Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 193 Makanan khas


__ADS_3

Kini Rasya dan Samudra tengah berada di sebuah restoran yang masih berada hotel tempatnya menginap. Sedang menikmati makannya malamnya berdua.


"Katanya mau makan di luar? ini restoran masih di dalam hotel! gimana sih?" gerutu nya Rasya memprotes ajakan Samudra yang ternyata masih di hotel itu-itu juga.


Samudra menoleh ke arah Rasya yang sedang ngedumel. "Ini juga di luar bukan? luar kamar?"


"Iya, ini di luar kamar! emangnya kenapa? kan seharusnya bukan di sini" ucap kembali Rasya.


"Ya sudah, berarti aku benar kan? nggak salah kan? kita makan di luar," elak nya Samudra sambil mesem.


"Iya, tapi aku pikir kita sambil jalan-jalan keluar. Cari angin gitu!" sambungnya Rasya sambil mengaduk-aduk makanannya.


"Sudah, makan saja? kita akan jalan-jalan sesudah makan aja," ucap Samudra sembari menyuapi Rasya.


"Em ... punyaku enak sekali? cobalah rasain punya aku ini," kemudian Rasya yang kini balik menyuapi Samudra.


"Enak ... juga." Samudra mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengunyah yang disuapin oleh Rasya barusan.


"Tuan Ubai nggak diajak makan bareng di sini?" Rasya menoleh ke arah Samudra yang sedang menikmati makannya itu.


"Nggak, dia bisa jalan sendiri!" Samudra menggeleng lalu meneguk minuman yang berada di tangannya.


"Kau jahat! setidaknya kan kau mengajak dia juga." Kata Rasya sembari menyuapkan makannya ke mulut.


"Jahat gimana? emangnya aku berbuat apa sama ubai?" ketus Samudra.


"Iya ... karena kamu nggak mengajak dia makan bareng sama kita? orang ada apa-apa? dia yang berada di garda depan! kita mau makan di kamar saja dia yang nyediain, dia yang belikan. Giliran kita yang makan di luar, dia nggak diajak. Bukan nya jahat namanya," ujar Rasya.


"Masa bodoh, biar saja. Mungkin dia juga lagi nggak mau ganggu kita! ayo makannya jangan ngobrol mulu, mau jalan-jalan cari angin." Samudra melihat ke arah piring Rasya yang masih banyak banyak isinya.


"Iya-iya, aku akan segera habiskan makanan nya." Rasya rasa buru-buru menghabiskan makannya itu.


"Nggak buru-buru juga! biasa aja, jangan banyak ngobrol.Malu dilihat orang!" protes Samudra sambil Celingukan melihat kanan-kiri yang kebetulan banyak orang yang sedang makan juga di sana.


"Iih ... makan buru-buru salah, makan pelan-pelan juga salah." Gerutunya Rasya.


"Jangan ngedumel? makan saja! lihat orang-orang? makanya santai tapi cepat habis, gak kayak kamu ini, pelan terlalu pelan. Cepat kecepatan!" tambahnya Samudra.


Beberapa saat kemudian makannya pun selesai, setelah Samudra membayar bil nya. Mereka pun beranjak dari tempat tersebut, berjalan-jalan keluar mencari angin sesuai permintaan dari Rasya.

__ADS_1


Setelah beberapa meter berjalan, Rasya melihat yang jualan ketupat. "Iih ... aku mau deh makan ketempat itu, ketupat kandangan! kok Kandangan sih? apa kondangan?" Rasya menoleh ke arah Samudra.


"Kan itu ada namanya sayang ... ketupat Kandangan! makanan khas Kalimantan, khususnya daerah Banjar ini." Jawabnya Samudra sambil menunjuk kearah papan namanya.


"Ooh beneran? namanya ketupat Kandangan, mau dong," pintanya Rasya sembari memegangi tangan Samudra.


"Boleh, tapi kira-kira dimakan nggak? kan baru saja selesai makan," tanya Samudra malah bertanya dan menatap curiga.


"Dimakan, perut ku masih muat kok," sahutnya Rasya sembari mengusap perutnya.


"Ya sudah, kalau begitu beli saja!" lalu keduanya menghampiri pedagang ketupat Kandangan tersebut, Samudra pun langsung memesannya.


"Pak satu porsi dan jangan terlalu banyak lah, buat nyicip saja kok," pintanya Samudra pada bapak pedagang.


"Baik, sebentar saya buatkan!" si bapak mengangguk dan langsung mengambil mangkuk.


Selanjutnya Rasya menikmati ketupat Kandangan tersebut, dengan nikmat. "Em ... enak sekali lho, mau nggak?" tanya Rasya kepada Samudra dan ingin menyuapinya, namun Samudra tolak karena perutnya masih kenyang.


Dan setelah itu, mereka pun melanjutkan berjalan-jalannya, kembali nikmati suasana malam yang kebetulan nampak indah. Tampak di langit sang rembulan pun bersinar dan ditaburi dengan bintang-bintang yang bekerlipan.


"Apa itu? sop mutiara, apa memang memakai mutiara gitu ya? perhiasan gitu?" tanya Rasya sambil melirik ke arah Samudra.


"He he he tahu aja, aku kedinginan! iya nih boleh nggak cicipi? kayaknya enak tuh, sepertinya menghangatkan badan dan wanginya sampai menyeruak banget menyumbat hidungku," ucap Rasya sembari memejamkan mata dengan menghirup baunya sup tersebut.


Mereka pun berjalan mendekati yang jualan sup mutiara, yang memang wanginya menyeruak masuk ke dalam rongga hidung dan tampak masih mengepul, dan juga banyak pengunjung yang sedang menikmati makanan khas tersebut.


Dan kemudian pesanan Rasya pun sudah siap untuk disantap.


"Mmmmm. Yammy-yammy ... coba kau cicipi diki ...t saja. Rasain, menghangatkan badan nih!" Rasya memaksa Samudra untuk mencicipi sop mutiara tersebut dan dia sendiri yang menyuapinya.


Samudra pun akhirnya membuka mulut dan mencicipi sup itu, emang benar aslinya menghangatkan badan.


Rasya begitu tampak happy, nikmat setiap makanan khas Banjar. Setelah beberapa hari di sana baru kali ini Samudra mengajak Rasya untuk berjalan-jalan ke sekitar hotel.


"Huam ... aku ngantuk, dan menurutku sudah penuh sekali." Rasya berapa kali memberi sinyal agar Samudra mengajaknya untuk pulang.


"Apa kau ingin pulang? maksudku kembali ke kamar hotel?" tanya Samudra yang langsung mendapat anggukan dari Rasya.


"Tapi ... sebentar-sebentar? itu jualan apa lagi? kayaknya enak tuh? apam marabai dan bingka, mau! tapi untuk dimakan nanti di kamar! kalau di sini perutku sudah nggak muat lagi." Pinta Rasya.

__ADS_1


"Gimana gak penuh tuh perut, sedari tadi makan Mulu," timpal Samudra.


"Benar sekali. Kekenyangan banget, sudah makan di restoran terus ketupat Kandangan, terus satu mangkok SOP mutiara, jadinya perutku sudah penuh ... beli yah? nggak apa-apa buat besok juga," Rajuk nya Rasya.


Samudra hanya menggeleng, melihat ke arah sang istri yang bagaikan orang yang baru keluar dari penjara dan mendapat makanan.


Namun Tak ayal Samudra berkata. "Iya-iya ... kita beli keduanya," Samudra dan Rasya berjalan sambil bergandengan ke arah tempat yang dimaksud, dan mereka pun membeli kue itu dengan porsi yang sedang.


"Ini nggak apa-apa, kan pak jika dimakannya besok pagi-pagi? gak bakalan basi gitu? bila dimakannya besok," tanya Rasya pada si bapak penjual.


"Ooh tidak, Mbak. Ini kuat untuk berapa hari juga dan dijamin Mbak sama masnya bakalan tagihan untuk membeli lagi!" jawabnya si bapak dengan ramahnya.


"Ooh gitu ya, Pak? ya udah! bungkuskan saja ya pak? Ini juga termasuk makanan khas Banjar ya Pak?" selidik Rasya.


"Iya, Mbak!" jawabnya si bapak sembil mengangguk dan membungkus makanan yang Rasya pesan.


Sementara Samudra yang berdiri tidak jauh dari tempat tersebut, hanya perhatikan sang istri yang mengobrol dengan sang pedagang.


Dan setelah mendapatkannya mereka pun bersiap kembali ke kamar hotel, mereka berdua berjalan tampak sangat romantis. Rasya bergelayut mesra pada tangan Samudra. Sementara Samudra tangan yang satunya menjinjing makanan khas Banjar tersebut.


"Ooh iya, tahu nggak? makanan yang disebut-sebut orang itu ... kalau nggak salah ... mochi, khas makanan Sukabumi. Aku mau dong?" Rasya mendongak melihat wajah sang suami.


"Nggak tahu, lagian aku nggak pernah ke sana!" jawabnya Samudra dengan ada datar.


"Kira-kira bisa online nggak ya?" Rasya menghentikan langkahnya dan menatap wajah suaminya itu. "Kok aku tiba-tiba pengen makan itu ya? kalau nggak salah isinya itu kacang dan ada berapa macam varian rasa."


"Kau ini seperti orang ngidam saja, makanan mulu yang diomongin!" Ketusnya Samudra.


"Aish ... emangnya orang yang ngidam saja yang suka dengan makanan? setiap orang juga membutuhkan makanan kok, bukan orang ngidam saja! banyak juga wanita yang ngidam nya gak mau makan. Katanya gak mau ini lah, gak mau itu lah! sejenak Rasya terdiam dengan manik mata yang bergerak-gerak.


"Kalau aku ngidam gimana?" Manik mata Rasya yang indah itu menatap ke arah Samudra dengan tatapan yang penuh tanda tanya.


"Gimana apanya? tentunya bila kau hamil itu anak ku? suamimu ini, gimana sih?" Samudra menggeleng pelan.


"Sudah ah, kita pulang?" Rasya menarik tangan Samudra untuk kembali pulang, kebetulan mereka sudah berjalan yang lumayan cukup jauh dari hotel tempatnya menginap ....


.


.

__ADS_1


__ADS_2