
"Tuan Ubai. Sekarang siapkan saja walinya gadis itu, bapaknya atau paman atau bisa juga adik laki-laki nya! kami tidak ingin di wilayah saya ada yang kumpul kebo, atau semacamnya lah." ungkap pak RT dengan jelas dan nada rendah.
"Tetapi keluarganya jauh, Pak RT. Nggak mungkin bisa mendatangkan sekarang ini," ucap Ubai yang duduk dihadapan pak RT. Dengan nada rendah dan santai.
"Wali hakim, bisa dan saya siap menjadi walinya! dari pada mereka berdua tanpa ikatan apapun." Tambah pak RT kembali sambil menganggukkan kepalanya.
"Ya saya juga bersedia, bila harus menjadi wali dari gadis ini atau saksinya." Timpal scurity yang bernama Adam tersebut, lalu melihat ke arah Rasya yang terus menunduk. Dia merasa kalau mengenal gadis tersebut tapi ... entahlah.
Yang lain hanya mengangguk setuju dan masih di posisi duduknya masing-masing.
"Baiklah, kalau begitu ... saya akan panggilkan penghulu saat ini juga, agar datang ke tempat ini." Lantas pak RT Sidar mengambil ponsel dari sakunya lalu menelpon seseorang.
Samudra mengeratkan giginya. Tidak habis pikir, kenapa Ubai pun seolah mendukung ini semua.
"Siapkan baju pengantin seadanya, apa mau baju biasa aja? boleh!" kata Adam menoleh pada Rasya yang semakin panik keringat dingin pun terus bercucuran dari pelipis dan sekujur tubuhnya.
"Sebenarnya, gadis ini asisten di sini, Bapak-bapak, tapi memang di sini tinggal hanya berdua. Dan saya juga gak mungkin tinggal di sini, bisa-bisa ... saya juga terkena bisikan setan yang menggiurkan. Ha ha ha ..." ucap Ubai serius dan jelas, namun di akhiri dengan gelak tergelak tawa.
Samudra menyenggol bahu Ubai seraya berkata dengan pelan. "Kau ini apa-apaan sih ha? ya sudah, nikahi saja gadis itu sama kamu."
"Ooh siap, saya mau aja nikahin dia Bos, tapi tetap saja anda yang akan menanggung malu di mata semua orang bahkan keluarga dan kekasih mu itu." Ubai berucap dengan sengat tenang. Dengan nada pelan juga.
Samudra dibuat mati kutu sekarang ini, kebingungan dan tidak tahu harus berkata apa.
"Kami tidak mau tau ya! yang jelas mereka harus di nikahkan sekarang juga, kami merasa jijik ketika melihat dia tadi. Ooo," kata tiga laki-laki yang tampak muak itu.
"Saya tidak minta kalian melihat saya! emang itu sudah kebiasaan saya kok, tidak pakai baju kalau mau tidur." Timpal Samudra sambil mendelik.
"Iya, terbiasa memperlihatkan tubuhmu itu, sekalian barang mu yang hidup itu pada gadis polos macam dia? ha ha ha." ejek pria tua itu sambil tertawa diikuti oleh yang lainnya.
Membuat Samudra kembali mengepalkan tangannya.
__ADS_1
Sidar menoleh ke arah mereka. "Sudah-sudah. Cukup. Kalian jangan ribut lagi, kita tinggal menunggu pak penghulu datang.
"Baiklah, saya mau keluar dulu untuk membeli baju pengantin buat mereka." Ubai beranjak, langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari siapa pun.
Melihat Ubai pergi, Samudra langsung mengejarnya. "Bai. Nggak bisa gitu, Bai. Saya mau tunangan dengan kekasih ku sebentar lagi. Bai. Ubai?"
Namun Adam dan tiga pria lainnya menghadang langkah Samudra. Mereka takut kalau Samudra kabur dari sana.
"Jangan kabur? anda gak boleh pergi dari sini! nikah itu enak lho. Lebih enak dari yang tidak menikah," kata Adam sambil memegangi tangan Samudra.
"Siapa yang mau kabur? ini rumah saya! saya gak akan kabur. Yang ada kalian saja yang pergi." Samudra menepis dengan kasar, tangannya Adam yang memegangi tangannya itu.
Samudra semakin marah, namun tidak bisa berbuat apa-apa, daripada di giring ke kantor polisi, semua orang akan tau apalagi tercium media. Bahkan keluarganya bisa shock, kalau sampai tau putra semata wayangnya digelandang kepolisian.
Dia hanya bisa menggerutu, mengumpat dalam hati. Marah pada Rasya yang bikin dirinya repot, sudah harus keluar duit banyak, harus mengeluarkan uang sebesar satu milyar buat menebus ke juragan Kasmin.
Di tambah lagi sekarang, bikin keadaan semakin repot. Dan juga Ubai yang malah menyudutkan dirinya, seolah mendukung dirinya menikah dengan gadis kampung itu, begitu pikir Samudra yang terus bermonolog dalam hatinya.
"Assalamu'alaikum?" ucap bapak penghulu dan berjabat tangan dengan pak RT serta yang lainnya.
"Wa'alaikum salam, silakan duduk pak penghulu?" ucap pak RT dengan ramahnya.
"Terima kasih banyak." Pak penghulu balas dengan ramahnya. "Mana yang mau di nikahkan nya?"
"Mereka, pak penghulu." Pak RT menunjuk pada Rasya dan Samudra.
"Ooh. Mana walinya? ada walinya gak?" tanya kembali pak penghulu.
"Sepertinya tidak ada, wali hakim kan saja. Sebab ini darurat pak penghulu." Sambung pak RT Sidar.
Dan detik kemudian. Ubai pun datang membawa pakaian pengantin, yang berada dalam paper bag. Dengan seorang wanita yang akan merias pengantin perempuan.
__ADS_1
"Ini, saya bawakan baju pengantin buat mu, dan wanita ini yang akan merias dirimu," ucap Ubai ada Rasya sekalian memberikan paper bag nya.
Rasya pun beranjak dengan wanita tersebut memasuki kamar Rasya. Untuk berganti pakaian,
Kemudian Ubai mengalihkan pandangan pada Samudra yang duduk nyender dengan muka di tekuk.
"Baju mu, pakai cepat? jangan bermuka masam saja. Nanti ganteng mu hilang lho," goda Ubai sambil memberikan paper bag.
Kini beberapa pria, bekerja merapikan kursi atau sofa supaya ke pinggir dan ruangan itu nampak leluasa untuk duduk di karpet saja.
Ubai pun memberi instruksi untuk menyediakan minuman dari dapur. Dan makanan seadanya yang Ubai pesankan pun sudah datang.
Di kamar, Rasya berganti pakaian dan di bantu oleh wanita yang Ubai bawa untuk merias wajahnya.
"Walau dengan sederhana, wajahmu sangat cantik. Natural tapi sangat cantik dan riasan mu tidak boleh berlebihan, sebab akan mengurangi kecantikan mu yang sesungguhnya," ujar wanita tersebut.
Rasya menatap datar. "Ah masa sih? aku merasa aku jelek kok, dan orang-orang juga bilang begitu. Aku jelek. kucel dll nya."
"Kata siapa Nona? kecantikan mu akan keluar dengan sendirinya, apalagi bila kau pandai merawat dirimu, Nona," sambung wanita itu.
ðŸ˜
Rasya tersenyum tipis ke arah wanita sebut. Namun entah apa yang dia rasakan saat ini, membungungkan.
Samudra, di kamarnya menggerutu sambil menatap setelan kemeja putih dan jas hitam yang akan ia gunakan dalam ijab kabul.
"Kau sudah gila ha? aku itu sebentar lagi mau tunangan. Kau malau menyetujui ini, dimana otak mu ha?" Samudra menunjuk-nunjuk ke arah Ubai. Dengan amarah berapi-api.
Hati Samudra masih diliputi rasa marah yang teramat pada Ubai, Rasya dan warga yang ada di luar itu ....
.
__ADS_1
Ayo mana dukungannya nih?