
"Semakin lama, semakin cantik juga manis. Sayang banget kalau harus dimiliki sama orang lain! enak saja, dia kan milikku. Gadis satu miliar ku sudah aku nikmati, jadi tidak ada yang akan memilikinya selain diriku." Batinnya Samudra sambil terus menatap dengan intens ke arah Rasya yang mengenakan gaun pengantin berwarna pastel bernuansa abu-abu.
"Wah ... putri Bunda sangat cantik sekali, apalagi nanti kalau sudah dia make up nya. Sekarang saja dah terlihat sangat cantik, ya kan Mah?" Viona melirik ke arah sang Bunda yaitu Bu Asri yang anteng memandangi Rasya.
Gadis yang dari balita hilang itu tampak sangat cantik, dan kecantikannya tidak jauh dari sang Bunda, Viona. Apalagi kalau dirinya terawat sedari kecil, pasti gadis itu lebih terawat.
Bu asli menoleh pada Viona seraya mengangguk pelan. "Bunda mu benar, kau sangat anggun sekali. Manis! coba dari dulu nggak kejadian hilang segala? tubuhmu pasti lebih terawat dengan baik, gumamnya Bu Asri.
"Kalian kenapa sih? melihat ku seperti itu? aku jadi malu tahu dipandangi begitu," Rasya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Karena ... kau itu terlihat sangat cantik dan kamu sukses menyihir kami semua yang mengagumi dirimu. "Kata Viona dengan ada mengagumi.
Begitupun dengan orang-orang yang berada di butik tersebut, mereka semua tersenyum mengagumi dan membenarkan perkataan dari Viona.
"Nona sangatlah cantik, belum di make up pun sangat cantik. Apalagi nanti! pasti nilainya plus plus," ungkap designer dan asisten desainer.
"Aduh Mbak ... gak usah memuji begitu! nanti hidungku terbang gimana? kalau terbang aku nggak punya lagi," jawabnya Rasya sekena nya saja.
"Ya ... Tidak apa-apa kalau terbang! ya tangkap saja, Nona. Apalagi suaminya tuh tinggi. Jadi bisa menangkap hidung, Nona. Bila terbang. He he he ..." timpalnya seorang asisten desainer tersebut.
"Mana ada hidung terbang? dan kehilangan hidung juga? kecuali dipotong dulu itu hidung, barulah hilang." Ketusnya Samudra sembari mengambil setelan pengantinnya yang asisten desainer berikan.
"Dasar, kau itu nggak tahu peribahasa!" cibirnya Rasya sambil memajukan bibirnya.
"Sepertinya saya kurang cocok deh dengan setelan ini, warnanya terlalu mencolok dan akan kurang nyaman ketika dikenakan nantinya, mendingan saya ngambil dari Jakarta saja dari langganan. Saya nggak jadi ngambil dari sini." Samudra langsung memberikan setelannya kepada asisten desainer.
"Coba dulu? kenapa sih, belum apa-apa dah bilang nggak cocok! kau memalukan sekali," bisiknya Rasya pada Samudra.
"Lho, ya sah-sah saja dong. Aku mau bilang cocok atau enggak, aku kan konsumen yang bebas untuk memilih," ucap Samudra dengan nada dinginnya.
"Tapi, kan belum dicoba dulu. Kalau sudah dicoba, baru bilang gak cocok atau enggaknya. Ini baru dipegang! sudaj bilang gak cocok, gimana sih?" protes dari Rasya kembali.
Asisten dan desainernya hanya tersenyum melihat Rasya dan Samudra yang berdebat, bagi mereka mau ngambil atau enggak atau menggunakan jasa mereka ataupun tidak. Tidak akan menjadi masalah.
Viona mendekati dan melerai keduanya. "Sudah-sudah, jangan berdebat ahk, kalau nggak beli di sini juga nggak apa-apa, gak jadi masalah kok sayang. Gak apa-apa, mungkin Sam sudah memang merasa cocok dan nyaman dengan desainer langganannya di Jakarta. Jadi gak perlu dipermasalahkan." Viona menatap keduanya bergantian.
"Bukan begitu Bunda, omongannya itu lho, yang nggak enak di dengar," lirihnya Rasya pada sang Bunda yang membela Samudra.
"Sudah, nggak apa-apa! tidak akan jadi masalah kok, ya kan Mbak?" Viona melirik desainer dan asistennya yang menunjukan senyuman ramahnya.
"Ooh tidak apa-apa, kami kan cuma menawarkan dan konsumen mau membeli atau tidak. Cocok tidak cocok itu hal biasa, kan hak mereka! jadi tidak apa-apa," kata desainer dengan nada kata-kata yang ramah.
__ADS_1
"Tuh kan ... sayang, bener nggak apa-apa," ucap Viona kepada putrinya tersebut.
"Tuh, kan Sayang. Nggak apa-apa, kau saja yang ribut." Timpal Samudra sambil mendudukkan dirinya di sofa yang ada di sana tepatnya di samping bu Asri.
"Terus gimana dengan gaun pengantin wanitanya? mau ditambah payet atau hiasan lain atau gimana?" desainer tersebut bertanya kepada Viona.
"Gimana Sayang? mau di tambah lagi gak payet dan hiasan lainnya?" Viona menatap ke arah putrinya itu.
Sejenak Rasya terdiam memandangi gaun pengantinnya yang sudah berada di patung kembali. Lalu melihat ke arah Viona, lanjut ke arah desainer.
"Aku pengen dadanya agak lebih tinggi dan payetnya ditambah, serta ... di bahu ada pitanya juga. Aku rasa itu dadanya terlalu rendah," ungkapnya Rasya.
"Ya, saya setuju, kalau dadanya terlalu rendah dan terlalu mengekspos." Samudra menyetujui pandangan dari Rasya. Dia kurang setuju kalau bagian terlalu terbuka, sebab itu hanya dia yang boleh leluasa melihatnya.
"Iya, Bunda juga setuju kalau dadanya itu terlalu rendah, jadi baiknya di tambah dengan kain kansa." Timpal Viona sambil memandangi gaun tersebut.
"Kalau menurut Oma sih ... sedang-sedang saja ah. Gak terlalu gimana-gimana, jadi tampak cantik di Vivian." Menurut Bu Asri yang malah menyukai kerah yang rendah tersebut.
"Nggak, Oma ... ini terlalu rendah." Rasya menggelengkan kepalanya pelan.
"Jadi, gimana? Cuma itu saja?" tanya desainer menatap ke arah yang bersangkutan yaitu Rasya.
"Aku rasa, ya segitu aja cukup." Rasya mengangguk.
"Aku mau ke apotek terdekat dulu ya sebentar?" Samudra melirik ke arah Rasya yang lihat-lihat pakaian yang ada di sekitarnya.
"Lama gak?" tanya Rasya menatap pria itu.
"Sebentar! lagian apoteknya ada di sebelah sana, cuma terhalang dua gedung kalau gak salah!" Samudra menunjuk ke arah luar.
"Baiklah. Pergi saja." Rasya setuju.
"Oke." Sebelum pergi, Samudra mencium pipi Rasya terlebih dahulu dengan singkat.
Kemudian Samudra mengayunkan langkahnya keluar dari tempat tersebut. Setelah Samudra pergi, Rasya pun menghampiri sang bunda dan Omanya.
"Bun, tampak cantik deh?" puji Rasya pada sang bunda yang sedang fitting gaun untuk nanti resepsi.
"Kalau, Oma. Gimana cantik nggak dengan gaun ini?" punyanya Bu Asri kepada Rasya.
Kedua netra mata Rasya melihat ke arah bu Asri dari atas sampai bawah. "Kalau menurut aku sih ... Oma sangat cantik dengan gaun itu, tapi ... lebih cantik ini." Rasya menunjuk gaun yang masih ada di patung.
__ADS_1
"Tapi itu untuk orang yang lebih muda Rasya ... bukan seperti Oma," timpal Viona kepada putrinya sambil menyentuh gaun tersebut.
Rasya berjalan ke arah gaun yang satu lagi. "Em ... yang ini saja Oma, yang ini lebih kalem warnanya."
"Terus, kalau menurut mu bagaimana, Vi?" Bu Asri bertanya pada Viona sambil mengambil gaun yang Rasya berikan.
"Kalau menurut ku sih ... yang Sadang Mama coba cantik dan ini lebih cantik lagi." Viona menatap ke arah bundanya.
Kemudian Bu Asri mencoba gaun yang direkomendasikan oleh Rasya, dan nyatanya emang lebih nyaman dan lebih kalem warnanya. Serta tampak anggun biarpun sudah tua.
"Oma itu lebih cantik dengan gaun yang sekarang kan Bunda? Bunda saja pasti setuju?" Rasya menoleh pada sang Bunda.
Yang langsung disambut dengan anggukan oleh Viona. "Iya, Bunda juga setuju lebih cantik yang sekarang ya!"
"Oya, Samudra mana sayang?" tanya Viona sambil celingukan mencari keberadaan samudra yang tidak ada di tempat itu tersebut.
"Em ... dia mau ke apotek sebentar. Bilangnya sih nggak akan lama," sahutnya Rasya.
Beberapa saat kemudian, mereka pun selesai dengan memilih dan memilah gaun untuk acaranya nanti dan sekarang mereka bersiap untuk pulang.
Dan terbuat sebuah kesepakatan walau waktunya masih direncanakan, namun tetap gaun pengantin diusahakan harus lebih cepat.
"Kelau begitu kami pulang dulu! dan nanti kami beri kabar tentang waktunya kapan? dan sebisanya gaun cepat diselesaikan, takutnya waktu resepsi lebih cepat dilaksanakannya." ucap Viona kepada desainer disebut.
"Oke! akan kami kerjakan secepatnya dan kami tunggu infonya," sang desainer mengangguk setuju.
Semuanya berjabat tangan, lalu ketiganya keluar dari tempat tersebut yang bernama Alifa butik.
"Dimana suamimu? kok nggak ada?" tanya Bu Asri setelah berada dekat mobil Samudra.
Kepala Rasya pun planga-plongo mencari keberadaan suaminya. "Iya, Oma. Kok nggak ada ya? kemana sih tuh orang?"
"Kalau apotek itu ... di sebelah sana! apa Sam ke sana sayang?" tanya Viona kepada Rasya sambil menunjuk ke arah apotek yang berada di seberang.
"Aku nggak tahu apotek mana Bunda, tapi yang dibilang sih katanya di sebelah. Kalau itu, kan di seberang." Rasya menggelengkan kepalanya tanda kalau dia tidak tahu.
"Hem ..." Viona mengembuskan nafasnya dengan panjang. Lalu dia berdiri di pinggir jalan sambil merogoh tas jinjingnya untuk mengambil ponsel.
Tiba-tiba ketika berdiri di situ, ada sebuah motor yang melesat dengan cepat sangat tinggi dari arah kiri ....
.
__ADS_1
.