Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 62 Lupa


__ADS_3

Cklek! Samudra mendorong handle pintu sehingga blak! pintu terbuka.


Samudra mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan tersebut dengan intens dan tidak sejengkal pun terlewatkan dari netra nya itu.


Kakinya berjalan mendekati tempat tidur yang luas dengan ukuran king size tersebut.


Blak!


Samudra menjatuhkan tubuhnya di sana. Sembari memejamkan kedua matanya sejenak. Namun Samudra langsung terbuka lagi terbayang jelas bayangan sosok Rasya menari di raung mata.


Bibir Samudra melengkungkan sebuah senyuman. "Sial, kenapa harus teringat dia sih? kekasih bukan? eh dia itu istri ku bukan?" Samudra Mendudukkan dirinya, jadi ingat kertas yang dia lihat dari cctv. Kalau pak RT mengirimkan selembar kertas dan Rasya simpan di laci kamarnya.


Derap langkah terdengar dari luar mendekati kamar Samudra dan netra nya tertuju ke daun pintu tersebut.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


Daun pintu kamar Samudra di ketuk tiga kali dari luar dengan teratur. "Tuan muda, apa ada yang bisa saya bantu?"


Rupanya pak Panji datang untuk menawarkan diri. Kali saja tuan nya memerlukan sesuatu.


"Buatkan saya minuman segar, eh masuk?" pinta Samudra dari dalam kamar tersebut.


Pintu terbuka dan munculah pak Panji menghampiri Samudra yang duduk di tepi tempat tidurnya.


"Apa yang bisa saya bantu?" tanya ulang pak Panji sambil mengangguk.


"Bikinkan saya minuman segar. Dan siapkan saya air hangat untuk mandi." Pinta Samudra dengan mata menatap tajam ke arah pak Panji.


"Baik, Taun. Akan saya laksanakan!" sahut pak Panji sambil berbalik keluar kamar.


"Eeh. Mau ke mana?" tanya Samudra ketika melihat pak Panji melangkah keluar.


Pak Panji menoleh. "Saya mau menyuruh orang buatkan minuman dulu! setelah itu saya mau menyediakan air hangat di bathub."


"Kau bawa ponsel?" Samudra dingin.


"Bawa, kenapa, Tuan muda?" pak Panji menatap heran.

__ADS_1


"Ck. Suruh aja anak buah mu menggunakan ponsel, jadi tidak usah repot-repot teriak atau turun. Kau lakukan saja siapkan air hangat untuk ku." Kata Samudra.


"Eh. Iya," gumamnya pak Panji sambil merogoh sakunya menelpon asistennya untuk membuatkan minuman segar buat Samudra.


Setelah itu barulah bergegas masuk ke kamar mandi. Untuk menyiapkan segala keperluannya tuan muda nya.


Beberapa menit kemudian, Pak pak Panji keluar dari kamar mandi tuan mudanya.


Setelah sekitar tiga puluh menit kemudian, Samudra sudah rapi dengan pakaian santainya. Berdiri di depan cermin sambil membubuhkan minyak rambut.


Pintu kembali di ketuk dari luar dan kali ini langsung dengan suara pak Panji.


"Tuan muda? di bawah. Tuan dan Nyonya besar sudah datang. Harap temui mereka!" suara pak Panji dari balik pintu.


"Iya, nanti saya turun." Samudra menoleh ke arah pintu.


"Baik, Tuan muda." Suara pak Panji menjauh dari depan pintu kamar Samudra.


Samudra pun berdiri, berjalan mendekati pintu lalu keluar meninggalkan tempat tersebut. Terus berjalan ke bawah dan di bawah terdengar riuh dengan suara orang tua Samudra yang baru datang itu.


Orang tua Samudra memang baru datang ke mension itu, mereka dari Bali karena mereka memang menetap di sana.


Sunyoto Wijaya adalah ayah Handa dari Samudra, mereka datang untuk mengadakan pesta pertunangan putra semata wayangnya. Yaitu Samudra. Dia itu CEO utama dari perusahaan yang sedang Samudra kelola sekarang, dan saat ini beliau mengelola perusahaan cabang yang berada di Bali.


"Pah, Mah?" Samudra menghampiri dan bersalaman dengan keduanya.


"Em ... Mama kangen sama kamu Sam. Kau ini lupa ya sama Mama sehingga jarang menghubungi Mama kecuali penting-penting saja," Bu Riska memeluk putranya.


"Sibuk Mam. Dan maklum lah anak muda," sahutnya Samudra datar.


"Kamu itu bukan anak muda lagi. Tapi sudah dewasa, sebentar lagi mau menikah dan punya anak." Tambah Bu Riska sambil mengusap bahu putranya yang tinggi besar.


"Gimana kabar perusahaan yang di daerah kemarin?" tanya pak Sunyoto menatap putranya tersebut sambil duduk Mendudukkan dirinya di sofa.


"Baik, lancar saja, Pah." Samudra mengangguk pelan.


"Baguslah. terus kembangkan dan buktikan sama Papa dan mama kalau kamu mampu memimpin perusahaan yang di daerah dan pusat ini." Tambah pak Sunyoto mengangguk bangga.


"Karin, kenapa gak kamu ajak ke sini hem ... Mama kangen deh sama dia." sambung Bu Riska.


"Ah sial, pasti Ubai datang lagi malam ini ke apartemen dan berduaan dengan Rasya si gadis kampung itu." Batin Samudra malah bermonolog tentang yang ada di apartemen.

__ADS_1


"Lho, kok kamu malah melamun sih?" sang bunda membuyarkan lamunan Samudra.


"Ha? apa Mah?" tanya Samudra, dia sama sekali tidak mendengar pertanyaan yang sang bunda lontarkan.


"Silakan diminum Tuan dan Nyonya besar. Dan ... makan malam sudah siap." Pak Panji menunjuk ke arah ruang makan, beriringan dengan perginya asisten yang menyuguhkan minuman.


"Oh, ia makasih. Sebentar kami masih capek," kata pak Sunyoto sambil membuka jas hitamnya itu.


"Mama bilang, kenapa Karin gak kamu ajak ke sini?" sang bunda menggeleng.


"Oh, dia sibuk. Lagian gak tahu kalau Mama dan papa datang hari ini," sahut Samudra sambil menautkan kedua tangannya di atas lutut, hatinya mendadak gelisah entah karena apa.


...---...


"Nona, apa kau sudah siap?" tanya Ubai sambil memasuki unit Samudra.


Sementara Rasya sedang menonton televisi. Dan dia sudah makan barusan dengan balado cumi ala dirinya sendiri.


"Ha? emang mau kemana?" Rasya menatap heran, mungkin dia lupa tentang sesuatu.


Ubai menggeleng. "Apa kau lupa? kalau malam ini kita mau jalan-jalan, Nona ... lupa?"


"Ha?" Rasya bengong. "Eh iya, lupa! tapi aku sudah kenyang, Tuan. Barusan aku makan banyak, Oya! Tuan mau makan? aku akan siapkan?" tawar Rasya sambil beranjak.


"Tidak-tidak, aku mau makan di luar saja. Sudah, baiknya Nona siap-siap saja. Kita jalan. sekarang. Lagian tadi siang, aku bilang malam ini kita jalan dan berdandan yang cantik." Tolak Ubai sambil menyuruhnya bersiap-siap tuk pergi.


"Em ... baiklah." Rasya pun mengayunkan kakinya dengan niat ke kamar.


"Eeh. Mau ke mana?" tanya Ubai saat melihat Rasya berjalan ke arah dapur.


Rasya menoleh lalu nyengir. "Hi hi hi ... lupa?" seraya menepuk jidatnya ketika sadar jalan yang dia lewati adalah menuju dapur.


Ubai menggeleng. "Hem ...."


Niat Ubai malam ini mau mengajak Rasya keluar untuk mencari udara segar. Dan biar dia hapal dunia luar unit yang dia tinggali. Biar kalau mau keluar masuk unit tidak bikin khawatir toh hapal jalan.


Rasya kebingungan harus gimana? lalu pilihannya terang baju. Jatuh pada stelan celana dan kaos panjang. Rambut diikat kuda, wajah dengan polesan bedak tipis saja. Lagian mana bisa Rasya berdandan!


Setelah menyemprotkan minyak wangi yang baunya semerbak. Menyeruak ke rongga hidung, keluar dengan sendal yang dibelikan Ubai waktu itu. Berjalan keluar dari kamar ....


.

__ADS_1


Ayo, mana dukungan nya nih. Like komen dan vote nya.🙏


__ADS_2