Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 161 Di tengah hujan


__ADS_3

Samudra merogoh sakunya mengambil gawai dan langsung menelpon Rasya, tetapi tidak ada yang mengangkat. Bolak-balik pun hasilnya sama, dawai Rasya hanya berdering tanpa jawaban.


"Sial, kemana sih orangnya? gak di angkat lagi?" gerutu Samudra pada gawai yang dia pegang tersebut.


Sementara Rasya yang duduk di sofa. Termenung dengan hati yang tidak karuan dan penasaran dengan yang dibicarakan oleh sang ayah pada Samudra.


Ketika Rasya sedang bengong, melihat kedua orang tuanya masuk kembali dan menutup pintunya. Jelas Rasya merasa! heran kenapa Samudra tidak masuk juga. "Ayah, Bunda. Tuan mudanya mana?"


"Dia ... sudah Ayah suruh pulang, Ayah nggak menerima dia di sini dan jangan kau menemuinya lagi. Ayah tidak," jelas Fathir.


Rasya membelalakkan kedua manik matanya, Rasya tidak percaya dengan apa yang dia dengar. "Tapi, Ayah. Kenapa dia nggak boleh masuk? dan kenapa aku juga nggak boleh menemuinya? Bunda kenapa ayah mengusir tuan muda? bukankah ayah juga yang ingin dia menyusul kita kemari?" Rasya melihat pada sang ayah dan juga bundanya bergantian.


"Sudahlah, Ayah malas membahas itu. Jangan bahas dia lagi, mendingan kita makan malam? lapar nih," Fatir ngeloyor masuk ke dalam.


Viona menyeret pelan bahu Rasya agar masuk. "Sayang? kita makan dulu yu?" ajaknya Viona.


"Tapi Bunda?" Rasya menunjukan wajah yang teramat gelisah.


"Vivian? kenapa kau di sana terus? belum makan lho. Nanti kau sakit?" suara Azam yang baru muncul di tempat tersebut untuk menjemput Rasya.


"Aku, Bunda. Aku ingin bertemu dengan tuan muda? boleh ya bunda?" Rajuk Rasya pada Viona.


"Maafkan Bunda sayang? itu sudah keputusan, ayah. Turuti dulu kemauan ayah ya?" Viona menarik tangan Rasya di ajak ya ke ruang makan.


"Tidak, Bunda ... kasihan tuan muda yang sudah menyusul ke sini? namun pintu pun tidak di bukakan!" suara Rasya bergetar menahan tangis.


Rasya berlari mendekati jendela yang berada dekat pintu. Dan melihat ke arah Samudra yang masih berdiri di teras.


Samudra menoleh ke arah jendela yang ada Rasya mengintipnya. "Sya, ikut dengan ku pulang ke Jakarta?" teriak Samudra.


Rasya menatap nanar pemuda itu dan berusaha membuka kunci pintu, dia ingin keluar menemui Samudra.


"Vivian? jangan temui dia? ayah bilang jangan temui dia!" pinta Fatir pada Vivian.


Rasya menolah. "Ayah, tuan muda yang sudah menolong aku dari juragan Kasmin. Kalau tidak bertemu tuan muda dan tuan Ubai, aku pasti sudah menjadi istri ke lima atau mungkin aku sudah di jual lagi. Biar dia masuk, Ayah?"


"Tidak, Ayah mau dia melepaskan kamu untuk selamanya!" Kata Fatir dengan nada agak keras sehingga terdengar oleh Samudra yang berada di luar.


"Bila perlu, Ayah mau jodohkan kamu dengan seseorang yang lebih baik dari suami mu itu." Lanjut Fatir dengan masih bersuara lantang.


Jelas Samudra mendengar itu, dan merasa terbakar api kecemburuan, dai lihat dari jendela kalau di dalam itu ada Azam.


Tentu, Samudra berpikir kalau yang akan di jodohkan dengan Rasya itu pasti Azam. Kemudian Samudra memekik.


"Om, aku tidak akan melepaskan Rasya sampai kapanpun!" Suaranya keras.


Fatir melirik ke arah sang istri. "Ajak Rasya ke kamarnya? Bawakan juga makannya?"


Kemudian Fatir pun kembali masuk bersama Azam dan Bu Asri. Sementara Viona mengajak Rasya ke kamarnya.


"Bunda? aku gak mau! aku mau bertemu tuan muda?" Rasya menelan saliva nya menahan tangis yang rasanya ingin saat itu juga tumpah.


"Vivian sayang ... turuti dulu kata-kata nya ayah ya? pasti ayah punya alasan yang lebih tepat. Dan ayah juga pasti ingin yang terbaik untuk mu, Nak! sabar ya?" Viona memeluk tubuh putrinya tersebut.

__ADS_1


Rasya membalas pelukan dari sang bunda. Hanya pelukan bundanya yang bisa menenangkan nya kali ini.


"Nanti dibawakan makan ke sini ya? bila kamu gak mau makan di bawah. Jangan lupa makan? bukannya seharian kau belum makan? tadi di jalan juga gak mau makan!" kata Viona sambil membelai rambut putrinya itu.


"Aku gak lapar, Bunda. Oo, oo ..." Rasya merasa mual.


"Nah, kan ..." Viona menganggap Rasya kena lambung. Soalnya seharian putrinya belum makan kecuali makan buah sedikit.


Rasya menunjukan wajahnya nya yang was-was. "Apa aku hamil bunda?"


Viona langsung mesem lalu menggeleng. "Nggak mungkin lah sayang ... kau ini ada-ada saja."


"Kan aku bersuami, Bunda? bisa saja, kan aku hamil?" Rasya menggigit bibir bawahnya, hatinya mulai gelisah.


"Rasya sayang ... kau itu hubungan intimnya kapan? baru sehari bukan? gak mungkin lah secepat itu!" Viona tertawa merasa lucu melihat putranya.


"Bunda. Aku takut hamil, sementara ayah ingin memisahkan aku dengan tuan muda? gimana dong?" Rasya menunjukan wajah cemasnya.


"Kamu jangan khawatir. Gak mungkin putri Bunda hamil begitu cepat. Dengar ya? paling cepat ketahuan hamil itu beberapa Minggu setelah hubungan, bukan baru satu hari!" Viona menjelaskan.


"Hubungan ... yang mana, Bunda? sebenarnya aku sudah sering ber-ciu-man dengan tuan muda. Jadi bisa saja aku hamil kan Bunda!" Rasya ingin meyakinkan diri.


Lagi-lagi Viona menggeleng. "Kalau ciu-man saja gak mungkin hamil sayang, yang buat hamil itu ... berhubungan badan! masa kamu gak mengerti kapan kau berhubungan badan dengan suami?"


"Ooh, itu ... malam ke-marin." jawab Rasya pelan.


"Terus, apa dia langsung menanam benihnya?" Selidik Viona.


"Benih? seperti apa benihnya, Bunda? aku gak tau benih dia seperti apa? dan di ... masukan lewat mana benihnya?" Rasya tidak mengerti dengan yang Viona maksudkan.


"Sudahlah sayang, bahas itu nya nanti ya! sekarang Bunda lapar, nanti kau makan ya? takutnya sakit." Viona mengusap bahu Rasya lalu pergi meninggalkan kamar tersebut.


"Bunda ... kok pertanyaan ku belum di jawab sih? kan aku takut hamil." Rasya sedikit kecewa karena yang dia takutkan dan menjadi pertanyaannya belum viona jawab.


"Nanti saja sayang!" Viona menutup pintu tersebut.


"Emang benih tuan muda seperti apa ya? sehingga berbuah di rahim ku? alias hamil?" gumamnya Rasya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


Tangan Rasya mengusap perutnya. "Jangan sampai aku hamil? aku takut suami ku menceraikan ku!"


Samudra yang kini berada di bawah kamar Rasya mendongak sembari berteriak. "Rasya? dengar aku? kau adalah istri ku ikutlah dengan ku?"


Rasya yang sedang makan pun mendengar suara Samudra langsung mendekati jendela. "Tuan muda?" Rasya berdiri di sana.


"Sya? ikutlah dengan ku! aku tunggu di sini sampai kau turun?" teriakan Samudra meresahkan orang rumah.


Fatir dan yang lain pun mengintip melalui jendela, melihat Samudra yang berada di luar. Tepatnya depan kamar Rasya.


"Anak itu masih di sini, saya mau lihat sampai kapan kau mampu bertahan anak muda!" gumamnya Fatir dalam hati seraya menyunggingkan bibirnya.


"Mas? kenapa gak suruh masuk saja, kasihan! mana di luar dah mulai hujan sayang ... bagaimanapun dia itu suami Rasya, putri kita." Lirih Viona.


"Sudahlah sayang, biarkan saja dia." Fatir menjauhi jendela lalu duduk di sofa ruang tengah.

__ADS_1


"Iya, Ayah. Kasihan tuh ... sudah jauh-jauh datang kok kita perlakukan seperti itu sih, Yah?" Citra ikut berpendapat.


"Citra, kalau hujan. Dia itu bis berteduh dimana saja mobil juga bisa." Fatir dengan nada datar.


"Iih, Ayah jahat! gak kasihan apa sama mbak Rasya? suaminya di gituin sama Ayah!" timpal Citra sambil celingukan dekat jendela melihat Samudra yang berdiri melipat kedua tangannya.


"Citra sayang ... sudah bobo sana? sudah malam. Besok harus sekolah." Titah Fatir pada Citra.


Iya, Citra ... bobo yu sama Oma?" ajak Bu Asri sambil melambaikan tangannya pada Citra.


"Baiklah, Ayah jahat! gak sayang mbak Rasya. Masa sayang kaya gitu? mau pisahkan mereka berdua?" gerutu Citra sambil berjalan bersama Omanya.


Fatir dan Viona menatap punggung anak itu, lalu saling bersitatap satu sama lain.


"Citra benar, Mas ... kita gak--"


"Sayang ... sudah! jangan bicara lagi. Sini duduk dengan ku?" Fatir menepuk sofa yang di dekatnya.


Viona pun membawa langkahnya berjalan mendekati sang suami, duduk di sampingnya.


"Azam sudah pulang?" tanya Fatir pada sang istri.


"Sudah, tadi." Balas Viona.


Di luar, hujan mulai turun dan terdengar begitu deras. Kilatan-kilatan kecil pun tampak cahayanya.


Duar ....


Suara petir terdengar begitu keras. Membuat Rasya yang berdiri dekat jendela dengan refleks berjongkok dan menutup kedua telinga, Ngeri!


"Ya Allah ... aku takut." Gumamnya Rasya. Menoleh pada Samudra yang di bawah masih betah berdiri mematung di tempat. Dengan tangan melipat di dada, padahal hujan pun mulai mengguyur dan membasahi tubuhnya.


"Tuan, kau jangan berdiri saja di situ? kau harus berteduh biar tidak kena hujan!" pekik Rasya dari dalam kamar.


Samudra hanya mendongak melihat ke arah Rasya yang terdengar samar-samar suaranya. maklum dari dalam kamar yang terhalang kaca tebal jendela dan suara hujan yang deras.


"Aku tidak akan beranjak dari sini! sebelum orang tua mu mengijinkan ku bersama dirimu. Biarpun hujan terus mengguyur ku dan petir menyambar ku! aku tidak perduli. Aku harus buktikan keseriusan ku padamu, dan aku tidak akan pernah melepaskan mu apalagi buat orang lain!" balas Samudra dengan suara lantang.


Hati Rasya melengos mendengarnya. "Tuan. Jangan seperti itu? kau harus berteduh nanti kau sakit!"


Samudra yang tubuhnya sudah basah kuyup dan perutnya pun sudah merasa tidak nyaman. Seharian ini memang dai belum makan sama sekali, perutnya benar-benar kosong.


"Aku tidak perduli, sebelum Om Fatir merestui ku menjadi suami mu!" Pekik Samudra kembali.


Pemuda yang mengenakan kemeja putih susu dan celana hitam itu. Mulai tampak kedinginan. Dan perutnya terasa perih melilit, dia terus berdiri di tengah hujan


"Tuan? tolong hentikan? jangan terus di situ!" Rasya terus meminta Samudra untuk berteduh namun tidak Samudra dengarkan.


Akhirnya Rasya turun dan menemui sang ayah agar membicarakan Samudra masuk dan menghentikannya dari hujan ....


.


.

__ADS_1


Ayo dong kasih semangat? lagi bleng nih🙏


__ADS_2