
Motor Adam berhenti di depan sebuah rumah yang lumayan bagus, begitupun mobil Ubai berhenti tidak jauh dari motor tersebut.
"Nah ini rumah saya, dan sebelah itu rumah pak RT, adik saya," ucap Adam menunjuk rumah yang sebelahnya, setelah Rasya dan Ubai berjalan mendekat.
"Ooh, jadi pak RT itu adiknya paman ya?" selidik Rasya sambil melihat rumah sebelah.
"Iya, benar! pak RT adalah adik saya, yu masuk?" Adam berjalan duluan dan memasuki rumahnya.
"Aku gak pa-pa ke sini ya?" tanya lagi Rasya sambil celingukan dan berjalan mengikuti langkahnya Adam.
Ubai pun terus mengikuti namun dia tidak banyak bicara. Melainkan terus saja berjalan.
"Duduk?" saya mau panggil istri saya." Adam masuk ke sebuah ruangan.
Ubai melirik ke arah Rasya. "Nona. Kau ini gimana sih? kita kan mau makan di luar. Kenapa jadi ke sini?"
Rasya menoleh dan malah menunjukan giginya yang putih. Mengedarkan pandangan ke sekitaran.
"Ooh, ini tamunya. Ini yang kemarin kamu nikahkan, Mas? cantik tenan!" suara istri Adam.
"Iya, tapi jangan salah. Suaminya bukan yang ini," sahut Adam sambil menunjukan pada Ubai.
"Oh, aku tak kira dia suaminya." istri Adam sambil mesem.
Rasya mengangguk lalu bersalaman dengan istrinya Adam yang begitu ramah padanya.
"Rasya!" ucap Rasya dengan mengangguk dalam.
"Saya Wiwi. Panggil saja bibi boleh, mbak juga boleh. Istrinya Mas Adam, senang kalian main ke sini." Wiwi begitu senang dengan kedatangan Rasya dan Ubai. Dia langsung ke dapur menyiapkan makanan.
Setelah Adam kasih tahu. Pak RT pun datang dan menyambut Rasya dengan ramah.
"Lho, suami mu mana? gak ikut?" tanya Sidar sambil melihat kanan dan kiri.
"Tidak, tuan sedang ada urusan keluarga. Jadi tidak ikut ke sini." Ubai menjawab pertanyaan Sidar.
"Ooh, begitu! tak apalah." Pak RT menatap lekat ke arah Rasya yang semakin lama kalau di lihat-lihat mirip dengan seseorang yang mereka kenal.
"Sebenarnya. Rasya ini mirip seseorang ya, Mas adam?" Sidar melirik ke arah mas nya.
"Benar, aku ingin bicara itu dari pertama melihat gadis ini. Dar." Adam pun meyakinkan.
Rasya tersenyum. "Masa sih, Paman? aku gak punya saudara jauh kok. Aku cuma orang kampung yang tidak punya saudara di kota!"
__ADS_1
"Emang mirip siapa?" tanya Ubai sambil menyesap minumnya.
"Ada lah, saudara." Singkat Adam yang di benarkan oleh Sidar.
Selanjutnya mereka makan bersama di selingi dengan tawa dan canda. Sebab Adam dan Sidar ada aja obrolan yang bikin tertawa.
Tadinya seperti biasa, cara makan Rasya agak cepat. Namun tiba-tiba teringat pada ucapan Samudra yang bilang. "Kamu itu wanita harus tahu tata cara makan bersama orang, jangan seperti itu, gak sopan!"
Rasya mengedarkan pandangan pada yang lain dan lanjut makan dengan lebih pelan lagi.
"Dar, kau perhatikan ikan ini matanya melotot sama kamu. Kayanya ikan itu nggak mau kamu makan!" ucap Adam sambil menunjukan mata ikan yang melotot itu.
"Justru itu melotot sama kamu, dia gemas ingin nyapluk kamu, Mas." Sidar gak mau kalah.
"Hi hi hi, Paman ini ada-ada saja. Masa ikan dapat goreng bisa makan orang. Ngarang deh!" Rasya terkikik.
"Ini, mas Adam yang ada-ada saja. Non." Sidar menunjuk ke arah Adam yang nyengir.
"Jangan aneh. Mereka berdua emang kaya gitu, Non. Biasa." Kata Wiwi sambil mengibaskan tangannya sambil juga mengunyah.
"Ooh, begitu ya Bi?" Rasya menoleh pada Wiwi.
"Bagus kalau begitu. Jadinya ramai." Timpal Ubai sambil memasukan sendok ke mulutnya.
"Iya, Bi. Insya Allah." Rasya menganggukkan kepalanya.
"Tapi, jangan lupa! bawa suami mu. Bukan pria lain saja, ya Non?" tambah Adam sambil menyudahi makannya.
Keluarga itu tampak sangat menyayangi Rasya, padahal mereka baru kenal. Dan bukan siapa-siapa.
Ubai mengajak Rasya untuk jalan. Kebetulan suasana pun semakin malam.
"Baiklah. Kita pulang dulu lah, makasih atas jamuan nya. Maaf dah merepotkan kalian?" ucap Ubai dengan sopan.
"Oh, tidak apa-apa. Kami senang kok dapat berkumpul dengan kalian, lagian ... makanannya pun tidak seenak yang di restoran." Timpal Adam.
"Enak kok, Paman. Enak dan aku suka kok." Rasya menjawab dengan cepat.
"Lain kali. kita makannya di rumah Paman Sidar ya?" akunya Sidar yang di tujukan pada Rasya.
"Iya, Paman. Makasih ya? kalian baik sekali padaku! padahal kalian itu baru ku kenal." Rasya menatap mereka dengan tatapan nanar. Terharu dengan kebaikan keluarga yang baru ia kenal, beda jauh dengan keluarganya sendiri.
Kemudian Ubai dan Rasya keluar dari rumah tersebut. Mereka antar sampai teras dan Rasya menepuk Wiwi dan bersalaman dengan Adam dan Sidar.
__ADS_1
"Kita mau langsung pulang kan, Tuan?" tanya Rasya melirik ke arah Ubai setelah duduk di dalam mobil.
"Em ... kita jalan-jalan aja dulu, biar Nona hafal jalan kalau mau ke luar dari apartemen, seperti mau belanja atau kemana gitu." Ubai melirik sekilas.
"Ooh. Baiklah." Manik Rasya celingukan melihat-lihat jalan. Sepertinya yang Ubai bilang.
"Eh. Tuan sudah pulang belum ya? ke apartemen," batin Rasya teringat pada Samudra yang belum kembali semenjak siang pergi.
"Kenapa, Apa ada yang Nona pikirkan?" tanya Ubai melirik sekilas. lalu kembali fokus melihat ke depan.
"Em, tidak. Cuman tuan muda sudah pulang belum ya?" Rasya menatap ke arah Ubai menunggu jawaban.
"Dia itu sekarang ada di mension. Bertemu orang tua nya yang baru datang dari Bali," ungkap Ubai sambil terus menyetir. Lalu berhenti di depan tukang jagung bakar.
"Ooh, begitu?" gumamnya Rasya.
"Mau gak jagung bakar?" tawar Ubai pada Rasya yang melihat ke arah lain
"Mau-mau, aku suka. Sudah lama gak makan jagung bakar," sahut Rasya dengan cepat.
Ubai memesan jagung bakar dua untuk Rasya dan dirinya. Dan juga sekalian minumnya, dua gelas juse buah.
"Makasih,Tuan Ubai?" mengambil yang Ubai berikan. Langsung di makan semasih hangat.
"Sama-sama." Ubai sejenak menatap ke arah Rasya, di tatapnya sangat lekat.
Sementara Rasya asyik makan jagung dan sesekali menyesap minumannya.
Lalu Ubai mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Menyembunyikan perasannya yang dag-dig-dug tidak karuan.
Rasya menoleh pada Ubai yang bengong dan jagungnya masih utuh. "Lho. Kok gak di makan sih Tuan? enak lho? Oya berapa ini harganya?"
"Oh, itu lima belas ribu persatu." Jawab Ubai.
Rasya kaget bukan main. "Di kampung segitu dapat lima kilo, Tuan ... mahal banget ya, tahu gitu BEI mentahnya saja?" Rasya menatap jagung yang sedang dia makan.
Ubai menggeleng. Namun ponselnya berdering, satu kali Ubai biarkan. Berdering kembali tanpa jeda ....
.
.
Bagi yang sudah baca! Jangan lupa like komen dan vote nya juga sebagai dukungan pada yang nulis ya🙏
__ADS_1