Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 197 Kuda-kudaan


__ADS_3

Setelah membersihkan diri, Rasya langsung pergi ke dapur untuk mengeksekusi bahan-bahan yang tadi sudah disiapkan sebelum masuk kamar.


Dan sebelum ke dapur. Manik matanya yang indah itu mendapati Ubai yang sedang duduk, namun sibuk dengan laptopnya. Dia masih di posisi yang sama! duduk di sofa depan televisi, namun pandangan dan tangannya mengarah pada sebuah laptop.


Ubai melihat ke arah Rasya yang kebetulan sedang melihat dirinya, ada seulas senyuman yang Ubai berikan kepada Rasya, lalu ia kembali mengarahkan pandangannya ke layar laptopnya.


Tanpa bicara apapun, Rasya pun melanjutkan langkahnya ke dekat meja. Untuk memulai berkutat dengan segala macam bahan-bahan yang ada di atas meja.


"Kasihan juga, tuan Ubai sedari tadi menunggu di sana. Gara-gara Sam, aku jadi telat deh masak. waktu itu saja mama Riska langsung pulang! gara-gara aku dan suamiku kuda-kudaan, he he he ..." gumamnya Rasya dalam hati sembari menunjukkan senyumnya ke arah sayuran yang sedang dipotong.


"Benar-benar ya? Sam itu kalau sedang ada maunya sulit dikendalikan juga ataupun dialihkan. Amit-amit, amit-amit jangan sampai ya? nanti Dede bayinya ku harus seperti bapaknya itu, kekeh dan keras kepala!" gumamnya Rasya kembali seraya mengusap perutnya.


"Oo ..." Rasya rasa mual kembali lalu dia mendongak ke langit-langit sembari menghirup udara sebanyak-banyaknya.


"Apa mungkin aku punya penyakit lambung ya? gara-gara dulu aku sulit makan!" Rasya bermonolog sendiri seraya berpikir apa iya dia punya penyakit lambung? akibat dulu sewaktu dia bersama pak Muhidin almarhum jarang kebagian makan.


"Tapi amit-amit, amit-amit! jangan sampai lah, sekalipun dulu jarang makan. Ataupun jarang menemukan makanan enak! yang penting aku sehat, ha ... Aku anak sehat tubuh ku, kuat karena ibuku rajin dan cermat, salama aku bayi lalu diberi ASI. Makanan bergizi," akhirnya Rasya berdendang sendiri.


"He he he ... Aku anak sehat tubuhku kuat walaupun ibuku terlalu jahat. Setiap aku makan tidak dikasih ikan, akhirnya aku makan sama lalapan ocehan."


"Bernyanyi lagu apa, Nona? rasanya aku baru mendengar syair yang seperti itu. Kau pandai juga merubah syair ya?" suara Ubai mengagetkan Rasya yang sedang asyik bernyanyi.


"Ya Allah ... Tuan Ubai mengagetkanku saja," Rasya mengusap dadanya yang terasa berdebar, kaget. Dengan keberadaan Ubai yang tiba-tiba tidak jauh dari dirinya.


"Aku mendengar suaramu bernyanyi, tapi syairnya kok aneh ya? tapi ... lumayan sih! kau pandai juga mengubah syair." lanjut Ubai sembari duduk di kursi meja makan tersebut.


"Ah ... Tuan, Tuan Ubai bisa aja? aku jadi malu nih, sudah mengganggu konsentrasi, Tuan Ubai yang sedang sibuk dengan laptopnya," Rasya tersipu malu.


"Nggak usah malu, Nona. Biasa aja, kayak baru kenal saja!" lalu dia tuangkan air putih, karena tenggorokan terasa haus. Sedari tadi datang, dia langsung sibuk dengan laptopnya.


"Kau mau masak apa sekarang, Nona? buat makan malam?" tanya Ubai, setelah meneguk minumnya.

__ADS_1


"Em ... Aku mau buat sup ayam dengan telurnya, ikan goreng. Sambal bawang. Cah kangkung, tahu dan tempe. Juga goreng terong." Jawabnya Rasya sembari melihat beberapa bahan yang ada di depannya itu.


"Wah ... kayaknya enak sekali tuh! aku jadi langsung dibuat ngiler nih. Rasanya tidak sabar ingin segera makan," kata Ubai sembari sembari menelan Saliva nya yang sudah memenuhi mulut. Kemudian membantu Rasya memotong kangkung.


"Kangkungnya biar aku potong semua nya? Nona ngerjain yang lain saja." Ubai mengambil alih kangkung dari tangan Rasya, agar Rasya sendiri mengerjakan yang lain saja.


Samudra datang dengan penampilan yang tampak segar. Ubai menatap ke arah Samudra, dia kira Samudra mau pergi.


"Kau mau ke mana?"tanya Ubai pada Samudra.


"Kemana? kemana? nggak ke mana-mana lah! di sini saja! emangnya mau kemana!" Samudra duduk di sampingnya Ubai dan lebih dekat kepada Rasya.


"Ooh ... kirain saja mau pergi?" lanjut Ubai sembari menyelesaikan potongan kangkungnya itu.


"Kalau aku pergi, istriku di bawah lah. Ngapain gua tinggal di sini sama kamu?" ketusnya Samudra.


Ubai hanya tersenyum mendengarnya, lalu dia mencuci kan sayuran tersebut di wastafel.


"Mau ku buatkan minum?" tanya Rasya sembari menoleh ke arah Samudra.


Rasya mesem-mesem, lalu Rasya pun segera membuatkan minuman buat Samudra, meninggalkan masakannya yang kini di orak-arik sama Ubai.


"Ini minumnya?" setelah jadi, Rasya kembali menghampiri kompor yang sedang menyala dan sedang menggoreng tahu dan juga tempe.


Lanjut Rasya memberi bumbu pada masakan sup nya yang sudah tercium wanginya, menyeruak ke dalam rongga hidung yang berada di sana.


Samudra mendengus kan hidungnya, mencium wangi sup yang masih belum matang tersebut. "Hem ... baunya bikin aku tambah laper nih."


"Belum mateng, jangankan sayurnya. Nasinya saja belum matang jawabnya Rasya sembari menyentuh tangan Samudra.


Samudra mencomot tempe goreng yang sudah tersaji di meja, dan masih hangat tersebut bahkan asapnya pun masih mengepul. Lalu kemudian dia makan dengan lahap.

__ADS_1


"Iih ... sayang, jangan dimakan dulu dong? nanti pas makan, tempenya habis," ucap Rasya ketika melirik Samudra terus memakan tempe gorengnya.


"Tidak apalah, bikin aja lagi? gitu aja kok repot?" jawabnya Samudra dengan santainya.


"Bikin pakai apa? tempenya nggak ada lagi, cuman ... itu-itunya doang!" tambahnya Rasya sedikit kesal.


"Ya, biarkan saja. Nona ... kan masih banyak kalau untuk temannya nasi nanti." Ubai menyala obrolan mereka berdua.


"Tapi, kan aku mau tempenya? ya ... habis!" Rasya menatap lesu ke arah Samudra yang sedang menikmati tempe gorengnya.


"Nanti aku pesankan online, tempenya yang lebih enak!" kata Samudra sambil menghabiskan tempenya yang berada di tangan.


"Iih ... kan rasanya nggak akan sama dengan aku buat perasaan," bibirnya Rasya maju ke depan.


"Iya maaf? maaf ya? besok beli lagi yang mentah nya lah, yang banyak. Goreng lagi yang banyak juga." Samudra mesem-mesem tidak merasa bersalah, sembari mengunyah tempe yang berada di mulutnya itu.


"Aish ... tega! aku mau juga!" Rasya bengong melihat ke arah piring tempe yang tinggal sisa tahunya saja.


"Maaf ya? Sayang maaf? terus maunya gimana dong? mau aku belikan mentah nya sekarang, hem?" Samudra berdiri dan merangkul bahunya Rasya.


"Mau saya belikan, Nona? kalau mau, saya belikan sekarang. Yang mentah bukan?" kini Ubai yang menawarkan diri untuk membeli tempe mentah.


"Nggak, usah lah. Tuan Ubai biar saja, biar besok aja aku belanja sekalian!" sahut nya Rasya, lagian Rasya merasa tidak enak. Kalau harus menyentuh Ubai keluar untuk membeli tempe, mendingan makan yang ada sajalah.


"Beneran nggak usah, Nona?" Ubai meyakinkan dirinya.


"Nggak-nggak usah, biar saja. Masih ada tahu dan juga yang lainnya," ucap Rasya sembari mendelik kan matanya ke arah Samudra dan menyingkirkan tangan dari bahunya.


Kemudian dia menyibukkan diri kembali dengan sodet dan wajannya, saat ini dia mau menggoreng terong dan ikannya.


Samudra hanya diam, dan duduk kembali sambil melihat punggung sang istri yang sedang memasak tersebut ....

__ADS_1


.


.


__ADS_2