
Saat ini Rasya dan Samudra sudah selesai di make up. Netra mata Samudra terus tertuju pada Rasya yang begitu tampak cantik, mempesona dengan gaun pengantin berwana putih pastel.
"Apa kalian sudah siap?" tanya seorang fotografer pada Rasya dan Samudra.
"Siap!" jawab Samudra dengan semangatnya.
"Oke, sekarang ikuti saya ke tempat yang sudah disiapkan." Mereka semua berjalan menuju tempat yang fotografer maksud.
"Kau begitu cantik, mana saja begitu kagum melihat kamu, Sya!" ungkap Bu Riska sambil berjalan menggandeng Rasya.
"Mama bisa saja. Bikin aku Ma," sahutnya Rasya malu-malu.
"Memang benar kok, kalau jadi model kamu pasti akan mudah terkenal lho!" tambah Bu Riska kembali.
"Model apa Mama?" tanya Rasya penasaran.
"Ya apa saja, model sampul. Atau gaun pengantin juga, kalau mau model sabun mandi! sekarang Mama sedang mencari model sabun mandi dan Mama rasa kau masuk kriteria dan dan tidak perlu casting lagi--"
"Tidak, Mama ... jangan kau jadikan istri seperti itu, aku gak mau istri ku menjadi istri ku konsumsi publik. Mama apa-apaan sih?" Samudra lagi-lagi memprotes omongan sang bunda.
"He he he ... bercanda sayang, ah kamu ini di ambil hati." Bu Riska mengibaskan tangannya.
"Wah ... ini indah sekali ..." netra mata Rasya menyapu suasana sekitar yang begitu indah dan sejuk.
"Apa kabar, Nona? lama kita tidak bertemu." Sapa Ubai yang yang sudah berada di sana.
"Eh ... Tuan Ubai ... kapan datang? baik. Wah ... Tuan ganteng sekali." Rasya begitu ramah dan menatap intens pada Ubai yang juga memandangi ke arah Rasya.
"Syukurlah, Nona juga tampak cantik sekali dengan gaun itu." balas Ubai.
"Terima kasih? Tuan Ubai!" Rasya tersipu.
Kemudian Samudra dan Ubai mengobrol sebentar. Lalu bersiap untuk pemotretan prewedding.
Ubai dan Bu Riska, melihat pemotretan Rasya dan Samudra. Dengan background yang cantik menambah bagusnya gambar yang di dapat.
Ubai berdiri agak jauh dari pasangan yang sedang berseri-seri wajahnya, dan berpose mesra. Ubai begitu mengagumi kecantikan Rasya.
"Semoga kau bahagia Nona! jika ada yang menyakitimu aku siap membela dirimu. Itu janji ku pada mu Nona.'' Batin Ubai sembari menatap intens ke arah Rasya dan Samudra.
"Bai, ternyata mantu ku lebih cantik ya?" Bu Riska melirik ke arah Ubai.
Ubai pun menoleh pada Bu Riska. "Iya, Tante, si bos sangat beruntung. Dan semoga si bos bisa membahagiakan Rasya ya, tante?"
"Iya, Tante juga sangat berharap seperti itu, Samudra bisa melupakan Karin walau pasti memang sulit sih untuk melupakan Karin. Secara dia kekasih yang lama dia cintai." Bu Riska menganggukkan kepalanya kepada Ubai.
"Aku yakin sih, kalau si Bos bisa melupakan Karin. Karena sebenarnya dia juga sangat mencintai, Nona Rasya setelah kehadirannya dalam kehidupan dia, hanya terkadang ... dia tidak ingin mengakuinya saja," ucap Ubai begitu sok tahu tentang perasaan Samudra.
Setelah beberapa sesi pemotretan, Rasya dianjurkan untuk mengganti pakaian dengan gaun yang lainnya. Kemudian Rasya memasuki ruangan ganti ditemani oleh bu Riska.
"Gimana masalah kantor lancarkan?" tanya Samudra kepada Ubai yang sedang berdiri sambil melipat tangannya di dada.
__ADS_1
Ubai lalu menoleh pada Samudra. "Soal kantor! kau tidak usah khawatir aku bisa mengatasinya, cuma besok kau harus masuk kantor. Karena harus meeting," jawabnya Ubai dengan nada serius.
"Kalau besok ... ya, aku akan masuk. Cuma untuk hari ini asli aku capek, dari kemarin bolak-balik nyetir sampai tengah malam." Ungkap Samudra.
"Hari ini nyetir juga?" Selidik Ubai.
"Iya, Hari ini juga sama. Tadi malas pemain supir," jawabnya Samudra sambil meneguk air putih dari gelasnya.
"Oya, sepertinya besok juga harus keluar kota dan aku nggak bisa ke sana sendirian, tentu membutuhkan dirimu langsung ke lapangan," lanjut Ubai.
"Lusa ... oke, tapi kan besok harus di rapatkan dulu," ucap Samudra.
"Lain lagi, Bos ... itu di luar yang harus di rapatkan besok." Jelas Ubai sembari menghirup udara dengan hidungnya.
"Oke, atur saja waktunya!" Samudra menyerahkan semuanya kepada Ubai.
Kemudian Samudra menghampiri Rasya setelah keluar dari ruang ganti. Dengan gaun yang lain lagi. "Kau sudah selesai ganti baju?"
"Belum nih belum ganti baju, he he he ... sahutnya Rasya. "Sudahlah, makanya aku kembali. Nggak lihat apa aku pakai baju lain?"
"Iih, bikin gemas deh. Awas ya nanti? di tanya gitu juga. Ha ha ha ..." Samudra mencubit hidung Rasya dengan gemas.
"Habis nanya nya juga gak masuk akal, sudah jelas-jelas lihat aku sudah pernah minta pakaian, masih juga ditanya," sambungnya Rasya sambil mesem.
Bu Riska hanya mesem, putra dan mantunya itu disebut
"Ya, sudah ... kita mulai lagi! dan masih butuh berapa sesi pemotretan lagi," kata si fotografer.
"Kalian berdua berhadapan, tangan kanan memegang pinggang si wanitanya. Tangan yang satu lagi jarinya menyentuh dagu si wanita, dan wajah kalian dekatkan seperti hendak berciuman." Perintah si Fotografer dan di arahkan oleh crew nya.
Samudra dan Rasya pun berpose seperti yang di pinta.
"Oke, satu dua ti ... ga. sempurna." gumamnya si fotografer.
"Satu lagi ya? satu lagi ini, satu lagi saja. Kalau ini hasilnya sempurna berarti satu lagi. Coba kalian menyamping saling berhadapan dengan tatapan mesra, tangan kiri si pria memegang tengkuk si wanitanya. Sementara tangan kanan memegang dagu, wajah kalian semakin mendekat ... ya begitu? sempurna! tahan ... 1 2 3. Oke, selesai."
Si fotografer tampak begitu senang dengan hasil yang dia dapatkan. Netra matanya begitu intens pada kamera yang berada di tangannya itu.
Selesai pemotretan! langsung pemilihan gambar yang lebih cocok yang lebih bagus dan hasilnya memang bagus-bagus bikin bingung memilih, pada akhirnya setelah berunding memilih foto-foto yang akan dikirimkan lewat email ke percetakan, yang di Surabaya maupun yang di Jakarta untuk undangan yang akan disebarkan.
Dan sisanya foto-foto tersebut akan dicuci Dan di album kan.
"Akhirnya selesai juga, sangat melelahkan. Apalagi dari kemarin aku belum benar-benar istirahat nih," gumamnya Samudra sembari mengambil air minum.
"Iya capek banget, mana lapar lagi." Timpalnya Rasya.
"Sekarang ganti baju dulu sayang, setelah itu kita segera pulang atau kita akan mencari makan dulu di restoran?" titah bu Riska pada Rasya lalu bertanya pada Samudra dan melihat kepada Ubai.
"Kita cari makan di restoran saja lah," sahutnya Samudra sambil menggiring sang istri ke ruangan tempat ganti baju.
Samudra, Rasya memasuki ruang ganti. Mereka berganti kostum sebelum pulang dan meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
Samudra yang lebih duluan selesai langsung menghampiri fotografer dan krunya.
"Oke semuanya? ku ucapkan terima kasih banyak atas semua bantuan kalian, kerja sama kalian yang cukup memuaskan. Sekali lagi terima kasih? ucapnya Samudra pada fotografer dan crew nya sekalian.
"Sama-sama dan semoga kalian puas dengan kerja kami? dan suatu saat nanti kalian bisa menggunakan jasa kami kembali." Balasnya si fotografer sambil mengulurkan tangannya pada Samudra.
Kemudian mereka pun bersalaman satu sama lainnya. Setelah itu Bu Riska, Rasya. Ubai dan Samudra, mereka pun berpamitan dan segera meninggalkan studio tersebut dan mendatangi mobilnya Samudra.
"Kamu membawa mobil, Bai?" tanya Samudra pada asisten sekaligus temannya itu.
"Iya bawa, tuh di belakang." Ubai menunjukan mobilnya yang berada di pojokan.
Detik kemudian mereka sama-sama masuk ke dalam mobilnya masing-masing, namun entah kenapa tiba-tiba Rasya merasa pusing dan mual.
"Kau kenapa sayang?" Samudra melirik ke arah Rasya dan tampak cemas melihat Rasya yang memegangi kepalanya.
"Kepalaku pusing dan mual juga. Oo" sahutnya Rasya yang tampak ingin muntah tersebut.
"Kau kenapa sih sayang? kenapa?" bu Riska pun ikut cemas, tangannya menyentuh bahu Rasya yang berada duduk di depan.
"Kepalaku pusing, Mah dan mual juga nih." Rasya terus memijit keningnya.
Sam beri minum, ada minum kan di situ?" Bu Riska menganjurkan Sam untuk memberikan Rasya minum air putih.
Dan dengan cepat, Samudra pun membukakan botol minum dan memberikannya kepada Rasya.
"Ada minyak angin nggak? atau minyak kayu putih gitu?" tanya bu Riska.
"Ya, mana ada yang bawa, Mah ... Gimana sih?" sahutnya Samudra sambil menutup kembali botol minumnya yang bekas Rasya minum.
"Ooh iya. Mama bawa! kalau nggak salah ada dalam tas, sebentar ya?" Bu Riska buru-buru mengambil tasnya dan mencari minyak kayu putih dan kebetulan benda itu memang ada.
Kemudian Bu Riska menyuruh Samudra untuk mengoleskan minyak tersebut ke kening Rasya, tengkuknya juga batang hidungnya.
"Mungkin istrimu masuk angin Sam, oleskan saja itu minyaknya." Perintah bu Riska pada putranya.
"Iya, Mah. Ini sudah semua." Samudra mengembalikan minyak angin kepada sang Bunda.
Keringat dingin, keluar dari pelipis dan juga seluruh tubuhnya Rasya.
"Gimana sayang! masih mual?" tanya bu Riska sambil mengusap kepala Rasya.
"Mualnya sudah agak berkurang, Mah," Rasya memejamkan kedua manik matanya sambil bersandar ke belakang jok mobil.
Samudra bergantian hati ke depan dan karena Rasya hatinya sungguh merasa cemas takut istrinya kenapa-napa ....
.
.
Mana nih dukungannya biar aku tambah semangat🙏
__ADS_1