
"Iya juga sih, kalau mendengar dari cerita nya waktu itu, makan aja susah. Padahal keluarganya gak susah-susah amat." Viona menatap kasihan dan sedih ke arah Rasya.
"Jadi. Saya mohon sama Om dan Tante, untuk merahasiakan ini dari Papa dan Mama termasuk Karin!" pinta Samudra pada semua yang berada di sana, terutama Fatir dan Viona.
"Jadi ceritanya, kamu mau beristri 2 ha?" tanya tanya Fathir menatap datar pada Samudra.
Samudra terdiam sambil menajamkan pandangan pada om Fatir. Tidak tau harus menjawab apa? sebab ia pun masih bingung.
"Gimana Kalau seandainya banyak pihak yang meminta kamu untuk melepaskan Rasya? kamu kan tidak mencintainya, pernikahan pun terpaksa, jadi ... kamu ceraikan dia! kalian lanjutkan hidup masing-masing dengan tenang?" tanya Viona memandangi Samudra sangat lekat.
Terlihat Samudra membuang nafas sangat panjang. "Entahlah Tante! yang jelas saat ini saya membutuhkan dia untuk menemani saya, melayani semua keperluan saya," jelas Samudra kembali.
"Dan setelah kamu bosan kamu buang begitu saja?" kini Sidar yang menatap tajam pada Samudra.
"Ti-tidak paman, saya akan tanggung jawab akan kehidupan Rasya. Saya tak akan membiarkannya susah lagi, saya mampu mencukupinya secara finansial," Ucap Samudra. dengan bangga.
"Ingat ya dia itu bukan boneka, dia punya perasaan sekalipun dia diam. Pasti merasakan sesuatu juga, termasuk sakit hati pada suami yang mendua!" tambah Sidar.
"Siapa yang bilang dia boneka? kan aku juga bilang aku nggak akan menyia-nyiakan dia, terutama dalam keuangan. Aku akan tanggung jawab sebagai suami!" jelas Samudra kembali.
"Mungkin ... sekarang kalian tidak saling cinta, tapi besok atau lusa kemungkinan besar kalian itu akan saling menyayangi. Saling cinta, karena apa? karena seringnya bertemu dan bersama," ungkap viona lirih.
"Soal cinta sih, nggak mungkin aku hanya mencintai kekasihku." Tegasnya Samudra sangat percaya diri.
"Ketika kami menikah dulu, kami pun tidak dilandasi dengan cinta, justru rasa cinta. Rasa sayang itu tumbuh ketika kami sudah menjalani hidup bersama dalam rumah tangga, iya, kan Mas?" Viona melirik pada suaminya.
"Itu benar! dulu pun kami menikah bukan karena cinta ataupun sayang, gak lama kenal juga, tapi suatu tuntutan kalau Tante harus segera menikah dan akhirnya tante mengajakku untuk menikah!" timpal Fatir seraya menyesap minumannya.
__ADS_1
"Benar sekali. Tante nggak cinta sama om Fatir dulu, Tante mengajak dia menikah karena suatu tujuan, yaitu tuntutan orang tua yang seolah memaksa Tante untuk segera menikah--" Viona sejenak menggantung perkataannya.
"Lantas kami pun menikah, dalam beberapa bulan kami pun tidak merasakan apa-apa. Tetapi setelah itu ... karena seringnya bersama, satu rumah satu tempat tidur. Membuat benih-benih cinta itu pun tumbuh dan akhirnya sampai sekarang," ucap Viona panjang lebar.
Samudra dan Rasya memandangi ke arah Viona dan Fatir. Rasya berpikir! mungkinkah tuan muda nya akan mencintai dirinya? dia kan jutek galak dan dia sangat mencintai Karin, rasanya nggak mungkin. Kalau suatu saat nanti Samudra mencintainya, pikir Rasya.
"Cinta itu bisa tumbuh kapan saja dan di mana saja, nggak harus saling mengenal lama nggak harus pandangan pertama, toh banyak yang asanya teman biasa. Akhirnya menjadi pasangan kekasih atau suami istri," tambahnya Fatir.
"Iya, bener. Contohnya kita berdua!" timpal Viona.
"Baiklah, kami berdua tidak akan membuka rahasia ini kepada orang tuamu, cuma ... ada syaratnya!" kata Fatir tatapannya tertuju pada Samudra.
"Apa syaratnya?" tanya Samudra antusias.
"Jangan pernah kamu sakiti Rasya, sebagai suami kamu harus bertanggung jawab lahir maupun batin. Itu pun kalau Rasya mau terus bersama mu! kalau nggak? biarkan kami membawanya." Tegasnya Fatir kembali.
"Sebagai suami, kau berkewajiban memberi nafkah lahir maupun batin terhadap istrimu, dan dia adalah hak mu memangnya kamu belum menyentuh dia?" Fatir memelankan suaranya, seakan berbisik. Di dekat telinga Samudra.
Sejenak Samudra, menatap ke arah Fatir, lalu menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? emangnya. Kau tidak tertarik? dia itu cantik juga lho, tidak kalah dengan Karin!" suara Fathir semakin pelan dan wajahnya mendekati wajah Samudra, lagi-lagi Samudra menggeleng.
"Tidak, aku nggak akan menyentuhnya, Om. Aku hanya mencintai kekasihku!" jawabnya Samudra tak kalah pelan.
"Kalian ini ngomongin apa sih? kok pakai bisik-bisik segala?" tanya Fiona dengan terheran-heran.
Begitupun dengan Rasya. "Iya nih, kalian ngomongin apa sih? Tuan, sama Om Fathir. Bisik-bisik begitu main rahasia-rahasiaan segala? hayo apa tuh?"
__ADS_1
"Pengen tau aja urusan laki-laki ini rahasia laki-laki, perempuan gak boleh tahu, ha ha ha ..." kata Fatir lirih.
Sidar pun ikut tersenyum. "Ooh. Jadi aku juga nggak boleh tahu nih? tega timpal Sidar.
"Nggak, nanti juga akan tahu sendiri ha ha ha," timpal Fatir sambil tertawa.
Akhirnya obrolan yang barusan yang sangat serius itu, berakhir dengan canda dan tawa yang di sajikan oleh Sidar.
Setelah waktu makan malam pun tiba, mereka berpindah posisi duduknya. Kini mereka sudah duduk menghadapi meja makan yang bundar tersebut, semuanya mulai menikmati hidangan yang ada dan seadanya.
"Ooh iya, besok om dan Tante. Akan kembali ke kota kami, maunya sih tante mengajak Rasya tinggal bersama tante dan om di sana." Fiona menghela nafas, merasa berat untuk berjauhan dengan gadis itu.
"Nggak, Tante. Nggak mungkin," sahutnya Rasya sambil mengangkat wajahnya.
"Iya, makanya. Karena gak mungkin, tapi Tante harap ... suatu saat nanti kalian bisa mengunjungi Tante di sana, sebenarnya sih kita juga akan bertemu lagi saat nanti Sam bertunangan, karena kami ada kerja sama. Iya, kan Mas?" Viona melirik sang suami yang sedang menikmati makan malam nya.
"Hem, berapa minggu lagi, kami pasti bertemu lagi." Fathir mengangguk.
"Haduh ... sebenarnya Paman nggak habis pikir nih. Kalian sudah menikah, tapi kenapa nggak mau merubah pikiran gitu? maksud Paman ... sudahlah, nikmati rumah tangga kalian ini. Nggak perlu lah kamu menikahi kekasihmu itu!" Sidar menatap ke arah Samudra di sela-sela mengunyah.
Samudra tersenyum kecut. "Kenyataannya nggak bisa segampang itu Paman, tidak semudah dengan yang kita omongkan," balas Samudra sambil meneguk minumannya.
"Iya sih emang benar, Paman juga ngerti tapi sayang aja. Gadis secantik Nona ini bila harus di anggurin. Gimana kalau orang lain yang nikmatin? tanya sidar.
"Ha ha ha ..." Samudra tertawa lepas. "Itu sudah jodohnya kali paman." Ucap Samudra, padahal dalam hati merasa dongkol, jangankan seperti itu. Berdekatan dengan Ubai saja, Samudra merasa jeles ....
.
__ADS_1
Jangan lupa dukungan nya ya? biar aku tambah semangat🙏