Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 181 Dikit-dikit


__ADS_3

Rasya terdiam seribu bahasa. Dia tidak tahu apa yang harus dia perbuat, bukannya gak kasihan pada Vera sebagai kakak angkatnya.


Apalagi dengan sikap Vera yang seperti itu kepada tuan rumah, yang akan jelas-jelas memperburuk keadaan, gak mungkin Rasya menahan Vera di sana! sementara orang-orang yang berkuasa di rumah itu tidak menyukai keberadaan Vera di tempat tersebut.


Semua yang ada di sana menghela nafas dalam-dalam lalu menghembuskan dengan panjang.


Pak Suyoto melirik ke arah para asisten yang masih berada di sana. "Kalian sedang apa? bubar? nggak ada yang harus dipertontonkan," jelas Pak Suyoto sambil mengibaskan tangannya di udara.


"Kau kan kurang sehat sayang, istirahat sana? jangan banyak pikiran," ucap Bu Riska kepada Rasya yang bengong dengan tatapan kosong.


Begitupun dengan Samudra, dia yang menghampiri Rasya dan mengajaknya untuk naik ke lantai atas yaitu ke kamarnya.


Rasya menatap tidak enak pada kedua mertuanya dan Samudra. "Aku minta maaf? atas kelancangan kak Vera, dia memang seperti itu sifatnya! sekali lagi aku minta maaf? kepada Mama dan Papa, juga sama kamu!" rasa mengedarkan pandangannya kepada kedua mertua dan suaminya itu bergantian.


Rasya sungguh merasa tidak enak atas ulang nya Vera barusan yang bikin dia malu di hadapan mereka semua.


"Sudah, tidak apa-apa! anggap saja barusan tidak ada apa-apa, sekarang kau istirahat saja di kamar?" kata bu Riska dan Pak Suyoto yang membenarkan perkataan dari sang istri.


"Ya sayang, kita istirahat dulu. Sudahlah gak usah memikirkan dia! enak saja pengen dibalas Budi? orang tuanya dibayar kok, mengurus kamu itu nggak cuma-cuma." Gerutunya Samudra.


Kemudian, Rasya pun mengangguk lalu dituntun tangannya oleh Samudra untuk menaiki anak tangga.


Pak Suyoto dan bu Riska saling bertukar pandangan, lalu kemudian mengarahkan penglihatannya ke meja yang berantakan bahkan ada juga yang pecah dan isinya berantakan, lalu menyuruh Mulan dan yang lainnya untuk membereskannya sampai bersih.


Rasya dan Samudra masih berjalan di tangga dan tidak ada kata yang terucap dari mereka berdua. Hanya tangan saja sebagai kontak pisik yang menyatukan antara Rasya dan Samudra.


Setibanya di kamar, langsung pergi ke kamar mandi. Sementara Samudra duduk di sofa dan membuka laptopnya.


Setelah beberapa saat kemudian, Rasya baru saja selesai menunaikan kewajibannya. Sembari membuka mukena, dia menoleh ke arah Samudra. "Aku mau tidur duluan ya? kepalaku masih terasa pusing."


Samudra pun menoleh ke arah sang istri, lalau dia mengganggu menyetujuinya. Sementara dia masih sibuk dengan layar laptop dan tangan di atas papan keyboardnya.


Rasya membaringkan tubuh nya setelah berganti pakaian dengan piyama panjangnya. Namun baru saja pejamkan mata, Samudra sudah memeluk tubuhnya. Rasya celingukan melihat ke arah tadi Samudra.


"Kau, barusan masih di sana! kanapa sekarang ada di--"


"Kenapa sayang? tidak boleh?" Samudra berbaring sambil memeluk tubuh Rasya dan sesekali mengecup pipinya.


"Bukan begitu, ta-tapi." Rasya pun melanjutkan kembali memejamkan matanya.


"Besok, aku masuk kerja ya? dan lusa aku juga mau ke luar kota. Kau mau tinggal dimana, Nona?" suara Samudra dengan lirih.


Mendengar suara Samudra yang tepat di dekat telinganya. Membuka matanya dan melirik ke arah Samudra yang memang jaraknya dekat dengan dirinya.


"Aku ingin ke apartemen besok, tidak apa kau keluar kota juga. Aku biar di apartemen saja." Ungkap Rasya.


"Tidak apa-apa kau di apartemen sendiri?" tanya Samudra sambil menempelkan bibirnya di bibir Rasya.


Sejenak Samudra m****s*p bibir Rasya yang ramun itu.

__ADS_1


"Mmmm ..." Rasya menggerakkan kepalanya.


"Kenapa?" tanya Samudra menatap heran.


"Aku mengantuk, pusing juga." suara Rasya pelan.


"Ooh, ya udah." Samudra langsung membalikan badan memunggungi Rasya.


Rasya melongo. "Iih, nih orang dikit-dikit ngambek, dikit-dikit ngambek." Gumamnya dalam hati.


Kemudian Rasya mendekat dan memeluk pinggangnya Samudra, namun tangan Samudra menyingkirkan rangkulan tangan Rasya.


"Dicium saja tidak mau, apalagi dimintai jatah? dasar perempuan!" gerutu Samudra dalam hati. Kesal dan marah menerpa perasaannya, dari kemarin juniornya di suruh puasa terus.


Tapi bukan Rasya namanya, bila menyerah begitu saja. Rasya kembali mendekat dan merapatkan tubuhnya ke punggung Samudra dipeluknya sangat erat.


Dan Samudra tidak lagi menyingkirkan tangannya dari perut sixpack tersebut.


Bibir Samudra tersenyum menerima rangkulan kembali dari Rasya, juga merasakan ada benda lembab yang menempel di bahunya hingga berkali-kali.


Ya, Rasya mengecup bahu Samudra dengan harapan dapat meluluhkan kemarahan Samudra.


Lantas Samudra berbalik dan menghadap ke arah sang istri. Cuph! kecupan mesra mendarat di kening Rasya. "I Love you!" kata-kata yang rasanya baru kini terucap dari bibirnya kepada Rasya.


Rasya tidak menjawab. Karena sesungguhnya dia kurang mengerti, apa itu i love you?


"Jawab dong?" pinta Samudra sambil menatap dan mengelus pipi Rasya tampak tatapannya sayu merayu.


"Ck, kata-kata ku barusan itu di jawab!" sahutnya Samudra dengan suara pelan.


"Iya, yang mana?" tanya Rasya sambil mengusap dada Samudra yang bidang itu.


"Aku bilang ... i love you? jawabnya i love you too!" Samudra mencontohkan.


"Em ... emang artinya apa?" selidik Rasya penasaran.


"Aku mencintai mu dan aku mencintai mu juga!" jawabnya Samudra sambil tetap memandangi wajah istrinya itu dengan lekat.


"Ooh, begitu? coba ucapkan lagi?" pinta Rasya sambil membelai rambut Samudra.


"Hem ... I love you?" ucap Samudra.


Sejenak Rasya terdiam, lalu berkata. "Ay luv yu tu!" sambil memonyongkan bibirnya.


Samudra menggeleng. "Bukan gitu sayang, ikutin aku? I love you too!"


"He he he ... iya aku bisa, aku bisa. I love you too?"


"Nah gitu! baru benar, sudah kita tidur. Besok aku mau ngantor." Samudra mengeratkan pelukan lalu memejamkan kedua netra nya."

__ADS_1


"Terus aku sama siapa ke mension nya?" tanya Rasya sembari menepuk tangan Samudra.


"Aku ngantuk sayang," gumamnya Samudra tanpa membuka matanya.


"Aku kan gak minta di anterin sekarang, besok. Aku sama siapa ke apartemennya? aku kan gak tau jalan!" tambah Rasya menatap ke arah Samudra.


"Aku yang nganterin!" suaranya Samudra nyaris hilang saking ngantuk nya.


Bibir Rasya tersenyum, lalu lambat laun matanya pun ikut terpejam.


Jarum jam terus berputar, dan waktu terus berlalu. Membawa penghuni dunia ini terlena dalam lelapnya malam. Mengantar ke sebuah pagi yang indah dan semoga hari ini lebih indah dari sebelumnya.


Pagi-pagi, Rasya sudah menyiapkan pakaian formal buat Samudra ngantor. Seperti biasa!Rasya membuka-buka gorden dan bersih-bersih kamar dari nyapu sampai mengepel.


"Yang?" panggil Samudra pada Rasya yang baru selesai bersih-bersih kamar dan kini membereskan tempat tidur.


Rasya menoleh pada Samudra yang berdiri bertelanjang dada dan masih mengenakan handuk di pinggang menutupi lima Senti dari ousat. Dan masih terlihat air di tubuhnya yang berkilauan. "Ada apa?"


"Sini, bantuin aku berpakaian dong?" Samudra melambaikan tangan pada Rasya.


"Aish ... apa kau tidak melihat? aku sedang sibuk?" manik mata Rasya menatap ke arah Samudra yang masih berdiri.


"Aku melihatnya. Cuma ... buruan dong? pinta suami nih!" rajuk Samudra dengan ekspresi manja.


"Iddih ... dasar manja!" Rasya terun dari tempat tidur menghampiri Samudra yang menunggunya.


Samudra menunjukan senyum nya yang merekah.


"Ada apa Samudra? membantu apa? sementara dirimu tidak ngapa-ngapain! apa yang harus ku bantu coba?" Rasya menyebut nama Samudra.


"Iih, manggil suami dengan sebutan nama? apaan sih? yang lebih mesra kek, di marahin papa nanti. Sebab mama gak pernah menyebut nama suami." Samudra menatap tajam ke arah Rasya.


"Ya ... maaf? lagian apa coba yang harus di bantu? sedangkan kau itu hanya berdiri saja begitu!" ucap Rasya sembari mengerutkan keningnya.


Samudra tidak menjawab, dia mengambil dalaman yang akan dia pakai. Dengan tidak ragu dia menurunkan handuknya lebih dulu dihadapan Rasya yang langsung berbalik memunggungi.


"Iih, dasar ya? gak punya malu apa?" gerutu Rasya sambil memunggungi Samudra.


Sedangkan Samudra hanya mesem-mesem, kemudian Rasya pun membantu Samudra mengenakan dan merapikan pakaiannya.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


Daun pintu di ketuk dari luar, dengan sangat tidak beraturan. Membuat Samudra dan Rasya terkesiap ....


.

__ADS_1


.


Apa kabar reader ku semuanya? semoga kabar baik ya.


__ADS_2