
Samudra berpamitan pada Fatir dan Viona yang sudah berada di luar penginapan, sembari menunggu Rasya keluar dari kamarnya.
"Om, saya pamit dulu. Tante?" Samudra mengulurkan tangannya kepada pasangan suami istri tersebut.
Fatir mengangguk dan menyambut tangan Samudra. "Ya, saya pegang janji kamu itu."
Samudra hanya mengangguk dan mengedarkan pandangan pada Viona. Lalu bersalaman dan memeluk wanita itu. "Titip Rasya, Tante?"
"Tante harap, kau tunjukan bila kamu tidak mau kehilangan Rasya ya?" bisik Viona sambil memeluk Samudra.
Samudra tersenyum mendengar ucapan dari Viona. Namun dia tetap bingung. Antara memilih Rasya, meninggalkan Karin wanita yang sangat dia cintai selama ini.
Tangan Samudra memasangkan kaca mata hitam, dan sebelum memasuki mobil nya. Samudra memandangi penginapan tersebut dari depan, tepatnya ke arah kamar Rasya yang tampak sepi. Lalu dia masuk lantas menyalakan mobilnya.
Dengan gesit pemuda itu memutar kemudinya, melarikan jaguar miliknya. Meninggalkan tempat tersebut menuju kota Jakarta. Membawa hati yang gundah gulana tanpa adanya Rasya yang bisa dia bawa pulang ke Jakarta seperti yang dia harapkan.
"Tuan muda mana, Bunda. Ayah?" tanya Rasya kepada orang tuanya karena sekembalinya dia dari kamar mandi, tidak melihat lagi keberadaan Samudra.
"Sudah pulang, baru saja." Jawabnya Viona sembari melirik pada Rasya yang sudah siap untuk pergi.
"Oo!" Rasya hanya membulatkan mulutnya sembari melamun dalam hati.
"Kau udah siap?" tanya Fathir kepada putri nya itu.
"Sudah ayah," Rasya pun mengangguk, kemudian mereka bertiga memasuki mobil Fatir yang sudah dipanaskan sebelumnya.
"Bismillah ..." gumamnya Fatir dan Viona setelah duduk dengan nyaman di dalam mobil tersebut.
Rasya memandangi penginapan tersebut dan mengingat Samudra, yang mungkin sekarang sudah berada jauh dari tempat itu.
Di sepanjang perjalanan, Rasya tidak banyak bicara kecuali ditanya sama Viona dan sang ayah, dia lebih banyak terdiam dan tatapan mata kosong keluar jendela. Tangannya yang memainkan ponsel hanya dibolak-balik tanpa menggunakannya dengan baik.
Dan pada akhirnya dia menyandarkan kepalanya ke jok belakang, lalu memejamkan kedua manik matanya itu.
Selang berapa jam di perjalanan tadi, akhirnya mobil Fatir berhenti di depan rumah mewah milik mereka dan keadaan suasana pun sudah malam.
Di teras, sudah berdiri. Bu asri, Citra dan asisten menyambut kedatangan Fatir dan Viona.
"Ini rumah Bunda sama Ayah?" tanya Rasya melihat keduanya bergantian.
"Iya, ini rumah kami dan rumah kamu juga," Viona mengangguk sembari menunjuk ke rumah mewah tersebut.
"Wah ... besar sekali ... hampir sama dengan mension tuan muda ya?" Rasya mengagumi mewahnya rumah tersebut yang dianggap hampir sama dengan mension miliknya Samudra di Jakarta.
"Nggak, kalau mension Samudra itu lebih mewah ada salon, tempat nge-gym juga, ya ... tentunya lebih besar di sana, kalau di sini nggak ada apa-apanya," ucap Fatir yang di tujukan pada Rasya.
"Ooh gitu ya, Yah?" Rasya mengangguk sembari menarik senyumnya.
"Ayo turun? itu mereka sudah menunggu kita dan itu Oma mamanya Bunda Viona menunjuk pada Bu Asri yang sudah menunggu kedatangan anak mantu dan cucunya itu.
"Assalamu'alaikum ... Mama!" Viona langsung memeluk sang bunda.
"Wa'alaikum salam ... aduh ... kalau itu lama sekali sih?" Bu asri membalas pelukan dari Viona.
Kemudian Fatir mencium tangan Bu Asri sebagai ibu mertuanya. "Ibu Mama sehat? selama kami tinggal?"
"Sehat. Alhamdulillah." Kemudian Bu Asri mengalihkan pandangannya kepada gadis yang datang bersama anak mantunya yang kini sedang berpelukan dengan Citra. Gadis itu memang wajahnya mirip dengan wajah Fatir dan Viona cuma kulitnya agak gelap mungkin kurang perawatan.
"Syukurlah kalau Mama sehat." Lanjut Fatir sambil menyerahkan kunci pada supirnya.
"Ini, Vivian ku yang hilang?" Bu Asri menunjuk pada Rasya.
Viona mengangguk. "Iya Mah. Dia Vivian kita yang hilang." Suara Viona bergetar dan mata pun berkaca-kaca.
Rasya pun mendekati bu Asri sambil bergumam. "Oma?"
"Cucu ku? Vivian ... sudah besar. Cantik pula. Masya Allah ... Vivian?" Bu Asri histeris dan langsung memeluk Rasya dengan sangat erat serta tangisnya pun pecah.
"Oma?" Rasya pelan.
__ADS_1
"Kemana saja kamu Nak ... kenapa baru ketemu sekarang? kamu mencari mu kemana-mana namun tidak kamu ketahui. Kau sudah besar dan cantik." Bu Asri mengusap kedua pipi Rasya sebentar lalu kembali memeluknya.
Suasana tangis haru tersebut, di saksikan oleh Fatir dan Viona dan Citra yang merangkul pinggang sang bunda.
Fatir mengajak Rasya dan Bu Asri melanjutkan kangen-kangenan nya di dalam saja jangan di luar, sudah malam. Baru saja mau melintasi pintu utama, suara mesin mobil atau memang sebuah taksi memasuki pekarangan tersebut.
Keluarlah seorang wanita tua bersama seorang wanita muda, lalu bergegas menghampiri mereka dan langsung menghampiri mereka.
"Mana cucu saya yang hilang itu mana?" suara Bu Afiah mengedarkan pandangan nya terhadap Rasya yang Bu Asri gandeng.
"Ini dia Vivian kita Bu Afiah." Bu Asri menunjuk pada Rasya alias Vivian.
Dan Bu Afiah langsung menjerit histeris seiring dengan pelukan kepada gadis tersebut dengan sangat, tangisnya Bu Afiah pun pecah.
Kini di rumah Viona dihiasi dengan tangis penuh haru, tangis penuh kebahagiaan, bahagia karena seseorang yang selama ini menghilang kini sudah sudah ditemukan.
Sementara Rasya kebingungan, dia tidak tahu dengan sosok Bu Afiah. Siapa dia? dia belum mengetahuinya! beda dengan Bu Asri yang sudah perkenalkan dari awal kalau beliau adalah ibu dari Viona yaitu Oma nya.
Bu Asri dan bu Afiah memeluk Rasya berbarengan dengan tangis yang terus menghiasi pipi di wajah-wajah yang sudah tidak muda lagi itu.
Setelah mereka puas, memeluk dan menangisi gadis tersebut akhirnya mereka duduk di sofa, lalu menyesap minuman yang sudah disiapkan oleh bibi di meja.
"Kalian buat apa menangisi ku sih? aku ini kan belum meninggal sudah ditangisi segala?" ucap Rasya sambil bercanda.
"Kami hanya bahagia! sudah bertemu dengan baby Vivian yang hilang," sahutnya Bu Asri.
"Rasya pasti bingung kan? siapa Oma ini?" kata Viona pada Rasya.
Rasya pun mengangguk. "Iya, Bunda. Aku masih bingung, dia Oma Asri, dan ini?" Rasya menunjuk pada Bu Afiah.
"Beliau ini ... mertuanya, Bunda. Alias ibunya ayah dan itu adik bungsunya ayah, yang namanya Kesya." Viona menjelaskan.
"Jadi tante Hesya ini adiknya Paman Adam dan Paman Sidar ya? Bunda?" Rasya menatap lekat pada Hesya.
"Itu bener banget. Tante Hesya adalah adik bungsu Ayah," Fatir lantas membenarkan perkataan dari sang istri.
"Suami kamu mana Sya?" Fatir mengedarkan pandangannya kepada Hesya.
"Sering ku timang-timang baby Vivian kala itu. Si bayi yang lucu dan menggemaskan sekarang sudah sebesar ini dan secantik ini," Hesya berdecak kagum seraya menatap Rasya dan senyuman di bibirnya yang merekah.
"Tante Hesya ini yang sering mengasuh kamu Sya ... dia pun merasa terpukul ketika kamu hilang, Nak!" Viona memeluk bahu Rasya dengan mata berkaca-kaca.
Rasya tersenyum getir seraya berkata. "Ooh ... jadi ini Tante Hesya yang sering Paman Adam dan paman Sidar ceritakan itu. Tante cantik dan mirip Ayah." Rasya mengalihkan pandangannya pada Fatir yang terus mengulas senyumnya.
"Ahk. Bisa saja, kamu juga cantik sangat. Apalagi kalau lebih terawat, sepertinya kamu belum pandai merawat diri ya? tapi tenang saja, kau pasti dari mulai sekarang akan lebih pandai merawat diri." Hesya merangkul keponakan nya itu.
"Aah ... yang lain cuma perhatikan Mbak Rasya saja. Aku di cuekin." Citra berucap manja. Anak itu sedari tadi bengong dan sesekali mengusap sudut pipinya, merasa ikut terharu.
Seorang Vivian yang di rindukan oleh keluarganya itu. Akhirnya kembali dan berada dia antara keluarga yang sangat amat menyayanginya.
"Emmm ... kamu juga menyayangi kamu Nak ... apalagi kan setiap hari kau bisa beranjak sama kami. Kalau Mbak Rasya belum pernah merasakan perhatian kami semua!" tutur Viona sembari mengusap kepala Citra dengan lembut.
"Bunda ... aku cuma bercanda. Aku juga sayang sama Mbak Rasya, seperti kalian juga." Citra memeluk sang bunda.
Semua tersenyum melihat ke arah Citra, gadis kecil itu emang kadang suka membuat sebel namun kendati demikian dia baik hati dan ramah pada semua orang.
"Oma sa ... ngat bahagia, sekarang cucu Oma dua-duanya sudah berkumpul dan jangan meninggalkan Oma sendirian ya?" Bu Asri begitu tampak bahagia, terpancar dari wajahnya yang begitu sumringah.
"Saya juga sangat bahagia sekali. Akhirnya kita bisa berkumpul seperti ini, padahal rasanya kemarin-kemarin sudah tidak punya harapan lagi untuk kita bertemu dengan baby Vivian." Timpal bu Afiah dengan nada suara yang bergetar terharu bahagia.
Dulu dia sempat berpikir, ya sudah. Doakan saja! mungkin anak itu sudah tiada atau mungkin nggak akan pernah kembali, ataupun bertemu dan berkumpul.
"Iya benar, dulu saya sudah berputus asa tentang baby Vivian yang hilang, namun ternyata Allah menemukan kita kembali. Masya Allah ... sungguh sesuatu yang tidak di duga." Tambah Bu Asri.
"Aku pun sangat bahagia, bisa berkumpul di antara kalian semua," Rasya tersenyum getir dan mengedarkan pandangannya kepada semua anggota keluarga yang ada di sana.
"Justru ini tidak pernah ku bayangkan sebelumnya! karena yang aku tahu keluargaku hanya pak Muhidin dan Bu Karsih, tak pernah berpikir kalau aku bukan anak mereka, apalagi anak orang kaya seperti ini he he he ...."
Semua ikut tersenyum mendengar perkataan dari Rasya.
__ADS_1
"Kami juga sangat bahagia sayang ..." timpalnya Viona sembari melirik ke arah suaminya.
"Mulai besok, kita akan adakan acara syukuran karena Vivian yang hilang sudah kembali di antara kita semua, dan kita akan mengadakan acara syukuran besar-besaran. Iya kan sayang?" Fatir menatap ke arah sang istri yang duduk di antara kedua putrinya, yaitu Vivian dan Citra.
"Tentu, aku pun setuju. Mas kita akan perkenalkan Rasya kepada semua orang, Mas. Inilah baby Vivian yang sempat hilang dulu." Viona sangat menyetujuinya rencana sang suami untuk mengadakan acara syukuran akan kehadiran putri mereka itu.
Selanjutnya mereka mengadakan makan malam bersama, dibarengi dengan canda dan tawa. Jelas tergambar di wajah-wajah mereka yang penuh dengan kebahagiaan.
Selesai makan, Vivian langsung diajak Viona dan yang lainnya untuk ditunjukan kamar dia yang dulu sampai sekarang masih terawat dengan baik. Bahkan sekarang sudah menjelma menjadi kamar seorang putri yang sudah dewasa, bukan kamar seorang baby lagi.
"Wah ... kamarnya bagus sekali! ini kamar buat aku kan?" tanya Rasya seraya melirik ke arah Viona dan juga kepada yang lainnya yang berdiri dekat pintu.
"Iya dong, Mbak. Ini kamar, Mbak dari bayi sampai sekarang! kemarin-kemarin sih masih kamar bayi gitu, tapi karena sudah ada Mbak, kamarnya direnovasi menjadi kamar seorang putri cantik nan jelita," celetuk Citra yang muncul dari belakang tubuh sang bunda.
"Iya sayang, ini kamarmu," sahutnya Viona membenarkan perkataan dari Citra, sambil menunjukan senyuman yang tulus.
"Tau nggak Mbak?"
"Nggak tau!" Rasya memotong kalimat Citra.
"Iih ... dengerin dulu? aku belum Selesai ngomong." protes Citra pada Rasya.
"Iya, he he he ... Mbak dengerin!" Rasya memasang telinga sembari menyingkirkan anak rambut di pipi nya.
"Nggak gitu juga kali ah. Dulu ya? kalau aku main-main di sini itu, suka dilarang sama Ayah dan bunda, nggak bolehin. Katanya takut berantakan! padahal iya sih kalau aku sudah berantakin mainan di sini malas aku beresin, he he he ..." sambungnya Citra di akhiri dengan tertawa.
Rasya pun ikut tersenyum pada Citra yang tiada lain adalah adiknya sendiri.
"Nah ... itu, kalau Citra sudah berantakin semua mainan di kamar ini atau pun di ruangan lain, tidak mau beresin. Namanya tidak bertanggung jawab," kata oma Asri.
"Dan ujung-ujungnya, kalau ada tante Hesya, Tante deh yang kena getahnya harus membereskan satu kamar penuh," timpal Hesya mendukung omongan Bu Asri. sembari menggerakkan tangannya membulat di udara.
Rasya melihat tante Hesya dan berkata. "Ya sudah Tante, biarin saja nggak usah di beresin. Biar dia beresin sendiri. Agar tidak merepotkan orang."
"Mana maunya! yang ada dia malah ngamuk kalau di suruh beresin, beres-beres gak mau! berantakan ogah," sahutnya Hesya sambil melirik ke arah Citra yang menjulurkan lidah padanya.
"Iih ... Tante ... Itu kan dulu. Sekarang mah nggak lagi, aku sekarang suka beres-beres kok sekarang, kan aku sudah bertanggung jawab." Citra menyambar omongan Hesya sembari memainkan alisnya, tangannya memeluk boneka panda yang besar dari tempat tidur Rasya.
"Iya nggak, kali-kali saja suka beresinnya, kebanyakannya gitu deh. Nggak jauh beda," timpa lagi Hesya memutar bola matanya.
"Hah Tante, nggak dukung banget ponakannya ini. Ahk gak asyik deh ..." Citra cemberut.
"Eh Nona ... mau dukung apanya? yang ada kau ini bikin sebel orang kalau sukanya berantakin-berantakin barang." Tambahnya Hesya.
"Sudah-sudah, sudah malam. waktunya tidur. Biarkan Mbak Vivian istirahat di kamarnya ini, oke?" Fiona meraih tangan Citra.
"Iya sayang sekarang kau istirahat dengan tenang di kamar mu ini, tinggal di rumah ini bersama keluargamu yang asli," tutur Oma Asri dengan lembut dan mengusap punggung tangan Rasya.
Dan Bu Afiah mendekati ke arah Rasya. "Sekarang ... kau sudah nyaman, sudah bertemu dengan orang tuamu. Keluarga besar mu yang sesungguhnya, nikmati dan bersyukurlah ya Nak?" Bu Afiah kembali memeluk tubuh Rasya serta mengusap punggungnya dengan lembut.
Wanita tua ini tampak sangat terharu dan lagi-lagi meneteskan air bening dari sudut matanya tang sudah keriput tersebut.
"Terima kasih Om Afiah dan juga Oma Asri? aku jadi ingat sama nenek aku yang sudah tiada! yang dulu menyayangi aku dan memperhatikan aku, tapi usianya tidak lama." Rasya menjadi teringat kepada neneknya yang dulu yang lama sudah tiada.
Hanya nenek itu yang menyayanginya dan memperlakukan dirinya dengan baik, namun sayang di usia Rasya menginjak sekitar sembilan tahun, beliau meninggal. Hanya beliau yang mengasihi Rasya tidak seperti yang lainnya.
Setelah nenek itu meninggal, lengkaplah penderitaan Rasya yang diperlakukan tidak adil oleh keluarga yang lainnya.
Viona mendekat. "Sudah-sudah, sekarang nggak ada sedih-sedihan lagi. Sekarang tinggal menyambut kebahagiaan bersama kami semua, tiada lagi kata sedih atau penderitaan atau juga apapun. Di sini rumahmu!keluargamu ya?" kini Viona yang memeluk erat tubuh Rasya dengan lembut dan penuh keibuan.
Rasya mengangguk pelan dalam pelukan sang Bunda. "Iya Bunda," Riska menghela nafas beberapa kali lalu ia hembuskan dengan teratur. Kemudian Rasya melepaskan diri dari pelukan sang bunda.
"Bunda juga pasti capek, istirahatlah? begitupun dengan Oma-oma. Tante, juga adik Citra, sudah malam! besok kan kita bisa bertemu lagi, dan mau ngobrol bersama," ucapnya Rasya seraya mengedarkan pandangan pada orang-orang yang berada di sana.
Kemudian satu persatu meninggalkan kamar Rasya, tidak lupa mengucapkan selamat tidur dan semoga mimpi indah." kata-kata yang tidak pernah Rasya dengar sebelumnya ....
.
.
__ADS_1
Hai reader ku semua? berhubung semalam itu author remahan ini tidak bisa melawan rasa kantuk, makanya baru bisa up sekarang nih. Semoga kalian masih bisa menikmati karya ku ini🙏