Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 194 Takut


__ADS_3

Saat ini Samudra dan Rasya juga Ubai sudah berada di dalam bandara Syamsudin Noor. Bersiap-siap untuk pulang, dan terbang kembali ke Jakarta.


"Copet? copet? aku kecopetan tolong ... aku kena copet?" teriak seorang wanita yang masih muda.


Ubai dan Samudra yang mendengarnya langsung menoleh ke sumber suara begitupun dengan orang-orang yang ada di sana, namun yang lain tidak berani bertindak apa-apa. Hanya Ubai dan Samudra saja yang garcep menghampiri wanita yang tengah berlari dan mungkin sedang mengejar orang yang dia anggap copet.


"Mana copetnya, Mbak? mana?" tanya keduanya dan wanita itu dengan nafas yang ngos-ngosan menunjuk ke sebelah sana dan memang ada kelihatan orang yang sedang berlari, dan dengan cepat Ubai berusaha mengejar orang tersebut.


Geph. Tangan Ubai menangkap bahu orang yang disangka copet tersebut dan orang itu langsung melawan menangkis tangannya Ubai. Tetapi dengan lebih cepat pula tangan Ubai menangkap tangan orang tersebut ke belakang dan memiting leher orang tersebut.


"Kembalikan apa yang kau ambil dari wanita itu? kembalikan bentaknya ubay kepada orang tersebut.


"I-iya, a-ampun? am-ampun!" suaranya terbata-bata. Akibat pitingan tangan Ubai yang cukup kuat di lehernya orang itu.


"Buruan? kembalikan? cari kerja itu yang halal, bukannya yang haram seperti ini, punya orang kau embat segala! nggak punya malu apa? apa harus di viral kan dulu biar kamu punya malu ha?" Ubai semakin menguatkan pitingan tangannya yang membuat orang itu meringis.


"Iya ampun, ampun-ampun? lepaskan saya?" suara orang itu yang minta dilepaskan.


Kemudian Ubai sedikit memudarkan pitingan nya itu. Memberi ruang nafas untuk orang tersebut.


Dan orang itu pun memberikan sebuah dompet yang diperkirakan milik wanita tadi. Seiring datangnya keamanan di sana, Ubai segera menyerahkan orang tersebut ke pihak keamanan setempat.


Sementara dia sendiri membawa dompet yang barusan, hendak diberikan kepada pemiliknya. Yaitu wanita muda yang tadi teriak copet.


"Gimana Bai? sudah dapat tempatnya?" tanya Samudra kepada Ubai yang baru saja datang dari mengalahkan copet.


Samudra tidak jadi ikut mengejar, karena dia khawatir dengan Rasya dan dia hanya mengajak wanita tersebut untuk duduk bersama dirinya dan Rasya.


"Sudah, Sudah aku dapatkan. Dan orangnya sudah ditangkap sama keamanan! benarkah ini dompet, Nona?" Ubai menunjukkan dompet pada wanita muda tersebut.


Wanita tersebut berdiri dan langsung menganggukkan kepalanya. "Iya, itu milikku! terima kasih Tuan? terima kasih kau telah menolongku!" wanita itu langsung mengambil dompet dan mengecek isinya.


"Gimana? apakah ada yang hilang?" tanya Ubai pada gadis tersebut! Samudra dan Rasya ikut penasaran, melihat ke arah dompet yang dipegangnya itu.


"Alhamdulillah, isinya masih komplit. Sekali lagi makasih ya? Tuan ... makasih banyak?" lagi-lagi gadis tersebut mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya atas pertolongan Ubai.


"Iya sama-sama, Nona!" Ubai mengangguk pelan.


"Wah ... Tuan Ubai hebat, bisa menangkap penjahat. Bisa mengalahkan copet, wih ... hebat sekali, aku bangga padamu, Tuan Ubai." Rasya bertepuk tangan sebagai rasa kagumnya kepada Ubai.

__ADS_1


"Iih, apaan sih? norak! malu dilihat orang." Bisikan Samudra pada Rasya.


Rasya melihat kanan-kiri pada orang-orang yang sedang melihat dirinya, lantas dia pun nyengir menunjukkan gigi yang berbaris putih tersebut. "Maaf?"


"Ooh ... ya, ngomong-ngomong kau mau ke mana? atau sedang apa di sini?" tanya Ubai kepada wanita tersebut.


"Saya ... saya mau ke Jakarta!" jawabnya wanita tersebut.


"Urusan apa ke Jakarta? kalau boleh ku tahu!" tanya kembali Ubai sambil menatap sekilas ke arah lawan bicaranya.


"Saya ... ada panggilan kerja di sana, kebetulan saya pun juga mempunyai keluarga di Jakarta." Jawabnya lagi dengan ramah.


"Ooh begitu, oh iya. Panggil saja namaku Ubai, dan namamu siapa kalau boleh tahu!" Ubai memberanikan diri bertanya nama.


"Ooh ... iya. Kenalkan namaku Sabila," gadis itu mengulurkan tangan kepada Ubai yang langsung disambut hangat.


"Kebetulan kau, kan mau ke Jakarta? bareng saja sama kita ya? mau ya!" tawar nya Rasya kepada Sabila.


Sabila pun mengangguk, karena jam penerbangannya pun sama dengan Rasya. Samudra dan Ubai.


"Terus penerbangan kamu kapan?" tanya Ubai kepada Sabila.


Sabila melirik ke arah jarum jam yang berada di tangannya itu. "Penerbangan jam 11.00 ini."


Sabila pun mengulas senyumnya yang dia tujukan pada Ubai.


Beberapa saat kemudian, mereka pun memasuki pesawat yang sebentar lagi akan take-off.


Mereka berjalan beriringan dan layaknya orang yang sudah saling mengenal lama, mereka Langsung akrab kecuali Samudra yang memang sikapnya lebih cool.


"Kau sudah sering ke Jakarta?" tanya Rasya pada Sabila.


"Saya sudah sering bolak-balik Jakarta-Banjar, karena kuliah pun saya di sana!" jawabnya Sabila pada Rasya yang usianya lebih muda darinya.


"Ooh gitu ya? bukan kali pertama ya?" sambungnya Rasya.


"Bukan, aku sudah sering-sering dan bolak-balik." Tambahnya Sabila sembari menunjukkan senyum ramahnya pada Rasya.


"Ngomong-ngomong, pusing nggak?" tanya Ubai sambil melihat dia sekilas.

__ADS_1


"Maksudnya?" netra nya menatap ke arah Ubai.


"Itu, kan kamu bilang! bolak-balik, pusing nggak bolak-balik?" lanjutnya Ubai Sambil mesem-mesem.


"Maksud nya, bukan seharinya bolak-balik, bukan! dalam setahun bisa dua kali tiga kali." Jawab Sabila.


"Ooh gitu, Saya kira bolak-balik terus, sampai saatnya bikin pusing he he he." Ubai melanjutkan kata-katanya dibarengi dengan senyuman.


Sabila menggeleng sembari tersenyum manis.


Kini mereka sudah duduk di dalam pesawat berdampingan, Rasya dengan samudra dan Sabila kebetulan nomor kursinya adalah berdekatan dengan Ubai.


Rasya memegangi tangan Samudra dengan kuat, dia tampak ketakutan ketika pesawat itu terasa lebih tinggi dan semakin tinggi. Sehingga yang ada di bawah lama-lama semakin mengecil.


Keringat yang dingin tampak keluar dari pelipisnya dan tangannya pun terasa sangat dingin.


"Kau jangan takut, ada aku disini. Dan kau jangan takut juga, nanti kita ke Surabaya pakai pesawat lho! tidak pakai mobil lagi. Aku capek nyetirnya," ucapnya Samudra sembari memegangi tangan Rasya.


"Aku takut, pesawat ini jatuh ke laut dan hancur atau meledak di udara, iih ... takut," Rasya bergidik ngeri.


"Makanya berdoa, semoga kita semua diselamatkan." Tambahnya Samudra dengan terus mengusap tangan Rasya, yang memegang tangannya dengan erat.


Rasya memejamkan kedua menik matanya, dengan bibir yang terus komat-kamit membaca doa, memintakan di selamatkan kepada yang maha kuasa.


"Aku akan berusaha menjagamu, melindungi mu! jangan takut," suara Samudra yang nyaris tidak terdengar namun dengan jelas oleh Rasya.


Kemudian tidak ada lagi suara yang terdengar dari Rasya maupun Samudra, suasana tampak hening. Hanya suara pramugari dan pramugari saja yang menghiasi di dalam pesawat tersebut.


Rasya semakin menguatkan genggaman tangannya, dengan mata yang terus saja terpejam cantik, sekalipun ditawari hidangan makan oleh pramugari yang ada Rasya menolaknya. Karena yang dirasakan Rasya saat ini hanya rasa takut! takut terjadi sesuatu yang tidak pernah diinginkan di dalam pesawat itu.


Samudra terus meyakinkan, kalau perjalanan ini akan baik-baik saja tanpa ada kendala atau halangan dan rintangan nya.


"Makan lah sayang?" bisik Samudra di telinga Rasya.


Rasya membuka kedua manik matanya itu, dan melirik ke arah Samudra. "Aku gan mau!" menggeleng pelan.


Lalu Rasya menangkup mulutnya. "Oo!" perutnya terasa mual. Lantas Rasya menghirup bau minyak wanginya Samudra yang dapat mengurangi rasa mual nya ....


.

__ADS_1


.


Apa kabar reader ku semua? semoga kabar baik ya🙏


__ADS_2