Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 102 Berdebar


__ADS_3

Akhirnya Samudra memilih untuk segera pulang, setelah mengantar Karin pulang ke rumahnya.


Samudra melajukan mobil mewahnya dengan kecepatan sangat tinggi, biar segera sampai ke tempat yang dia tuju.


Kini Samudra sudah memasuki unitnya, berjalan dengan gontai menenteng jas di tangan. tampak Rasya tengah duduk di sofa menonton televisi, sejenak Samudra berdiri tidak jauh dari tempatnya rasa duduk.


Rasya pun menoleh tanpa sepatah katapun berucap kata. Hanya matanya saja yang seolah berbicara.


Langkah Samudra berlanjut mendekati meja makan, yang sudah siap dengan beberapa menu buat makan malam.


Wanginya yang menggugah selera dan baunya menyelinap menusuk ke rongga hidung Samudra. "Hem ... wangi sekali." Gumamnya sambil menyampaikan jas, di kursi sebelah, dia tarik salah satu kursi untuknya duduki.


Namun sebelum dia mengambil piring, Samudra menoleh ke arah Rasya. "Apa kau sudah makan?" tanya Samudra.


Rasya menoleh ke sumber suara. "Belum."


"Kenapa?" tanya Samudra lagi.


"Nggak kenapa-napa," ucap Rasya sembari menggeleng, lalu beranjak dari duduknya menghampiri meja makan.


"Ya ... sudah, kita makan? oh ya! Ubai kapan pulang?" Samudra menanyakan kepulangan Ubai.


"Em ... dia pulang satu jam yang lalu," kata Rasya sambil mengambil piring milik Samudra untuk dituangkan nasi.


"Kenapa dia nggak makan dulu?" Samudra sambil menarik piringnya.


"Nggak tahu, katanya masih ada urusan." Jawab Rasya sambil mendudukkan dirinya dan bersiap makan.


"Setelah makan, siapkan semua keperluanku, baju-bajuku. Sebab besok mau ke luar kota." Pinta Samudra dengan nada rendah.


Rasya mengangkat wajahnya melihat ke arah Samudra. Menatap heran.


"Keluar kota? ke mana?" Rasya penasaran apa mungkin Samudra akan ke daerah di mana kampungnya berada?


"Saya dan Ubai mau ke Bandung setelah itu ke Semarang. Tadinya setelah ke Bandung mau ke Surabaya, namun di cancel jadi bulan depan ke Surabaya nya." Jawab Samudra di sela-sela mengunyah makanannya.


"Ooh!" Rasya singkat, di dalam pikirannya terus bergejolak. "Aku tinggal sama siapa? Di sini."


"Saya akan menyuruh Wulan untuk menemani mu di sini," ucap Samudra seolah bisa membaca isi pikiran yang ada di kepala Rasya.


"He he he ... Tuan tahu aja yang aku pikirkan?" Rasya nyengir menunjukan giginya putih bersih.

__ADS_1


"Nggak usah nyengir! bukan lagi iklan pasta gigi, cepetan makan! bereskan pakaian ku segera sebelum tidur." Nada bicara Samudra dingin.


Rasya mencibirkan bibirnya, lalu melanjutkan makan dengan sangat lahap.


"Tadi apa saja yang kau lakukan bersama Ubai?" selidik Samudra sambil menikmati makannya.


"Ha? gak ada! kami cuma ... belanja! nggak melakukan apapun! emang melakukan apa? cuma belanja doang." Rasya kurang mengerti yang dimaksud oleh Samudra.


"Ah, sudahlah. Lupakan, makan saja," ralat Samudra. Padahal dia pengen tahu yang dilakukan Ubai dan Rasya? tapi memang nggak mungkin melakukan apa-apa sih.


Rasya memanyunkan bibirnya ke depan sambil memutar bola matanya jengah.


Kini Rasya tengah berdiri di dekat wastafel mencuci bekas makannya, Samudra sudah beranjak dari duduknya dan membereskan kursi bekasnya duduk.


"Buruan? setelah nyuci piring siapkah air buatku mandi!" Pinta Samudra sambil menatap punggung Rasya.


"Iya," sahut Rasya tanpa menoleh, dia fokus dengan tugasnya.


Samudra berjalan ke dalam kamar, sambil membuka kemeja yang melekat di tubuhnya.


Setelah selesai mencuci, dia hendak ke kamar Samudra. Namun setelah beberapa langkah ujung netra nya melihat jas di atas kursi, sehingga dia berbalik dan mengambilnya.


"Kebiasaan deh ... nggak bisa apa membawanya ke kamar sendiri? heran!" Rasya ngomel sambil berjalan memasuki kamar Samudra


Samudra malah tersenyum jail melihat Rasya membalikkan badannya.


"Buruan siapkan air buatku mandi?" suara Samudra terdengar begitu dekat dari belakang telinga Rasya.


Membuat Rasya terkesiap dan langsung balik.


"Kau ...."


Manik mata indah Rasya bergerak melihat Samudra yang berdiri di belakangnya itu. Tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ia tatapi dengan intens dari atas menuju bawah, namun tak kuasa bila harus melewati bagian tengah, dia kembali melihat ke atas.


"Un-untuk apa berdiri di situ? membuat aku jantungan saja!" Rasya memegang dadanya yang berdebar tak menentu.


"Kenapa jantung mu mau copot? nanti kau sambut deh, biar gak jadi dicopot." Samudra nyeleneh sambil Mendudukkan dirinya di sofa, dengan hanya mengenakan celana pendek saja.


Rasya buru-buru membawa langkahnya ke kamar mandi untuk menyiapkan air di bathub.


Beberapa sat kemudian. Rasya keluar lalu memungut pakaian kotor Samudra. "Airnya sudah siap."

__ADS_1


Samudra menoleh lalu berdiri berjalan melintasi Rasya yang berdiri menunduk, tidak berani melihat ke arah Samudra yang setengah telanjang itu.


"Iih, gak malu apa ya? telanjang begitu di depan orang?" gumamnya Rasya pelan.


Tiba-tiba pinggang nya Rasya ada yang nyolek dari belakang.


Membuat Rasya menjerit. "Ahhhhwww." Dia melonjak ke sofa, langsung duduk memeluk lutut. Saking kagetnya dia.


Sementara Samudra yang mencoleknya tertawa lepas suaranya memenuhi ruangan tersebut.


"Astagfirullah ... Tuan, benar-benar membuat jantung ku copot." Gumamnya.


Selepas membersihkan diri. Samudra segera keluar dari kamar mandi dan mendapati Rasya masih di posisi yang sama. Mematung di tempatnya tak bergeming.


Samudra heran. Apa gadis itu masih shock? ketakutan atau gimana? baju ganti pun belum dia siapkan. Samudra menjadi iba, kemudian Samudra dekati dan duduk di depannya.


"Kau kenapa? kenapa baju ganti ku belum kau siapkan juga?" dengan nada tinggi.


Namun Rasya hanya melirik. Matanya terlihat nanar. Bibirnya bergetar.


"Kau kenapa?" ulang Samudra kini suaranya lebih rendah.


"Tuan, jahat. Jantung ku terus berdebar begini!" dengan suara bergetar.


Tangannya Rasya meraih tangan Samudra lalu ditempelkan di dadanya yang berdebar sangat tidak beraturan itu.


Samudra bengong melihat ke arah Rasya dan telapak tangannya merasakan kalau dada Rasya naik turun melebihi normal.


"Sedari tadi detak jantung ku tidak mau normal lagi!" suara Rasya lirih.


Serrrrr ... darah Samudra naik dengan begitu deras. Bagaiman tidak? tangannya menyentuh dada Rasya yang terasa hangat naik turun.


Sesaat kemudian, Rasya menurunkan tangan kekar Samudra dari dadanya. Dia menunduk dalam, lalu berdiri mendekati lemari. Mungkin dia tidak menyadari dengan yang dia lakukan barusan.


Kini justru Samudra yang tak bergeming. Apalagi merasakan dorongan-dorongan aneh yang menyuruhnya melakukan sesuatu.


Samudra menggigit bibirnya. "Sial! kenapa ini? kenapa harus bangun sih?" berusaha menyembunyikan dari balik handuknya, jantung pun berdegup sangat kencang.


Namun tetap saja menonjol sangat ketara biarpun dia beberapa kali rapikan dan tutupi.


Rasya menoleh pada Samudra yang bengong. "Tuan? tolong ambilkan kopernya di atas? aku gak bisa mengambilnya. Terlalu tinggi." Lantas menunjuk ke arah koper yang disimpan atas lemari.

__ADS_1


Samudra menoleh dan tak ayal beranjak, berjalan untuk mengambil koper tersebut. Tangan kirinya memegangi handuk dan menyembunyikan sesuatu yang telah hidup ....


__ADS_2