalau saja jalannya kita siang, pasti lebih indah ya Kak Azam." kata Citra sambil celingukan melihat muda-mudi yang tampak ramai di sana.
Ada yang sedang nongkrong, yang makan-makan. Menikmati musik. Ada yang pacaran saja. Membuat Rasya sedikit melamun teringat pada Samudra, di saat ini pria itu pasti sedang menyiapkan pernikahannya di hari esok.
Kemudian, Rasya tidak ingin terlalu mengingatnya sehingga dia segera mengalihkan pandangan kelainan arah dan melihat beberapa badut yang sedang menari-nari, menjadinya tersenyum lucu.
"Ngomong-ngomong jam berapa nih? aku ngantuk! pengen tidur, pulang yuk? ajak Rasya sembari melirik kepada Azam yang sedang mengulas senyumnya menikmati malam yang indah.
"Baiklah, Nona cantik ... apapun akan saya penuhi asal Nona cantik ini bahagia," sahutnya Azam sambil menghidupkan kembali mesin mobilnya.
Sebenarnya masih sore, dan Azam masih betah untuk berkeliling-keliling begitupun dengan Citra.
Tetapi karena Rasya yang minta pulang! Azam tidak bisa menolak dan akhirnya mengiyakan, Azam akan mengantar pulang sampai tujuan.
"Padahal aku masih betah lho ... Mbak!" keluhnya Citra.
"He ... anak kecil, besok kau mau sekolah, nggak boleh tidur malam-malam. Nanti kesiangan," timpalnya Rasya.
Citra hannya mencibirkan bibirnya, memajukan sampai berapa senti ke depan.
"Kak Azam? lain kali ajak lagi ke sini ya? tapi lain kali jangan malam! sore gitu ya?" Citra meminta pada Azam yang langsung mengangguk.
"Oke, Citra nanti Kak Azam ajak lagi jalan, lain waktu hari Minggu kali ya? biar putar-putarnya biar puas, iya nggak? ya nggak?" tawar Azam sambil tersenyum.
"Wuuuh ... itu sih oke banget dan aku akan senang ... sekali." Citra menyambut tawaran dari Azam.
__ADS_1
Selang berapa puluh menit kemudian, mobil Azam pun tiba di halaman rumah Viona, di teras sudah berdiri Viona. Fatir dan Bu Asri menyambut kedatangan Rasya dan Citra, bagaimanapun mereka masih khawatir! karena ini pertama kalinya mereka jalan-jalan bersama orang lain.
Rasya dan Citra bergegas turun dari mobilnya Azam, menghampiri keluarganya yang berada di teras menunggu kedatangan mereka berdua.
"Assalamu'alaikum ... kami pulang!" Rasya dan Citra mengucap salam berbarengan.
"Wa'alaikumus salam ..." jawab yang berada di sana berbarengan pula.
"Kebetulan kalian cepat pulang?" sambut Viona pada kedua putrinya tersebut.
Kemudian Azam pun berpamitan pulang dan hanya mengantarkan Rasya dan Citra ke teras saja.
"Baiklah Azam hati-hati ya? dan terima kasih sudah mengajak Citra dan Rasya jalan-jalan?" ucapan terima kasih dari Fatir pada Azam.
"Iya, Azam makasih ya? sudah mengantarnya lagi deh dengan selamat," tambah Viona seraya tersenyum manis yang di arahkan pada.
"Makasih, Om. Tante aku mau pulang dulu ya ... Assalamu'alaikum?"
"Wa'alaikumus salam ... hati-hati ya Zam?" ucapnya Viona dan yang lain pun melambaikan tangannya.
Saat ini Azam sudah memasuki kembali mobilnya pribadinya tersebut, dan mulai melajukan nya dengan kecepatan sedang meninggalkan kediaman Rasya tersebut. Sebelumnya Azam melambaikan tangan pada keluarga tersebut.
"Yu masuk? sudah malam! sebaiknya kalian segera beristirahat, apalagi Rasya dan kamu sayang. Karena besok mau berangkat," Fatir mengajak semuanya untuk masuk ke dalam rumah nya.
"Citra, kau baik-baik di rumah ya? sama oma, besok ayah sama Bunda juga Mbak Vivian mau keluar kota. Mungkin dalam beberapa hari ini," ucap Fatir sembari berjalan memasuki rumahnya tersebut.
"Ikut dong ... yah, Citra boleh ikut ya? sama kalian?" Citra menatapi kedua orang tua nya itu.
"Kamu itu sekolah Citra ... lagian kan ke sana juga karena ada urusan! bukan untuk main-main saja, lain kali kita berwisata oke? ucap Viona sembari mengelus lembut pucuk kepala Citra.
"Beneran ya Bunda ... lain kali aku diajak berwisata?" pintanya Citra pada sang bunda.
"Iya benar, Bunda janji akan mengajak Citra, nanti jalan-jalan kalau ada waktu, iya kan Mas?" Viona menarik pada sang suami
Mereka pun terpisah di ruang tengah tersebut, Rasya pergi ke dalam kamarnya. Citra dan Bu Asri pun bergegas menaiki anak tangga ... begitupun Viona dan Fatir, tidak luput untuk memasuki kamar pribadi mereka berdua.
Kini Rasya sudah berada di tempat perpaduannya, membaringkan dirinya dan menarik selimut untuk menutup sampai kepala. Namum Rasya kembali terbangun karena mengingat sesuatu, sehingga mengibaskan selimut tersebut.
"Aku kan belum salat isya? hampir saja lupa Rasya-Rasya." menggelengkan kepalanya kasar, Rasya membawa langkah kakinya menuju kamar mandi.
Berapa saat kemudian, Rasya kenali dari kamar mandi tersebut. Kemudian Rasya menjalankan isya, tidak lupa berdoa! supaya Allah memberikan yang terbaik untuknya apapun itu.
Jika perpisahan dengan Samudra adalah cara yang terbaik? maka pisahkan lah. Tapi jika harus meneruskan hubungan ini, Rasya akan ikhlas tapi bila tidak di madu.
Selepas itu, berulah Rasya membaringkan kembali tubuhnya di atas tempat tidur yang ukuran yang size tersebut. Dan mencoba segera memejamkan kedua matanya untuk merehatkan segala anggota tubuhnya dan siap menyambut kenyataan esok hari.
Yang akan dilakukan besok adalah, mengawalinya dengan ke tempat dokter dimana Rasya tes dan, untuk mengambil hasil tes nya. Mengecek kebenarannya! walaupun Fatir dan Viona yakin kalau Rasya adalah putrinya yang hilang, namun tetap hasil itu harus tampak kebenarannya.
Selanjutnya mereka akan langsung ke Jakarta untuk menghadiri resepsi pernikahan samudra dan Karin.
...---...
"Dari mana kamu Karin?" tanya sang Bunda yang menatapnya dengan tajam.
"Kenapa? ku habis kerja lah Mah," jawabnya Karin dengan tampak lelah dan ketus.
"Bertemu Samudra juga?" selidik sang ayah pada putrinya tersebut.
"Ketemu, emangnya kenapa Pah? dia calon suami ku bukan? kan kalian semua juga yang ingin kami segera menikah untuk menghindari hal-hal yang tidak kalian inginkan bukan? " ungkap Karin sambil mendudukkan dirinya di sofa yang berada di sebrang papa dan mamanya tersebut.
__ADS_1
"Batalkan perkawinanmu itu! buat apa dilanjutkan juga? yang ada kau akan merasa sakit hati--"
"Samudra sudah meminta maaf padaku, Pah. Dan dia bilang dia khilaf dan tidak akan mengulanginya lagi, lagian Wanita itu sudah tidak bersama Samudra lagi," belanya Karin.
"Kata siapa wanita itu tidak tinggal bersama Samudra lagi?" tanya ibunya Karin. "Walaupun mereka tidak bersama lagi ... mereka sudah menikah." Sang bunda berkata dengan jelas.
Sontak Karin menoleh kepada sang ibunda. Dia kaget, sekaget-kagetnya. Seumpama mendengar suara petir di siang hari yang cuacanya terik tanpa mendung ataupun hujan.
"Apa Mah? Sam sudah menikah dengan wanita itu?" teriak Karin, merasa sangat tidak percaya mendengar itu semua. Menik matanya menatap tajam ke arah kedua orang tuanya seolah meminta jawaban yang meyakinkan.
"Itu benar Karin, tadi Papa dan Mama dari rumah Samudra, kami mengobrol dengan orang tuanya dan juga Ubai dan Ubai lah yang mengatakan semuanya kepada kami. Kalau Samudra dan Rasya sudah menikah beberapa bulan yang lalu," ujarnya sang ayah dengan jelas.
"Tidak Papa, itu tidak mungkin! itu tidak mungkin Pah? Samudra tidak mungkin mengkhianati ku! bahkan sejauh itu," Karin terus menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan semua omongan papa dan mamanya.
"Itu benar Karin, Samudra sudah menikah dengan wanita itu dan yang jadi ... yang kadi saksinya pun adalah keluarga dari pihak Fatir." Tambahnya sang Bunda dengan nada tinggi. Dia merasa kesal pada putrinya yang sulit dikasih tahu.
"Samudra tidak mungkin tega berbuat sejauh itu! kami berhubungan bukan satu dua tahun Mah, lebih dari itu dan Samudra tipe laki-laki yang setia tidak seperti laki-laki pada umumnya." Karin terus mengelak, dia nggak percaya sama sekali dengan omongan kedua orang tuanya itu.
Karin begitu percaya dengan kesetiaan Samudra selama ini padanya.
"Karin sayang ... bukalah matamu lebar-lebar, Nak ... bagaimanapun dia laki-laki normal, bagaimana jadinya dia tinggal bersama wanita yang satu apartemen cuma berdua? apa kau tidak mencurigai itu?" sambungnya sang Bunda.
"Tidak, Mah. Aku tidak percaya, tidak mungkin Samudra melakukan itu. Tidak mungkin dia menikah dengan wanita lain, kalau saja memang Samudra menikah dengan wanita itu? kenapa di terus mendesak untuk menikahi ku segera Pah, Mah. Pikir dong pakai logika?" suara Karin menggebu-gebu.
Dadanya terasa sesak, berkali-kali dia menelan saliva nya yang terasa tercekat di tenggorokan. Dibuang sulit, di telan juga terasa sempit.
Sang Bunda mengeluarkan gawainya dari tas, kemudian setelah dia menyalakan lantas memberikannya kepada Karin. "Ini lihat baik-baik ya? sebagai buktinya! dan buka matamu lebar-lebar! dengarkan kata mama dan papa."
Karin menggerakkan kedua manik matannya melihat ke arah gawai yang sang Bunda berikan padanya. Dan Karin pun mengambil juga melihat beberapa gambar dan video yang ada di gawai gawai tersebut, Karin bolak-balik scroll gambar tersebut dan hasil penglihatannya pun tetap sama.
Di mana foto itu menggambarkan Samudra sedang menjabat tangan seorang penghulu dan di sampingnya seorang wanita yang memang adalah Rasya, masih kurang percaya dengan foto-foto tersebut! lanjut Karin memutar videonya Samudra yang sedang mengucapkan ijab kabul dengan sangat lantang.
Dan nama si wanita yang Samudra sebut itu, dengan jelas adalah Rasya. Karin benar-benar shock sehingga gawai milik sang bunda pun terjatuh begitu saja dari tangannya.
"Itu tidak benar! itu tidak mungkin, Samudra setega itu padaku. Tidak mungkin! hik-hik-hik." Karin menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan lalu tangisnya pun pecah.
Ibunya Karin langsung memeluk putrinya tersebut ke dalam rangkulannya, dan sang suami mengambil gawai yang tergeletak di lantai.
"Sekarang kamu percaya kan kalau Samudra itu mengkhianati mu? kalau Samudra itu sudah menikahi wanita tersebut? jadi wajar kalau Samudra berani melakukan hal tersebut di depan orang banyak itu," ungkap sang Bunda meyakinkan.
Sang bunda terus memeluk Karin dan mengusap punggungnya dengan lembut, hatinya tidak tega melihat putrinya seperti ini. Bagaimanapun dia seorang ibu yang merasakan apa yang dirasakan oleh putrinya tersebut saat ini.
"Ke-kenapa dia tega kepada ku? Mah ... pa-padahal aku tahu dia sangat mencintaiku dan aku juga sangat mencintainya, Mah kenapa? ka-kalau sudah menikah? kenapa begitu ngebet untuk menikahi ku kenapa?" hik-hik-hik, Karin menangis sejadi-jadinya dan auranya pun terbata-bata.
Dia kecewa dan terluka dengan yang dilakukan oleh Samudra terhadapnya. Samudra begitu tega telah mengkhianati Karin yang bener mencintainya.
"Makanya ... Papa harap! sudah batalkan saja pernikahan mu itu, biarpun waktu tinggal satu hari lagi. Masa bodoh, mendingan malu sekarang gagal menikah! daripada nanti pernikahan mu gagal. Sekarang Papa dan Mama mendukung kamu untuk melanjutkan kuliah di luar Negeri dan kejar kariermu itu," ujar kembali sang ayah.
Kedua matanya menatap ke arah Karin yang berada dalam pelukan sang Bunda. Kedua bahunya yang bergetar karena menangis sejadi-jadinya benar-benar terluka, kecewa karena merasa dikhianati oleh sang kekasih.
Sang Bunda terus berusaha untuk menenangkan putrinya tersebut dan diajak ke kamar untuk beristirahat, tak ayal wajah sang Bunda pun basah dengan air mata, ia pun sebelumnya tidak percaya kalau Samudra itu bisa mengkhianati putrinya! padahal mereka sudah percaya dan akan menitipkan putrinya kepada seorang pemuda yang bernama Samudra.
"Sudah, kau jangan ditangisi lagi karena itu hanya buang-buang air mata saja. Masih banyak pria yang lebih baik dari Samudra. Kau itu cantik! sempurna, kamu akan dengan mudahnya mendapatkan pria yang manapun yang kamu mau. sekarang istirahatlah soal pernikahan akan kami batalkan," sang ibunda Karin setelah mendudukkan Karin di tepi tempat tidur.
Karin yang terus menangis, hanya bisa mengangguk pasrah. Apapun yang akan dibuat oleh kedua orang tuanya, bila harus batal?ya batal, buat apa juga diteruskan?
"Dan kami akan mengurus semuanya, tentang keberangkatan mu ke luar Negeri. Untuk melanjutkan kuliahmu dan berkarier di sana. Itu mimpi mu bukan? dengan gagalnya menikah ... itu lebih baik daripada setelah menikah akan berpisah juga." lanjut sang Ibunda.
Karin hanya mengangguk setuju karena kuliah di luar Negeri dan berkarier di sana adalah impiannya, sebab sekalipun dia sudah menikah dengan Samudra dia akan tetap pergi ke luar Negeri untuk kuliah ....
__ADS_1
.
.