
"Gimana Kalau hari ini kita datangi pihak wo nya. Biarpun belum ada keputusan soal kapan waktunya? tak apa lah, yang penting kita lihat-lihat dulu dan memilih-milih konsep mana yang kalian sukai. Ada yang kalian berdua suka atau tidak? terus kita ke butik pakaian pengantin nya juga, yang sudah jadi saja gaunnya. Gimana?" tawar Viona mengarahkan pandangannya pada Rasya dan Samudra.
"Saya setuju itu, Tante! biarpun belum pasti waktunya, tapi itu pasti juga terjadi." Samudra begitu semangat tentang masalah itu.
Rasya melihat keduanya, yaitu Samudra dan sang Bunda sembari memajukan bibir bawahnya sembari berkata. "Kalian saja berdua yang pergi? aku nggak mau."
"Lah, kok nggak mau?" Samudra menatap heran kepada Rasya.
"Kan kalian yang paling bersemangat, jadi pergilah kalian berdua?" ucap Rasya dengan nada yang agak dingin.
"Ya sudah, kalau kau nggak mau ikut? aku mau pulang saja ke Jakarta." Lantas Samudra berdiri.
"Pergi saja? kalau nggak mau bersama aku!" Rasya tak kalah ketusnya seraya melipatkan kedua tangan di dada.
Samudra menghela nafas panjang sambil melihat ke arah sang istri, lalu dia duduk kembali di tempatnya semula.
Fatir, Viona dan Bu Asri saling bertukar pandangan serta melempar senyuman, melihat tingkah Rasya dan samudra.
Detik kemudian Rasya menunjukkan senyumnya pada semua orang yang berada di sana. "Terus kapan mau perginya?" tatapannya mengarah dan tertuju pada sang Bunda.
"Em ... sebentar lagi juga boleh kita pergi. Kalau Rasya mau kita pergi ke sana! kalau nggak mau, Bunda mau ke kantor saja," Jawabnya Viona.
"Iya nih, Ayah juga mau berangkat ke kedai sekarang. Mas pamit ya?" Fatir mengalihkan pandangan kepada sang istri.
"Ooh ya sudah, hati-hati ya? bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut. pesan sang istri.
"Iya sayang," Fatir mencium kening sang istri dengan mesra.
Viona pun mencium punggung tangan Fatir, Lantas Fatir. Berpamitan pada Bu Asri.
Rasya pun tak luput mencium sang ayah dan Samudra pun seperti itu pada sang mertua.
"Aku akan ke kamar?" Samudra membawa langkah ke lantai atas.
Rasya pun mengikuti langkah Samudra yang lebar itu menuju kamar pribadinya tersebut.
"Sayang, bentar lagi kita berangkat ya?" pekik Viona dari lantai bawah, ketika Rasya sudah menapakkan kakinya di lantai atas.
Rasya hentikan langkah nya dan menoleh ke arah sang bunda yang berada di bawah tangga. "Iya, Bunda!"
"Oma mau ikut?" tanya Rasya pada Bu Asri yang berdiri dekat sang bunda.
"Oma, ikut dong! Oma mau juga jalan-jalan sama kalian." Jawabnya Oma Asri sembari mengangguk.
"Kalau gitu, aku mau ganti baju dulu ya? buat siap-siap." Lanjut Rasya seraya mengayunkan langkahnya mendekati pintu kamar.
Kini Rasya baru saja memasuki kamarnya yang tampak sepi itu. "Lah tuan muda kemana?" gumamnya Rasya sambil celingukan.
Lalu Rasya mendekati pintu kamar mandi dan mengetukkan jarinya.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Tuan, Tuan muda? apa kau sedang di dalam?" pekik Rasya sembari menempelkan kupingnya di daun pintu.
__ADS_1
Terdengar gemercik suara air dari dalam dan suara Samudra juga. "Aku di dalam! ada apa?"
"Em ... pengen pipis," sahutnya Rasya sembari menggeliat-liat. menahan pipis.
"Masuk saja? gak di kunci juga ngapain sih, nanya-nanya?" pekik Samudra kembali.
"Hehe ..." Rasya bergidik gak kuat ingin pipis, dan langsung mendorong daun pintu. Langsung masuk mendapati Samudra masih berjongkok lagi buang hajat.
"Lama amat sih? buruan? pengen pipis!" rengek Rasya sambil berdiri menatap ke arah Samudra.
"Ribet amat sih? tinggal jongkok juga. Mau pipis bukan?" ketus Samudra.
"Iih ..." Rasya segera berjongkok.
Samudra berdiri dan menarik celananya ke atas. Berdiri tidak jauh dari Rasya berjongkok.
"Kenapa kau meringis?" tanya Samudra ketika melihat Rasya meringis.
"Perih, dari kemarin!" sahutnya Rasya dan lagi-lagi menunjukan ekspresi sakitnya.
Samudra mengangkat kedua bahu Rasya dibantunya berdiri. "Kenapa nggak bilang kalau sakit?"
"Kenapa harus bilang aku juga nggak nanya. Emangnya aku nggak kesakitan dari malam kemarin sakit tahu jawabnya rasa sambil merapikan roknya nya.
"Sini kulihat?" menarik tangan Rasya disuruhnya duduk di tapi bathub.
"Nggak-gak. Gak mau." Rasya berdiri dan berjalan untuk keluar dari kamar mandi tersebut.
Namun tangan Samudra yang kekar itu menarik tangan Rasya, sehingga membentur dadanya. Samudra menatap pada Rasya yang juga menatap ke arah dirinya. "Kau sakit karena aku bukan? ya sudah nanti aku beli obatnya!"
"Obat mata," ketusnya Samudra. "Ya obat luka lah, masa obat yang lain."
"Aku kan nggak tahu obat apa?" ucap Rasya sambil mengalungkan kedua tangannya di pundak Samudra.
"Ya sudah, nggak usah banyak bertanya. Nanti juga aku mau membelinya dan kau akan tahu." Sambungnya Samudra.
Kemudian Samudra mendekatkan wajahnya pada wajah Rasya yang berjinjit agar dapat sedikit sejajar dengan pemuda yang bertubuh tinggi itu.
Sejenak mereka menikmati ciumannya masing-masing, Rasya pun kini sudah terbiasa dengan sentuhan-sentuhan Samudra yang satu ini. Dan tidak dipungkiri itu bikin ketagihan untuk menikmatinya
Samudra terus menciumi wajah Rasya yang tampak merah merona tersebut. Tangan Samudra yang mengunci tengkuk Rasya, menjadikannya lebih leluasa melancarkan aksinya yang terus menikmati benda ranum milik Rasya.
"Mmmm, Tu-Tuan!" suara Rasya yang terbungkam oleh mulut Samudra.
Tubuh Samudra mendorong Rasya ke tempat tidur. Sehingga kini keduanya sudah berada di atas tempat tidur yang empuk saling bercumbu.
Rasya yang mulai hanyut dengan suasana memejamkan kedua matanya, disaat Samudra terus mencumbunya, tangan pun tak elak merayap ke mana-mana.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Sya? sayang ... sudah siap belum?" suara Viona dari balik pintu kamar tersebut.
Membuat samudra dan Rasya melonjak bangun dan menjauhkan dirinya satu sama lain. Saling bertukar pandangan dengan tetapan yang sulit di artikan.
__ADS_1
Jari Samudra mengusap lembut bibirnya yang basah dengan sebuah tisu yang berwarna putih, lanjut dengan perhatian Samudra pun mengelap bibir Rasya yang bikin dia candu tersebut.
Sesaat kemudian, Rasya buru-buru berdiri dan merapikan pakaiannya. Mengayunkan langkah untuk mendekati daun pintu.
"Iya, Bunda, sebentar?" Rasya menarik gagang pintu dan membukanya.
Blak ... pintu terbuka dan tampak sang bunda berdiri menunggu dibukakan pintu.
"Lho, kok belum siap? tadi katanya mau ganti baju? ayo dong sayang siap-siap? nanti keburu siang!" lirihnya Viona sambil berdiri di depan pintu tersebut, lalu manik matanya melihat ke arah dalam kamar yang terlihat Samudra sedang duduk memainkan gawainya.
"I-iya, Bunda. Aku mau siap-siap dulu ya?" Rasya membalikan badannya masuk kembali.
"Oke, Bunda tunggu di bawah ya?" Viona pun memutar tubuhnya mau balik ke bawah.
"Iya, Bunda." Rasya mengambil pakaian dari lemari lalu bergegas dibawanya ke kamar mandi.
Samudra mengusap wajahnya kasar seiring dengan helaan napas yang kasar juga. Melihat ke arah langkah kaki Rasya yang memasuki kamar mandi.
Tidak lama, Rasya sudah kembali dengan gaun yang baru. Mengambil selopnya juga dari tempatnya, tidak lupa untuk sedikit membubuhkan bedak ke pipinya.
"Ini ponsel mu!" Samudra memberikan ponsel milik Rasya.
Rasya melihat benda itu sejenak. "Ponsel mu mana?"
"Di mobil. Dengan dompetnya," Samudra kembali menyodorkan benda pipih itu kembali.
"Simpan saja, aku belum membutuhkannya!" tolak Rasya sambil merapikan rambutnya dan menatap dirinya dari cermin.
Kemudian Samudra dan Rasya berjalan berdampingan meninggalkan kamar tersebut. Tangan Samudra menggenggam lengan Rasya erat.
"Kau tidak ada baju di sini! baiknya membeli baju ya? Oya, aku mau ambil kartu ATM ku dulu!" Rasya hendak balik lagi ke dalam kamarnya, namun Samudra tarik.
"Nggak usah, kalau belanja kan ada aku, sudah biar saja. Kartu itu buat ... bila kau belanja sendirian saja," cegah Samudra.
"Ooh," ucap Rasya mengangguk.
Keduanya melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga. Kepala Rasya celingukan mencari sang bunda yang tidak ada di sana.
"Mungkin mereka sudah berada di luar." Samudra menunjuk ke arah luar dan lantas menuntun Rasya langsung ke luar.
Benar saja. Viona dan Bu Asri sudah berada di luar menunggu Rasya dan suaminya.
"Sayang, mau pake mobil siapa?" tanya Viona.
"Mobil saya saja." Samudra menunjuk mobilnya.
"Enak gak mobil nya, nyaman gak? kali saja gak nyaman!" Bu Asri memandangi ke arah mobil Samudra.
"Nyaman dong Oma ... silakan masuk?" Samudra membukakan pintu buat Bu Asri.
Bu Asri pun masuk di susul oleh Viona, duduk dengan nyamannya di belakang. Sementara Rasya di depan bersama Samudra yang menyetir.
Detik kemudian mobil Samudra merayap dan mulai melaju dengan kecepatan sedang. Namun di perjalanan ....
.
.
__ADS_1