Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 157 Khawatir


__ADS_3

Matahari sudah tampak tinggi. Namun tampak sendu sinarnya, walaupun sudah sekitar pukul sepuluh pagi, namun berasa masih pagi.


Di kamar Samudra yang masih tampak sepi dan jendela pun masih tertutup. Penghuninya pun masih betah berada di dalam mimpi, Samudra tampak sangat erat memeluk tubuh Rasya yang hanya berbalut selimut tersebut.


Rasya terlena dengan kehangatan tubuh Samudra sehingga tidurnya pun terlalu lelap. Hingga tidak menyadari kalau hati sudah siang.


Perlahan anggota tubuh Samudra bergerak dan terbangun, memicingkan matanya melihat sekitar. Sinar matahari menyelinap di sela-sela gorden.


Kemudian mengerjakan netranya pada seseorang yang berada dalam pelukan nya itu. Sejenak Samudra terheran-heran kenapa Rasya berada di sana dan memutar memorinya apa yang semalam dia lakukan bersama gadis ini?


Sedikit demi sedikit Samudra ingat kalau semalam dia minum dan mendapati Rasya berada di dalam kamarnya ini, kemudian ia melakukan sesuatu pada Rasya yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya.


Kepala Samudra sampai detik ini masih terasa pusing. Kedua netra nya terus menatap wajah Rasya yang berada di dadanya itu perlahan dia mendekatkan bibirnya ke kening Rasya. Bibirnya terlukis sebuah senyuman dan mendapat kepuasan tersendiri dari semalam. Si Joni untuk pertama kalinya dimanjakan dalam tempat yang tepat.


Rasya bergerak lalu membuka matanya dengan perlahan dia kaget dia berada dalam pelukan Samudra, ia langsung bangun dan menjauh dari Samudra yang juga langsung meringsut.


"Tu-Tuan? apa yang sudah kau lakukan padaku?" lalu Rasya melihat tubuhnya dari balik selimut yang tempak polos tersebut. Dan alangkah terkaget-kaget melihat itu semua, apalagi ketika menggerakkan kakinya daerah intinya terasa sakit bukan main.


Bibir Samudra terus mengembang. Menatap ke arah Rasya yang kebingungan dan sedikit meringis.


"Senyum-senyum? ngapain senyum-senyum? bukannya jawab apa yang sudah kau lakukan padaku?" tangan Rasya memukul-mukul dada Samudra dengan mata yang berkaca-kaca.


Tangan Samudra meraih kedua tangan Rasya yang memukul dadanya. "Kita sama-sama menikmatinya, Sya. Sekarang kita sudah melakukan nya!" Samudra menatap lekat dan mendekat untuk meraih bibir Rasya yang tampak ranum tersebut.


Dengan cepat kepala Rasya menghindar dari Samudra, lantas tangan Samudra mengunci tengkuknya Rasya sehingga pada akhirnya Samudra mendapatkan yang dia mau.


Sekarang Samudra tidak suka di tolak. "Mm ..."


Rasya menunduk setelah Samudra mengecup bibirnya itu lantas, jari tangan Samudra mengusap bibir Rasya dengan lembut yang bekas barusan ia Raup.


"Ha? aku belum subuh?" Rasya melonjak ketika mengingat ia belum melakukan subuh.


Namun langsung Samudra tarik tangannya. "Lihat jam berapa tuh? masa mau subuh jam segini? dah gila apa?"


"Apa? jam sepuluh?" Rasya menoleh ke arah jam yang di dinding. "Kok bisa sih baru bangun jam segini?"


"Mana ku ta ... hu?" Samudra menggoyangkan bahunya.


"Iih, kenapa gak bangunkan aku? apa nanti kata orang-orang dan juga orang tua ku?" Rasya kembali memukul dada Samudra dengan tangannya.


"Terus apa yang harus aku katakan sama meraka? kalau kau sudah meniduri ku! katakan?" kini Rasya dibarengi dengan menangis.


"Hi ... kau itu istri ku, wajar dong kalau aku menginginkan nya darimu," ketus Samudra.


"Tapi aku cuma pelampiasan saja bukan? kau itu tidak mencintai ku! kau hanya mencintai Karin, bukan aku. Tapi kenapa kau melakukan itu padaku?" pekiknya Rasya.


"Dengar ya? kau itu istri ku, wajar bila aku melakukannya padamu. Seharusnya orang tua mu pun mengerti itu, bukan ingin memisahkan kita?" jelas Samudra sambil menunjuk pada Rasya.


"Orang tua ku melakukan itu. Karena kau yang mau menikahi wanita lain, dan bukankah kau sendiri yang bilang kalau kau tidak akan pernah tertarik padaku? kau juga berjanji kalau tidak akan menyentuh ku lebih. Hik-hik-hik, sekarang apa yang sudah kau lakukan? kalau aku hamil gimana?"


Samudra tidak menjawab, melainkan merangkul bahu Rasya dan meraih kedalam pelukannya itu.


"Kenapa kau tega melakukannya padaku? sekarang aku sudah kehilangan kesucian ku, katakan padaku? apa yang harus aku katakan pada orang tua ku!" hik-hik-hik.


Kini Samudra seolah berpikir untuk memikirkan sesuatu. Dia tidak mau kehilangan Rasya seperti dia kehilangan Karin.


Tangan Samudra mengelus rambut Rasya dengan lembut nan mesra. Sesekali mengecup pucuk kepalnya.


"Aku tidak akan meninggalkan mu. Walau orang tua mu menginginkan kita berpisah, aku tidak akan melepaskan mu." Suara Samudra dengan nada serius.


Kepala Rasya mendongak. menatap wajah Samudra dengan sangat lekat. Serta tatapan yang seolah bertanya-tanya, serius kah Samudra dengan perkataan itu?

__ADS_1


"Apalagi jika kau harus dengan laki-laki lain? tidak akan pernah kubiarkan siapapun memiliki mu. Kau hanyalah milikku, kau adalah gadis 1 miliar ku," lalu Samudra menggerakkan pandangannya ke wajah Rasya dan kecupan hangat di kening gadis itu.


Membuat kedua manik Rasya terpejam merasakan hangatnya kecupan tersebut.


"Tapi ... Bukankah, anda sangat--" Rasya menggantungkan perkataannya.


"Sudahlah, jangan banyak bicara lagi, aku muak. Sekarang aku lapar! dan aku ingin kau yang menyiapkan masakannya untukku." Samudra meminta Rasya memasakan sarapan buatnya.


"Tapi, aku sakit." Ucap Rasya seraya meringis dan menggerakkan kakinya menggeser duduknya.


"Benarkah?" Samudra mengerutkan kening dan menatap sangat lekat ke arah bagian tubuh Rasya yang katanya sakit.


Rasya yang mengangguk pelan dan wajahnya merona merah.


"Kalau begitu kita mandi dulu, nanti ku belikan obat!" Samudra turun dari tempat tidur dan celingukan mencari celana pendeknya.


Namun entah kenapa celana pendek miliknya itu bekas selama itu berada jauh, sehingga dia harus berjalan dulu untuk meraihnya.


Melihat Samudra berjalan di belakang si Joni membuat Rasya dengan cepat menutup wajahnya dengan 5 jari, tidak kuasa bila melihat si Joni lebih cepat dari pemiliknya.


"Tuan, itu pisang eh itu timun. Eh bukan! terong! uuh ... apa sih? gak tau sopan santun banget sih? berjalan dengan keadaan polos seperti itu." Pekik Rasya dengan wajah yang ditutupi kelima jarinya, tetapi masih bisa mengintip.


Samudra menoleh dengan bibir yang tersenyum, lalu dia mengenakan celana pendeknya yang berwarna abu Spongebob tersebut. Kembali berjalan mendekati Rasya. "Tapi kau sangat menyukainya kan?" seraya berbisik.


Rasya menarik tangannya dari wajah. "Siapa bilang? siapa bilang aku suka? nggak! aku nggak suka, aku gak tahu apa-apa. Enak aja!" Rasya mencibirkan bibirnya sehingga sedikit maju ke depan membuat samudra merasa gemas melihatnya.


"Eeh, bilang nggak suka segala? mau aku buktikan nih?" Samudra ingin menurunkan kembali celana bokser nya.


Dengan refleks, Rasya kembali menutupi wajah dengan kedua tangannya kali ini sambil berkata. "Jangan-jangan, aku yang risih, malu dong! aku masih polos tidak tahu apa-apa!"


"Ha ha ha ... Eh, Nona? emangnya semalam kita melakukannya gimana? lihat tuh, dirimu masih polos seperti itu." Samudra membingkai wajah Rasya dengan gemasnya.


"Aku nggak tahu, tapi bukannya semalam kau mabuk?" Rasya menggerakkan pandangannya ke meja, di sana masih ada botol minuman dan gelasnya juga.


Masha yang udah tapi wajah Samudra yang tampak serius tersebut.


Kemudian Samudra menarik selimut yang melekat di tubuh Rasya, dengan satu tarikan saja selimut melayang ke lantai dan tubuh Rasya sudah kelihatan polosnya.


Dengan sontak dan kaget Rasya menyilangkan kedua tangan di dadanya. Serta sedikit menaikan kakinya untuk bagian tubuhnya yang lain.


"Kau ini apa-apaan?" Rasya melotot pada Samudra.


Samudra yang justru memasang mata yang tidak berkedip sekalipun. Memandangi pemandangan indah yang seutuhnya itu. Semalam kurang memperhatikan dengan mata dan lebih ke menikmatinya saja.


Lalu kedua tangan Samudra direntangkan dan langsung memanggul tubuh gadis tersebut bak menggendong karungan beras.


Rasya sangat terkesiap mendapat perlakuan Samudra tersebut yang memanggulnya seperti karung beras.


"Mau dibawa ke mana aku?turunkan aku di sini? aku nggak mau kau bawa-bawa! turunkan aku?" gerutu Rasya yang menggerak-gerakan kakinya, dan juga memukul-mukul punggung Samudra bahkan mencakar nya.


Namun Samudra tidak mengindahkan permintaan dari Rasya, dia terus berjalan memasuki kamar mandinya. Kemudian Rasya dimasukkan ke dalam bathub dan mengisikan air ke dalamnya.


"Kau itu jangan banyak ngomel? nggak mungkin kan saya membawa mu keluar kamar dengan keadaan seperti itu: di mana muka saya? masa istri saya dipertontonkan sama orang banyak, sudah gila apa?" kini giliran Samudra yang menggerutu.


Kedua manik Riska mendelik pada Samudra. "Habis nggak bilang-bilang? ngomong dong kalau mau dibawa ke kamar mandi?"


"Ngapain bilang-bilang? mikir sendiri lah, otak tuh dipakai. Bukan disimpan di dengkul, masa sih saya membawa mu dalam keadaan seperti ini keluar kamar! kan nggak mungkin." Gerutu Samudra menggeleng lalu dia pun masuk ke dalam bathub seperti.


"Iih, sempit. Bisa nggak jangan masuk? biarkan aku sendiri mandi di sini, tuan di sana di bawah shower," mintanya Rasya sambil menunjuk ke tempat shower.


"Nggak mau! aku mau di sini saja, nanti membersihkannya baru ke sana. Sudahlah jangan banyak ngomong, kenapa sih?" ketusnya Samudra.

__ADS_1


"Aihs ... masih saja ketus. Nanti aku kabur tahu rasa lho." Gumamnya Rasya pada Samudra yang berada di depannya itu.


Sontak Samudra menoleh dengan tatapan tajam. "Kabur? kabur kamu? kabur saja sana, kalau bisa! nanti akan saya cari sampai aku dapatkan kembali."


"Heleh, segitunya? terus ... kenapa tidak kau cari kekasihmu yang hilang itu? bukan melampiaskan kemarahan mu padaku?" ucap Rasya dengan nada sedikit kesal.


"Em ... karena ... aku sangat membutuhkanmu." suara Samudra dengan tatapan serius dan kedua netra nya menatap ke arah menik mata Rasya.


Di tatap seperti itu Rasya merasa grogi atau serba salah, dan untuk menyembunyikannya. Dia memainkan air dan menciptakannya pada Samudra, hingga akhirnya mereka berdua bermain air di dalam bathub. Saling ciprat dan saling sembur, juga saling lempar busa sabun.


Membuat suasana di kamar mandi tersebut sangatlah berantakan. Saking asyiknya mereka bermain air di dalam bathub, sehingga lupa rasa lapar yang tadi Samudra rasakan.


Sementara di lantai bawah, Pak Suyoto dan bu Riska sedang bersantai di ruang tengah sambil perbincangkan masalah nasi dan Samudra. Mereka berdua tahu kalau Samudra semalam pulang ke mension itu, terlihat dari mobilnya yang sampai sekarang ini masih terparkir cantik di halaman.


Dan meyakini kalau Samudra dan Rasya itu semalaman berada dalam satu kamar, sehingga sampai detik ini pun mereka belum keluar juga. Mereka sudah menyuruh Mulan untuk membangunkan atau mengutuk kamar Samudra, namun tak ada yang menyahut sedikitpun! apalagi membukanya.


"Heran, masa jam segini masih belum pada bangun? apalagi Rasya, rasanya nggak mungkin kalau anak itu belum bangun juga?" gumamnya pak Suyoto pada sang istri sambil melihat putaran jam di tangannya.


"Iya, Pah. Mama juga heran! rasanya nggak mungkin kalau Rasya belum bangun juga, anak itu kan rajin. Lagian semalam masih sore juga dia masuk kamar nya," sahutnya bu Riska, dia pun tidak kalah merasa herannya dengan suami.


"Coba Mamah telepon nomornya Samudra? kali aja teleponnya diangkat!" suruh pak Suyoto kepada sang istri.


"Apa? sudah aku telepon berkali-kali Papa ... malah gak di angkat," jawabnya sang istri. "Terus gimana dong ... kata asisten! semalam Samudra pulang membawa botol minuman! jangan-jangan dia mabuk? ya Allah ... kok jadi begini? Papa gimana ini?" wajah bu Riska berubah menjadi cemas, khawatir. takut, hati bertanya-tanya kenapa Samudra dan Rasya di kamar aja.


"Tapi mah ... di kamar itu ada Rasya! nggak mungkin kan? kalau ada apa-apa Rasya tidak tahu." Kata pak Suyoto pada sang istri.


"Assalamu'alaikum ..." suara Viona dan Fatir sambil memasuki ruangan tersebut.


Keduanya menoleh pada sember suara, yaitu dimana Fathir dan Viona baru saja datang. "Wa'alaikumus salam. Wah ... kalian sudah datang? masuk?"


Viona dan Fatir mendudukkan dirinya, setelah bersalaman dan berpelukan dengan kedua tuan rumah tersebut.


Kemudian netra Fatir mencari keberadaan Rasya. Putrinya. "Rasya di mana ya? nggak kelihatan?"


"Nah ... itu dia! belum keluar kamar sampai sekarang ini Sudah kami bangunkan tapi gak nyahut dan belum keluar juga." Jawabnya bu Riska.


"Apa? belum bangun? masa Rasya belum bangun? tidak biasanya seperti ini dia!" Viona heran kalau putrinya sudah jam sebelas ini belum turun juga.


Fatir menatap Viona. "Apa dia kurang enak badan?"


"Tapi setahu ku, baik-baik saja, Mas. Dia nggak sakit," Viona menggeleng! karena setahu dia kalau Rasya baik-baik saja dan tidak ada keluhan apapun.


"Terus kenapa belum turun dia? kan suka rajin di rumah juga, pagi-pagi sudah bangun ngerjain apa gitu?" Fatir menautkan alisnya seraya melirik ke arah lantai atas.


"Apa Samudra pulang ke sini?" tanya Viona, menatap ke arah bu Riska dan pak Suyoto.


Keduanya saling pandang, sebelum menjawab pertanyaan dari Viona.


"Sayang aku rasa, benar Samudra pulang ke sini, di luar ada mobilnya Samudra." Timpal Fathir, dia meyakini kalau Samudra ada di rumah tersebut.


"Iya, benar. Samudra memang ada pulang, kata asisten! semalam dia pulang." Jawabnya bu Riska membenarkan.


"Jangan-jangan mereka sedang bersama?" Fatir langsung melonjak berdiri dan gegas berjalan menuju anak tangga.


"Mas, jangan dulu? ke sana! kita tunggu dulu mereka keluar!" cegah Viona langsung meraih tangan sang suami.


Fatir yang sudah merasa tidak enak hati mengingat kalau Samudra sedang bersama putrinya di atas. Ia khawatir kalau terjadi sesuatu yang memang tidak dia inginkan ....


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2