Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 82 Dua sisi


__ADS_3

Samudra bermonolog sendiri dalam hatinya. Beradu argumen antara dua sisi yang berbeda, dua sisi antara yang baik dan yang kurang baik. Keduanya mengungkapkan pandangan yang berbeda pula.


"Tidak. Kau itu tidak boleh menggunakan kesempatan yang dia anggap emas itu, kau harus ingat! kalau gadis ini masih suci dan kau menikahinya hanya karena terpaksa, gara-gara warga yang mencurigai dan tidak ingin kalian melakukan sesuatu yang yang tidak senonoh, hanya karena tinggal satu atap." Kata satu sisi lagi.


"Tetapi dia halal bagimu, wajar bila kau menyentuhnya. Cumbu dia, perlakukan dia selayaknya seorang istri bagimu. Akui saja bro. Kalau junior mu sangat merespon baik kehadirannya gadis ini." Tambah bisikan yang pertama tadi.


"Jangan! Sam. Kau harus ingat dengan omongan mu sendiri, bahwa kau tidak akan pernah menyentuh gadis yang masih polos ini. Dia bukan tipe mu Sam, bukan level mu. Jadi jangan menodai dia? kasihan! pertahankan ego mu." Sambung satu sisi lagi.


"Alah ... persetan dengan omongan. Persetan dengan janji! jangankan yang halal, yang tidak halal saja bila ada kesempatan begini di pepet terus ... apalagi ini sudah halal. Jangan di sia-sia kan bro. Mubazir, Apalagi di malam seperti ini, dingin bro. Enak untuk memadu kasih," terus usul yang pertama.


"Tahan, kau pasti bisa menahan, setidaknya sampai kau yakin mencintai gadis ini, jangan sakiti dia bro. Dia anak orang yang punya perasaan, bukan boneka! Kalau sekarang kau mengambil kesuciannya, terus hamil? bagaimana dengan kekasih mu itu?"


Terus saja dorongan demi dorongan untuk melakukan sesuatu, menghantui dan mengganggu hati dan pikirannya Samudra saat ini.


Dengan pelan, tangan Samudra bergerak membalas pelukan itu. Jemarinya dengan ragu membelai rambut Rasya yang panjang dan bergelombang tersebut, lantas hidungnya mencium wangi bau shampo rambut yang ia pilihkan waktu itu.


Rasya merasa begitu nyaman, tenang. Merasa dilindungi berada dalam pelukan pria itu, namun pada akhirnya Rasya melepas rangkulannya. Setelah suara petir lama tidak terdengar lagi dan hujan pun sepertinya mulai mereda.


"Maaf, Tuan?" gumamnya Rasya setelah menjauh dari Samudra yang melongo.


"Kau ini takut petir atau ingin memeluk ku saja?" tanya Samudra dengan nada suara yang sedikit bergetar. Ada sekelumit rasa kecewa di hatinya entah karena apa itu?


Mata indah Rasya melotot dengan sempurna. "Ih ... kalau gak takut? ngapain peluk-peluk anda, gak ada kerjaan banget! siapa sih yang mau peluk pria jutek, galak dll nya. Iih ..." ucap Rasya seraya bergidik.


"Alah ... alasan saja. Buktinya nyaman kan? tenang kan?" tuduh Samudra tanpa mencerna omongannya terlebih dulu.

__ADS_1


"Anda sendiri, ngapain pegang-pegang tangan ku? mengelus rambut ku? katanya gak mau menyentuh ku? kenapa gak melepaskan ku ha?" tanya Rasya penuh dengan semangat dan sedikit menyodorkan wajahnya ke depan.


Samudra kelimpungan dan tidak tahu harus berkata apa?


"Sa-saya kasihan aja sama kamu. Jahat banget kalau saya melepaskan mu, di saat kau ketakutan dan membutuhkan seseorang di saat-saat seperti itu." Dalih Samudra.


"Aish ... begitu kah? masa sih? bilang aja cari kesempatan dalam kesempitan?" ungkap Rasya tidak mau kalah sambil menunjukan giginya yang berbaris putih itu.


Samudra menatap tidak suka dengan ucapan Rasya barusan, lalu dia menoleh ke cermin rias yang ada di kamar itu, lalu mengalihkan kembali pandangannya pada Rasya.


"Kau coba bercermin, tuh cermin Segede gabah. Ngaca! kau itu tidak ada apa-apa nya berbanding dengan calon istri ku? Karin." Samudra menunjuk ke arah Rasya tidak perduli itu menyakitkan hati Rasya.


Degh!


"Aku sadar kok. Cukup tahu diri, kalau aku gak sebanding dengan kekasih mu itu, sedikitpun aku tidak ada apa-apanya berbanding dia! Aku sadar. Tapi setidaknya aku ini istri mu di saat ini," ucap Rasya sembari menelan saliva nya yang berasa begitu sulit untuk di telan.


"Kau memang istri ku saat ini, iya. Tetapi tidak nanti! setelah aku menikahi kekasih ku, Karin--"


"Kenapa? kenapa tidak sekarang saja anda melepaskan ku? tidak perlu menunggu nanti atau sudah menikahi dia!" suara Rasya bergetar. Memotong perkataan Samudra.


Samudra berdiri sambil melipat tangan di dada, tatapannya mengarah pada Rasya. "Hi ... kau lupa? bahwa kau berhutang padaku banyak sekali? dan itu tidak akan terbayar dengan kerja mu padaku bertahun-tahun sekalipun, enak saja minta ku lepaskan kau begitu saja? masih mending juga di sini kau bisa makan enak, hidup berkecukupan. Pakaian bagus! mahal. Apalagi ha?"


Rasya menunduk dalam, dengan air mata yang tanpa di undang berjatuhan membasahi pangkuan.


"Kau pikir saja. Apa kau bisa membayar uang ku? Kau lupa gimana susahnya hidup dengan keluarga mu di kampung? makan aja susah, apalagi baju bagus dan mahal! itu yang kau bilang padaku, pada Ubai. Lupa itu ha? apa ada orang di sana yang menghormati mu? ada gak? yang menghargai mu? yang ada kau itu di jual, di gadaikan. Dan sampai sekarang ada gak keluarga mu mencari-cari, tidak kan?" ucap Samudra sambil menggerakkan tangannya mengarah pada Rasya.

__ADS_1


Rasya menggeleng, dan yang Samudra bilang itu adalah benar. Memang begitu adanya, tapi kenapa ketika Samudra menyebut kekasihnya saja hati Rasya terasa sakit. Sesak rasanya dada ini di bentak Samudra dengan membandingkan dirinya dengan wanita lain. Itulah masalahnya.


Melihat kedua bahu Rasya bergetar, menahan tangis. Menunduk sambil menangis. Samudra menjadi serba salah dibuatnya sedikit merasa bersalah.


"Em ... em ... Mak-maksud ku, hanya ingin kau ingat kalau dulu kau itu susah, dan sekarang kau di sini hidup enak, syukuri yang ada ini." Samudra menurunkan nada bicaranya lebih lirih.


Rasya hanya terdiam tanpa sepatah kata pun. Tangannya yang bertaut memainkan jari jemarinya, bahunya bergetar, terdengar sedikit terisak.


Samudra mendekati tempat tidur Rasya kembali, duduk di dekat Rasya. Menjadi kasihan melihatnya menangis. Mencoba menyentuh telapak tangan Rasya, namun Rasya menghindar dan menjauhi posisi Samudra.


"Kau itu sebenarnya kenapa menangis sih?" tanya Samudra dengan suara rendah.


Rasya terdiam. Sesekali membuang ingusnya dengan tisu yang dia ambil dari laci, wajahnya tetap menunduk. Menyembunyikan wajahnya yang basah.


"Hi ... kau itu kenapa menangis?" ulang Samudra sambil lagi-lagi mendekati sampai-sampai Rasya mepet ke pinggir.


Rasya menoleh, menatap dengan lekat, menatap kedua netra nya Samudra seakan ingin menembus sampai ke dalam-dalam nya.


"Gimana aku tidak menangis? kau terus saja memarahiku? aku kan jadi sedih. Lama-lama kau semakin jahat padaku, tidak punya perasaan." Suara Rasya parau sambil menangis ....


.


.


Mana nih dukungannya🙏

__ADS_1


__ADS_2