
"Mulai sekarang ... aku harus bisa melupakan dia dan kenangan dengannya, aku harus berusaha menjadi orang yang lebih baik! aku akan banyak belajar agar menjadi orang yang mandiri dan pintar. Iya benar! aku akan belajar lagi, jangan sampai aku menjadi seorang wanita yang bodoh."
Rasya angkat tangannya tanda semangat, lalu menghembuskan nafas dengan panjang. Lantas meninggalkan kamar mandi tersebut untuk segera beristirahat, menyongsong hari esok yang lebih baik.
"Ayo Rasya, kau semangat! lupakan semuanya, lupakan masa lalu mu. Fokus ke depan demi kebahagiaanmu! ayo Rasya semua semangat." Sebelum berbaring Rasya mengangkat tangannya tanda semangat.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, untuk Rasya memejamkan kedua matanya. Menyebut mimpi indah di malam ini.
Pagi-pagi buta, bahkan sebelum subuh Rasya sudah terbangun! sudah mandi dan menjalankan salat subuh. Setelah itu dia berolahraga di pekarangan rumah ditemani oleh sang adik, Citra.
Rasya berlari-lari kecil bersama sang adik. Mencari kebugaran dan membuang semua pikiran yang terus berjubel di otak kanannya itu, Rasya ingin melupakan Samudra yang kini sudah bahagia. Menurut Rasya.
"Kak sudah yu? lari-larinya, capek nih. Haus! lagian aku mau sekolah," pinta Citra yang berlari kecil bersama sang kakak.
"Ya sudah aja, kalau kamu mau sekolah. Sana mandi!" sahutnya Rasya sambil menunjuk ke arah belakang.
"Huuuh ... capek ya berolahraga itu? membuang energi kita." Citra menghentikan langkah cepatnya sambil sempoyongan, mendekati kursi panjang yang tersedia air mineral di sana.
Karena sudah merasa capek dan keringat pun sudah bercucuran. Rasya memilih untuk menghentikan berlari kecilnya, sambil mendekati sang adik yang duduk di kursi panjang dan menikmati minumnya.
"Kakak itu, berlari bukan cuma untuk mencari kebugaran atau berolahraga--" Citra menggantung perkataannya.
"Tapi?" Rasya menoleh pada citra yang mengenakan pakaian training warna ping itu sambil menyesap minumnya.
"Tapi ... untuk berlari dari kenyataan ha ha ha ..." anak itu berdiri lalu meninggalkan rasa sendirian.
"Iih ... apaan sih? nggak lucu banget deh ..." Rasya menggeleng sambil tersenyum garing.
Sepersekian waktu kemudian, Rasya masuki kediamannya tersebut dengan botol minuman di tangan, dan sebelum naik ke lantai atas. Sang bunda sudah menyapa.
"Met pagi sayang ... sudah selesai olahraganya?" tanya sang Bunda.
Rasya menoleh ke arah sang bunda, yang berada di dekat meja makan sedang menyiapkan sarapan. "Eeh, Bunda? pagi juga! iya. Aku mau mandi dulu, nanti setelah mandi aku bantu Bunda untuk menyiapkan sarapan, sekarang aku mandi dulu ya Bunda."
Viona menatap punggung sang putri sulungnya itu yang menaiki tangga, dengan berjalan cepat setengah berlari menuju kamarnya. Bibir Viona tersenyum bahagia melihat keceriaan anak gadisnya itu.
Tidak lama kemudian, Rasya pun kembali dengan tubuh yang tampak segar. Wajah yang ceria walaupun agak sendu yang diakibatkan semalam sulit tidur dan menangis, yang tidak diketahui oleh siapapun.
"Mana yang bisa ku kerjakan Bunda? apakah nasi goreng ini sudah dibumbui?" Rasya langsung menghampiri wajan yang berisi nasi goreng.
"Ooh, itu belum. Kamu mau bumbui? boleh ... sekali-sekali Bunda pengen ngerasain masakan mu dong ..." jawab Viona terus tersenyum, sebuah senyuman di bibirnya yang gak pernah pudar.
"Boleh, lagian aku sering mau masak kok, cuma bibi dan Bunda sendiri yang suka melarang aku masak. Iya kan?" Balas Rasya sambil memberi bumbu nasi goreng yang ada di hadapannya itu.
Sejenak Rasya melamun, dia menatapi ke arah nasi goreng yang ada di wajan tersebut, dia menjadi teringat sama Samudra yang sering minta dibuatkan nasi goreng padanya.
Namun dengan cepat, Rasya menepis kenangan tersebut bersama Samudra. Dengan cara menggelengkan kepalanya dengan kasar, lalu segera melanjutkan aktivitasnya.
"Em ... yamy-yamy ... sepertinya bumbunya sudah pas nih, Bun? Rasya mencicipi nasi goreng yang ia bumbui. Lalu mengambilkan sedikit di sendok untuk sang bunda. "Buka mulutnya Bunda? Aa ...."
"Mmm ... beneran enak. Pinter deh putri Bunda." Viona merangkul bahu Rasya sesaat.
"Em ... sekarang apa lagi yang harus aku kerjakan?" Rasya menoleh kembali pada sang Bunda.
"Apa lagi ya? semuanya sudah selesai, tinggal nasinya saja dituangkan ke piring-piring yang sudah tersedia di meja," ucap Viona sambil celingukan, karena yang harus dimasak sudah selesai. Tinggal menyajikannya saja di meja makan.
Kini Citra sudah berada di meja makan, Bu Asri. Fatir apalagi Viona yang sedang menyodorkan. minumnya pada masing-masing yang ada di meja makan tersebut.
"Bunda, Ayah. Bisa nggak kalau aku belajar lagi?" tanya Rasya seraya menatap kedua orang tuanya, di sela-sela mengunyah di mulut.
Viona dan Fatir saling pandang, begitupun dengan Citra dan Bu Asri.
"Serius, sayang pengen sekolah lagi? tanya Viona yang dengan lembutnya kepada Rasya.
Rasya mengangguk. "Iya, Bun. Tetapi aku cuma tamatan SD, terus aku sekarang kalau sekolah masuk apa? Rasya kebingungan sendiri.
"Kalau pengen belajar lagi? berarti Rasya kejar paket b terus c nantinya," timpal Fatir yang ikut bahagia mendengar putri sulung nya itu pengen belajar lagi.
"Beneran, Yah? aku bisa sekolah lagi?" selidiknya Rasya memandangi sang ayah.
__ADS_1
"Tentu, bisa. Kenapa nggak? selagi ada kemauan pasti banyak jalan dan ayah akan sangat mendukung jika Rasya ini mau belajar lagi." Sambungnya Fatir.
"Kira-kira berapa tahun? kalau kejar paket seperti itu, Ayah?" tanya Rasya kembali, penasaran.
"Paling ... 1 tahun," jawabnya Fatir.
"Dan kamu kalau mau? bisa tuh kursus tata boga biar kau lebih mahir dalam membuat kue," timpal sang Bunda kepada Rasya.
"Bener tuh kata bunda mu, Oma pun setuju jika kamu ikutan paket dan juga kursus tata boga." Bu Asri begitu mendukung bela sang cucu mau belajar lagi.
"Aku mau Bunda, belajar paket juga khusus tata boga, siapa tahu nanti aku ada minat usaha di bidang makanan, iya kan?" Rasya menatap ke arah sang Bunda dengan tatapan yang penuh harapan.
"Kalau begitu, besok kita daftar paket b ya Mas?" Viona menoleh ke arah sang suami.
"Besok gak bisa sayang. Kita harus mengambil hasil DNA dan ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan Samudra sambil meminta kejelasan tentang status mu Rasya," ungkap nya Fatir.
"Oh, iya. Kita mau mengambil haail DNA, iya bener." Viona menunjukan rona wajahnya yang bahagia karena hasil DNA keluar. dengan itu mereka bisa lebih memastikan kalau Rasya adalah darah dagingnya.
Rasya terdiam dan menunjukan senyum dingin nya. Namun ada rasa bahagia juga dengan ke Jakarta, dia bisa bertemu dengan Samudra dan sosok Ubai yang dapat ia ajak bicara.
"Kalau mau daftar hari ini saja. Sama bunda, Ayah mau ke luar kota hari ini!" Fatir mengarahkan kembali pandangannya pada Rasya yang sedang memasukan sendok ke mulutnya.
"Aku ... gimana bunda saja lah." Rasya melirik ke arah Viona.
"Hari ini boleh, Kenapa nggak?" kata Viona. "Oh ya, kenapa gak homeschooling saja ya, Mas?"
"Apa itu Bunda?" Rasya penasaran.
"Balajar di rumah Mbak. Sebuah pendidikan yang bisa dilakukan di rumah, jadi kita nggak harus capek-capek keluar rumah untuk sekolah," ujar Citra.
Yang mendapat anggukan dari kedua orang tua nya. Membenarkan perkataan dari Citra tersebut.
"Gurunya? datang ke rumah gitu?" tanya Rasya pada Citra.
"Gurunya dari kejauhan, Mbak. Namanya online." Tambah Citra.
"Ooh ... gitu ya? tapi Mbak ingin banyakan ahk. Biar banyak temani kalau di rumah ... berarti sendiri saja." Gumamnya Rasya sambil menyudahi makannya.
"Em .... aku paket saja Bunda. Biar bisa ketemu orang banyak." Jawabnya Rasya dengan sangat yakin.
"Kalau begitu ... daftar sama bunda ya?" Fatir percayakan itu pada sang istri.
"Oma ikut akh, bosan di rumah terus! boleh ya Oma ikut kalian?" Oma Asri berharap pada Viona permintaannya di kabulkan.
"Boleh, Mama ... ikut sama kita," Viona mengangguk pelan.
"Citra mau berangkat sekolah ahk," ucap Citra sambil berdiri menyoren tas nya dan menghabiskan susunya.
Lantas Citra meraih tangan vion dan Fatir bergantian. Viona merapikan kerudung anak itu yang miring.
"Hati-hati ya? belajar yang bener. Yang rajin ... biar pintar dan menjadi orang yang berguna bagi Nusa dan bangsa. Juga selalu membanggakan kami semua," Viona mencium pucuk kepala putri keduanya itu.
"Assalamu'alaikum ..." ucap Citra.
"Wa'alaikumus salam ..." jawab semuanya berbarengan.
"Assalamu'alaikum?" ulang Citra.
"Wa'alaikumus salam ...jawab kembali Rasya dan yang lainnya.
"He he he ..." Citra pun berlalu dari tempat tersebut. Menghampiri mobil yang biasa mengantarnya sekolah.
"Dasar, anak itu ada saja ulahnya." Bu Asri mesem-mesem melihat tingkah Citra yang terkadang membuat sebal.
Kemudian Fatir beranjak, setelah meneguk air minumnya sampai tandas. "Aku pergi dulu ya? ke kedai, soal Vivian urus saja gimana maunya dan sepertinya aku pulang agak malam. Nanti sekalian aja siap-siap buat besok berangkat, ya? ucap Fatir kepada sang istri dan Rasya.
"Baiklah, hati-hati ya? nanti aku hubungi kamu kalau ada masalah apa gitu." Lantas Viona mencium tangan suaminya penuh hormat. Fatir pun mencium kening Viona dengan mesra.
"Sya, Ayah pergi dulu. Nanti sama bunda daftar paket dan kursusnya." Fatir mengecup pucuk kepala Rasya.
__ADS_1
"Iya, Ayah." Rasya mengangguk serta mencium tangan sang ayah.
Kemudian Fatir berpamitan pada Bu Asri. "Mah aku pergi dulu?" Fatir mencium tangan Bu Asri.
"Iya hati-hati." Bu Asri singkat dan mengusap bahu sang mantu.
Pada siang hari, Viona mengajak Vivian untuk mendaftar paket b dan juga tempat kursus tata boga, dan Rasya tampak senang. Sebab, sekarang dia akan mempunyai kegiatan yang positif.
Sore hari Rasya memilih untuk menyendiri di taman, melamun memandangi bunga-bunga yang sedang bermekaran.
"Suka bunga ya?" suara seorang pria dari belakang Rasya.
Sontak Rasya menoleh pada sumber suara. Dan ternyata dia Azam, sedang berdiri memegangi buket bunga mawar merah yang indah.
"Kau, Azam ngapain Di sini?" tanya Rasya dengan nada datar.
"Emangnya gak boleh ya saya main ke sini?" tanya balik Azam menatap begitu lekat ka arah Rasya.
Deti kemudian Rasya pun tersenyum. "Oh ... boleh, boleh kok."
Azam pun mendudukkan dirinya di sampingnya Rasya, tangannya memberikan buket bunga yang dia bawa. "Kalau di taman, bunganya cuma bisa dipandang dicium. Kalau dipetik kan sayang, dan aku sudah bawakan ini untuk kau bawa ke dalam kamar, sekalian untuk kau kenang siapa yang memberikan."
Rasya menatapi bunga tersebut dengan bibir tersenyum indah. Lalu perlahan dia mengambilnya. "Terima kasih? sudah repot-repot!padahal sayang lho ... nanti kan mubazir."
"Tidak apa-apa, yang penting membuat mu senang dulu. Membuat mu tersenyum dulu, soal mubazir itu kan setelah bosan dipandangnya nanti," kata Azam sampai mengedarkan pandangannya ke sekitar.
"Ooh iya, kata Tante ... kau mau kejar paket ya? juga kursus tata boga, masakan dan kue?" tanya Azam seraya melirik ke arah Rasya, dia memulai obrolan agar dia dan dirinya lebih dekat.
"Ooh, iya. Aku ingin belajar karena aku udah sangat ketinggalan! pendidikan orang minimal SMA sementara aku cuma SD." Rasya menunjukan senyumnya dan mencium bunga yang ada di dalam pelukan.
"Itu bagus, aku dukung kamu! karena hakikatnya mencari ilmu itu. Tidak ada batasnya, carilah ilmu sampai kalian lahat, yang artinya ... walaupun kita sudah tua misalnya, masih diwajibkan untuk mencari ilmu." Azam berujar demikian, karena dia pun masih mengenyam pendidikan S 1 di Surabaya.
"Iya benar, makanya aku pengen belajar lagi. Dulu juga aku pengen kok melanjutkan sekolah tapi karena keadaan ... jadinya ya begitulah," Rasya menggoyangkan kedua bahunya.
"Sudahlah, gak usah dikenang masa-masa sulit seperti itu, yang penting ... sekarang apa sih yang akan membuat kamu menderita? saat ini kau tinggal bersama orang tua kandung dan materi pun tidak akan kekurangan, apa pun yang kamu mau ... insya Allah akan tercapai," ucap Azam sembari menyentuh tangan Rasya.
Rasya mengalihkan pandangannya kepada tangan Azam yang menyentuh tangan dia, dan Azam langsung menyingkirkannya, menjauh dari gadis tersebut.
"Sorry? oh ya, gimana hubunganmu dengan Samudra sekarang? kapan dia akan menceraikan mu!" selidik pemuda tersebut.
"Ha? nggak tahu lanjutannya gimana? aku nggak tahu," kepala Rasya menggeleng.
"Em ... gimana kalau nanti malam, kita jalan yu? kalau gak mau makan cari jajanan gitu! mau nggak! jangan di rumah terus, agar kamu tahu dunia sekitar." Tawarnya Azam.
Sejenak Rasya terdiam dan menautkan keningnya. "Eeh ... aku harus minta izin dulu sama Bunda, boleh atau nggak nya aku pergi. Emang bener sih aku orangnya nggak tahu apa-apa, nggak tahu dunia sekitar." Balas Rasya sembari menunjukkan senyum tipisnya.
"Makanya kamu harus banyak-banyak keluar, Biar tahu dunia sekitarnya gimana!" ungkap Azam.
"Iya, itu bener. Aku juga ingin seperti itu, makasih ya bila kamu mau menemani ku jalan-jalan," ucap Rasya menatap ke arah Azam.
"Tentu, aku siap mengantar mu kemana pun. Oke, sekarang berhubung sebentar lagi mau Maghrib. Kita masuk yu? sekalian minta ijin sama Tante." Azam beranjak dari duduknya berdiri di depan Rasya.
Sejenak Rasya menatap langit yang tampak merah itu, kemudian dia pun beranjak tidak pemberian dari azam.
Keduanya berjalan memasuki kediaman Rasya. Dan Azam yang langsung menemui Viona untuk meminta ijin kalau Rasya mau diajak jalan-jalan.
"Tante, aku mau minta ijin kalau Rasya mau di ajak jalan-jalan." Azam menatap ke arah Viona.
"Oya, mau di ajak jalan ya? boleh ajak juga Citra ya?" Viona langsung memberi ijin pada Azam.
"Apa Bun? Citra mau di ajak kemana?" sambar Citra yang mendengar namanya di sebut-sebut oleh sang bunda.
"Ini sayang ... kak Azam mau mengajak mbak Rasya jalan-jalan, kamu temani ya?" pinta Viona sembari menatap ke arah Citra.
"Ok, Bunda! aku akan dengan senang hati menemani mbak Rasya." Citra dengan senang hati.
Setelah itu Rasya menunaikan salat Maghrib terlebih dahulu. Sebelum bersiap untuk pergi jalan bersama Azam ....
.
__ADS_1
.