
Samudra menempelkan dagunya di pucuk kepala Rasya serta tangannya merangkul bahu gadis itu, perasaan yang campur aduk rasanya ingin memeluk lebih dari itu menenangkan, dan memberi kenyamanan pada gadis yang selalu dia peluk ketika malam tiba.
Sementara Ubai hanya melongo melihat mereka berdua dan ada haru ketika melihat Rasya menangis.
Wajah Rasya banjar dengan air mata dan dia mendengus, tak kira-kira mengusapkan ingusnya pada kemejanya Samudra yang putih tersebut.
Samudra tampak kesal, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya berkata lirih. "Kau ini mengotori baju ku!"
"Maaf, Tuan. Nggak sengaja," suara Rasya yang bergetar, sembari mendongak melihat wajah Samudra yang tampak kesal.
Lalu kemudian Rasya menegakkan posisi duduknya, Samudra langsung memberikan tisu kepada gadis itu bahkan dia pun ikut mengusap air mata di pipi Rasya.
"Sudah, habiskan dulu makannya sedikit lagi." Titah Samudra sambil menunjuk ke piring Rasya.
Rasya mengangguk dan menghabiskan makannya yang tinggal berapa sendok lagi itu.
Kemudian Rasya menyudahi makannya dengan meneguk minumnya sampai tandas, yang tersisa hanya gelasnya saja.
Selesai membayar, Ubai mengajak Rasya ke mesin ATM yang ada di depan resto tersebut.
Sementara, Samudra ke toilet sebentar untuk membersihkan bajunya yang kena ingus Rasya.
Ubai menunjukkan gimana caranya mengambil uang dari ATM dengan menggunakan kartu.
"Perhatikan, Nona?" ucap Ubai dengan lembut tatapannya mengarah pada Rasya.
Rasya mendekati mesin tersebut dan memperhatikan gerak-gerik Ubai yang memberi contoh.
"Ooh ... begitu caranya, aku mau coba?" Rasya memposisikan dirinya di depan. Kemudian mencoba cara-cara yang sudah Ubai contohkan itu.
Dengan hati-hati, Rasya memasukkan kartu tersebut ke mesin ATM dan sesuai pertunjukan, mesin itu pun mengeluarkan uang dengan jumlah nominal yang Rasya perlukan.
"Hore ... aku bisa! aku bisa ..." Rasya kegirangan dan setengah melompat-lompat, karena merasa senang sebab dia bisa mengambil uang dari mesin tersebut.
"Ingat ya, Nona harus hati-hati! karena kalau nggak hati-hati itu ... pasti bisa ke telan," kata Ubai pada Rasya.
"Ke telan? emangnya dimakan? tuan Ubai ada-ada deh," Rasya menggeleng kasar.
"Ke telan! maksudnya seperti ini, Nona. Dimasukan ... terus gak timbul atau tidak keluar lagi. Itu namanya ketelan dan itu butuh proses untuk memperbaikinya," Ubai menjelaskan dengan detail.
"Ooh ... begitu aku mengerti sekarang. Terima kasih, Tuan Ubai?" Rasya senyum manis pada lawan bicaranya.
"Sama-sama, Nona." Ubai mengangguk dan membalas senyuman dari Rasya.
Kemudian mereka berjalan menuju mobilnya, setelah Samudra datang.
"Gimana bisa gak? cara mengambil uang dari mesin itu?" tanya Samudra sambil berjalan berbarengan.
"Bisa, Tuan. Sekarang aku sudah bisa dan aku mengerti gimana caranya," jawabnya Rasya dengan girang.
"Baguslah, simpan kartu itu baik-baik. Dan pin-nya jangan sampai orang lain tahu selain kita bertiga," tegasnya Samudra.
"Iya, Tuan aku ngerti." Rasya mengangguk dalam, dan menunjukkan kartu itu pada Samudra kemudian dia masukkan ke dalam saku celananya longgarnya.
"Tas milikmu di mana?" selidik Samudra kembali.
"Tas? aku nggak membawanya, barang itu ada di apartemen," Rasya menggeleng.
"Ya sudah, simpan saja baik-baik kartu tersebut." Pesan Samudra.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil mewah milik Samudra, dan seperti biasa Ubai yang duduk di depan serta menyetir.
Ubai melajukan mobil tersebut dengan cepat. Sehingga tidak lama di perjalanan akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Ubai tersebut, berhenti tepat di depan rumah Bu Karsih yang tampak sepi itu.
Setelah Rasya berada di luar mobil, Ubai pun turun memberikan kunci pada Samudra karena dia sendiri akan membawa mobil pribadinya.
"Ini kunci, Bos. Aku nggak mungkin meninggalkan mobil aku di sini," ucapnya Ubai pada Samudra.
"Oke, berarti kita bawa mobil masing-masing." Samudra mengambil kunci tersebut.
"Seharusnya pasangan juga kita bawa masing-masing, Bos. Kau bawa Karin dan aku akan membawa, Nona Rasya," ucap Ubai sambil menyeringai.
"Cielah ... maunya," gumamnya Samudra sambil menyusul langkah Rasya yang memasuki rumah tersebut.
__ADS_1
"Emang mau nya, kau kan sudah punya Karin, masih juga maruk." Ubai menggeleng menatap punggung Samudra.
"Ibu ... Ibu? aku pulang!" suara Rasya memanggil Bu Karsih.
"Heh? gadis pembawa sial ngapain kau pulang? sekalian saja kamu hilang, bila perlu mati tuh menyusul bapak," ketusnya Murni menyambut kedatangan Rasya.
"He? Nona! hati-hati kalau ngomong, asal goyang saja tuh lidah. Belum tahu rasanya dipotong dijadikan sate, mau?" sergah Samudra.
Mendengar sergahan dari Samudra, membuat Murni langsung menciut ketakutan.
"Enak saja ngomong ya? asal jiplak saja. Sebenarnya ada masalah apa sih? benci banget sama Rasya kesalahan dia apa?" tanya Samudra yang semakin garang nadanya.
Rasya tertegun mendengar Samudra yang membela dirinya dari kata-kata kotor Murni. Padahal kalau Karin yang mengata-ngatai nya, dia tidak bisa berkutik sedikitpun, diam saja seperti burung hantu yang terkena sinar matahari.
"Ti-ti-tidak, Tuan. Nggak ada masalah apa-apa sama Rasya, bagaimanapun dia adikku," Murni menunjukan senyum palsunya pada Samudra.
"Nggak usah senyum-senyum! saya tahu senyum mu itu penuh kepalsuan, senyuman yang penuh tipu, ingat ya? jangan pernah macam-macam pada Rasya? selama saya tidak ada di sini. Karena saya bisa berbuat apapun terhadap dirimu, bahkan yang lainnya yang turut menyakiti diri Rasya," ancam Samudra sambil melotot.
Ubai yang berdiri melipat tangan di dada tersenyum, melihat pembelaan Samudra terhadap Rasya.
"Helleh ... rupanya sekarang, Upik abu berubah menjadi putri raja. Jadi jangan disenggol apalagi dipukul Kak," sambar Vera dari belakang berjalan menghampiri mereka.
"Nona, tadi kau sudah mengambil uang dari ATM, berikan sama mereka mungkin mereka pengen jalan-jalan atau berbelanja," ucapnya Ubai kepada Rasya.
Rasya pun mengambil uang yang tadi dia ambil, diserahkannya kepada Murni dan Vera. "Ini Kak buat jajan!"
"Ini sih penyogokan namanya," protes Vera. Namun tak ayal mengambil uang tersebut yang dia bagi dua dengan kakaknya Murni.
"Nanti, kalau kau mau membeli sesuatu untuk keperluan acara harian bapakmu, ambi saja lagi uangnya di ATM kau bisa menggunakannya sebanyak apapun," tegasnya Samudra mengedarkan pandangan kepada Rasya.
"Beneran, Tuan. Nggak apa-apa aku menggunakannya banyak-banyak." Selidik Rasya pada Samudra.
"Iya benar! bukankah sekarang kau sudah menjadi putri raja bukan? bukan upik abu lagi, tunjukkan pada mereka semua kalau kau sekarang sudah senang. Sudah banyak uang dan makan pun nggak perlu sisa dari mereka lagi," ungkap Samudra sambil melirik sinis kepada Murni, Vera dan Sukma.
Mereka bertiga menatap tajam ke arah Samudra, pria ganteng itu begitu angkuh dalam membela Rasya dari ke usilan di hadapan mereka.
Bu Karsih muncul dari kamarnya dengan wajah yang tampak lesu, tidak bergairah. "Ada apa ini ribut-ribut?"
"Ini, Bu. Upik abu berubah drastis menjadi putri raja, banyak uang dan mempunyai bodyguard." Murni menunjuk pada Rasya.
"Bu, saya harap anda bisa memperlakukan seperti putri Ibu yang lainnya, jangan pilih kasih!jangan pernah jahat kepadanya, karena bila sekali saja kalian berbuat tidak baik, saya tidak akan segan-segan membuat sesuatu yang akan membuat kalian semua menyesal untuk selama-lamanya." Samudra menatap tajam ke arah Bu Karsih, yang setahu dia seorang ibu yang pilih kasih terhadap Rasya.
"Bener tuh, dengarkan kata tuan muda ini, dia bisa berbuat apapun yang akan membuat kalian semua menyesalinya seumur hidup, jadi perlakukan lah Nona Rasya dengan baik," tambah Ubai dengan suara yang jelas, ditunjukkan kepada keluarga Bu Karsih dan anak-anaknya.
Bu karsih dan anak-anaknya saling pandang, lalu mengangguk mereka pun tidak ingin jika ancaman dari Samudra itu terbukti karena ulah dan kesalahan mereka.
"Baiklah, sekarang kami mau pulang ke Jakarta dan setelah 6 hari lagi Rasya akan kami jemput lagi untuk dibawa ke Jakarta, dan ingat? jangan macam-macam kepada Rasya, kalau tidak mau mendapat akibatnya!" tegas Samudra, setelah itu dia pergi kembali ke mobilnya.
"Ingat ya? Ibu yang baik dan Nona-Nona yang cantik, tuan muda yang ganteng, perlakukan Nona Rasya dengan baik! jangan pernah macam-macam, kalau tidak? kalian pasti mendapatkan akibatnya ingat itu?" timpal Ubai, kemudian membawa langkahnya ke mobil pribadinya itu.
:Namun sebelumnya, Ubai melambaikan tangan kepada Rasya yang berdiri tertegun di dekat dinding.
Begitu pun dengan Samudra, sebelum menjalankan mobilnya dia pun menatap ke arah Rasya.
Rasya pun membalas tatapan itu, dengan tatapan yang sulit dia artikan. Ada rasa berat, sedih mau ditinggalkan pria itu tersebut.
Setelah kedua mobil itu pergi, Murni dan Vera, Sukma dan sang ibu menatap ke arah Rasya dan Rasya sendiri melangkahkan kedua kakinya menuju kamar yang dulu ia tempati.
"Sebentar-sebentar!" suara Sukma menghentikan langkah Rasya.
Rasya menoleh pada Sukma, tatapannya seakan bertanya ada apa?
"Aku akan membersihkan dulu kamarnya, jangan dulu masuk." Sukma langsung menghampiri masuk ke kamar tersebut untuk membersihkannya, dari barang-barang yang tidak akan diperlukan.
Rasya tersenyum dan berpikir, pasti anak itu ketakutan dengan ancaman Samudra tadi.
Vera berdiri dari duduknya, lalu mendekati Rasya dan meraih beberapa paper bag yang di jinjing oleh Adiknya itu. "Sini Aku bawakan? dan kau membutuhkan apa? biar ku ambilkan!"
Rasya mengulas senyumnya. "Tidak, Kak. Aku tidak membutuhkan apa-apa, terima kasih?"
Sukma keluar membawa beberapa barang yang mungkin tidak terpakai. Lalu menyilakan Rasya untuk masuk ke dalam kamarnya. "Silakan? karena kamar mu sudah aku bersihkan."
"Makasih, Sukma." Rasya mengangguk lalu melanjutkan kembali langkahnya, melintasi pintu kamar yang berapa bulan ini dia tinggalkan.
__ADS_1
Suasana kamar yang berbeda, sekarang barang-barang yang dulu ada, dan lebih tepatnya sebagai gudang. Sekarang raib dan kini tampak layaknya sebuah kamar, tempat tidur. Seprai yang bersih, selimut pun baru. Bukan selimut yang dulu lagi.
"Lihat sekarang, kamarmu lebih baik kan? dan kau akan nyaman tinggal di sini," suara Vera memecah keheningan. Membayarkan lamunan Rasya, Rasya menoleh. "Iya Kak."
Vera keluar dari kamar Rasya, setelah menyimpan paper bag miliknya Rasya tadi.
Selepas Vera keluar dari kamar tersebut. Rasya mendudukkan dirinya di atas tempat tidur, yang dulu tidak ada yang namanya tempat tidur seperti ini.
Manik matanya menyapu, menyisir setiap sudut kamar tersebut. "kalau saja Bapak masih ada, mungkin aku belum tentu saat ini berada di sini. Karena memang aku merasa malas buat pulang, bukannya aku nggak sayang dengan kalian semua," Rasya menarik nafas panjang.
"Assalamualaikum ..." suara Viona dari luar rumah.
Membuat Bu karsih dan anak-anaknya menoleh ke arah pintu. "Wa'alaikumus salam ..." serempak.
"Wa'alaikumus salam ... silakan masuk jeung?" ucap Bu Karsih pada Viona yang datang bersama suaminya, Fatir.
Viona tampak membawa oleh-oleh, seperti buah-buahan dan makanan yang banyak. "Makanan buat nanti malam tahlilan, lumayan buat ganjal perut."
Viona memberikannya kepada bu Karsih, setelahnya berada di hadapan sang tuan rumah.
"Aduh, makasih sudah repot-repot?" gumamnya Bu Karsih, wajahnya mendadak sumringah menatap yang tamunya bawa.
"Ooh ... tidak sama sekali repot kok, biasa saja sekalian jalan kan?" balas Viona seraya mendudukkan dirinya di sofa, begitupun dengan Fatir yang ikut duduk di samping sang istri.
"Rasya mana? sudah pulang ke sini kan?" tanya Fatir menatap ke arah Bu Karsih.
Bu Karsih celingukan. "Iya, sudah pulang tapi sepertinya istirahat di kamarnya," jawabnya bu Karsih.
"Tadi pulang, sama siapa Rasya nya?" kini giliran Viona yang bertanya.
"Sama pria yang kemarin dan satunya lagi yang datang bersama anda!" sahutnya Bu Karsih.
"Ooh ... dia Ubai bersama Samudra." Ucapkan Viona dan Fatir pun mengangguk membenarkan perkataan dari sang istri.
"Ngomong-ngomong. Siapa mereka! sepertinya mereka orang kaya semua?" tanya Bu Karsih penasaran.
"Mereka ... adalah orang-orang yang menjaga Rasya selama ini, yang melindungi Rasya dari kejahatan orang yang telah membeli Rasya dari Bekasi dan suami," jelas Fatir sambil menatap tajam pada Bu karsih.
"Em ..." Bu Karsih menunduk, mengakui kesalahan.
"Kalau saja Rasya tidak bertemu dengan kedua pria itu, mungkin Rasya sudah menjadi istri kelima dari pria tua itu kan?" Viona menatap tajam kepada bu Karsih dan juga anak-anaknya.
"I-i-iya, mu-mungkin," suara bu Karsih gelagapan.
"Kan sudah aku bilang, Bu. Rasya itu sangat beruntung! ketemu pria yang ganteng dan kaya raya, Bu." Timpalnya Murni pada sang bunda.
"Iya sih ... Rasya itu sangat beruntung ketemu dua laki-laki sekaligus, tampan-tampan banyak duit pula," tambahnya Vera.
"Kalian iri dengan keberuntungan Rasya?" Viona mengalihkan pandangannya kepada Vera dan Murni.
"Iya, tentu lah, Tante ... kemi iri dengan keberuntungan si Rasya." Jawabnya Murni dengan ekspresi yang mengagumi seorang pria seperti Ubai atau Samudra.
"Aku pun ingin seperti dia, dapat pria yang tampan, ganteng seperti mereka," tambahnya Vera.
"Kalian nggak usah iri, karena rejeki seseorang itu berbeda-beda, dulu Rasya kau buat susah. sekarang kebalikannya dia hidup senang," lanjutnya Viona.
Murni dan Vera menganggukkan kepalanya berkali-kali, wajah mereka pucat pasih. Merasa malu karena memang mereka yang sudah memperlakukan Rasya kurang baik di rumah itu, bahkan jahat dan tidak ada rasa kemanusiaan.
"Saya harap, kali ini kalian perlakuan Rasya dengan baik, jangan pernah kalian menyakitinya lagi karena dia adalah putri saya, putri kami berdua." Viona kepada bu Karsih dan anak-anak nya.
"Apa? Rasya putri kalian? apa tidak salah? bukannya si Rasya itu putrinya ibu dan bapak juga?" selidik Murni dengan sangat penasaran, menatap ke arah Viona dan ibunya, Bu Karsih.
"Gimana ceritanya? kalian berdua orang tua si Rasya? dari kecil di sini kok sama Ibu dan bapak juga kami, kalau memang kalian berdua adalah orang tuanya si Rasya? kenapa gak di rawat dari kecil? bukannya merepotkan kami?" ujar Vera dengan nada pedas.
"Maaf ya? bukannya kami tidak ingin merawat dia, tapi dia masih balita ada yang nyulik, kami kehilangan anak itu. Bukannya kami tidak ingin merawat ataupun merepotkan kalian? tidak!" tegasnya Fatir menetap tajam ke arah Vera.
"Iya, Vera. Murni, kalian pasti ingat kan waktu kecil. Tiba-tiba ada Rasya di antara kalian berdua," bu Karsih berucap mengingatkan pada kedua putrinya itu.
Murni dan Vera melamun mengenang kembali ke masa silam, dimana ketika mereka masih kecil-kecil dan tiba-tiba ada seorang balita menjadi adiknya.
"Ibu nggak tahu persis itu anak siapa? yang jelas seseorang yang menitipkannya pada kami. Memberikan kepada Ibu dan bapak, kami sama sekali nggak tahu kalau itu anak siapa?" bu Karsih menggeleng.
"Jadi bukannya saya yang tidak mau mengurus anak saya, apalagi ingin merepotkan kalian," ungkap Viona dengan nada haru dan kesal ....
__ADS_1
.
.