Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 154 Hasilnya


__ADS_3

Selepas sang bunda keluar, Karin menyembunyikan wajahnya di bawah bantal. Air matanya terasa hangat dan deras terus mengalir membasahi sudut matanya tersebut.


Ketika sudah merasa puas dengan tangisannya. Karin pun bangun dan mencari keberadaan tas nya yang ternyata ada di atas nakas.


Lantas dikeluarkan semua isinya dan yang dia ambil adalah ponsel, si benda pipih kesayangannya. Dia keluarkan semua kartunya dari gawai tersebut. Kemudian dihapus kontak Samudra dari daftar.


Kini Karin sudah bertekad tidak ingin mengenalnya lagi, dia delete semua foto kebersamaan dengan Samudra, dan hanya menyisakan satu saja di sana.


"Aku gak Sudi mengenal mu lagi, aku terlalu benci sama kamu Sam. Ada, nggak ada kesalahan mu? aku pasti akan meninggalkan mu!" gumamnya Karin sembari menghapus air mata dari pipinya.


Kemudian manik matanya menyisir mencari sesuatu yang berkaitan dengan Samudra, buket bunga yang masih baru dia beri. Boneka-boneka dan hadiah-hadiah lainnya yang dari Samudra, Karin kumpulkan termasuk barang-barang mahal pemberian darinya, beberapa tas branded dan barang mahal lainnya, dikumpulkan Karin sampai beberapa dus besar.


Semua barang-barang itu Karin gusur dibawanya ke halaman belakang, tidak lupa membawa korek dari dapur. Suasana rumah yang sepi karena memang malam sudah larut bahkan hampir menjelang pagi.


Karun berjongkok di halaman belakang, membakar semua barang-barang pemberian dari Samudra. Beberapa foto sama piguranya dan sisa undangan pun masih ada tersimpan dan cincin pertunangan yang melingkar di jari manisnya, tak ayal dia lepas dan dia lempar ke kumpulan api yang berkobar melalap semua barang-barang Karin yang berkaitan dengan samudra.


"Selamat tinggal Sam? selamat tinggal juga kenangan? kenangan indah yang selama ini menghiasi! selama bertahun-tahun kita bersama dan membina istana cinta. Dalam sekejap kau berpaling pada wanita yang baru saja kau kenal." gumamnya Karin sembari menatap kobaran api yang ada di hadapannya tersebut.


"Di balik sikapmu yang tak ada sedikitpun berubah, dalam sekejap kau mengkhianati ku. Kau telah menduakan dengannya sebelum menikahi ku, kau tega Sam." Karin terus bermonolog sendiri dengan tangan memegangi kayu dan memasukkan sisa-sisa barang yang dimakan api ke dalam kobaran api tersebut.


Karin menghela nafas sebanyak-banyaknya lalu dihembuskan dengan panjang. "Aku tidak butuh penjelasan sarimu! Ataupun meminta pembelaan darimu, karena sudah cukup bagiku! foto dan video itu sudah lebih dari cukup sebagai bukti dirimu telah mendua, aku benci sama kamu Sam, benci," karin mengeratkan giginya yang tampak kesal dan kecewa.


Selesai barang-barang itu habis dan hanya meninggalkan sisa-sisa api yang mengecil, Karin beranjak dan berjalan ke rumah tersebut, suasana malam yang semakin dingin dan menjelang pagi itu, begitu menyelimuti tubuhnya Karin.


Langkah Karin begitu gontai masuk ke kembali ka kamarnya, tidak lupa menyimpan korek ke dalam dapur. Karin bukannya tidur melainkan dia masuk ke kamar mandi, dia berdiri di bawah kucuran air shower yang hangat dan menyegarkan.


"Aku nggak boleh lemah, aku harus kuat atas semuanya." Bahkan Karin bertekad untuk lebih fokus ke pekerjaan dan kuliahnya.


Pagi-pagi sekali, orang tua Karin mendatangi Karin yang masih di kamarnya, namun sudah terbangun dan tampak segar. Mereka sudah menyiapkan paspor dan segala persiapan tektek bengek nya untuk Karin pergi ke luar Negeri.


"Sayang, Mama sudah siapkan semuanya! kamu tinggal berangkat saja," ucapnya sang Bunda.


Karin hanya menoleh pada kedua orang tuanya. Tanpa mengatakan sesuatu apapun.


"Kami pun akan mengantarmu sampai ke luar Negeri," kata ayahnya disebut.


Lalu Karin menoleh kepada kepada sang ayah seraya berkata. "Tidak usah, Pah. Aku bisa sendiri, lagian dari pihak-pihak pH pun sedang ada kerjasama di sana, jadi akan pergi bersama mereka juga," tolaknya Karin pada sang ayah.


"Tidak, Karin Kami harus ikut agar kami tahu tempat tinggal mu, setidaknya untuk memastikan bahwa dirimu baik-baik saja dan aman di sana." Sambung sang Bunda yang tetap kekeh ingin mengantarkan sang Putri ke tempat tujuan.


"Tapi, mah? Pah?" protes nya Karin.


"Sudah, jangan tapi-tapi. Kita pergi sama-sama, kami berdua yang akan mengantar mu."Jelasnya sang ayah.


"Oya sayang, apa kau tidak mau bertemu dengan Samudra untuk yang terakhir kalinya," tanya sang Bunda duduk dekat dekat dengan Karin.


"Tidak, aku tidak mau Samudra tau keberadaan ku, nomorku pun sudah aku ganti dan Sam tidak tahu itu. Jangan ada yang bilang tentang diriku di mana? biarkan dia kalang-kabut mencari ku."


"Baiklah. Bagus kalau begitu!" sang bunda mengangguk, lalu kemudian mereka bertiga berjalan dari kediaman tersebut. Lalu memasuki mobilnya yang akan membawa mereka bertiga ke sebuah bandara di kota tersebut.


...---...


"Ini hasil DNA nya Putri anda, tuan dan nyonya. Silakan Anda membacanya?" dokter menyerahkan selembar kertas pada Fatir dengan cepat mengambil secarik kertas tersebut.


Dada Fiona dan Rasya yang berada di sana berdebar tidak menentu, berharap-harap cemas, dan juga was-was akan hasilnya positif atau negatif. Fatir menatap keduanya bergantian dengan tatapan yang sulit diartikan.


Samudra


Lalu Fatir membuka secarik kertas tersebut. Kemudian netra nya mengarahkan pandangan agar tidak satu huruf pun terlewat, atau pun tak terbaca! pada mulanya Fatir merasa tenggang.


Namun pada akhirnya Fatir merasakan sangat lega dan bahagia, sebab ... hasil surat itu menunjukkan positif bahwa Rasya adalah Putri kandung mereka berdua! fix darah daging Fatir dan Viona.


Kepala Fatir menoleh pada sang istri. "Sayang, Rasya adalah Vivian benar-benar Vivian."

__ADS_1


Viana yang ingin meyakinkan diri, meraih kertas tersebut dari tangan Fatir lalu membacanya dengan seksama. Dan benar saja kalau hasilnya positif, Rasya adalah putrinya yang hilang.


Viona kembali melihat ke arah sang suami dengan mata yang berkaca-kaca, keduanya saling peluk dengan erat seraya berkata. "Benar, Mas. Dia putri kita."


"Iya sayang," balas Fatir seraya memeluk sang istri penuh haru.


Sementara Rasya tertegun di tempat. Namun tak ayal buliran air bening menetes di ujung matanya. Dia terharu ternyata Fatir dan Viona yang sudah terbukti adalah orang tua kandungnya.


Yang bisa dilakukan Rasya saat ini adalah menunggu giliran, pelukan dari kedua orang tuanya yang akan sangat mengharukan.


Benar saja, berapa detik kemudian Fatir dan Viona melepaskan rangkulannya masing-masing, dan beralih kepada Rasya, keduanya memeluk Rasya dengan sangat erat.


"Tuh, kan ... kini sudah terbukti kalau kamu itu putrinya Bunda, Vivian yang hilang. Maafkan Bunda yang tidak bisa menjagamu ketika waktu itu!" suara Viona yang bergetar, tidak bisa menyembunyikan rasa harunya.


Rasya hanya bisa menangis dalam pelukan mereka berdua.


"Bagaimanapun, Bunda sudah lalai dalam menjagamu! sehingga kamu hilang diculik orang." Lanjut Vona, hik-hik-hik hik.


"Tega sekali orang yang telah menculik mu, Nak. Tapi saya tidak akan berusaha mempermasalahkan itu, karena sekarang kita sudah berkumpul." Tambahnya Fathir.


Rasa hanya bisa menangis tanpa mampu berkata-kata. Kini dia berada dalam pelukan kedua orang tuanya yang penuh dengan haru.


Kemudian keduanya melepaskan pelukan nya pada Rasya dan sama-sama mengusap air mata yang menguasai pipi.


Kini kedua tangan Viona membingkai wajah Rasya yang cantik dan mirip wajahnya itu.


"Bunda sangat bahagia, ternyata tes DNA terbukti, jika kamu adalah putri bunda. Kamu adalah putri bunda sayang." Cuph! Fiona mengecup kedua pipi Rasya lalu naik ke kening yang tidak luput melepas kecupannya.


"Maaf kan ayah? yang tidak bisa mencari mu dari sejak lama, yang tak bisa mengangkat mu dari penderitaan bersama keluarga angkat mu itu. Tapi semua orang tahu kalau Ayah itu berusaha mencari mu sama Bunda juga." Ujar Fatir sambil mengelus rambut Rasya.


Kepala rasa menggeleng lalu mengusap air matanya yang terus mengalir di pipi. "Tidak apa-apa, Yah. Mungkin Allah sudah menentukan kita harus bertemu akhir-akhir ini tidak dari dahulu, karena Allah punya rencana lain sehingga selama itu memisahkan kita semua."


"Itu benar. Mungkin memang takdir yang memisahkan kita, dan pada akhirnya kita dipertemukan kembali dan berkumpul bersama," tambahnya Viona.


"Aku tidak pernah menyesali apa yang sudah menimpaku, aku bersyukur. Sebab mungkin dengan itu membuat aku lebih dewasa dan berpikir bahwa hidup tidak selamanya indah." Rasya lirih melihat keduanya.


"Bunda benar, kamu nggak usah canggung kepada kami berdua. Seandainya ada yang kamu inginkan! ngomong saja sama ayah dan bunda, yang penting kita semua sehat. Apapun yang kamu inginkan insya Allah akan kami turuti," ucap Fatir menatap lembut putrinya tersebut.


"Iya, Ayah." Rasya mengangguk pelan.


Sudah puas peluk-pelukan, dan tangis-tangis bahagia di klinik tersebut. Lanjut mereka kembali ke dalam mobil, meneruskan perjalanannya ke kota Jakarta untuk menghadiri resepsi pernikahan Samudra yang mereka pikir berjalan sesuai rencana.


Wajah ketiganya begitu sumringah begitu bahagia, bagaimana tidak? Fatir dan Viona sudah menemukan putrinya yang belasan tahun hilang kini sudah ditemukan, telah berkumpul dengan orang tua kandungnya tersebut.


Namun dibalik kebahagiaan yang kini menyelimuti hati Rasya, ada suatu perasaan tersimpan di lubuk hati yang paling dalam! ya itu rasa sedih.


Sedih, sakit yang menyesakkan dada, teringat pria yang berstatus suaminya itu hari ini menikah dengan wanita lain, yang notabenenya kekasihnya sejak lama.


Dan Rasya harus menyadari, kalau ia hadir di antara mereka berdua dan bagaimanapun sudah mengganggu ketentraman hubungan antara Sam dengan Karin. Jadi wajar jika dirinya lah harus tersisih juga.


"Sayang mau beli apa? barangkali mau membeli cemilan atau. Jajanan. Tuh banyak?" tawar Viona melirik ke arah Rasya yang melamun itu.


"Tidak, Bunda. Aku tidak mau." Rasya menoleh dan menatap lekat pada sang bunda.


"Kalau kau ingin sesuatu bicara saja ya?" Viona mengusap bahunya Rasya dengan lembut dan senyuman yang tulus.


"Aku masih ada uang kok, yang kemarin juga masih ada." Balasnya Rasya sambil memegangi cincin dari Samudra yang betah melingkar di jari manisnya.


Cincin ini kadang menjadi pengobat rindu yang menyiksa perasaannya Rasya.


"Gimana kalau kita cari makan dulu yu? lapar nih!" Fatir melirik ke arah belakang dimana istri dan putrinya duduk.


"Boleh, aku juga lapar nih." Viona membalas sang suami yang fokus menyetir.

__ADS_1


"Baiklah kita berhenti di depan. Oya sayang, gimana kalian suka dengan tempat kursus nya?" tanya Fatir pada Rasya.


"Bagus, Yah. Aku suka dan pasti aku akan betah." Jawabnya Rasya sembari tersenyum.


"Syukurlah. Semoga kau kerasan ya belajarnya?" tambah Fatir.


"Iya, Yah." Rasya membalas kembali perkataan dari Fatir.


Kemudian mereka turun dari mobilnya, setelah berhenti berhenti di depan sebuah restoran.


Setelah duduk di tempat yang nyaman. Fatir langsung memesan makannya. "Sayang mau pesan apa?" melirik ke arah sang istri.


"Aku ... samakan saja sama kamu, Mas." Jawabnya Viona kemudian melirik pada Rasya, putrinya. "Mau pesan apa?"


"Em ... aku juga samakan saja sama Bunda." Rasya menatap daftar menu yang berada di meja.


"Oke, kalau begitu." Viona melirik pada sang suami.


Lantas, Fatir memesan makanan untuk mereka bertiga dengan menu yang sama dan minuman juga yang sama.


Kebetulan Rasya itu, apapun suka dan dimakan gak pilih-pilih yang pening enak-enak langsung dilahap.


"Kau nggak pilih-pilih makanan ya, Sya?" tanya Viona pada Rasya yang sedang celingukan melihat suasana sekitar.


"Ooh iya, Bunda. Apapun aku suka, gak pilih-pilih apalagi makanannya enak," sahut Rasya sambil menunjukkan senyumnya.


"Baguslah kalau semua makanan kau suka." Viona menganggukkan kepalanya.


"Makanya waktu kemarin di apartemen, aku nggak bingung apapun yang ada aku masak. Aku suka, tuan muda pun yang mulainya nggak suka udang katanya alergi, sekarang suka gara-gara aku yang masak," ungkap Rasya mengenang ketika dia tingg di apartemen.


"Oh ya, Samudra alergi udang?" tanya sang Bunda.


"Iya, Bunda. Tuan Ubai saja suka ngomel, katanya Tuan muda nggak boleh makan itu! alergi, tapi berapa kali makan gak kenapa-napa. Malah ketagihan." Rasya tersenyum mengingat itu semua.


"Ya ... mungkin kau membawa perubahan dalam dirinya, yang mulanya tidak suka menjadi suka," tambahnya Fathir.


"Iya kali ya! tuan muda juga sangat suka dengan kue buatanku! aku sering merasa lucu ketika mereka sering rebutan makanan yang aku buat, tuan Ubai yang iseng. Dan tuan muda yang gak mau kalah," Rasya terus mengenang masa-masa di apartemen, akhirnya tidak terasa matanya berkaca-kaca.


"Oo! Jangan sedih dong ... sayang, nanti kan kau ketemu dengan mereka semua, iya kan!" Viona merangkul bahu Rasya seraya mengusapnya.


"Aku nggak sedih kok, Bun. Aku nggak sedih." Elaknya Rasya sambil mengalihkan pandangannya ke lain arah dan berharap air matanya tidak jadi keluar.


Terlihat dua orang pelayan membawakan makanan pesanan mereka bertiga. "Selamat menikmati ... semoga menjadi langganan kami," kata salah satu pelayan dengan ramahnya.


"Makasih Mbk? lain kali kami mau mampir ke sini lagi bila ada umur," balasnya Fatir yang tak kalah ramahnya.


Dengan tidak membuang waktu, mereka bertiga langsung menyantap makanan tersebut dengan lahapnya. Diselingi dengan meminum air jus buah.


"Hem ... Segarnya ... ini lewat ke tenggorokan berasa lega jalannya," gumamnya Rasya sambil mengusap tenggorokannya yang terasa begitu segar.


Fatir dan Viona senyum simpul melihat Rasya yang begitu menikmati makannya.


Namun ketika Rasya sedang makan, ia melihat orang yang minta-minta di depan restoran! dia tatap begitu intens. kemudian menoleh pada Viona.


"Bunda? bolehkah aku ngasih makanan sama orang tersebut, kayaknya dia kelaparan." menunjuk ke arah luar restoran.


"Boleh, tapi pesan aja langsung. Kalau mau ngasih," sahut Viona sambil melirik ke arah yang Rasya tunjuk.


Rasya menatap piring makanannya yang tinggal setengahnya, dikasihkan cuma setengah, kalau pesan dulu juga lama. "Ya sudah, aku ke bagian sana dulu ya? untuk memesan! biar cepat."


Rasya bergegas beranjak dari tempat duduknya dan setengah berlari ke dapur restoran. Fatih dan Viona hanya bisa menatap punggung putrinya tersebut ....


.

__ADS_1


.


pa kabar reader ku semua? semoga hari kabar baik ya🙏


__ADS_2