
Samudra dan Rasya saling bertatapan dengan sangat lekat. Rasya penasaran dengan apa yang akan di katakan Samudra pada semua orang tentang dirinya.
Tentang hubungan mereka berdua, akankah Samudra mengatakan yang sebenarnya?
Tangan Samudra satunya menyentuh pipi Rasya dengan ibu jarinya sangat lembut, lalu bergerak ke tengkuk. Dengan tiba-tiba! Samudra mencium bibir Rasya di hadapan semua orang.
Semua orang yang berada di sana, terutama pemuda-pemudi menjerit histeris ketika melihat Samudra mencium bibir Rasya, seolah mengatakan kalau Rasya itu adalah miliknya.
Manik mata Rasya melotot ketika bibir Samudra menempel di bibirnya, dan ciuman itu bukan dengan singkat! tetapi berlangsung beberapa saat. Seolah menikmati tautan tersebut.
Samudra sengaja mencium Rasya dihadapan orang banyak, karena ingin menunjukan kalau Rasya hanya miliknya, miliknya seorang. Dia tidak perduli kalau yang dia lakukan ini akan berakibat patal, akan rencana pernikahannya dengan Karin.
Sebab dia tidak memikirkan Karin sedikitpun, apalagi dikala sedang bersama Rasya. Di tambak dengan sentuhan intim seperti ini. Samudra seakan lupa bahwa dia mencintai Karin dan beberapa hari lagi akan menikah.
Kemudian Rasya sadar kalau yang Samudra lakukan itu tidak benar! apalagi ditempat terbuka seperti ini, Rasya berusaha menjauh dari wajah Samudra yang nyosor, berusaha tetap menempelkan bibirnya itu. Samudra tidak perduli sama orang-orang banyak yang terus memperhatikan. "Lepaskan aku?"
Pada akhirnya Samudra pun melepaskan Rasya sembari mengusap bibirnya yang lembab. Dengan tatapan yang puas ke arah gadis itu yang kini berwajah merah menahan malu. Dengan kejadian ini tak akan ada lagi pemuda yang akan mendekati Rasya.
"Karena Rasya hanya milik Samudra seorang!" batin Samudra sambil tersenyum puas.
Kini giliran Rasya yang menarik tangan Samudra untuk menjauh dari tempat tersebut. Saat ini mereka berdiri di tempat yang lengah dari orang-orang banyak.
"Kenapa, Tuan melakukan itu nggak tahu tahu ini di tempat orang banyak? buta apa ha? aku malu kenapa melakukan itu?" Rasya mendongak menatap pemuda itu yang justru tampak senang.
"Emangnya kenapa? bukankah Kau adalah istriku? jadi wajar dong jika saya melakukan itu sama istri sendiri? kecuali istri orang?" sahut Samudra dengan santainya.
"Wajar? wajar kau bilang! wajar apanya ha? malu tau gak? apa kau tidak punya malu ha? mencium ku di depan orang banyak punya malu nggak?" suara Rasya memekik tertahan, dia tampak marah pada Samudra yang sudah berani-beraninya mencium dia di tempat orang sebanyak itu.
Samudra menatap datar pada gadis itu. "Kenapa kau marah? seharusnya kalau mau marah tadi, ketika aku sedang mencium mu. Bukan sekarang setelah menikmatinya." Kilah Samudra.
Rasya menatap nanar pada samudra yang ia pikir tidak mengerti perasaannya. Gak tau kondisi memperlakukan seenaknya.
Kedua orang tua mereka berdua terkaget-kaget melihat pemandangan tersebut. Terutama orang tua Samudra yang tidak menyangka kalau putra semata wayangnya itu berani berbuat hal yang tidak terpuji seperti itu di hadapan orang banyak.
Pak Suyoto meradang melihat kelakuan Samudra seperti itu, sementara dia sebentar lagi mau menikah dengan tunangannya, Karin.
"Samudra gak punya malu. Berbuat tidak senonoh di hadapan banyak orang," ucap pak Suyoto dengan nada kesal dan marah.
"Bukannya Papa setuju kalau Rasya jadi mantu kita?" timpal Bu Riska dengan suara pelan.
"Tapi bukan begitu caranya, Mah! ini mencoreng muka kita, detik kemudian akan ramai di media." Pak Suyoto menghela nafas kecewa.
"Mau gimana lagi, Pah? sudah terlanjur, kita tidak bisa apa-apa lagi," ucap Bu Riska dengan nada lesu.
Alisa dan suami kaget bukan main, menyaksikan perlakuan Samudra pada Rasya yang berciuman di hadapan orang banyak.
"Aku tidak menyangka kalau pemuda itu berani benar mencium Vivian di hadapan orang banyak, emang siapa dia? kekasihnya atau siapanya?" Kata Alisa.
"Entah, Mas juga tidak tahu." Darma menggelengkan kepalanya. Dia pun kecewa dengan pemandangan itu.
Fatir sangat kecewa dengan yang Samudra lakukan pada putrinya tersebut. "Samudra benar-benar tidak dapat dipercaya! dia sudah membuat malu keluarga kita. Aku kecewa sangat-sangat kecewa," ungkap Fatir sambil melengos pergi.
Viona menatap sendu, sang suami yang pergi meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
"Vi, gimana ini? kau biarkan bertemu dicium orang harapan orang banyak? kau diam saja melihat putrimu dilecehkan sama pemuda itu?" tegur Bu asik pada Viona dengan apa yang sudah dia lihat.
"Bukannya membiarkan, Bu. Tapi aku bisa apa di sini? sedangkan mereka di sana," belanya Viona.
"Seharusnya aku cegah dong ...
jangan sampai terjadi sepert ini bikin malu keluarga, ini mencoreng muka kita, Vi." Bu Asri tampaknya kecewa.
"Sabar, Bu Asri sabar?" Bu Afiah mencoba menenangkan Bu Asri seraya tangannya mengusap dada besannya itu dengan lembut.
"Gimana mau tenang, Bu Afiah? ini sudah menyangkut nama baik keluarga. Saya kecewa," Bu Asri memperlihatkan wajah sedihnya dan kecewanya.
"Iya sabar, Bu." Lirihnya Bu Afiah yang terus menenangkan besannya tersebut.
"Aku minta maaf, Bu? aku minta maaf?" Viona menggenggam kedua tangan sang Bunda.
Pak Suyoto menghampiri samudra yang sedang berada di sebuah ruangan bersama Rasya dan sepertinya sedang berada mulut.
"Kamu apa-apaan Sam? kamu tidak tahu malu apa? yang kamu lakukan itu akan mencoreng muka kami, mencoreng nama baik kita semua." Pak Suyoto langsung ngejudge putranya tersebut.
Sontak Samudra menoleh pada sang Ayah yang datang-datang, langsung menghakiminya itu.
"Kau tidak tahu yang kamu lakukan? itu akan berakibat fatal pada nama baik-baik kita semua Sam! pernikahan kamu yang tinggal sebentar lagi pun akan kena imbasnya, apa pernah kau memikirkan perasaan tunangan bila melihat kejadian itu?" pak Suyoto menunjuk-nunjuk ke arah Samudra dengan tatapan sangat tajam.
"Pah Aku bisa jelaskan ini semua Pah," jawabnya Samudra.
"Saya tidak menyangka jika kamu berani-beraninya melakukan itu di tempat umum itu. Ini lihat? lihat?" pak Suyoto memberikan ponselnya kepada Samudra, menunjukan berita dan gambar yang menyebar luas di media sosial, berciumannya Samudra dengan seorang wanita.
Samudra menatap layar ponsel sang ayah. Hanya dengan sekejap mata berita itu langsung menyebar di media sosial. Seorang pengusaha muda mencium seorang gadis di acara ulang tahun gadis tersebut, kalau sekedar mencium pipi itu masih di anggap wajar, tetapi ini bukan di situ, sudah lebih menyangkut dari kehormatan.
"Jangan-jangan. Kau bukan baru sekali ini melakukannya, Sam? apa kau sering melakukannya di apartemen apalagi di sana kalian cuma berduaan?" Pak Suyoto menatap curiga kepada putranya itu.
Samudra tampak gugup, dia menatap ke arah sang Bunda yang juga menatap curiga kepada dirinya. Lalu Samudra melihat ke arah papanya. "Pah, sebenarnya aku, iya benar. Tapi a-aku--"
Plak-plak. Plak, pak Suyoto beberapa kali menampar pipi Samudra sampai Samudra terhuyung, memegangi kedua pipinya yang terasa panas dan sakit.
"Kurang ajar kau, tak punya malu tidak berakhlak, kalau sudah menodai anak gadis orang?" Suaranya penuh dengan amarah, dia pikir Samudra juga sudah meniduri Rasya yang kini notabenenya putri dari sahabatnya itu.
"Aku bisa jelaskan Pah, aku akan jelaskan." Akunya Samudra sambil tetap memegangi kedua pipinya.
Bu Riska yang berada di sana kaget, termasuk Rasya, Pak Suyoto ingin kembali menghajar putranya, Samudra. Namun Rasya dengan cepat menghalangi.
"Om jangan, Om! jangan sakiti dia lagi, ini juga salahku, Om." Rasya memohon kepada Pak Suyoto agar tidak menghajar lagi Samudra.
"Papa? apa-apaan sih? jangan gitu juga, kan bisa dibicarakan dengan baik-baik," ucap Bu Riska seraya menarik tangan pak Suyoto agar sedikit memberi jarak.
"Gimana mah? itu sudah terjadi lihat beritanya! sudah menyebar di media sosial. Gambar putra kita nampang jelas di sana, tetapi bukan karena prestasi lagi berbuat mesum," pak Suyoto memberikan ponselnya kepada bu Riska.
Dengan segera Bu Riska mengambilnya dan melihat yang ada di ponsel tersebut, benar saja! berita tentang pengusaha muda dengan beraninya mempertontonkan ciumannya panasnya di hadapan orang banyak, gambarnya pun terpampang begitu jelas wajah sang putra dengan Rasya.
Bu Riska mendadak lemas berita di media itu lebih cepat dibandingkan omongan orang. Wajahnya bu Riska tampak sedih. "Itu memang sekedar ciuman, namun masalahnya ditonton orang banyak sehingga menyebar ke media sosial.
"Sekarang kamu mau jelaskan apa Samudra? beritanya sudah menyebar di media, nama baikmu. Bahkan rencana pernikahanmu tentunya terancam berakibat buruk. Apa pernah kau pikirkan? mentang-mentang kau tinggal berdua di apartemen dengan gadis itu, sehingga sehingga kau dengan bebas melakukan apapun terhadap dia?" pak Suyoto tak elak menunjuk kepada Rasya.
__ADS_1
Kini Viona dan Bu Asri juga Bu Bu Afiah sudah berada di ruangan tersebut, Viona kaget dan dibuat terheran-heran melihat samudra memegangi kedua pipinya.
"Ada apa ini?" tanya Viona, lalu mendekati Rasya. "Ada apa ini sayang? kenapa kau menangis?"
Rasya menggeleng pelan, lalu melihat ke arah Samudra yang sedang meringis, dengan rasa tidak tega Rasya berucap lirih pada Samudra dan memegangi tangannya. "Aku obati dulu ya?"
Kedua netra samudra menatap ke arah wajah Rasya yang basah dengan air mata, kemudian Rasya mengajaknya ke atas, namun baru berapa langkah! suara pak Suyoto menghentikan langkah mereka berdua.
"Tunggu? jangan pergi dulu!sebelum kau jelaskan semuanya kepada Papa, Sam, Rasya, kalian duduk?" pak Suyoto menyuruh keduanya untuk duduk.
"Ada apa ini? kenapa kalian ribut-ribut?" tanya Viona yang merasa heran, apa penyebabnya? karena kalau masalah ciuman saja gak usah dibikin ribut kayak gini, apalagi di luar masih banyak orang.
"Apa kau tidak tahu, Jeng. Bila putri mu melakukan suatu dengan putra ku? apalagi di apartemen mereka cuma berdua! apa kau tidak curiga sama sekali? ataupun mengikhlaskan nya?" kata bu Riska kepada Viona.
Viona tidak segera menjawab perkataan dari Bu Riska, yang memang belum mengetahui kalau Sam dan Rasya sudah menikah.
"Saya sebagai seorang ayah dari Rasya, tentunya saya tidak rela!saya tidak ikhlas jika putri saya diperlakukan yang tidak-tidak, saya kecewa dengan Sam yang tidak dapat dipercaya." Suara Fatir yang baru saja datang ke tempat tersebut.
"Nah, kan? pasti itu. Pasti kamu tidak akan rela Putri kamu digituin sama laki-laki bejat semacam dia," pak Suyoto nada bicaranya menggebu-gebu dengan kemarahan. Dia mengerti perasaan seorang ayah, mana ada orang tua yang anaknya di lecehkan oleh pria. Apalagi bukan muhrimnya, yang paling jadi bikin meradang itu lho di depan orang banyaknya.
"Yang saya tidak relakan, Samudra ingin menduakan putri saya!simple yang saya mau. Kalau memang mau memilih putri saya? kenapa harus melangsungkan pertunangan bahkan sebentar lagi meraka menikah." Ungkap Fatir.
"Maksud kamu apa, mendua-mendua? menduakan gimana? saya jadi bingung," tanya pak Suyoto. Begitupun dengan bu Riska, dia sangat penasaran dengan omongan Fatir. Netra nya Bu Riska begitu penuh dengan beberapa pertanyaan.
Kini semuanya berkumpul di tempat tersebut. Rasya yang tidak jauh dari Samudra duduk tampak gusar, begitupun Samudra sesekali meringis, namun Citra segera datang membawakan obat yang dimintai oleh Rasya itu. Rasya mengolesi kedua pipi Samudra dengan obat, yang sudah tampak merah akibat lukisan telapak tangan dari sang ayah.
"Pelan-pelan?" pinta Samudra pada Rasya yang malah sengaja sedikit menekan jarinya tersebut di pipinya.
"Tanyakan saja sama putramu itu! tanyakan kebenarannya seperti apa?" jawabnya Fatir sembari mengalihkan pandangan ke arah Samudra dan Rasya.
Pak Suyoto melihat ke arah Fatir dan Samudra bergantian, kemudian dia mencoba memulai pembicaraan dengan sedikit menurunkan nadanya.
"Sam, jelaskan pada Papa sekarang juga. Sebelum semua terlanjur lebih jauh?" pinta pak Suyoto kepada Samudra yang sedang di obati pipinya oleh Rasya.
"Kau ini, sebentar lagi mau menikah! apa kata Karin setelah melihat berita itu? apa kau tidak memikirkan perasaannya gimana?" timpal bu Riska yang menatap kecewa kepada putranya.
Samudra menoleh kepada orang tua nya dengan tatapan yang sulit di artikan. Sam menghela nafas panjang seraya dia berkata. "Aku memikirkannya tapi ini sudah terlanjur," jawabnya.
"Kenapa harus ada kata terlanjur, Sam? kau sudah berjanji pada Om pada Tante. Bahwa kau tidak akan pernah menyentuh Rasya sebelum kau membuat keputusan yang benar." Fatir dibuat semakin kesal pada Samudra.
"Jujur, saya semakin bingung sebenarnya ada apa sih dibalik ini semua? sebenarnya ada apa antara kamu dan Rasya itu? ada hubungan apa? cerita dong sama Mama jangan bikin kami bingung begini?" Bu Riska semakin bingung dan menatap putranya dengan penuh harap.
"Ngomong, Sam. Jangan kau diam terus berlaga tidak mengerti apa-apa? apa yang sudah kau lakukan pada Rasya selama ini? jangan sampai semakin membuat orang tuamu kalang kabut! sebab ulahmu yang bikin kami malu, malu semalam-malunya," desak Pak Suyoto sambari berdiri, berjalan mondar-mandir. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin mendengar kebenaran dari putranya.
Kini giliran Samudra yang kebingungan, haruskah bercerita sekarang kepada orang tuanya? atau akan tetap diam? sementara diam terus juga nggak mungkin! karena mereka akan terus menekan dirinya untuk jujur.
"Sebenarnya. Mereka berdua sudah menikah, Mas. Mbak dan saya berdua yang sudah menikahkannya mereka berdua, kami yang menjadi saksinya atas dasar desakan warga. Karena mereka hidup berdua di apartemen, satu atap tanpa ikatan apapun," celetuknya Adam dan Sidar bergantian.
Semua mata mengalihkan pandangannya kepada Adam dan Sidar, yang baru saja datang di ruangan tersebut dan merasa greget melihat Samudra yang sulit mengakui kepada orang tua nya! kalau mereka berdua sudah menikah.
Akhirnya, Samudra tidak harus berkata panjang ataupun menceritakan kebenarannya. Karena Adam dan Sidar sudah mewakili apa yang seharusnya diungkapkan ....
.
__ADS_1
.
Mana nih like komen dan vote hadiahnya.🙏