Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 89 Ribut


__ADS_3

Sepulangnya Fiona dan Fatir Rasya buru-buru, melanjutkan tugasnya yang tadi terbengkalai dengan segera ia memasak untuk makan siang, takutnya Samudra keburu pulang dan alhamdulillah dengan cepat masakan siap dalam jangka waktu satu jam


Setelah masakan tertata dengan rapi di meja, Rasya memasuki kamarnya untuk menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim.


Selama Rasya berada di kamar. Sam pulang dengan asisten setianya itu. Tiada lain adalah Ubai, untuk makan siang di rumah.


"Kemana nih sepi amat? gak ada kepala satu pun!" ucap Ubai sambil celingukan.


"Kepala-kepala, kepala gundul mu, di dalam pasti nggak mungkin dia pergi," kata Samudra sambil duduk di depan meja makan.


"Enak aja mana ada kepalaku gundul? orang banyak rambut, bagus gini. Ganteng pula." Protes Ubai sambil mengusap rambutnya yang kelimis dan rapi.


"Ganteng kok, sampai sekarang nggak ada ceweknya? apa mungkin gak ada yang mau?" sinis Samudra yang ditunjukkan pada Ubai tentunya.


"Jangan menghina, lihat saja nanti. Pasti aku akan mendapatkan wanita yang tulus mencintaiku yang menerima apa adanya," ucapan Ubai penuh percaya diri.


Prok ....


Prok ....


Prok ....


Samudra bertepuk tangan di atas kepalanya. "Bagus-bagus, semoga secepatnya? saat nanti aku bertunangan, kau sudah punya gandengan ingat itu?" tunjuk Samudra.


"Oke, siapa takut? emangnya wanita di dunia ini cuma satu atau dua saja. Banyak Bos ..." Ubai tidak mau kalah dari omongan Samudra.


"Pegang janjimu ya?" peringatan Samudra. "Udah kita makan lapar nya nih. Lagian kita harus segera balik lagi ke kantor."


"Iya sama, aku juga lapar. Biasanya juga kita makan di luar, di kantin. Restoran, nggak mesti harus pulang! agak jauh," keluh Ubai sambil mengambil piring yang sudah tersedia di sana.


"Ya ... kalau kamu nggak mau ikut? ngapain kamu ikut pulang? gampang kan" tinggal berhenti di restoran, di kantin. Atau warteg, gampang nggak usah ikut pulang, ngapain ikut pulang ke rumahku?" Samudra menatap tajam.


"Iya-iya, sudah nggak usah debat, kita makan saja. Lagian katanya pamali bila debat di depan makanan." Jelas Ubai.

__ADS_1


Lantas keduanya menyantap hidangan yang ada di meja, melahapnya dengan nikmat.


"Sebentar, Bos? sebenarnya ... dari tadi ada yang ingin aku tanyakan," ucap Ubai di sela makannya itu.


Samudra mendongak. "Apa itu? suaranya Samudra kurang jelas. Sebab di mulutnya penuh dengan makanan.


"Tadi pagi ... barang-barang mu ada di kamarnya nona, emangnya semalam ... kau tidur di sana?" tanya Ubai dengan sangat berhati-hati.


"Emangnya kenapa? bukannya aku bisa tidur di mana pun, itu kamarku juga.


Ma-maksud ku ... kamar itu ada di unit ini jadi masih milikku dong. Apa salahnya?" ketus Samudra menatap dengan tajam.


"Bukan begitu, yang ku maksudkan. Kau sering bilang! tidak akan tertarik, tidak akan menyentuh. Terus apa ceritanya kalau kau berdekatan dengan nona Rasya?" jelas Ubai penuh intimidasi.


Samudra sedikit menghentakkan sendok nya ke piring. "Apa sih maksudnya ha? semua ruangan di unit ini adalah milikku, jadi aku berhak mau tidur di mana saja. Duduk di, mana saja. Apa hak mu?" mood makan Samudra terganggu dengan omongan Ubai.


"Maaf, bukan aku mau mencampuri. Tetapi kan itu yang sering kau ucapkan! tidak akan tertarik, tidak akan menyentuh dan semacamnya. Namun yang aku lihat malah kebalikannya. Kau begitu intens dengannya," ucap Ubai menatap penuh kecurigaan.


"Terus kenapa? kalau saya intens dengannya ha?" Samudra tampak tersinggung dengan ucapannya Ubai. Karena memang dia sedikit mengingkari ucapannya sendiri.


Keduanya saling bertukar pandangan dengan tatapan yang sulit diartikan, apalagi Samudra. Rahangnya tampak keras, sepertinya dia menahan rasa kesal di dalam padanya.


Pada akhirnya Ubai berkata. "Oh tidak, biasalah ... kita suka ribut dikit, ck maklumlah."


"Kalian ini bukannya makan, malah ribut. Nggak baik ribut di depan makanan, ayo makan?" lirihnya Rasya, dia menundukkan dirinya tepat di depan Samudra.


Sejenak Ubai terdiam dan menatap ke arah Rasya, yang sedang mengambil buat makan siang ya dengan tatapan yang penuh dengan perasaan.


Samudra melirik ke arah Ubai yang sedang menatap wajah Rasya dengan sangat lekat, Samudra berpikir gimana caranya untuk menghentikan lamunan Ubai .


"Ehem." Dehem Samudra. Membuat Ubai menoleh dan Rasya pun mengangkat wajahnya melihat ke arah Samudra.


Ubai menyendok kanv makan ke mulutnya. "Bagaimana kalau nanti malam kita jalan-jalan tanya Ubai .

__ADS_1


"Jalan-jalan? capek dong celetuk Rasya sambil mesem-mesem.


"Maksudku ... jalan-jalan dengan mobil, kita makan malam di luar," ajaknya Ubai lagi sambil meneruskan makannya.


Sontak Samudra dengan cepat menoleh. "Tidak-tidak. Tidak boleh. Dia itu mau ke rumah Pak RT sama aku, jadi nggak ada jalan-jalan ataupun makan malam di luar," ucap Samudra dengan nada dingin dan tidak suka Ubai mengajak Rasya pergi.


"Ooh. Mau ke rumah pak RT. Ya sudah, aku juga ikutlah itu pun kalau nggak ada acara sih," ungkap ubai kembali.


"Kamu itu lupa ya? kamu ada acara nanti malam, ada meeting. Lupa ya?" tanya Samudra pada Ubai.


"Ha? Hehehe oh iya-ya, kok aku bisa lupa ya?" Ubai menepuk keningnya.


Samudra Mengangguk pelan sambil mengunyah.


"Ada meeting ya? udah kau aja lah, Bos tang meeting! aku istirahat aja," kata Ubai sambil menaik turunkan alisnya.


"Enak saja, kamu juga nantinya bukan mau istirahat, tapi malah jalan sama dia," Samudra menunjuk ke arah Rasya yang asyik menikmati makan siangnya.


Ubai menaikan kedua bahunya. Tangannya memegang gelas yang isinya tandas.


"Iya kan? ku tahu akal bulus mu itu." Samudra menunjuk ke arah hidung Ubai yang menunjukan barisan gigi utuhnya.


"Tuan-Tuan, mau makan apa tidak? kalau tidak! mau aku bereskan, malas aku dengar kalian dari tadi ribut mulu." Rasya berdiri dan bersiap akan membereskan semua piring yang ada di meja tersebut.


"Bawel amat, ini juga tinggal sedikit lagi, dua kali suap juga habis," bantah Samudra sambil memasukkan berapa sendok makan ke mulutnya, hingga piringnya kosong, tinggal sendok dan duri duri dari ikan.


"Tenang, Nona ... ini aku sedang menghabiskan, jangan takut mubazir. Yang tersisa cuma piringnya saja bila perlu sendok nya pun ku makan. Lihat nih." Ubai dengan cepat menghabiskan makanannya tanpa sisa lagi di piring.


Bahkan Ubai menggigit sendok di tangannya itu. Seolah ingin menghabiskan sendok tersebut.


"Jangan-Jangan dong, Tuan ... sendok nya nggak usah dimakan? ada-ada saja deh." Rasya menggelengkan kepalanya.


"Alah ... sok-sok'an debus." Cibir Samudra kepada Ubai ....

__ADS_1


.


.


__ADS_2