Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 51 Capek


__ADS_3

Begitu juga dengan Samudra, setelah Rasya memasuki kamarnya. Dia melamun sendirian, kemudian Samudra beranjak dari duduknya. menyambar ponsel lalu berjalan menuju tempat peraduannya.


Dengan langkah yang lebar, Samudra dengan cepatnya sudah berada di dalam kamar, menjatuhkan tubuhnya yang tinggi besar itu ke tempat tidur yang luas dan empuk itu. Bertilamkan seprai bendera tiap-tiap Negara.


"Payah, bisa-bisa nya jam segini baru mau tidur? dengan hal-hal yang tidak penting." Gumamnya Samudra sambil membuka pakaiannya.


Lantas ia lempar ke sofa, ada yang tepat. Ada juga yang malah jatuh tergeletak di lantai berserakan begitu saja.


Sementara, waktu sudah menunjukan pukul 03.00 dini hari. Samudra dan Rasya. Pada akhirnya mereka berdua terlelap dalam tidur, rehatkan semua anggota tubuh termasuk otak, di tempat peraduannya masing-masing.


Waktu terus berputar. Dan kini jarum jam sudah menunjukan pukul 05 pagi, saking nyenyak nya tertidur. Rasya baru menggerakkan tubuhnya bangun, menyipitkan pandangan, melihat kanan dan kiri.


"Ya Allah ... sudah pukul 05. Wib. Aku kesiangan." Gumamnya Rasya sambil mendudukkan tubuhnya.


"Hua ...m, masih ngantuk." Lalu menjatuhkan kembali kepala ke bantal dan memejamkan kedua netranya.


Sesaat kemudian. Rasya melonjak ketika menyadari kalau suasana sudah pagi. "Pukul lima. Sudah siang, ya Tuhan ... aku kesiangan."


Buru-buru gadis itu turun menapakkan kedua kakinya ke lantai, berjalan menuju kamar mandi.


Dugh!


Keningnya kejeduk dinding dekat pintu. Membuat Rasya meringis kesakitan. "Aduh ... sakit, dasar kening ku gak punya mata ya? dinding sebesar ini saja gak kelihatan."


Rasya memegangi keningnya sambil menggerutu. Dan kakinya sedikit menendang dinding tersebut, namun malah jempol kakinya juga ikutan sakit. "Ya Allah ... lengkap sudah penderitaan ku ini!"


Dengan cepat melanjutkan langkahnya memasuki kamar mandi, lantas berdiri di depan cermin yang ada di sana.


Melalui cermin, manik matanya yang masih ngantuk itu, mengedarkan pandangan. Melihat dirinya yang masih mengenakan baju pengantin bekas semalam. Mengerutkan keningnya mengingat yang sudah terjadi.


Tangan kanan Rasya memegangi kepalanya. "Semalam ada apa ya? ck, kok aku lupa ya?"

__ADS_1


Rasya bermonolog sendiri. Dan terus mengingat-ingat lagi. "Oh, iya! semalam aku menikah dengan tuan muda, tapi ... berarti aku sudah menjadi istri tuan Samudra? si tuan jutek itu. Si tuan galak yang sukanya bentak-bentak."


Kepala Rasya menggeleng kasar. "Mimpi apa sih aku? padahal aku juga gak pernah berharap ataupun bermimpi menikah secara gitu kok, malah gak kepikiran menikah." Rasya bengong menatap dirinya di cermin.


"Kok malah seperti ini sih? aku kan masih muda, biarpun kawan ku sudah ada yang mempunyai anak juga. Ah pusing aku mikirin nya, mendingan. Mandi-mandi ...."


Selanjutnya Rasya segera melucuti pakaian pengantinnya. Membersihkan diri, dengan air hangat langsung dari showernya. "Iih ... seger ... nya!"


Sekitar 20 menit kemudian. Rasya sudah bersiap-siap berkutat dengan semua tugasnya. Dan yang dia dahulukan, iyalah membereskan ruang tengah yang sangat berantakan sekali.


Kursi-kursi yang berjejer di dekat dinding. Bekas makanan yang berantakan, bantal sofa yang berserakan di mana-mana. Sejenak Rasya memandangi dengan menggeleng.


Kemudian satu persatu, semuanya Rasya bereskan. Dari mulai mengangkat karpet, menyapu, mengepel dan merapikan kembali, sampai seperti semula lagi. Sofa yang tadinya di sisi dinding kini sudah berjejer rapi dengan meja di tengah-tengah nya.


"Kan, rapi lagi. Kenapa ... coba semalam harus merubah tatanan sih? bikin ribet aku saja deh." Gumamnya Rasya sambil menatap setelan sofa.


Semua sampah pun telah pada tempatnya. Keringat sudah kembali bercucuran di tubuh Rasya, sekarang ruang tengah sudah kembali tertata dengan sangat rapi


Lalu kemudian Rasya, kembali beranjak membawa langkahnya yang gontai ke dapur sambil membawa sapu, alat pel. Dia mulai berkutat di sana dimulai dengan mencuci perabotan yang numpuk di wastafel.


Rasya memutar kedua bola matanya. "Huuh, pakaian pun belum ku kumpulkan, apalagi di cuci? kapan selesainya pekerjaan ku ini?"


Samudra yang barusaja bangun, berusaha membuka kedua matanya melihat ke arah jendela yang masih tertutup, namun sudah ketara kalau di luar sudah sangat siang.


"Sudah siang? Huam ... ngantuk banget ya Tuhan ..." gumamnya dengan suaranya yang berat khas orang bangun tidur. Lalu menggeliat nikmat sambil terpejam.


Ruuuk ....


Ruuuk ....


Ruuuk ....

__ADS_1


Suara yang datangnya dari perut Samudra, mungkin cacing-cacing di dalam pada demo meminta makan. Tangan Samudra memegangi perutnya yang merilit lapar. "Hah, lapar?"


Dengan malas, Samudra mengibaskan selimutnya bangun, merapikan celananya. Merasakan ada yang mengganjal di dalamnya.


Dengan masih telanjang dada, Samudra turun dan langsung mengayunkan Langkahnya ke kamar mandi untuk membasuk mukanya.


Detik kemudian Samudra berjalan, membawa langkah kakinya ke dapur. Dan netra nya mendapati Rasya sedang berdiri dekat wastafel.


"Bikinkan saya sarapan dan bikinkan kopi pahit terlebih dahulu?" Pinta Samudra dari arah belakang Rasya.


Suara bariton itu mengagetkan Rasya, di saat sedang asyik-asyiknya mencuci perabotan tersebut di wastafel.


Sontak Rasya menoleh ke arah Samudra yang sudah mengagetkan dirinya. "Ha?" menatapi Samudra yang berdiri bertelanjang dada, tepat di belakangnya itu.


"Bikinkan saya sarapan dan kopi pahit terlebih dahulu, kau mendengar tidak ha?" Ulang Samudra dengan nada datar. Menarik kursi lalu mendudukinya.


"Aku bikinkan kopi dulu ya?" pada akhirnya Rasya mengangguk dan mengambil cangkir buat kopi.


"Dengan sarapannya. Saya lapar!" pinta Samudra kembali.


"Nanti saja bikin sarapannya? aku mau bereskan dulu mencuci ya, Tuan." lantas Rasya membuatkan kopi buat Samudra, sang majikan sekaligus yang sekarang berstatus suami.


Sekarang Rasya sudah tau takaran kopi dan gula buat Samudra, sehingga tidak harus bawel bertanya lagi segimana-gimana!


Setelah jadi, Rasya bawakan ke depan Samudra. "Ini kopi nya? aku mau nyuci dulu sebentar!" Rasya langsung meneruskan kegiatannya.


"Saya lapar nya sekarang, belum masaknya, mau kapan lagi?" ucap Samudra kesal sambil menatapi cucian Rasya yang tinggal sedikit lagi itu.


Sebentar Rasya menoleh seraya berkata. "Sebentar ... tanggung sedikit lagi. Dari pada masih numpuk nanti tambah numpuk lagi. Aku juga yang capek, dan aku juga sama kok, lapar. Mendingan minum dulu kopi nya," seru Rasya sambil melanjutkan tugasnya.


"Kau sedang bernegosiasi dengan ku apa? saya minta dibikinkan sarapan. Nanti juga aku minum kopinya, gak bakalan ku buang kok," ucap Samudra dengan nada tinggi sambil menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


Rasya berbalik. "Bu-bukan. Siapa yang bernegosiasi dengan mu sih?" lalu Rasya Buru-buru menyelesaikan kerjaannya dengan tangan sedikit bergetar ....


__ADS_2