Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 1012 Sorry pergilah


__ADS_3

"Kan saya sudah minta maaf, Nona? tuan harus minum obat," suara Rasya tetap lirih.


Beberapa saat kemudian, Rasya menyuapi Samudra bubur yang baru saja ia hangatkan. Setelah itu menyuapinya makan buah, lanjut minum obat.


Karin yang terus menggerutu pun tidak Rasya dengar sedikitpun, dia tidak peduli, yang penting dia menjalankan tugasnya dengan baik terhadap Samudra.


Itupun dengan samudra, dia nggak mau mendengar apa yang menjadi ocehannya Karin.


Kemudian dengan sendirinya karin turun dari tempat tidur, dan memasuki kamar mandi sambil terus menggerutu. Gara-gara suara Rasya yang membangunkan dirinya.


"Karena semuanya sudah selesai, aku mau undur diri! Apa ada yang ingin aku kerjakan atau memerintahkan apa gitu?" tawar Rasya pada Samudra yang hanya terdiam.


"Tidak, cuma ... aku cuma butuh istirahat saja," jawabnya dengan nada datar.


"Baiklah, aku mau keluar, istirahat lagi ya?" Rasya beranjak dan bersiap membawa nampan, namun tangannya Samudra dengan cepat meraih tangannya.


Kedua manik mata Rasya tertuju pada tangan Samudra yang memegang pergelangannya itu.


Tanpa bicara atau apa, lantas Samudra melepaskan tangan Rasya. "Sorry pergilah?"


Rasya pun mengayunkan langkahnya sambil membawa nampan berisi mangkuk, meninggalkan kamar Samudra yang masih ada Karin di dalam kamar mandi.


Waktu terus berputar sampai membawa Karin untuk pulang, dan bergantian dengan kedatangan om Suyoto dan Riska.


Om Suyoto dan bu Riska sangat berterima kasih pada rahasia, yang sudah menemani dan merawat Samudra dengan baik.


"Itu memang sudah kewajiban ku, Om. Tante," ucap Rasya dengan lirih sambil menyuguhkan dua gelas air minum buah untuk kedua orang tua Samudra.


"Apa ... tidak sebaiknya kamu tinggal di mension? sampai kamu sembuh," tanya Pak Suyoto pada putranya. Samudra.


"Tidak mau, aku di sini saja. Toh di sini juga ada yang merawat ku," jawabnya Samudra sambil melirik ke arah Rasya yang menunduk.


"Tidak apa sih, kalau maunya seperti itu. Biar mama saja yang menginap di sini ya?" ucap Bu Riska sambil menatap sang putra.


"Boleh, Mah, tentu boleh." Samudra mengangguk menyetujui sang Bunda untuk tidur di sana, di apartemen miliknya.

__ADS_1


"Oke, Mama mau tidur di sini. Papa pulang aja ke Mension," titah bu Riska pada sang suami.


"Mana bisa? Papa juga mau tidur di sini kok, kita menginap bareng-bareng." Protes pak Suyoto yang tidak mau pulang sendiri ke Mension tanpa sang istri.


"Tapi Papa mau tidur di mana? orang kamarnya cuma ada dua kok," kata bu Riska dengan mendelik pada suaminya.


"Ya ... tidak apa-apa, Papa bisa tidur di mana saja, atau di kamar Samudra, nemenin dia." Tambah pak Suyoto.


"Ya sudah, kalau gitu Mama sama Rasya aja tidurnya, ya kan Sya?" bu Riska melirik pada Rasya yang menoleh nya.


Rasya merespon dengan sebuah senyuman yang manis.


"Nggak pa-pa, biar Papa tidur sama Mama di kamar Rasya, dan Rasya di sofa atau di kamarku aja," ucap Samudra seraya melirik ke arah Rasya.


"Emang nggak pa-pa kami tidur di kamar Rasya? sementara Rasya tidur di kamarmu, di sofa." Tanya bu Riska pada Samudra menatap heran juga curiga.


Pak Suyoto dan bu Riska menatap curiga pada Samudra.


"Ma-maksud aku, Rasya tidur di ruang tengah agar aku lebih mudah untuk memanggilnya. Bila ku perlukan sesuatu seperti minum atau makan," ralat Samudra sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu, bisa-bisa nya ngomong keceplosan.


"Ooh ... begitu?" ucap Bu Riska sambil menoleh pada sang suami.


"Apa saja! yang penting dimasakin, nanti juga kami makan," jawab bu Riska sambil tersenyum manis kepada gadis itu.


"Ooh, baiklah kalau begitu, aku masakin ayam kecap ya? sama sayurannya mau kan, Tante," tanya Rasya kembali.


"Iya, boleh. Terserah kamu aja! yang penting matang dan pasti kami makan lho," tambah Bu Riska.


"Kalau ... Om minta dibikinkan sup telur, bisa nggak?" Om Suyoto bertanya pada Rasya.


Rasya menoleh pada Om Suyoto. Om mau aku bikinkan itu? Boleh aku bikinkan, tapi ... yang kayak gimana ya? aku nggak tahu," Rasya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil mesem.


"Nanti, sama Tante. Tante yang akan ajarin deh dan Samudra juga bisa dikasih itu, kebetulan Samudra juga suka sup telur." Timpal Bu Riska.


"Baiklah, kalau begitu ... nanti Tante ajarin Rasya ya?" Rasya mengganggu lalu menyiapkan bahan-bahan buat memasak makan malam nanti.

__ADS_1


Lalu Rasya dan Bu Riska, memasak berdua dengan sangat anteng memasak kesukaan samudra dan suaminya, pak Suyoto. Sup telor mengambang.


"Ooh iya. Tante aku pernah dengar kalau tuan muda itu alergi sama udang basah--"


"Iya bener, itu benar sekali! siapa yang bilang? Ubai apa dia sendiri yang bilang?" tanya balik Bu Riska.


"Tetapi sekarang, dia suka lho. Dia sering minta aku membuatkan nasi goreng dan udang basah, setahu aku setelah makan itu. Tuan baik-baik saja," ungkapan Rasya pada mamanya samudra.


Bu Riska mengurutkan keningnya. "Masak sih? dia memang alergi udangnya kalau udah makan itu otomatis gatal-gatal, kulitnya merah-merah," jelasnya Bu Riska.


"Tapi sudah berapa kali dia makan itu, nasi goreng pakai udang basah. Tapi dia sehat-sehat aja, gak kenapa-napa, aku juga pernah di tegur sama tuan Ubai. Katanya tuan muda nggak boleh dikasih itu tapi tuan muda yang minta, dan setahu aku baik-baik saja," ungkap Rasya.


"Ooh ya? berarti sekarang dia nggak ... nggak alergi lagi mungkin," tambah bu Riska.


Tidak terasa masakan pun siap disajikan di meja, Rasya tata dengan rapi, Bu Riska hanya tersenyum melihat ke arah Rasya yang tampak rajin dan cekatan.


Rasya menuang sayur ke dalam mangkok bersama nasinya juga, untuk Samudra dan dia bawa ke kamarnya.


Ketika Rasya memasuki kamar Samudra, pak Suyoto keluar, meninggalkan Samudra sendirian di sana.


Rasya melanjutkan langkahnya mendekati Samudra. "Makan dulu, sebelum minum obat." Rasya menyimpan nampan di atas nakas samping tempat tidur Samudra.


"Badanku lengket, tapi malas mandi," ucap samudra dengan suara bariton nya.


Rasya menatap sekilas ke arah Samudra. "Baiklah! aku mau bawakan air dulu," Rasya langsung membawa langkahnya ke kamar mandi. Dan bawa air didalam gayung sama handuk kecil nya.


Rasya membuka kaos yang melekat di tubuh Samudra, dia melap tubuh Samudra dengan penuh kelembutan seperti mengelap anak bayi saja.


Semua Rasya lap dan satupun yang terlewatkan kecuali letaknya belalai gajah, dia menggunakan handuk basah dan air yang hangat.


Setelah itu Rasya mengeringkan nya dengan handuk kering dan menyemprotkan parfum ke seluruh tubuh Samudra serta minyak rambut biar tercium wangi, sesudah itu barulah memakaikan pakaiannya seperti kaos dan celana pendek ke tubuh Samudra.


"Sekarang, sudah segar dan saatnya makan?" kata Rasya bersiap menyuapi Samudra makan malam.


Dari balik pintu, bu Riska dan suaminya mengintip gerak-geriknya Rasya yang merawat Samudra. Anak itu rajin, baik juga," suara bu Riska yang sangat pelan kepada suaminya.

__ADS_1


"Iya, Papa juga melihat itu, anaknya tampak baik dan perhatian, telaten terhadap tugasnya. Rasanya sangat beruntung kalau putra kita mempunyai istri seperti dia," timpal Suyoto.


"Jangan bilang gitu, Samudra sebentar lagi mau tunangan sama Karin. Jadi jangan bilang begitu! pamali" bu Riska mundur dan melangkah menuju ke ruang tengah, tidak lupa menarik tangan sang suami. Meninggalkan pintu kamar Samudra ....


__ADS_2