Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab198 Merajuk tidak jelas


__ADS_3

Saat ini Samudra dan Rasya sudah bersiap-siap untuk pergi ke bandara. Sambil menunggu Ubai yang mau mengantarkannya ke bandara, Rasya menikmati makanan yang ada di kulkas dan mengeluarkan semua isinya, yang nanti akan di ambil oleh Mulan di bawanya ke mension.


Tingtong ....


Tingtong ....


Tingtong ....


"Siapa tuh yang datang?" tanya Samudra sambil duduk cuma laptop di pangkuannya, menoleh karena Rasya yang sedang makan buah-buahan di meja makan.


"Helleh, bukanya di buka! malah bertanya." Bibir Rasya kumat kamit sembari beranjak dari duduknya, membawa langkahnya menuju daun pintu.


Samudra hanya memandangi istrinya tersebut sambil mesem-mesem.


"Apa mesem-mesem? bukannya buka pintu?" ucap Rasya sambil melirik.


Lantas setelah berada di ambang pintu, Rasya menarik handle pintu dan dibukanya blak. Samudra pintu terbuka lebar.


"Mulan? gumamnya Rasya sambil tersenyum ke arah Mulan.


Mulan datang karena memang untuk mengambil sisa isi kulkas. Agar tidak mubazir karena setidaknya Rasya dan Samudra di Surabaya tidak sebentar-sebentar pulang, minimal 1 minggu bahkan lebih.


Jadi jelas, yang berbau makanan yang akan mubazir semua dikeluarkan.


"Masuk, Mulan?" titahnya Rasya.


Mulan langsung menangguk dan mengikuti langkah Rasya yang langsung diajaknya ke ruang dapur, di mana di atas meja sudah dikemas tinggal membawa saja.


"Semuanya, sudah aku kemas dan tinggal bawa aja," Rasya menunjuk ke arah meja.


"Ooh iya, aku tinggal jinjing saja ya?" kata Mulan sambil menatap ke arah meja tersebut.


Rasya melanjutkan makan buahnya dan Mulan mulai membawa berapa kantong tersebut keluar unit.


"Apa di Surabaya akan lama, kan nggak mungkin pulang seminggu dua minggu ya!" tanya mulan pada Rasya.


Sementara Rasya sebelum menjawab, menoleh ke arah Samudra yang sedang menunduk menatap ke arah laptop.


"Sepertinya begitu, tapi nggak tau juga. Berapa minggu di sana!" ucap Rasya.

__ADS_1


"Rasanya aku pengen deh ke sana, hadir di resepsi kalian berdua," tambah Mulan.


"Ya, tentu datang dong ke sana. Biar kita berkumpul di sana juga balasnya Rasya.


"Nanti, di Jakarta juga akan diadakan resepsi. Untuk para tamu yang tidak bisa pergi ke Surabaya, dan acaranya akan live dari Surabaya langsung jadi seolah-olah kita berkumpul dalam satu acara." Ungkapnya Samudra.


"Seperti itu kah?" Rasya menatap penasaran kepada Samudra.


"Memang benar, akan dibuat seperti itu konsepnya. Di Surabaya resepsi, di sini juga resepsi dan di sini akan memasang layar besar untuk memantau acara yang sebenarnya dari Surabaya." Jelasnya Samudra.


"Jadi penasaran gimana konsepnya?" Rasya memutar otaknya membayangkan konsep apa yang akan dipakai.


"Sudahlah, enggak usah dipikirin! nanti aja lihat acaranya gimana?" timpalnya Samudra.


Sementara Mulan berpamitan untuk keluar dan pulang ke mansion, dan ketika di pintu berpapasan dengan Ubai yang berjalan cepat.


Ubai memasuki rumah tersebut dan langsung mendapat Samudra yang sedang sibuk dengan laptopnya. "Sekarang kita berangkat, Bos. Takut kena macet di jalan."


"Oke," sahutnya Samudra kemudian menutup laptop dan dia masukkan ke dalam tas nya. Bersama ponsel juga barang penting lainnya.


Begitupun dengan Rasya memasukkan ponsel ke dalam tas kecil miliknya.


"Nona apa kau sudah selesai dan nggak ada yang ketinggalan?" selidiknya Ubai sambil mengarahkan pandangan ke arah Rasya.


"Aku sudah selesai, Tuan Ubai semuanya sudah siap!" jawabnya Rasya kembali mengikatkan Hoodie di pinggangnya.


"Kalau gitu ayo kita berangkat. Sebelum jalanan macet." Ajak Ubai sambil menarik koper pakaian pengantin Samudra.


"Ayo sayang, ke mana lagi sih?" tanya Samudra pada Rasya yang malah balik lagi ke kamar.


"Bentar? pengen pipis dulu! bentar?" pekiknya Rasya dari balik pintu.


"Hah dasar cewek, tiap mau pergi pasti ke WC dulu!" Samudra menggelengkan kepala nya.


Ubai menoleh pada Samudra. "Sudah biasa bos, daripada pengen pipis di jalan, lagian cewek kan gak sesimpel cowok yang memakai botol pun jadi ha ha ha ...."


"Ayo kita berangkat? sudah siap nih," suara Rasya setelah muncul dari kamarnya.


Lalu kemudian mereka pun keluar dari unit tersebut berjalan di koridor apartemen, menuju lift yang akan menghubungkan mereka langsung ke parkiran.

__ADS_1


Samudra menggandeng tangan Rasya dengan sangat mesra, semoga Ubai hanya terdiam melongok dan hanya bisa memegangi pegangan koper.


"Bai, kapan lu akan memegang tangan perempuan? jangan koper aja yang kau pegang!" kata Samudra dengan nada mencibir.


"Nantilah ada waktunya, nanti juga ada waktunya. Ketika saya sudah mendapatkan orang yang benar-benar cocok, untuk menemani keseharian saya." jawabnya Samudra sambil memainkan alisnya.


"Padahal perempuan juga banyak kenapa nggak satupun yang kau rasa cocok?" tambahnya Samudra.


"Kamu ini, mungkin mungkin tuan Ubai memang belum ada jodohnya, kau juga pacaran bertahun-tahun. Kenapa nikahnya sama aku?" timpalnya Rasya.


"Aku nikah dengan mu karena terpaksa, terpaksa dengan keadaan." jawabnya Samudra.


"Terpaksa, dengan keadaan berarti kau menyesal menikah denganku?" menatap tajam.


"Ti-tidak sih ... sekarang tidak ... tidak terpaksa! justru aku suka," akunya Samudra.


"Heeuh ... awas ya kalau mau deket-deket," ucap Rasya berjalan duluan meninggalkan Samudra dan Ubai yang masih melintasi pintu lift.


"Eeh, sayang? tinggu! kok marah sih?" terus Samudra menyusul langkah rahasia yang sudah duluan sampai dekat mobil Ubai.


Geph!


Tangan Rasya, Samudra tangkap. "Jangan marah dong sayang ... kok gitu aja langsung marah sih?"


"Bener ya? emang dari dulu kau itu nggak pernah suka, nggak senang sama aku. Gak pernah cinta sama aku? terus kenapa nggak kau ceraiykan saja aku? biar aku bebas. Dan tidak perlu daftar lagi ke ke KUA untuk pernikahan kita yang kedua kalinya!" suara Rasya bergetar.


"Lho. Nggak gitu juga sayang. maafin? aku begitu kan dulu! bukan sekarang, lagian ... dari dulu juga sebenarnya aku suka kok, cuma malas saja untuk ngomong." Samudra menggaruk tengkuknya, menjadi merasa serba salah.


"Bener-bener ya? sudah. Gak usah dilanjutkan lagi pernikahan kita, buat apa juga? mungkin aku hanya akan menjadi budak nafsu mu saja dan kau itu tidak merasakan cinta atau sayang sama aku soalnya!" Rasya semakin bergetar dan kedua manik matanya terlihat nanar, berkaca-kaca seperti ingin nangis.


Samudra langsung menarik bahunya Rasya dan dipeluknya, mulanya Rasya berontak.


"Lepaskan aku? jangan jadikan aku sebagai budak nafsu mu lagi!" pekik Rasya sembari berontak.


"Sya, aku minta maaf? Sya. Bukan maksud ku untuk menyakiti mu! kau itu istri ku." Samudra mengeratkan pelukannya.


Ubai hanya terdiam di belakang kemudi yang sebenarnya sudah siap tuk menyalakan mesinnya. Dia menjadi serba salah dan merasa aneh di antara dua orang sedang merajuk tidak jelas tersebut ....


.

__ADS_1


.


__ADS_2