Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 84 Nanti menyesal


__ADS_3

Samudra menghela napas panjang, lalu melanjutkan niatnya untuk mandi. "Mandi ah. Aku harus menenangkan yang satu ini, dari semalam terjaga terus. Nggak mau kompromi banget nih." Samudra membawa langkahnya ke kamar.


"Masa sih gue harus meluapkan hasrat ini pada gadis itu? lah nanti gue gak perjaka lagi dong, kalau melakukannya dengan Karin? akh dasar-dasar, dasar minta di guyur nih." Gerutu Samudra sambil melucuti pakaiannya.


Sepersekian detik kemudian. Samudra berdiri di bawah kucuran air shower yang hangat. Air yang hangat mengepul asapnya. Samudra sengaja membiarkan dirinya lebih lama berada di sana sambil menunggu sesuatu merasa tenang, yang semakin ke sini sering gelisah apalagi berdekatan dengan Rasya.


Padahal apa sih yang menggoda dari Rasya? biasa aja. Penampilannya sederhana! tidak terlalu menonjolkan sesuatu. Beda dengan Karin yang penampilannya selalu seksi dan terbuka. Menggoda iman setiap yang memandang.


Setelah puas dan tenang. Samudra keluar dengan kimono nya. Tampak Rasya sedang menyiapkan pakaian nya di atas tempat tidur, jendela sudah nampak terbuka dan kamar sudah rapi sarta bersih.


"Apa gue terlalu lama di kamar mandi ya?" gumamnya Samudra sambil membuka kimono nya.


"Eeh ... jangan di buka dulu?" Rasya menutup kedua matanya dengan jari-jari yang terbuka.


"Nggak usah di tutup kali ... kalau terbuka begitu?" Samudra sambil berjalan mendekat.


Rasya mengundur diri, dengan niat mau menyiapkan sarapan.


"Mau ke mana?" tanya Samudra ketika Rasya membalikan badannya.


"Ke dapur!" tanpa hentikan langkah nya, Rasya terus berjalan mendekati pintu.


"Nanti lah! bantu aku dulu!" cegah Samudra.


Langkah Rasya berhenti dan menoleh ke arah Samudra. "Apa lagi sih? suruh aku menonton anda berpakaian bukan?"


"Ck, ngeres pikirannya." Samudra menggeleng sambil mengenakan pakaiannya tanpa canggung di hadapan Rasya juga.


Rasya memunggungi Samudra. "Dasar ... gak punya malu!"


Sesaat kemudian. Samudra sudah berpakaian dan tinggal jas, dasi, sepatu. Dan kini sedang mengenakan kaos kakinya.


"Berbalik? pasangkan dasi." Jelas Samudra


Rasya berbalik dan mengambilkan sepatu Samudra. Samudra kini sedang berada di depan cermin memakai minyak rambut dan menyemprotkan lagi parfumnya ke seluruh badan. Pelembab wajah.


Rasya berdiri tidak jauh dari Samudra, dengan dasi di tangan. Kemudian mendekat setelah Samudra berbalik. "Bisa gak sih? membungkuk sedikit! terlalu tinggi."


"Heeh ... makanya punya badan itu tinggi!" ketus Samudra sambil sedikit membungkuk.

__ADS_1


"Lah, Tuhan ciptakan nya segini, gimana? bukankah kata anda juga aku harus bersyukur? adanya begini ya sudah." Ungkap Rasya sambil merapikan dasi. Lantas memakaikan jasnya.


Sementara Samudra merapikan rambutnya dengan sisir.


"Sudah. Aku mau ke dapur dulu, apa mau sarapan di luar?" Rasya menatap sekilas, hatinya menjadi malu mengingat semalam dia peluk-peluk pria itu.


"Sana. Buatkan nasi goreng udang," pinta Samudra.


Rasya mendongak. "Lho, kan alergi?"


"Nggak. Kemarin aku gak kenapa-napa, buruan nanti kesiangan!" Samudra menggercapkan kepalanya menunjuk pintu dengan dagunya.


"Awas ya? kalau alergi, aku tidak bertanggung jawab." Rasya ngeloyor keluar kamar Samudra.


Bibir Samudra hanya tersenyum. Melihat punggung Rasya sampai menghilang di balik pintu.


Rasya berkutat di dapur, menyiapkan nasi goreng udang kecap dan ceplok telur nya.


"Ehem, wanginya sampai ke depan." Suara Ubai dari belakang Rasya.


Rasya kaget dan sontak melihat ke arah sumber suara. "Eh, Tuan Ubai."


"Pagi Nona?" Ubai mengangguk dan melihat yang kerjakan.


"Iya, mau mau ke anak cabang sama tuan muda mu itu. Sudah bangun belum?" Ubai melirik ke arah kamar Samudra.


"Sudah. Masih di kamar tapi," sahut Rasya sambil menuangkan nasi goreng menjadi beberapa bagian.


Lanjut bikin telor mata sapi yang matang di atasnya diberi taburan bawang goreng.


"Apa semalam, dia ngamuk?" selidik Ubai pengen tau saja.


Rasya menoleh lalu menggeleng seraya mengingat kejadian semalam. "Tidak."


"Ngomongin apa tuh?" suara bariton datang menghampiri mereka berdua.


"Nggak, kau sudah siap? rapi banget?" Ubai menatap penampilan Samudra yang sangat formal jauh dari kata santai yang biasa kadang Samudra tunjukan, sebelum Rasya berada di sana.


Sarapan pun di mulai, namun Ubai terheran-heran melihat Samudra memakan nasi goreng yang jelas-jelas memakai udang.

__ADS_1


"Bos, sadar?" Ubai memandangi ke arah Samudra yang lahap menikmati sarapannya.


"Kenapa?" tanya Samudra setelah meneguk minumnya.


"Itu, udang?" Ubai menunjuk udang yang di dalam sendok.


"Iya, emang kenapa?" Samudra melanjutkan makannya dengan sangat lahap.


Ubai mengalihkan pandangannya pada Rasya yang asyik makan.


"Nona, kenapa tuan di berikan nb Adi goreng udang?" Ubai tidak habis pikir, padahal sudah diperingatkan, kalau Samudra tidak boleh makan udang.


"Em, Tuan yang minta kok. Jadi aku bikinkan." Rasya menaikan bahunya.


"Sudah, jangan banyak bicara. Makan saja! kita harus segera berangkat." Samudra tidak perduli dengan Ubai, yang jelas dia ingin menikmati masakan Rasya.


Ubai hanya bengong dan tidak berkata-kata lagi selain melanjutkan makannya.


"Oya, eskrim nya sudah ku pesankan, tinggal tunggu saja datangnya." Samudra menoleh pada Rasya sang kini sedang menuangkan air minum ke dalam gelas.


Rasya pun mengagerakan maniknya. "Iya, makasih?"


Bibir Ubai tersenyum. Dia bisa menyimpulkan kalau Samudra membelikan Rasya eskrim.


"Acara apa nih? pake traktir eskrim segala? apa semalam dia sesuatu?" Ubai menatap curiga.


"Mau tahu aja!" ketus Samudra sambil menempelkan bahunya ke sandaran kursi.


"Semalam, Tuan jahat, marah-marah mulu. Membandingkan ku dengan kekasihnya." Celetuk Rasya sambil Mendudukkan diri di tempat semula.


Ubai mengalihkan pandangannya pada Samudra "Jangan dong ... bagaimana pun kalian berbeda dan punya kelebihan dan kekurangan masing-masing."


"Ngomong apa sih? kau sendirian pasti bisa menilai." Samudra beranjak dari duduknya sambil mengusap mulutnya dengan tisu.


Ubai menyusul langkah Samudra. Dan setelah berada di luar. "Lalu aku yang jadi dirimu, tentu aku akan memilih orang sudah jelas-jelas sudah menjadi istri."


Samudra menunjuk pada Ubai sehingga langkahnya terhenti. "Yang jadi kekasih ku, itu jelas-jelas sudah ku tau asal-usulnya, dan ku tau sifat nya, baik dan buruknya. Sementara dia? aku belum mengenalnya!"


Mereka berdua berdiri di depan pintu yang sudah tertutup itu.

__ADS_1


"Kau tahu? sekarang ini kalian sedang dalam masa proses pengenalan. Bahkan luar dan dalam nya bisa kau lakukan, toh sudah halal kok. Sudah ku bilang, jangan terlalu galak! nanti kau menyesal." Jelas Ubai dengan nada penuh serius.


"Kau tidak tahu artinya cinta. Makanya sampai sekarang kau jomblo terus, cari perempuan yang bisa bikin kau jatuh cinta. Biar kau tau gimana rasanya! gue cinta mati sama Karin dan itu bukan baru satu atau dua tahun saja, sudah lebih dari itu." Samudra menunjuk dada Ubai ....


__ADS_2