Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 75 Cantik sekali


__ADS_3

Beberapa asisten yang sedang bekerja itu menoleh ke arah Rasya yang sedang berdiri. Dan langsung menunjukan giginya. Kemudian Rasya menghampiri serta membantu kerjaan mereka.


"Oh tidak usah, Nona. Anda di sini tamu! jadi anda diam saja," ucap Mulan.


"Aduh, Mbak tidak apa. Aku juga sama kok seperti kalian asisten juga." Kata Rasya sambil mengambil lap.


"Rasya, sudah berapa lama kerja dengan tuan muda?" tanya temannya Mulan.


"Em ... aku lupa Mbak. He he he, tapi yang jelas masih baru kok." respon Rasya sambil melap pagar tangga.


Sesudah berada di kamar. "Aman ..." Samudra mengusap dadanya. Merasa lega karena tak ada yang melihat kalau dirinya keluar dari kamar Rasya.


Samudra menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur. Memejamkan kedua netra nya tuk tidur kembali, namun istirahatnya terganggu dengan suara ponsel yang begitu nyaring.


"Eh ... siapa sih? pagi-pagi dah ganggu orang saja." Samudra bangun dan meraih ponselnya dari atas nakas.


Tertera nama kontak my love di sana, membuat bibir Samudra tertarik ke samping.


^^^Samudra: "Halo?"^^^


^^^Karin: "Sayang, nanti agak siangan ke Mension ya? kamu di sana kan?"^^^


Suara parau Karin dari ujung telepon itu tampak baru bangun tidur. Dengan nada sangat manja pula.


^^^Samudra: "Iya sayang, aku masih di sini. Datanglah? aku akan menunggu mu."^^^


Karin: "Aku kangen sama kamu! muach."


^^^Samudra: "Aku juga sayang, sangat kangen sama kamu."^^^


^^^Karin: "Oke, aku mau mandi dulu ya? muach."^^^


^^^Samudra: "Baiklah, sayang ku! biar bersih dan wangi."^^^


^^^Karin: "Sun jauh dulu dong, katanya kangen?"^^^


^^^Samudra: "Muach. love you!"^^^


^^^Karin: "Love you too."^^^


Sambungan telepon pun terputus, Samudra simpan kembali ponselnya di tempat semula. Dengan bibir yang mengukir senyuman.


Lalu Samudra beranjak. Berjalan mendekati pintu, pas pintu di buka ada Mulan berdiri dengan tangan siap mengetuk daun pintu.


"Eh, Tuan? saya mau membersihkan kamar ini." Mulan mengangguk hormat.


Pandangan Samudra menyapu tempat sekitar. Terlihat Rasya sedang membantu asisten lain bersih-bersih. "Biar dia saja yang membersihkan kamar ku." Menunjuk ke arah Rasya.


Kedua netra Mulan mengikuti yang Samudra tunjuk. "Ooh, baiklah."


Mulan mengangguk, detik kemudian berlalu dari hadapan Samudra, berjalan menghampiri Rasya dan berkata sesuatu.


"Tuan, ingin kamarnya di bersihkan oleh mu!" ucap Mulan yang di tujukan pada Rasya yang anteng bekerja.


"Ha?" Rasya mengalihkan padangan ke arah Mulan dan samudra yang di sana berdiri menyilang kan kedua tangannya.

__ADS_1


"Iya, Mbak." Rasya mengangguk lantas mengayunkan kedua kakinya mendekati kamar Samudra.


"Bersihkan kamar ku?" perintah Samudra sambil masuk duluan ke dalam kamar.


Rasya mengikuti dari belakang. Dan langsung bergerak mengambil baju kotor dari atas sopa. Merapikan tempat tidurnya yang berantakan.


"Aneh deh, tidur di sana! tapi di sini juga berantakan?" Rasya menoleh ke arah Samudra.


"Terserah aku lah, mau berantakan seperti apa pun hak aku, kau cuma berkewajiban untuk membersihkan." Samudra berucap ketus sambil membuka kaosnya.


"Tu-Tuan mau apa?" tanya Rasya heran.


"Mau mandi lah. Nanti siang kekasih ku mau datang ke mari. Dan kau pasti akan mengagumi kecantikan kekasih ku itu." Samudra berucap dengan bangga.


Rasya tidak merespon apa pun, dia anteng saja membereskan tempat tidurnya Samudra. "Masa bodo, mau kekasih mu. Mau musuh mu. Emangnya aku pikirin?" batin Rasya.


"Sya? siapkan aku air hangat, buruan?" gumam Samudra, membuat Rasya langsung menoleh.


Baru kali ini ada orang yang memanggil namanya dengan sebutan, Sya. "Anda memanggil ku?" Rasya menunjuk hidungnya sendiri.


"Ck. Emang di sini ada siapa lagi selain kita berdua?" Samudra malah balik tanya.


"Ooh. Manisnya ... panggilan itu!" Rasya menangkupkan kedua tangannya di pipi.


"Itu nama kan? sudah jangan ge'er, siapkan air hangat dan jangan lupa aroma terapi nya!" sambung Samudra kembali.


Baik Tuan. Aku bereskan bantal dulu, satu lagi." Rasya tersenyum, hatinya berbunga-bunga seraya mengingat sebutan namanya yang Samudra sebut.


"Wawww." Pekik Rasya sambil membalikan badan. Ketika dari kamar mandi, Samudra sedang menurunkan celana pendeknya.


Samudra kaget dan sontak menoleh pada Rasya yang kini memunggunginya sambil menutupi wajah dengan sepuluh jarinya.


"Iya," gumam Samudra.


Rasya memutar badan setelah memastikan langkah Samudra bergerak menuju kamar mandi dan melintasi dirinya.


Dengan isengnya, sambil jalan memasuki kamar mandi, jari Samudra mencolek pinggang Rasya.


Sehingga Rasya kaget dan geli'an. "Awww ... Iseng banget sih?" Rasya mengusap pinggangnya itu.


"Siapkan baju ku?" blak! pintu terbuka.


"Ih. Bisa gak sih? baju kotor itu di bawa ke kamar mandi atau masukan keranjang, kan ada!" gerutu Rasya sambil mengambil pakaian kotor lagi di lantai.


Setelah menyiapkan pakaian ganti buat Samudra. Rasya keluar membawa keranjang yang berisi pakaian kotor.


Di saat ini, Samudra dan keluarga. Ubai dan Rasya sudah berkumpul di meja makan buat sarapan bersama. Sebelum duduk, Rasya membantu pak Panji menuangkan air minum pada gelasnya masing-masing. serta mengambilkan nasi goreng buat Samudra dan yang lainnya juga.


"Makasih ya Rasya? rajinnya kamu Nak." Bu Riska berucap lirih pada Rasya yang baru mendidikan dirinya setelah menyodorkan sarapannya masing-masing.


"Sama-sama, Nyonya!" Rasya mengangguk.


Sesaat kemudian. Mereka semua menyantap yang tersaji di meja dengan lahap.


Ubai mengambilkan ayam goreng buat Rasya. "Ayamnya Nona, biar kau tambah gemuk. Nanti Tuan muda marah bila kau kurus seperti dulu."

__ADS_1


Rasya hanya tersenyum pada Ubai dan ayam tersebut. Mulutnya mengunyah dengan teratur.


"Ma-maksud nya gimana? tuan muda marah, kalau kau kurus?" Bu Riska menatap curiga ke arah Rasya dan Samudra.


Samudra, Ubai dan Rasya saling pandang. Dengan hati yang berasa tak menentu.


"Em ... itu Tante. Samudra gak mau sampai nona ini kurus. Nanti dikira gak dikasih makan oleh Samudra, kan malu." Jawab Ubai dengan tenang.


Pak Suyoto dan istri mengangguk. Sangat masuk akal.


Samudra merasa lega. Orang tua nya percaya dan tidak curiga yang macam-macam.


"Oya, agak siangan. Papa akan ada pertemuan dengan relasi Papa dari luar kota. Dan Papa mau perkenalkan kamu, Sam. Sama mereka. Jadi jangan kemana-mana dulu?" ujar papanya Samudra di tujukan pada putranya.


"Ya, Pah. Bentar lagi Karin akan ke dini, mau main katanya." Samudra Respon sambil meneguk minumnya.


Ubai terus bersikap manis dan perhatian pada Rasya yang masih menikmati sarapannya.


"Hem ... kalian ini. Pasangan yang serasi banget, sangat cocok." Bu Riska tersenyum melihat keserasian Ubai dan Rasya.


Ubai melirik ke arah Samudra dan Bu Riska. Bibirnya tersenyum manis. "Benarkah? Alhamdulillah."


Samudra terdiam sambil melihat ke piring yang kosong. "Benarkah?" batin Samudra mengolok-olok ucapan Ubai.


Setelah sarapan. Rasya membantu bersih-bersih di taman. Sekalian bermain di sana, kebetulan Rasya sangat suka dengan bunga.


Samudra dan Ubai. Bersama pak Suyoto dan istri berada tidak jauh dari taman yang ada Rasya di sana.


"Nyonya. Ada Nona Karin." Pak Panji datang bersama Karin.


Bu Riska menoleh ke arah Karin yang berjalan melenggak-lenggok menghampiri. "Eeh ... Karin? si cantik Mama, calon mantu Mama."


"Mama ... apa kabar?" Karin memeluk bu riska. Cium pipi kiri dan kanan.


"Baik, tambah cantik aja nih kamu Karin." Puji Bu Riska memandangi Karin dengan intens.


"Ah, Mama bisa aja." Karin melepaskan pelukannya pada Bu Riska.


Kemudian Karin bersalaman dengan pak Suyoto. Ubai dan terakhir menghampiri Samudra memeluk dan menciumnya.


Rasya melongo melihat kecantikan Karin yang bak sempurna itu, seraya berkata. "Masya Allah ... cantik sekali. Itu pasti kekasihnya tuan muda, kaya ... mirip yang sering muncul di tv. Iklan apa ya?"


"Iklan sabun Shampo dan minyak wangi." Timpal Mulan yang kebetulan mendengar gumaman Rasya.


Rasya menoleh sekilas pada Mulan. Lalu kembali melihat ke arah Karin dan Samudra yang kini sedang melakukan peluk cium. Ada sekelumit rasa di gigit semut dalam dadanya.


Ubai melihat ke arah Rasya yang mematung menatap ke arah Samudra yang asyik peluk cium dengan kekasihnya itu. Lalu Ubai beranjak menghampiri gadis itu.


"Sedang apa, Nona. Kau di sana?" sapa Ubai mendekati.


"Eh, Tuan Ubai. Dia sangat cantik ya?" Rasya malah membicarakan Karin yang tampak sangat sempurna.


"Iya, maklum banyak perawatan. Kau juga bisa seperti itu, asal banyak perawatan pasti akan cantik seperti itu Nona." Jawab Ubai sambil memetik setangkai bunga mawar yang masih kuncup lantas diberikan pada Rasya ....


.

__ADS_1


.


Jangan lupa klik bintang sebagai dukungan ya? terima kasih🙏


__ADS_2