Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 59 Mendukung


__ADS_3

"Masih untung ini mulut gak nyeleneh. Bisa gawat kalau sampai bilang habis di grebeg warga, di nikahkan dengan gadis itu. Bisa mati gue kalau ketauan." Batinnya Samudra sambil menutup pintu mobil.


Kemudian Samudra kembali mengitari mobilnya untuk mencapai tempatnya, yaitu di belakang kemudi, menyalakan mesin si Jaguar.


"Kemana kita?" tanya Samudra setelah duduk sambil memegang setir tersebut.


"Ke Mall, kan sudah ku bilang mau ke mall sayang ..." lalu Karin mengeluarkan kaca kecil, bercermin merapikan wajahnya yang cantik itu.


Menempelkan lipstik, menambahkan bedak, di aplikasikan ke seluruh wajahnya yang cantik dan kuning langsat tersebut.


"Oh, ya lupa!" Samudra sedikit menghadap dan memandangi ke arah Karin, siapa pun prianya pasti bangga punya kekasih secantik Karin dan bukan sekedar cantik saja. Tetapi juga pinter penampilan selalu smart dan tubuhnya yang body gold mendukung penampilannya itu. Di tambah lagi dia sedang menekuni bidang desain dan model juga.


"Hei ... apa yang lupa? dan kenapa senyum-senyum begitu? apa yang lucu sih? atau ada yang salah?" netra mata Karin bergerak melihat seluruh penampilannya kali saja ada yang salah.


"Bukan ada yang lucu beb ... tapi aku senang saja melihat kekasih ku yang cantik ini. Pintar juga, aku bangga." Akunya Samudra sambil bersiap memutar kemudinya.


"Em ... rayuan mu bikin hatiku berbunga-bunga. Bikin meleleh ..." Tangan Karin merangkul pundak Samudra lalu memberikan kecupan mesra pada pipi Samudra dengan mesra, lalu sejenak menatapnya dengan sangat lekat.


Karin memberikan kecupan. Bukan cuma di pipi saja. Tetapi juga kening dan berakhir di bibir, wanita itu memang sudah terbiasa memberikan kecupan di sana dan tak ada rasa canggung atau kikuk lagi untuk melakukannya.


Samudra hanya menikmati saja perlakuan manis dari sang kekasih, yang selalu memanjakan dirinya dalam hal itu mencumbu.


Beberapa kali kecupan Karin mendarat di bibir Samudra yang hanya diam dan terpejam itu. Bibir Karin tertarik ke samping melihat reaksi calon tunangannya itu.


"Oh ... sayang. Kok kamu yang malah terpejam sih?" suara Karin membuat Samudra segera membuka matanya.


Bibir Samudra tersenyum lebar. "Emang harus gimana sayang ku? cintaku?" tanya Samudra heran dan gemas.


"Di balas dong sayang ..." sahut Karin, lantas gantian sekarang dia yang memejamkan kedua matanya, menunggu Samudra membalas kecupan nya yang tadi.


Samudra menaikan alisnya. Menatap sang kekasih yang menunggu sentuhan mesra darinya. Namun Samudra hanya menempelkan telunjuknya di bibir Karin yang sudah menganga dan siap untuk di kecup sang kekasih.

__ADS_1


Karin membuka matanya. lantas melotot, marah dengan yang Samudra lakukan barusan. "Apaan sih? kamu curang. Bukan begitu ... ayo dong?" pinta Karin merajuk.


"Ck, apa-apaan kamu ah? kapan mau jalannya dong?" Samudra berdecak kesal sembari mematikan mesin yang sudah menyala.


"Iya ini dulu, gampang! nanti jalannya?" Karin menunjuk ke arah bibirnya yang merah merona.


"Hem ..." pada akhirnya. Samudra mendekatkan wajahnya seraya menyamping, untuk bisa menjangkau benda kenyal Karin yang sudah siap di kecup tersebut.


Beberapa saat. Kedua benda itu saling bertaut satu sama lain, mereguk manisnya benda tersebut. Merubah yang sejuk menjadi menghangat. Sesaat kemudian, Samudra menyudahi yang dia lakukan terhadap Karin, lanjut mengusap bibirnya yang lembab, basah.


Keduanya saling melempar senyuman, yang penuh dengan rona bahagia tergambar dari wajahnya tersebut.


Tiba-tiba jendela ada yang mengetuk dan terlihat seseorang sedang membungkuk. Mengintip.


"Woi ... jangan berbuat mesum di sini! ini tempat umum. Bukan tempat pribadi." Hardik pria tersebut sambil terus mengetuk kaca jendela mobil sebelah Samudra.


Samudra kaget dan menurunkan kaca jendelanya sedikit, kemudian bertanya. "Ada apa ya, Pak?"


"Siapa yang berbuat mesum, Pak scurity. Kami ha-hanya memarkirkan mobil ini saja, sebentar kami pulang pergi kok!" elak Samudra.


Sementara Karin hanya melihat pria tersebut. Tidak satu arah kata pun yang dia ucapkan.


"Kalau cuma memarkirkan, kenapa lama banget? dari tadi saya perhatikan kalian bermesraan. Masih mending kalau suami istri? eh si Non ini kan mahasiswi di sini." Menunjuk pada Karin.


"Em, kita tidak melakukan apapun kok, Pak ... beneran lho." Karin pada akhirnya bicara juga untuk membela diri, jelas scurity tersebut mengenal Karin, orang scurity di sana kok.


"Malah tidak mau mengakui lagi? jelas-jelas kedua mata saya melihat kalau sedang menggoyang kan mobil sang sedang begini-begini." Pria itu menyatukan kedua tangannya.


"Sebentar! emang dengan cara apa kami menggoyangkan mobil ini Pak? berat lho, mobil ini tidak bisa saya gerakkan." Samudra malah mengolok-olok orang tersebut.


"Dan tangan di gitukan itu maksudnya apa ya Pak? saya gak ngerti! ha ha ha ..." tambah Karin sambil tertawa lepas.

__ADS_1


"Em, itu. Kalian sedang itu, melakukan itu." Kata orang tersebut gak berani mengatakan dengan fulgar.


"Saya tidak mengerti Pak, maksud anda, masa tangan di gitukan mobil bisa bergoyang? yang jelas saja?" timpa Samudra kembali.


"Kalian ja-jangan kurang ajar ya sama saya? gak sopan ya sama orang tua!" Bentak pak scurity.


Kemudian Karin bicara pelan pada Samudra. "Beb, kabur beb ... cepat."


Dan Samudra kembali menyalakan mesin mobil, memutar kemudi untuk mundur lantas meluncur dengan sangat cepat. Kabur dari tempat tersebut meninggalkan security yang masih ngomel-ngomel sendiri.


"Ha ha ha ..." keduanya tertawa puas. Setelah jauh dari tempat tadi, Samudra menghentikan sesaat mobil, untuk mengenakan sabuk pengamanya masing-masing.


Setelah itu, barulah melanjutkan perjalanan yang tertunda.


"Kamu sih, Beb ... jadinya kena intaian scurity." Gerutu Samudra sambil terus mengemudikan mobilnya.


"Nggak usah menggerutu, kamu juga suka kok," ucap Karin sambil menyandarkan pundaknya ke belakang jok.


"Kalau kamu gak mulai juga gak bakalan!" lanjut Samudra menoleh sekilas.


"Alah ... mau ya mau aja, jangan sok jaim begitu ah sayang." Tambah Karin kembali sambil mesem-mesem sendiri.


"Mau belanja apa sih?" tanya Samudra sambil nyetir dan memfokuskan pandanganya ke depan, mengalihkan pembicaraan.


"Ada deh ... mau tau aja. Sesuatu untuk menunjang karierku, yang penting kau selalu mendukung ku." Kata Karin sambil menepuk kan kedua tangannya.


"Kalau soal itu sih, tentu. Aku akan selalu mendukung mu, tapi kita akan segera menikah. Jadi aku ingin kau prioritas kan suaminya, soal uang gak usah di pikirkan, ada aku!" ungkap Samudra sambil tetap menyetir.


Karin menoleh, menatap datar pada Samudra yang fokus menyetir.


"Sayang, ini bukan soal duitnya, tapi soal karier ku, kepuasan. kebahagiaan hati, aku gak mau di kekang, pokoknya kamu harus dukung aku! titik."

__ADS_1


Karin mengerucutkan bibirnya ke depan, mulai tersinggung dengan kata-kata menikah ....


__ADS_2